Jakarta, ICMES. Sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Saudi menyebutkan bahwa Putra Mahkota negara ini, Mohamed bin Salman dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menegaskan bahwa Saudi tidak akan mengizinkan zona udaranya digunakan oleh pihak asing untuk menyerang Iran.

Sebuah situs berita Israel Walla melaporkan bahwa kawasan Timteng dengan cepat mendekati “skenario ekstrem” yang melibatkan konfrontasi langsung antar negara dan potensi serangan AS terhadap Iran. Penilaian ini mengemuka di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, dengan peningkatan kekuatan militer AS dan ancaman serangan militer terhadap Iran.
Mengenai persiapan AS, Walla menyatakan AS terus mengerahkan pasukan mereka melalui udara, laut, dan darat di sekitar Iran, dan langkah pertama mereka antara lain menggunakan kekuatan militer yang signifikan untuk melawan upaya Iran menutup Selat Hormuz.
Berita selengkapnya:
Saudi Mengaku Tidak Akan Mengizinkan Zona Udaranya Digunakan untuk Serangan terhadap Iran
Sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Saudi menyebutkan bahwa Putra Mahkota negara ini, Mohamed bin Salman dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masous Pezeshkian telah menegaskan bahwa Saudi tidak akan mengizinkan zona udaranya digunakan oleh pihak asing untuk menyerang Iran.
“Kerajaan (Saudi) menghormati kedaulatan Republik Islam Iran, dan bahwa Kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Republik Islam Iran, atau serangan apa pun dari pihak mana pun,” bunyi pernyataan tersebut, yang dirilis pada hari Selasa (27/1).
Dalam percakapan itu Presiden Iran dan Putra Mahkota Saudi membahas ancaman AS, keamanan regional, dan hubungan bilateral.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepresidenan Iran pada hari Selasa, Pezeshkian melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota Saudi.
Pezeshkian menyatakan bahwa kelompok-kelompok tertentu yang didukung oleh AS dan Israel telah beraksi membunuh sejumlah besar warga sipil dan personel keamanan, serta menimbulkan kerusakan parah pada fasilitas umum, pasar, dan tempat ibadah, dalam gelombang kerusuhan yang merenggut nyawa ribuan orang di Iran.
Pezshkian memastikan bahwa aksi tersebut bertujuan merongrong stabilitas Iran, namun gagal berkat respon rakyat negara ini dalam skala besar di seantero negeri.
Presiden Iran berterima kepada negara-negara Islam yang mendukung negaranya selama perkembangan terkini, khususnya Arab Saudi.
“Ancaman dan operasi psikologis Amerika bertujuan menggoyahkan kawasan, dan hanya akan menyebabkan instabilitas lebih lanjut. Saya percaya bahwa persatuan dan solidaritas negara-negara Islam sangat penting untuk menjamin keamanan, stabilitas, dan perdamaian yang permanan di kawasan sekitar. Karena itu, peran saudara-saudara kami yang mulia di negara-negara Islam dalam hal ini sangat penting,” tuturnya.
Pezeshkian juga menanggapi pernyataan negara-negara Barat yang menyeru Iran kembali ke meja perundingan.
“Kami sedang bernegosiasi dengan Amerika, yang melancarkan serangan militer terhadap kami di hadapan dunia. Kami mencapai kesepakatan dengan negara-negara Eropa, namun Amerika menyabotase kesepakatan tersebut. Dari perspektif mereka, negosiasi dan interaksi berarti ‘kami berkata, dan Anda melakukan,’ dan ini bukanlah dialog,” tegasnya.
Pezeshkian menegaskan bahwa dalam bingkai hukum internasional dan sambil menjunjung tinggi hak-hak nasionalnya, Iran terbuka terhadap inisiatif yang bertujuan untuk membangun perdamaian dan mencegah konflik.
Di pihak lain, Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengatakan bahwa pencapaian stabilitas dan keamanan regional serta pembangunan bangsa-bangsa merupakan salah satu prioritas Kerajaan Arab Saudi. Dia juga menekankan pentingnya solidaritas dan persatuan di antara negara-negara Islam.
“Kami menganggap setiap agresi, ancaman, atau eskalasi terhadap Republik Islam Iran tidak dapat diterima, dan Kerajaan Arab Saudi siap untuk kerja sama komprehensif dengan Iran dan semua negara lain di kawasan ini untuk mencapai perdamaian dan keamanan yang permanen,” ungkapnya.
Sabtu lalu, media AS melaporkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak yang menyertainya tiba di Samudra Hindia pada hari Jumat, dalam perjalanan menuju wilayah operasi Komando Pusat AS di Teluk Oman, di tengah ancaman AS terhadap Iran. (alalam/raialyoum)
Media Israel: Pasukan AS Kepung Iran, Israel Bersiaga Tinggi
Sebuah situs berita Israel melaporkan bahwa kawasan Timteng dengan cepat mendekati “skenario ekstrem” yang melibatkan konfrontasi langsung antar negara dan potensi serangan AS terhadap Iran.
Penilaian tersebut, yang diterbitkan oleh situs Walla Israel mengemuka di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, dengan peningkatan kekuatan militer AS dan ancaman serangan militer terhadap Iran.
