Jakarta, ICMES. Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Mohammad Pakpour memperingatkan AS dan Israel bahwa jika mereka “salah perhitungan” maka akan ditanggapi dengan respon yang tegas dan menghancurkan.

Laksamana Ali Shamkhani, Penasehat Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa serangan rudal Juni lalu terhadap Pangkalan Udara Al Udeid milik militer Amerika Serikat di Qatar harus menjadi pengingat bagi Presiden Donald Trump tentang tekad dan kemampuan Iran untuk merespon setiap agresi.
Mantan diplomat Iran Amir Musawi menyatakan Iran telah melayangkan surat resmi kepada semua negara jirannya perihal jika mereka memfasilitasi serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Berita selengkapnya:
IRGC Bersumpah akan Membalas Sengit Jika AS dan Israel “Salah Perhitungan”
Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Mohammad Pakpour memperingatkan AS dan Israel bahwa jika mereka “salah perhitungan” maka akan ditanggapi dengan respon yang tegas dan menghancurkan.
Dalam sebuah pernyataan, Rabu (14/1), Pakpour mengatakan IRGC tetap berada pada tingkat kesiapan tertinggi untuk membongkar “konspirasi khayalan” yang dirancang oleh Gedung Putih dan Tel Aviv.
Dia menyebut para otak di balik kerusuhan belakangan ini sebagai “tentara bayaran ala ISIS” yang beraksi di bawah arahan kekuatan asing.
“IRGC yang kuat dan populer berada pada tingkat kesiapan tertinggi untuk memberikan respons tegas terhadap kesalahan perhitungan musuh dan tentara bayaran domestik bergaya Daesh mereka,” kata Pakpour.
Dia menambahkan, “Dengan tawakkal kepada Allah dan di bawah naungan Pemimpin Besar, dan melalui persatuan suci bangsa Iran, kita akan mengandaskan rencana para penguasa di Gedung Putih dan Tel Aviv terhadap Iran nan tangguh.”
Panglima IRGC menyebut Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai arsitek utama kerusuhan darah di Iran belakangan ini.
“Tidak diragukan lagi, Trump dan Netanyahu adalah pembunuh pemuda Iran dan pembela keamanan negara,” ungkapnya.
Dia juga menyebut Trump sebagai “penjudi kriminal” dan “Namrud zaman ini,” dan Netanyahu sebagai “pembunuh anak-anak”. Dia mengatakan “kejahatan brutal” mereka di seluruh tanah air Iran tidak akan pernah dilupakan dan akan dibalas.
Jenderal Pakpour juga mengapresiasi partisipasi rakyat dalam aksi nasional berupaka unjuk rasa akbar di seantero Iran pada 12 Januari, dan memuji “wawasan dan keberanian” rakyat Iran yang berdiri dalam solidaritas dengan para martir keamanan.
Dia menilai banyaknya pelayat dalam prosesi pemakaman mencerminkan martabat bangsa yang tak tergoyahkan dan penolakan tegasnya untuk tunduk pada tekanan eksternal dan terorisme yang didukung negara.
Sementara itu, Komandan Divisi Dirgantara IRGV, Brigjen Majid Mousavi, mengatakan pihaknya telah mencapai tingkat kesiapan pertahanan tertinggi dan siap untuk meladeni setiap agresi terhadap Iran.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (14/1) Mousavi mengatakan bahwa produksi perangkat keras kedirgantaraan di berbagai sektor telah meningkat signifikan sejak perang AS-Israel selama 12 hari pada Juni 2025.
Dia memastikan kerentanan yang teridentifikasi dalam Perang 12 Hari melawan Israel dan AS telah sepenuhnya diatasi.
“Angkatan Udara IRGC saat ini berada di puncak kesiapannya,” ujarnya.
Jenderal Mousavi mengatakan industri pertahanan dalam negeri telah mempercepat produksinya untuk memastikan keamanan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump, yang pada hari Selasa menyerukan para perusuh di Iran untuk menyerbu lembaga-lembaga negara dan mengklaim bantuan AS untuk mereka “sedang dalam perjalanan.”
Iran telah mengancam akan menyerang kepentingan AS-Israel di Timur Tengah jika terjadi agresi lain oleh kedua rezim tersebut.
Samkhani Ingatkan AS dengan Serangan ke Lanud Al Udeid
Laksamana Ali Shamkhani, Penasehat Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa serangan rudal Juni lalu terhadap Pangkalan Udara Al Udeid milik militer Amerika Serikat di Qatar harus menjadi pengingat bagi Presiden Donald Trump tentang tekad dan kemampuan Iran untuk merespon setiap agresi.
