Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Selasa 20 Januari 2026

Jakarta, ICMES. Pemimpin partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, memperingatkan ihwal meningkatnya ancaman Iran, dan menyatakan rudal Iran telah mengubah aturan perang dan menyerukan persiapan untuk mengevakuasi fasilitas strategis yang sensitif sebagai antisipasi terhadap potensi konfrontasi.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa “perang teroris ala Daesh” baru-baru ini terhadap Iran memiliki tujuan yang mirip dengan serangan pager teroris Israel di Lebanon pada September 2024.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Forum Ekonomi Dunia membatalkan partisipasinya dalam pertemuan Davos akibat “kebohongan dan tekanan politik” Israel, agen-agennya, dan para pembelanya di AS.

Berita selengkapnya:

Lieberman: Netanyahu Minta AS Tunda Serangan ke Iran karena Israel Tak Siap Hadapi Hujan Rudal

Pemimpin partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, memperingatkan ihwal meningkatnya ancaman Iran, dan menyatakan rudal Iran telah mengubah aturan perang dan menyerukan persiapan untuk mengevakuasi fasilitas strategis yang sensitif sebagai antisipasi terhadap potensi konfrontasi.

Dikutip surat kabar Israel Hayom, Senin (19/1), Lieberman dalam pertemuan faksi parlemennya mengaku sebelumnya telah menyerukan kesiapan defensif terhadap Iran, tetapi kemudian mendapat kritik dan serangan tajam.

 “Ironisnya, kemarin saya membaca bahwa perdana menteri sendiri meminta penundaan serangan terhadap Iran, dengan alasan bahwa Israel belum siap. Ini adalah harga dari penundaan keputusan dan kegagalan untuk bertindak tepat waktu,” ujarnya.

Menurut Lieberman, jika terjadi konfrontasi, Iran akan berupaya menggempur situs-situs strategis di Israel, seperti yang telah dilakukan sebelumnya dalam serangan terhadap fasilitas-fasilitas sensitif, sementara  pengosongan semua target adalah hal yang mustahil, tetapi perlu  persiapan evakuasi segera dan terorganisir terhadap situs-situs vital.

Lieberman juga mengutip laporan terbaru dari Pengawas Keuangan Negara yang mengungkapkan bahwa lebih dari tiga juta warga Israel hidup tanpa perlindungan yang memadai, di samping sekitar setengah juta siswa yang bersekolah tanpa keamanan yang cukup.

Dia mengkritik keras kinerja lembaga keamanan dan kepemimpinan politik, dan menegaskan bahwa kekurangan tersebut telah berlanjut sejak perang terakhir tanpa langkah nyata yang diambil untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Lieberman mengatakan, “Alih-alih berinvestasi dalam pembelian skuadron pesawat tambahan, kita harus membangun kekuatan rudal yang sesungguhnya. 90 persen peperangan modern dilakukan dengan rudal.” Dia menambahkan bahwa memiliki angkatan udara yang canggih saja tidak lagi cukup mengingat perkembangan signifikan persenjataan rudal Iran.

Dia menyimpulkan dengan menyerukan kepada lembaga keamanan untuk melakukan penilaian ulang komprehensif terhadap strategi pertahanan dan serangannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, mengingat lanskap regional yang berkembang pesat. (alalam)

Qalibaf: Perang Teroris di Iran Mirip dengan Serangan Pager Israel di Lebanon

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa “perang teroris ala Daesh” baru-baru ini terhadap Iran memiliki tujuan yang mirip dengan serangan pager teroris Israel di Lebanon pada September 2024.

Pada 17 September 2024, ribuan perangkat komunikasi nirkabel milik anggota gerakan perlawanan Hizbullah meledak serentak di berbagai lokasi di Lebanon dan Suriah, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai sekitar 3.000 lainnya, sebagian besar warga sipil.

Rezim Israel secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pemboman pager tanpa pandang bulu, yang pertama kali dilaporkan di pinggiran selatan Beirut, diikuti oleh peledakan walkie-talkie pada hari berikutnya, yang juga mengakibatkan ratusan korban.

Pada sesi Parlemen Iran pada hari Senin (19/1), Ghalibaf mengatakan bahwa rencana yang telah ditentukan sebelumnya terdiri atas “kekerasan yang terang-terangan dan terorganisir, serangan teroris dan bersenjata, kerusuhan sipil yang sangat brutal, dan pembunuhan brutal terhadap ribuan warga sipil, anggota Basij (pasukan sukarelawan) dan polisi serta pasukan keamanan.”

