Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Jumat 23 Januari 2026

Jakarta, ICMES. Mantan menteri perang Israel, Avigdor Lieberman mengakui bahwa serangan dahsyat rudal Iran menimbulkan kerugian besar pada “target strategis” Israel selama Perang 12 Hari pada Juni 2025.

Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Mayjen Abdollahi, menegaskan kepada musuh-musuh Iran bahwa masa “gempur lalu kabur sudah usai untuk selamanya”, dan karena itu segala bentuk serangan terhadap wilayah Iran akan segera dibalas sengit oleh Angkatan Bersenjata negara ini.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan kembali penentangan negaranya terhadap campur tangan asing di Iran.

Berita selengkapnya:

Mantan Menteri Perang Israel Ceritakan Kedahsyatan Rudal Iran

Mantan menteri perang Israel, Avigdor Lieberman mengakui bahwa serangan dahsyat rudal Iran menimbulkan kerugian besar pada “target strategis” Israel selama Perang 12 Hari pada Juni 2025.

“Kita memiliki angkatan udara terbaik di dunia, tetapi pada saat yang sama, kita melihat kekuatan sebenarnya dari rudal balistik Iran: Emad-1, Shahab-3, Khorramshahr, dan lainnya,” kata Lieberman pada hari Kamis (22/1).

“Jelas, Iran menyerang target strategis Israel. Saya tidak ingin membahas detailnya; tidak mungkin untuk menjelaskan lebih lanjut sekarang,” sambungnya.

Dia juga mengatakan, “Iran berhasil menghancurkan laboratorium dan semua penelitian yang telah dikumpulkan, semua data dan hasil kerja kita selama beberapa dekade.”

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memulai serangan balik dalam operasi militer Janji Nyata III pada malam hari tanggal 13 Juni 2025, beberapa jam setelah rezim Zionis Israel, yang didukung oleh AS, melakukan agresi militer skala besar di berbagai lokasi di Iran terhadap fasilitas nuklir, infrastruktur militer, dan bangunan tempat tinggal di Teheran dan kota-kota lainnya.

Dalam agresi itu Israel membunuh sejumlah perwira tinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran serta warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.

Operasi Iran terbaru melibatkan serangan rudal dan drone skala besar oleh IRGC terhadap situs-situs di seluruh wilayah Palestina yang diduduki.

“Iran menyerang target strategis, dan kita belum siap untuk bertahan sekarang,” kata Liberman.

“Kemarin, saya membaca di surat kabar bahwa Netanyahu meminta Trump untuk menunda serangan terhadap Iran, karena kita belum siap di bidang pertahanan,” imbuhnya.

Laporan media Barat mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini meminta Presiden AS Donald Trump untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran.

Laporan media Israel mengatakan bahwa kemungkinan ada berbagai alasan mengapa Netanyahu mendorongnya ke arah itu. Menurut para pengamat, keengganan Netanyahu mengungkap celah pertahanan udara baru dan bahwa Israel tidak mampu menghadapi potensi serangan rudal balistik Iran. (presstv)

Kepada AS, Jenderal Iran: Masa Gempur lalu Kabur Sudah Usai

Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Mayjen Abdollahi, menegaskan kepada musuh-musuh Iran bahwa masa “gempur lalu kabur sudah usai untuk selamanya”, dan karena itu segala bentuk serangan terhadap wilayah Iran akan segera dibalas sengit oleh Angkatan Bersenjata negara ini.

Mengomentari ancaman terbaru presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran, Abdollahi menyatakan bahwa AS sepenuhnya menyadari konsekuensi dari setiap kesalahan perhitungan, dan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran, keamanannya, atau kepentingan rakyatnya, sejak saat pertama, akan menjadikan semua kepentingan, pangkalan, dan pusat pengaruh AS sebagai target yang sah dan tak terhindarkan dalam jangkauan Angkatan Bersenjata Iran.

Abdollahi mengingatkan bahwa kemampuan pertahanan negara republik Islam ini nyata, efektif, dan tak tergoyahkan, didukung rakyat serta keyakinan, kemauan nasional, dan bertumpu pada sumber daya domestik.

