Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Sabtu 17 Januari 2026

Pasukan keamanan Iran menyatakan pihaknya telah menyita 60.000 dan membongkar sel teroris yang dilatih Mossad untuk menunggangi aksi protes yang semula berjalan damai tapi kemudian berubah rusuh akibat campur tangan asing.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyoroti peran langsung AS-Israel dalam kerusuhan dan aksi teror yang terjadi di Iran belakangan ini, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa demonstrasi akbar jutaan orang setelahnya menunjukkan “kondisi (Iran) yang sebenarnya.”

Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan pihaknya “serius” akan membidik setiap kehadiran Israel di wilayah Somalia yang memproklamirkan diri sebagai “Somaliland”.

 Pasukan keamanan Iran menyatakan pihaknya telah menyita 60.000 dan membongkar sel teroris yang dilatih Mossad untuk menunggangi aksi protes yang semula berjalan damai tapi kemudian berubah rusuh akibat campur tangan asing.

Komando Penegakan Hukum Iran (FARAJA) mengumumkan bahwa “60,000 senjata ditemukan bersama para perusuh di Bushehr,”  senjata-senjata ini ditujukan untuk Teheran, dan dua teroris juga ditangkap dalam operasi tersebut.

Sementara itu, pasukan intelijen berhasil mengidentifikasi dan menangkap anggota “geng teroris berbahaya dan bersenjata” yang ditugaskan untuk membunuh orang.

Menurut kantor berita Tasnim, sel ini dilatih oleh Mossad dalam metode perang kota tingkat lanjut dan ditugaskan untuk memanfaatkan kerusuhan untuk menyebabkan kematian, “setelah melakukan banyak kejahatan teroris”.

Setelah menerima berbagai jenis senjata dan peralatan perang kota dari para pemimpin yang ditunjuk, geng ini bergerak melalui jalan-jalan ibu kota, dan melepaskan tembakan ke arah kerumunan, menyebabkan ratusan orang tewas dan terluka, ungkap laporan itu.

Gambar yang diperoleh dari pergerakan geng teroris ini menunjukkan distribusi berbagai jenis persenjataan, termasuk senapan AK-47 dan senapan laras pendek, serta peralatan komunikasi, seperti telepon satelit, yang digunakan oleh teroris terlatih untuk membunuh ratusan orang.

Para anggota sel ini juga menyerang markas militer dan polisi, mencuri senjata dan mendistribusikannya untuk menciptakan perang kota dan meningkatkan jumlah kematian.

Laporan itu menambahkan bahwa selama operasi pelacakan, “sejumlah besar senjata dengan berbagai jenis, amunisi, dan peralatan satelit ditemukan dan disita,”

Demonstrasi damai akhir bulan lalu secara bertahap berubah menjadi kekerasan, ketika para perusuh mengamuk di kota-kota di seluruh negeri, membunuh pasukan keamanan dan warga sipil serta menyerang infrastruktur publik.

Para pejabat Iran mengaitkan kerusuhan dan aksi terorisme dengan AS dan rezim Israel.

AS dan Mossad Israel mengakui keterlibatan mereka di lapangan. Mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mencuit, “Selamat Tahun Baru untuk setiap warga Iran di jalanan. Juga, untuk setiap agen Mossad yang berjalan di samping mereka.”

Dalam unggahan media sosial berbahasa Farsi, Mossad mendorong para perusuh untuk “Turun bersama ke jalanan. Waktunya telah tiba,” dan menyatakan bahwa agen Mossad bersama para perusuh “tidak hanya dari kejauhan dan secara verbal. Kami bersama (mereka) di lapangan.” (presstv)

Kepada Presiden Iran, Putin: Demo Akbar Menunjukkan Realitas  Iran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyoroti peran langsung AS-Israel dalam kerusuhan dan aksi teror yang terjadi di Iran belakangan ini, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa demonstrasi akbar jutaan orang setelahnya menunjukkan “kondisi (Iran) yang sebenarnya.”

Dalam percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Jumat, (16/1), Pezeshkian meninjau perkembangan terbaru di Iran, di mana protes damai ditunggangi hingga berubah menjadi kekerasan terorganisir pada pekan lalu.

Pezeshkian mengatakan pendekatan kebijakan dalam negeri Iran berpusat pada rakyat. “Pendekatan kami dalam kebijakan dalam negeri didasarkan pada rakyat, dan semua upaya kami difokuskan untuk mendengarkan tuntutan yang sah dari rakyat dan mengurangi masalah yang disebabkan oleh sanksi yang kejam,” katanya.

Dia menambahkan bahwa partisipasi besar-besaran dan epik rakyat Iran dalam aksi nasional pro-pemerintah pada hari Senin menggagalkan rencana para perusuh.