“Presiden AS, yang berulang kali menyebutkan serangan sia-sia terhadap fasilitas nuklir Iran, sebaiknya juga menyebutkan serangan rudal Iran terhadap pangkalan Al Udeid Amerika,” kata Laksamana Ali Shamkhani dalam sebuah unggahan di X pada hari Rabu.
“Hal itu tentu akan membantu menciptakan pemahaman realistis tentang tekad dan kemampuan Iran untuk merespons setiap agresi,” tambah Shamkhani, yang terluka ketika kediamannya menjadi sasaran serangan Israel dalam peristiwa Perang 12 hari pada tahun lalu.
Pernyataan demikian dari Shamkhani mengemuka tak lama setelah media AS melaporkan bahwa beberapa personel di Al Udeid disarankan untuk meninggalkan pangkalan tersebut pada Rabu malam di tengah kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington dapat meningkat menjadi konfrontasi militer.
Iran menyerang pangkalan Al Udeid, pangkalan militer AS terbesar di Asia Barat, dengan rudal pada Juni lalu setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran untuk mendukung agresi Israel terhadap Iran.
Pangkalan Al Udeid, yang terletak di luar Doha, berfungsi sebagai markas besar terdepan untuk Komando Pusat AS dan mengarahkan operasi militer AS di seluruh kawasan Timur Tengah.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump telah berulang kali mengancam akan melancarkan serangan lain demi membela para perusuh di Iran.
Jutaan warga Iran berunjuk rasa di seluruh negeri pada hari Senin untuk mengutuk kerusuhan dan penghancuran properti publik dan swasta, serta menyatakan dukungan kepada pemerintahan Republik Islam. Ketenangan kembali ke kota-kota besar setelah unjuk rasa tersebut.
Namun, Trump pada hari Selasa menyeru para perusuh untuk merebut lembaga-lembaga negara, dan mengatakan kepada kelompok-kelompok yang didukung asing bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan.”
Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut akan menjadi sasaran jika Washington melancarkan serangan apa pun.
Iran Ancam Negara-Negara Jiran yang Bersekongkol dengan AS dan Israel
Mantan diplomat Iran Amir Musawi menyatakan Iran telah melayangkan surat resmi kepada semua negara jirannya perihal jika mereka memfasilitasi serangan AS dan Israel terhadap Iran.
“ Dalam kerusuhan yang terjadi (di Iran) belakangan ini, kawanan senjata, dana, perlengkapan, peta, dan daftar nama target pembunuhan telah masuk (ke Iran) dari tiga negara tetangga. Tiga negara ini kemungkinan akan menjadi target serangan dalam waktu dekat ini. Ada tiga negara jiran,” katanya saat menjadi narasumber di studia TV Al Ekhbariya Irak di Baghdad, Rabu (14/1).
“Semua bukti menunjukkan bahwa mereka membantu, bekerja sama dan memfasilitasi penyebrangan kawanan teroris ke Republik Islam Iran. Melalui podium Anda ini saya sebagai pengamat, bukan pejabat, ingin menyampaikan pesan bahwa mereka hendaklah berkomunikasi dengan para pemimpin Iran sesegera mungkin untuk memberikan penjelasan dan mengungkap sel-sel teroris lainnya,” imbuh Musawi.
Dia menjelaskan, “Ada tiga di antara tujuh negara tetangga. Tiga negara itu terlibat secara langsung. Ada pengakuan-pengakuan krusial. Ada pengambilan gambar bahkan terkait dengan pertemuan-pertemuan di hotel-hotel tertentu dengan gerombolan perusuh dan perusak. Hotel-hotel itu terkenal. Diketahui hotel mana, demikian pula markas pengumpulan senjata, pelaksanaan latihan, jalur-jalur penyeberangan mereka. Semuanya sekarang sudah terdata dan diketahui oleh badan-badan keamanan Iran.”
Dia lantas menegaskan, “Saya menduga dan bahkan yakin bahwa semua itu kali ini akan ditangani dengan cara yang sengit. Maka mereka hendaklah segera menghubungi para pejabat Iran untuk meredakan situasi, karena masalah ini sudah mengusik keamanan Iran, menjatuhkan korban, menumpahkan darah, merusak fasilitas, dan menimbulkan kerugian besar. Saya kira mereka masih punya kesempatan menghubungi para pemimpin Iran untuk memberikan penjelasan dengan mengatakan, misalnya, bahwa ada oknom-oknum tertentu yang melakukan aksi-aksi buruk ini.Mereka hendaklah bekerja sama dengan pihak-pihak keamanan untuk mengungkap kluster-kluster lain. Karena di Iran sudah diambil keputusan untuk menindak dan memberi mereka pelajaran.”









