Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Kamis 29 Januari 2026

Jakarta, ICMES. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan negara ini memegang kendali lebih besar dalam menentukan hasil perang apa pun, dan bahwa penerapan tekanan militer terhadap Republik Islam tidak akan membuahkan hasil.

Menyinggung apa yang disebutnya propaganda media Barat yang menggembar-gemborkan perang secara bersamaan dengan peningkatan kekuatan militer AS, Naeini mengatakan bahwa situasi di lapangan berbeda dengan narasi media musuh.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Habibollah Sayyari, menanggapi aksi unjuk gigi AS  dengan  mengatakan, “AS telah mengejar ‘diplomasi kapal perang’ sejak tahun 1981. Mereka mencoba mengintimidasi pihak lain dengan mengerahkan kapal-kapal besar dan peralatan yang ekstensif, menciptakan ilusi kemampuan mereka untuk menimbulkan kerusakan.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui Iran memiliki kemampuan mengancam pasukan AS di Timur Tengah.

Mesir dan Qatar menekankan pentingnya mengandalkan jalur diplomatik dan berupaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk melanjutkan dialog antara AS dan Iran mengenai program nuklir Iran.

Berita selengkapnya:

Tak Bisa Digertak, Jenderal IRGC: Pengerahan Militer AS Taktik Lawas

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan negara ini memegang kendali lebih besar dalam menentukan hasil perang apa pun, dan bahwa penerapan tekanan militer terhadap Republik Islam tidak akan membuahkan hasil.

Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali-Mohammad Naeini, Rabu (28/1), menyebutkan bahwa pengalaman perang 12 hari yang dipaksakan oleh rezim Israel dan AS terhadap Iran pada bulan Juni menunjukkan bahwa “opsi militer terhadap Iran telah gagal.”

Naeini juga mengatakan upaya untuk mengintimidasi Iran melalui sinyal dan pengerahan militer, termasuk pengerahan kapal induk Amerika bekalangan ini, bukanlah hal baru,  melainkan “taktik lama yang digunakan oleh pejabat Amerika.”

Dia mengaitkan peningkatan militer itu dengan “kebingungan dan keputusasaan” para pejabat Gedung Putih atas perlawanan Iran dalam Perang 12 Hari maupun gelombang kerusuhan yang disponsori AS dan Israel namun gagal di Iran pada awal Januari.

Menurut Naeini, setelah “kekalahan cepat dan telak pemberontakan yang didukung Amerika di Iran,” para pejabat AS telah berupaya untuk mengobarkan ketegangan dan menyebarkan ketakutan di dalam masyarakat Iran.

Namun, lanjutnya, upaya tersebut telah gagal karena tindakan anti-Iran secara konsisten menemui “benteng kuat rakyat dan persatuan nasional Iran.”

Fakta Lapangan  VS Narasi Media

Menyinggung apa yang disebutnya propaganda media Barat yang menggembar-gemborkan perang secara bersamaan dengan peningkatan kekuatan militer AS, Naeini mengatakan bahwa situasi di lapangan berbeda dengan narasi media musuh.

“Kami memiliki kendali penuh atas situasi ini,” katanya, sembaru menambahkan bahwa IRGC bangga menjadi “perisai bangsa Iran yang agung terhadap konspirasi apa pun.”

Dia memastikan Angkatan Bersenjata Iran sepenuhnya menyadari pergerakan dan perilaku musuh dan memiliki “rencana operasional untuk semua skenario musuh.”

Merujuk pada konfrontasi pada Juni tahun lalu, Naeini mengatakan musuh “belum melupakan serangan awal kami di al-Udeid,” pangkalan udara AS di Qatar yang telah dihujani rudal balistik Iran sebagai balasan atas keterlibatan Washington dalam Perang 12 Hari Iran VS Israel

Dia menegaskan Iran memiliki pengalaman mengalahkan musuh dalam peperangan modern “dalam skala besar” dan di “medan perang yang paling berbahaya dan kompleks.”

Iran Siap Menembak

Peringatan keras terhadap AS juga dilontarkan oleh para pejabat Iran lainnya di hari yang sama. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran siap “siap menembak” dalam menanggapi “segera dan dengan kuat” segala bentuk agresi.

Dia mengatakan bahwa negaranya mengintegrasikan “pelajaran berharga” dari Perang 12 Hari, yang memungkinkan tanggapan “cepat dan mendalam.”

Senada dengan ini, Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Besar Iran, memperingatkan bahwa setiap tindakan militer AS akan dianggap sebagai awal perang dan akan dibalas “segera, habis-habisan, dan belum pernah terjadi sebelumnya”.