Dia menjelaskan bahwa rencana tersebut bertujuan menimbulkan ketakutan di kalangan rakyat Iran, membuat mereka kehilangan kemampuan untuk menganalisis masalah dan berhenti mendukung negara, sehingga membuka jalan bagi AS dan tentara bayarannya untuk melakukan serangan terhadap Iran dan menghancurkannya.

Dia menilai hanya sedikit negara di dunia yang mampu dengan cepat memulihkan keamanan dan melindungi rakyatnya setelah tiba-tiba dihadapkan dengan “terorisme terorganisir dan brutal” seperti itu, yang secara terbuka dan resmi didukung oleh presiden AS.

Ghalibaf menekankan bahwa rencana baru-baru ini merupakan kelanjutan dari perang 12 hari yang dilancarkan oleh AS dan rezim Israel terhadap Iran pada pertengahan Juni.

Dia menambahkan “Seperti yang dinyatakan oleh Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, hasutan tersebut dipicu melalui campur tangan presiden AS, yang telah menghabiskan semua kredibilitasnya yang tidak ada dalam melanggengkan keresahan, ketidakamanan, dan pertumpahan darah di Iran.”

Akhir bulan lalu, Iran dilanda aksi protes jalanan yang dipicu oleh penurunan tajam mata uang Rial Iran, dan kesulitan ekonomi di ibu kota, Teheran, dan kota-kota lainnya.

Protes damai di seluruh Iran berubah menjadi kekerasan setelah Presiden AS Donald Trump dan pejabat AS lainnya bersumbar bahwa AS akan menggunakan agresi militer baru terhadap Iran jika terjadi apa yang mereka sebut sebagai “penindasan” Teheran terhadap  demonstran perusuh yang didukung asing.

Ghalibaf lebih lanjut mengatakan bahwa kekalahan musuh dalam aksi Amerika-Israel belakangan ini kembali menunjukkan bahwa Iran, di bawah kepemimpinan Ayatullah Khamenei, merupakan “tempat paling tidak aman di dunia bagi teroris dan pengkhianat.”

“Inilah masalah yang membuat presiden AS putus asa dan memprovokasi reaksi kontradiktif dan penuh amarahnya,” tegasnya.

Ia mencatat bahwa semua negara yang menjunjung kebebasan di dunia menganggap Ayatullah Khamenei sebagai suara yang kuat dan pemimpin perlawanan rakyat tertindas terhadap kekuatan yang korup dan arogan seperti presiden AS dan pejabat Israel. (presstv)

Menlu Iran Dicekal dari Forum Davos Akibat Tekanan Israel dan AS

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Forum Ekonomi Dunia membatalkan partisipasinya dalam pertemuan Davos akibat “kebohongan dan tekanan politik” Israel, agen-agennya, dan para pembelanya di AS.

Dalam unggahan berbahasa Inggris di platform media sosial X, Araghchi menjelaskan bahwa gelombang kekerasan yang terjadi beberapa waktu di Iran memaksa pihak berwenang membela rakyat dari aksi “teroris bersenjata dan pembunuhan ala ISIS,” dan bahwa kerusuhan bersenjata tersebut mendapat dukungan terbuka dari dinas rahasia Israel, Mossad.

Araghchi mengecam “ironi yang mencolok,” dan menyebutkan bahwa genosida Israel terhadap Palestina, yang telah merenggut 71.000 nyawa, tidak mendorong Forum Ekonomi Dunia untuk membatalkan undangan kepada pejabat Israel.

dia mengingatkan bahwa Presiden Israel Isaac Herzog berpartisipasi di Davos pada awal Januari 2024, meskipun menghadapi tuduhan kriminal di Swiss terkait perang di Gaza.

Araghchi menyimpulkan, “Jika Forum Ekonomi Dunia ingin berpura-pura memiliki sikap moral, itu haknya, tetapi setidaknya mereka harus konsisten. Standar ganda yang terang-terangan ini hanya mencerminkan kemerosotan moral dan kebangkrutan intelektual.”

Dia menekankan bahwa publik berhak untuk mengetahui kebenaran dan menilai sendiri. (almayadeen)