“Bangsa Iran yang hebat, melalui kehadirannya yang epik dan berjumlah jutaan orang dalam waktu singkat setelah kejadian ini, mengakhiri kerusuhan,” kata Pezeshkian.

Presiden Iran berterima kasih kepada Rusia atas sikap dukungannya terhadap Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai forum internasional lainnya.

Di pihak lain, Putin, mengatakan Rusia mengikuti perkembangan di Iran dengan cermat dan teliti, dan menyebut kerusuhan itu menyerupai skenario “revolusi warna”, sambil mengakui bahwa sanksi jangka panjang turut berdampak pada tantangan ekonomi dan sosial di Iran.

“Kami sepenuhnya memahami bahwa masalah ekonomi dan sosial dapat muncul karena dampak sanksi jangka panjang yang tidak adil,” kata Putin. Dia menambahkan bahwa bagaimanapun, bahwa kerusuhan dan kekerasan tidak ada hubungannya dengan protes damai dan sipil.

Presiden Rusia mengutuk serangan terhadap fasilitas negara, publik, dan keagamaan, serta serangan kekerasan terhadap pasukan keamanan dan penegak hukum, dan memastikan tindakan tersebut dilakukan dengan dukungan asing.

Dia mengatakan bahwa partisipasi jutaan warga Iran dalam demonstrasi yang mendukung sistem, kepemimpinan, dan pemerintah mereka “jelas mencerminkan kondisi nyata di Iran.”

Putin menyatakan harapan bahwa langkah-langkah ekonomi pemerintah Iran akan mengarah pada perbaikan kondisi dan mengatakan bahwa upaya diplomatik Rusia sedang berlangsung untuk mengklarifikasi posisi Iran dan mencegah peningkatan ketegangan di arena internasional.

Pada hari yang sama, Kremlin mengatakan Putin juga berbicara secara terpisah dengan perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai bagian dari upaya Rusia untuk membantu mencegah peningkatan lebih lanjut di kawasan tersebut.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan situasinya tetap “sangat tegang” dan bahwa Moskow terus melakukan kontak untuk mendorong de-eskalasi. (presstv)

Pemimpin Ansarullah Yaman Ancam akan Serangan Konsentrasi Israel di Somaliland

Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan pihaknya “serius” akan membidik setiap kehadiran Israel di wilayah Somalia yang memproklamirkan diri sebagai “Somaliland”.

Sayyid al-Houthi menegaskan hal itu dalam pidato yang disiarkan televisi momen haul pendiri Ansarullah, Sayyid Hussein Badreddin al-Houthi, pada Kamis malam (16/1).

Pada 26 Desember 2015 Rezim Zionis Israel mengumumkan pengakuannya atas  kedaulatan Somaliland yang memproklamirkan diri sebagai negara merdeka dan berdaulat. Tindakan Israel itu menuai kecaman dari negara-negara Arab dan internasional.

Sayyid Al-Houthi menyatakan pihaknya “menegaskan kembali dukungan Yaman kepada rakyat Muslim Somalia,” dan menganggap perkembangan di kawasan sebagai “ancaman bagi Yaman dan rakyat di kawasan tersebut,” serta bahaya bagi Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.

Dia menambahkan, “Tindakan nyata diperlukan. Kami terus memantau dan serius untuk menargetkan setiap kehadiran Israel di Somalia, baik pangkalan militer maupun posisi tetap lainnya yang tersedia bagi kami, dan kami tidak akan ragu untuk menargetkannya secara militer.”

Menurutnya, Israel “berupaya mencapai tujuannya di Somalia” dengan memanfaatkan lokasi geografisnya yang menghadap Laut Merah, Teluk Aden, dan Selat Bab al-Mandab, dan menganggap hal ini sebagai “ancaman bagi kawasan ” dan upaya untuk mengendalikan jalur air.

Ansarullah menyebut kunjungan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar ke Somaliland dilakukan secara “rahasia” dan tanpa pengumuman sebelumnya.

Hingga Jumat malam, belum ada tanggapan dari Israel terhadap pernyataan Pemimpin Ansarullah.

Pada 6 Januari, Sa’ar tiba di Somaliland, menandai kunjungan pertama sejak Tel Aviv mengakui wilayah yang memisahkan diri tersebut.

Somaliland belum menerima pengakuan resmi sejak mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1991 dan bertindak sebagai entitas independen secara administratif, politik, dan dalam hal keamanan, sementara pemerintah pusat belum mampu menjalankan kendalinya atas wilayah tersebut.

Somalia sedang berjuang untuk pulih setelah puluhan tahun konflik, kekacauan, dan bencana alam, ditambah dengan tahun-tahun pertempuran melawan kelompok bersenjata yang terkait dengan al-Qaeda. (raialyoum)