Dia menjelaskan bahwa kemampuan ini tidak hanya mengganggu perhitungan strategis musuh melainkan juga telah berulang kali membuktikan efektivitasnya di lapangan, sebuah fakta yang dipahami dengan baik oleh AS dan semua musuh bangsa Iran lainnya.

Menurutnya, kesalahan strategis AS dan entitas Zionis dalam mendukung kerusuhan, hasutan, dan operasi teroris belakangan ini terhadap Iran, ditambah dengan respon tegas, cerdas, dan menentukan dari rakyat Iran dalam demonstrasi akbar melawan perusuh pada 12 Januari merupakan bukti nyata kegagalan proyek-proyek permusuhan, dan menjadi peringatan yang konsisten bagi para perencana dan pendukungnya.

Abdollahi menjelaskan bahwa ancaman dan pernyataan tidak bertanggung jawab dari presiden AS tidak hanya dikutuk secara luas di dunia Islam, melainkan juga mendakan kecaman serius di dalam AS sendiri, bahkan di Kongres, yang mencerminkan isolasi yang semakin meningkat dan kegagalan berkelanjutan petulangan agresif presiden AS.

Sementara itu, Komandan Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memperingatkan Washington pada hari Kamis bahwa Teheran siap melancarkan serangan militer menyusul protes rakyat, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan Republik Islam tetap tertarik untuk berdialog dengan Washington.

Trump secara konsisten membuka opsi aksi militer baru terhadap Iran setelah Washington mendukung dan berpartisipasi dalam Perang 12 Hari dengan dalih demi melemahkan program nuklir dan rudal Iran.

Namun, kemungkinan tindakan militer langsung AS terhadap Teheran tampak menurun selama seminggu terakhir, setelah kedua pihak berbicara tentang pemberian peluang pada diplomasi, meskipun laporan media AS menunjukkan bahwa Trump masih mempertimbangkan pilihannya.

Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Trump mengatakan AS membom fasilitas nuklir Iran tahun lalu untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Iran membantah bahwa programnya bertujuan untuk memperoleh bom nuklir, dan bersikeras bahwa program tersebut murni bertujuan sipil.

“Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi. Iran ingin berbicara, dan kita akan berbicara,” kata Trump.

Melanjutkan retorikanya yang tidak menentu terhadap Republik Islam, Trump memperingatkan para pemimpin Iran pada hari Selasa bahwa AS  akan “menghapus mereka dari muka bumi” jika ia secara pribadi diserang sebagai balasan atas potensi serangan terhadap Ayatullah Khamenei. (alalam/ry)

Kepada Pezeskhkian, Erdogan: Kami Menolak Campur Tangan Asing

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan kembali penentangan negaranya terhadap campur tangan asing di Iran.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (22/1), Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki mengatakan bahwa Presiden Erdogan, dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Iran dan menegaskan kembali penentangan Turki terhadap intervensi asing apa pun.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Erdogan membahas perkembangan terkini di Iran, hubungan bilateral, dan isu-isu regional, dan menekankan bahwa penyelesaian masalah tanpa eskalasi lebih lanjut juga akan menguntungkan Ankara.

Erdogan menekankan bahwa penyelesaian masalah dan pencegahan eskalasi ketegangan di kawasan juga menguntungkan Turki.

Di pihak lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa turunnya jutaan rakyat Iran di jalanan dalam aksi nasional melawan perusuh telah menggagalkan rencana pihak-pihak yang mensponsori kerusuhan.

Kerusuhan dan kekerasan yang menargetkan keamanan warga dan stabilitas negara terjadi di Iran pada tanggal 8 dan 9 Januari, ketika protes damai yang menuntut perbaikan kondisi hidup ditunggangi oleh kawanan pelaku sabotase,vandalis dan teroris yang didukung oleh entitas asing.

Pasukan keamanan Iran berhasil menangkap sejumlah perusuh dan teroris, yang mengaku berpartisipasi dalam tindakan kekerasan dan sabotase, termasuk menyerang personel keamanan dan menghancurkan properti publik dan swasta. (alalam)