Jakarta, ICMES. Dewan Keamanan Iran dalam laporannya tentang gelombang kerusuhan yang beberapa waktu lalu melanda berbagai wilayah negara ini menyatakan korban jiwa mencapai 3.117 orang, termasuk warga sipil dan personel keamanan.

Iran memperingatkan bahwa konflik skala penuh dengan Amerika Serikat akan membawa malapetaka yang berkepanjangan, bahwa eskalasi militer hanya akan menyebabkan kehancuran jangka panjang.
Pejabat rumah sakit Gaza melaporkan bahwa pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 11 orang Palestina, termasuk dua anak laki-laki berusia 13 tahun, tiga jurnalis, dan seorang wanita, dalam beberapa serangan terpisah di Jalur Gaza.
Berita selengkapnya:
Total Korban Jiwa Gelombang Kerusuhan di Iran Tercatat 3.117 Orang
Dewan Keamanan Iran dalam laporannya tentang gelombang kerusuhan yang beberapa waktu lalu melanda berbagai wilayah negara ini menyatakan korban jiwa mencapai 3.117 orang, termasuk warga sipil dan personel keamanan.
Menurut laporan tersebut, puncak kekerasan terjadi pada tanggal 8 dan 9 Januari, dengan tingkat kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Menurut dokumentasi yang dimiliki Dewan, selama dua hari ini, kekejaman skala penuh dilakukan dengan dukungan dari pihak-pihak yang berniat jahat terhadap bangsa Iran,” ungkapnya.
Unsur-unsur teroris terlibat dalam “kejahatan ala ISIS”, termasuk pemenggalan kepala, penusukan, dan pembakaran orang hidup-hidup.
Serangan-serangan itu juga menyebabkan kehancuran yang meluas dengan serangan sistematis terhadap pasar, toko, bank, masjid, rumah sakit, ambulans, stasiun pemadam kebakaran, klinik, dan infrastruktur publik.
Dewan tersebut mencatat bahwa peristiwa itu dimulai dengan protes damai oleh para pedagang dan kelompok perdagangan atas kesulitan ekonomi, di mana Presiden Masoud Pezeshkian secara pribadi bertemu dengan perwakilan untuk mendengarkan kekhawatiran mereka dan menginstruksikan polisi untuk menahan diri secara maksimal.
Namun, laporan tersebut mengatakan bahwa sel-sel pengacau terorganisir turun tangan untuk mencegah resolusi damai dan beralih ke serangan bersenjata yang bertujuan untuk menjatuhkan korban massal dan menggoyahkan pusat-pusat kota.
Dewan Keamanan menjelaskan, “Setelah tahap ini, pada tanggal 8 dan 9 Januari, berbagai aksi teroris dilakukan di beberapa bagian negara untuk mendorong situasi di luar kendali dan menggoyahkan kota-kota melalui kekerasan maksimal dan serangan bersenjata terkoordinasi di tempat-tempat umum dan pertemuan yang bertujuan untuk menyebabkan korban jiwa dan menghancurkan properti publik dan swasta.”
Temuan intelijen menunjukkan bahwa kerusuhan tersebut merupakan respon langsung terhadap kegagalan “perang 12 hari” yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada Juni tahun lalu.
Disebutkan bahwa setelah menyadari bahwa agresi militer saja tidak dapat menghancurkan tekad Iran, poros AS-Zionis beralih membidik solidaritas sosial Iran.
“Musuh menyimpulkan bahwa alat-alat militer tidak dapat membuat bangsa Iran menyerah. Karena itu, mereka menargetkan integritas sosial bangsa untuk menghancurkan tekad nasional kolektif,” ungkap Dewan.
Dewan memuji keberhasilan menumpas “konspirasi jahat” terhadap Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, pengorbanan pasukan keamanan, dan “peristiwa bersejarah 12 Januari”, ketika jutaan warga Iran turun ke jalan untuk mengecam kekerasan.
Laporan tersebut menekankan bahwa situasi di Iran sudah kembali normal, dan bahwa “persatuan nasional rakyat Iran kembali memberikan kekalahan kepada musuh-musuh Iran.” (presstv)
Kembali Mengancam, Iran: Konfrontasi Total dengan AS akan Menjadi “Malapetaka Berkepanjangan”
Iran memperingatkan bahwa konflik skala penuh dengan Amerika Serikat (AS) akan membawa malapetaka yang berkepanjangan, bahwa eskalasi militer hanya akan menyebabkan kehancuran jangka panjang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya menjadi sasaran berbagai bentuk serangan oleh AS, dan mendesak Washington untuk “mengadopsi cara berpikir yang berbeda dan merasakan rasa hormat.”
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Wall Street Journal, pada hari Rabu (21/1), yang sebagian isinya dibagikan di akunnya di platform X, Araghchi menekankan bahwa berperang dengan Iran akan “berakibat malapetaka dan berlangsung lama,” memperingatkan bahwa konflik skala penuh akan sangat merusak dan amelampaui jangka waktu yang coba dipromosikan Israel kepada Gedung Putih.
Ia menyebutkan bahwa Iran telah menjadi sasaran berbagai serangan AS, termasuk serangan siber dan intervensi militer.