Sehari sebelumnya Presiden AS Donald Trump  mengatakan bahwa “armada kapal perang yang indah lainnya”, selain kapal induk Abraham Lincoln, “mengapung dengan indah menuju Iran”  dan bahwa pengerahan tersebut dimaksudkan untuk menekan Teheran agar bernegosiasi.

Trump memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan mengakibatkan serangan militer yang “jauh lebih buruk” daripada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni.

Sementara itu, jumlah kapal AL AS di kawasan Timteng dilaporkan bertambah setelah tibanya kelompok serang kapal induk baru.

Jumlah kapal yang telah dikerahkan AS ke Timur Tengah kini hampir sama dengan jumlah kapal yang dimiliki Washington di Karibia sebelum serangan pasukan khusus AS yang berujung penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Pada hari Rabu, seorang pejabat AS mengatakan jumlah total kapal AS yang dikerahkan ke Timur Tengah telah mencapai sepuluh,  termasuk kelompok serang kapal induk Abraham Lincoln, yang terdiri dari tiga kapal perusak dan pesawat tempur siluman F-35C.

Terdapat juga enam kapal perang AS lainnya yang beroperasi di kawasan tersebut: tiga kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir.

Dalam unggahan di platform Truth Social miliknya pada hari Rabu, Donald Trump menyatakan “armada besar sedang menuju Iran.” Dia juga menyebutkan, “Seperti halnya dengan Venezuela, armada tersebut siap, bersedia, dan mampu menyelesaikan misinya dengan cepat dan tegas jika perlu.”

Presiden AS mendesak Iran untuk mempercepat upaya mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya, dan memperingatkan bahwa “waktu hampir habis” sembari mengancam bahwa serangan AS kali ini akan “jauh lebih buruk” bagi Teheran.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Habibollah Sayyari, menanggapi aksi unjuk gigi AS  dengan  mengatakan, “AS telah mengejar ‘diplomasi kapal perang’ sejak tahun 1981. Mereka mencoba mengintimidasi pihak lain dengan mengerahkan kapal-kapal besar dan peralatan yang ekstensif, menciptakan ilusi kemampuan mereka untuk menimbulkan kerusakan.”

Laksamana Sayyari menambahkan,”Mereka mencari hegemoni melalui aksi demikian, tetapi kita telah belajar pelajaran dari Imam Khomaini; jangan takut pada kekuatan-kekuatan kosong ini.”

Dia juga mengatakan, “Pameran kedatangan armada mereka yang diikuti dengan penambahan armada lain seharusnya tidak membuat kita salah perhitungan. Jika agresi terjadi, yakinlah mereka akan menderita kerugian besar.”

Ribuan Rudal Iran Mengancam

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui Iran memiliki kemampuan mengancam pasukan AS di Timur Tengah.

Rubio mengatakan Iran memiliki ribuan rudal balistik dan drone yang mampu menjangkau 30.000 -40.000 pasukan AS yang ditempatkan di sembilan lokasi strategis di kawasan tersebut.

Menurutnya, rezim Iran telah berkuasa dalam waktu yang lama, dan skenario apa pun yang melibatkan keruntuhannya memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap kehadiran AS di Timur Tengah.

Dia juga mengaku berharap tidak perlu ada opsi militer terhadap Iran, karena setiap langkah yang salah perhitungan dapat menimbulkan dampak serius bagi pasukan AS dan seluruh kawasan.

Upaya Mesir dan Qatar

Mesir dan Qatar menekankan pentingnya mengandalkan jalur diplomatik dan berupaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk melanjutkan dialog antara AS dan Iran mengenai program nuklir Iran.

Hal ini disampaikan dalam percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdel-Aty dan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, di mana mereka membahas hubungan bilateral dan isu-isu regional yang menjadi kepentingan bersama.

Kedua pihak bertukar pandangan mengenai perkembangan di kawasan dan mekanisme upaya meredakan ketegangan yang ada, sembari menekankan perlunya menggandakan upaya untuk mengurangi ketegangan dan mencegah eskalasi, serta demi menyelamatkan kawasan dari gelombang instabilitas lebih lanjut dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk solusi politik dan diplomatik.

Mereka menekankan pentingnya berpegang pada jalur diplomatik, yang mengarah pada penyelesaian komprehensif yang mempertimbangkan kepentingan semua pihak dan mendukung keamanan dan stabilitas baik di tingkat regional maupun internasional. (alalam/pt/ry)