“Selama 24 jam terakhir, ketegangan di Timur Tengah meningkat, dipicu oleh ancaman dari Iran terhadap AS dan Israel, peningkatan kekuatan militer AS yang berkelanjutan di sekitar Iran, dan peningkatan kewaspadaan di Israel,” tulis Walla pada Selasa malam (27/1).
Washington menegaskan bahwa semua opsi, termasuk militer, tersedia untuk menghadapi Teheran, sementara Iran bersumpah akan memberikan “respon komprehensif dan cepat” jika terjadi agresi baru.
Walla menambahkan: “Menurut perkiraan, kawasan ini dengan cepat mendekati skenario ekstrem yang melibatkan konfrontasi langsung antar negara dan serangan AS terhadap rezim Iran.”
Tekanan dari AS dan sekutunya, Israel, terhadap Teheran meningkat sejak terjadi gelombang aksi demo damai di Iran pada akhir Desember, yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan kehidupan, dan kemudian ditunggangi oleh gerombolan-gerombolan perusuh dan teroris yang disponsori asing hingga berubah menjadi gelombang kerusuhan berdarah. Gelombang kerusuhan terhenti setelah jutaan rakyat di seluruh penjuru Iran turun ke jalan mengutuk kawanan perusuh.
Teheran mengakui adanya ketidakpuasan publik, namun juga memastikan Washington dan Tel Aviv berupaya melalui sanksi, tekanan, hasutan menebar kekacauan demi menciptakan dalih bagi intervensi militer dan perubahan rezim.
Kesiagaan Israel
Walla menyatakan, “Tentara Israel terus mempertahankan tingkat kesiapan dan kesiagaan yang tinggi dalam menghadapi potensi serangan Iran terhadap jantung wilayah Israel. Peberapa pasukan cadangan sedang menunggu mobilisasi dari rumah atau tempat kerja mereka berdasarkan peringatan intelijen.”
Mengutip sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya, Wallah juga menyebutkan; “Jika terjadi perang, AS akan mengirimkan peringatan tepat waktu kepada Israel untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan tersebut.”
Juni lalu, Israel, dengan dukungan AS, melancarkan perang 12 hari terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran, sebelum AS mengumumkan gencatan senjata.
Walla menambahkan, “Pada saat yang sama, tentara Israel sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi kejutan apa pun di berbagai perbatasannya dan di Tepi Barat.”
Pengerahan Pasukan AS
Mengenai persiapan AS, Walla menyatakan: “AS terus mengerahkan pasukan mereka melalui udara, laut, dan darat di sekitar Iran, dan langkah pertama mereka antara lain menggunakan kekuatan militer yang signifikan untuk melawan upaya Iran menutup Selat Hormuz.” Selat Hormuz merupakan jalur air strategis untuk perdagangan global.
Menurut Walla, berbagai jenis pesawat AS telah mendarat di Timur Tengah dalam beberapa jam terakhir. “Ukuran pasukan dan aktivitas pengumpulan intelijen di wilayah tersebut dengan jelas menunjukkan niat Gedung Putih terhadap Iran,” tulisnya.
Niat ini, lanjutnya, termasuk “pembunuhan terarah terhadap pejabat senior dan penargetan lembaga keamanan untuk menghidupkan kembali oposisi terhadap rezim atau melancarkan kampanye untuk menggulingkannya. “
Wallah mengklaim, “Bukan suatu kebetulan bahwa laporan-laporan telah beredar di Timur Tengah tentang kemungkinan upaya pembunuhan oleh AS terhadap Pemimpin Besar Iran Ali Khamenei, yang, menurut laporan Iran, telah dipindahkan ke bunker bawah tanah karena takut akan serangan Angkatan Udara AS yang menggunakan persenjataan canggih.”
Wallah juga menyebutkan; “Di Teheran, terutama dalam 24 jam terakhir, mereka telah meninggalkan semua upaya menjaga kerahasiaan karena militer AS hampir sepenuhnya mengepung mereka dengan pesawat dan kapal.”
Sementara itu, Ulama senior Bahrain Syekh Issa Qassem memperingatkan bahwa jutaan orang siap mengorbankan nyawa mereka untuk membela Ayatullah Ali Khamenei.
Syekh Issa Qassem menyatakan pada hari Selasa bahwa Ayatollah Khamenei adalah pemimpin unik di dunia, yang dibedakan dari yang lain oleh latar belakang keagamaan yang mendalam, kedudukan spiritual, dan kepemimpinan politiknya.
“Seorang pemimpin yang untuknya jutaan pria dan wanita hebat di Iran siap mengorbankan nyawa mereka dan menganggap perintahnya sebagai perintah agama,” kata Syekh Qassem.
Dia juga memastikan bahwa umat Muslim di seluruh dunia mendukung Ayatollah Khamenei dan upayanya untuk mempromosikan stabilitas, perdamaian, dan persaudaraan di antara semua orang.
Pernyataan itu muncul lebih dari seminggu setelah Presiden AS Donald Trump menghina Ayatullah Khamenei dalam serangkaian pernyataan selama wawancara dengan Politico. (raialyoum/presstv)