“Pesan Iran kepada Presiden Trump jelas: terlepas dari semua langkah permusuhan yang telah diambil AS terhadap Iran, mereka telah gagal total,” sambungnya.
Araghchi memperingatkan bahwa rakyat Iran menghadapi ancaman lain yang mengintai: “kegagalan diplomasi yang paling mendasar.”
Hal ini terjadi di tengah protes baru-baru ini di Iran karena krisis ekonomi yang memburuk, dan meningkatnya ketegangan serta ancaman antara Washington dan Teheran.
Sementara itu, Ketua Mahkamah Agung Iran Gholamhossein Mohseni-Eje’i mengatakan bahwa kekuatan musuh telah menggunakan penyebaran rumor dan perang psikologis terhadap Iran setelah gagal mencapai tujuan mereka dalam gelombang kerusuhan beberapa waktu lalu.
“Musuh, setelah menderita kekalahan dan mundur dalam kerusuhan baru-baru ini, kini beralih ke operasi psikologis yang meluas, penyebaran rumor, dan distorsi fakta,” kata katanya pada pertemuan para hakim dan staf Kehakiman di Provinsi Bushehr pada hari Rabu.
Menurutnya, sumber-sumber musuh menyebarkan angka-angka yang dibuat-buat dan dilebih-lebihkan tentang jumlah korban dalam peristiwa baru-baru ini. Dia memastikan klaim tersebut jauh dari kenyataan.
Mohseni-Eje’i menambahkan bahwa “musuh agresor,” selama perang 12 hari pada bulan Juni, telah keliru berasumsi bahwa Republik Islam Iran hampir runtuh.
“Namun, pada tahap itu, musuh mengalami kekalahan total. Akibatnya, mereka berusaha untuk melanjutkan konspirasi mereka dalam bentuk yang berbeda, menerapkannya melalui kerusuhan baru-baru ini. Karena itu, kerusuhan baru-baru ini merupakan kelanjutan dari perang 12 hari,” terangnya. (raialyoum/presstv)
Serangan Israel di Gaza Gugurkan 11 Orang, Termasuk Anak Kecil dan Wartawan
Pejabat rumah sakit Gaza melaporkan bahwa pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 11 orang Palestina, termasuk dua anak laki-laki berusia 13 tahun, tiga jurnalis, dan seorang wanita, dalam beberapa serangan terpisah di Jalur Gaza pada hari Rabu (21/1).
Dalam satu serangan, drone Israel menghantam sisi timur kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah, menggugurkan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun, ayahnya, dan seorang pria berusia 22 tahun. Pejabat di Rumah Sakit Syahid Al-Aqsa di Deir al-Balah terdekat mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerima jenazah para korban tersebut.
Dalam serangan terpisah, pasukan Zionis menggugurkan tiga bersaudara dalam penembakan tank di kamp pengungsi Bureij, dan jenazah mereka dibawa ke rumah sakit yang sama, kata para pejabat.
Rumah Sakit Nasser mengkonfirmasi bahwa seorang anak laki-laki berusia 13 tahun lainnya ditembak mati oleh pasukan Israel saat mengumpulkan kayu bakar di kota Bani Suheila di timur. Dalam rekaman yang beredar online, ayah anak laki-laki itu terlihat menangis di atas tubuh anaknya di tempat tidur rumah sakit.
Kemudian pada hari itu, pasukan Israel menyerang sebuah kendaraan yang membawa tiga jurnalis Palestina di kota al-Zahraa di wilayah tengah.
Menurut Mohammed Mansour, juru bicara komite pemerintah Mesir yang mengawasi kamp tersebut, para jurnalis sedang merekam operasinya di lokasi pengungsian yang baru didirikan di Netzarim, Gaza tengah.
Jenazah dua jurnalis dibawa ke RS al-Shifa di Kota Gaza, sementara yang ketiga dipindahkan ke RS Syahid Al-Aqsa.
Rekaman video yang beredar daring menunjukkan kendaraan yang hangus dan hancur akibat bom di pinggir jalan, dengan puing-puing berserakan di sekitarnya.
Para pejabat RS Nasser mengatakan pihaknya menerima jenazah seorang wanita Palestina yang ditembak dan dibunuh oleh pasukan Israel di daerah al-Mawasi di kota Khan Younis selatan.
Pembunuhan tersebut termasuk yang terbaru yang dilaporkan di Gaza sejak gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku pada bulan Oktober.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 470 warga Palestina gugur akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata dimulai.
Badan anak-anak PBB, UNICEF, pada 13 Januari menyatakan lebih dari 100 anak telah gugur di Gaza sejak Oktober.
Juru bicara UNICEF, James Elder, mengatakan kepada wartawan bahwa hampir semua kematian — 60 anak laki-laki dan 40 anak perempuan — diakibatkan oleh serangan militer Israel, termasuk serangan udara, serangan pesawat nirawak, penembakan tank, tembakan senjata, dan tembakan quadcopter. Sejumlah kecil disebabkan oleh sisa-sisa perang yang belum meledak. (presstv)









