Kejahatan Korporasi Media di Timur Tengah

Al Qaida White HelmetsPropaganda masif “Save Ghouta” yang digaungkan oleh sebuah lembaga donasi di Indonesia (dan dalam waktu singkat berhasil mengumpulkan dana lebih dari 11 Milyar Rupiah) sepatutnya membawa publik kepada sebuah pertanyaan besar: bagaimana sesungguhnya peran media?

Terlepas dari afiliasi lembaga pengumpul donasi (yang dari rekam jejak narasi digitalnya terlihat pro-“mujahidin” Suriah), hal terpenting dalam fenomena keberhasilan mereka mengumpulkan dana raksasa itu adalah karena narasi yng mereka sampaikan (“pemerintah Suriah membantai warganya sendiri”) sejalan dengan pemberitaan media mainstream.

Media mainstream atau media arus utama adalah media yang dikuasai oleh korporasi (perusahaan) besar, punya jaringan global. Antara lain, CNN, BBC, Aljazeera, AP, Reuters, dll. Berita yang mereka disiarkan bisa dibaca atau ditonton oleh warga dunia di manapun berada (baik itu melalui kabel atau internet). Berita dari mereka juga diterjemahkan dan disiarkan ulang oleh media-media lokal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Retorika media korporasi dalam mendiskreditkan ‘musuh’ mereka saat ini – Rusia dan Suriah – digenjot sampai ke tingkat ekstrim, sehingga terjadi ‘peperangan’ di satu-satunya ruang global yang masih menyisakan untuk kebebasan berpikir dan berekspresi: internet – media sosial. Di internet terjadi dua peperangan antara dua realitas yang bertentangan secara diametris. Keduanya bersaing untuk menguasai persepsi masyarakat dunia. Dalam satu realitas, AS dan sekutu NATO-nya memperjuangkan hal yang ‘baik’ melawan rezim (Presiden Suriah Assad) dan pendukung kuatnya, Rusia yang ‘agresif’ yang dipimpin oleh Vladimir Putin yang ‘misterius’. Di sisi lain, pemerintah Suriah yang sah sedang berjuang – dengan bantuan sekutunya, Rusia – melawan kekuatan adidaya Barat yang memanfaatkan milisi pemberontak yang membawa narasi agama.

Perang informasi ini ditandai dengan ‘kengototan’, masing-masing pihak menyodorkan bertumpuk-tumpuk ‘bukti’ dari sumber-sumber yang mereka percaya. Kedua pihak saling mengklaim bahwa mereka di pihak yang benar, sementara pihak lawan telah ditipu oleh propaganda. Perselisihan antara pendukung dua informasi yang berseberangan ini semakin memanas, melakukan hinaan, serangan-serangan ad hominem, hingga memblokir, karena kedua ‘realitas’ itu tidak memberikan jalan tengah atau kompromi.

Bagaimana kita harus menentukan dimana harus berpijak, di antara kedua ‘realitas’ ini?

Mari kita lihat realitas yang disajikan oleh NATO. Para pendukungnya umumnya memandang bahwa NATO adalah lembaga super, adidaya, serta memiliki keunggulan moral dan intelektual. Realitas versi NATO didukung oleh media-media besar, nama-nama yang telah dipercaya oleh jutaan pembaca/pemirsa setiap hari.

Sebaliknya, pihak yang menentang realitas versi NATO adalah kelompok-kelompok yang tidak dikenal, situs-situs media independen yang kecil, blogger-blogger yang tidak berbayar, serta facebooker. Mereka dianggap amatiran dan tidak kredibel.

Namun, bayangkan bila Anda pernah dibohoni oleh seseorang yang pada dasarnya Anda percayai. Dia berbohong kepada Anda untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, sesuatu yang sangat ia kejar. Bayangkan bahwa kemudian Anda menemukan bahwa mereka telah berbohong, dan – meminta penjelasan. Ia lalu memberikan satu penjelasan yang mungkin atau tidak mungkin bisa diterima.

Bayangkan kemudian bahwa Anda menemukan bahwa orang yang sama juga telah berbohong kepada orang lain dalam mengejar tujuan yang sama. Saat meminta penjelasan darinya sekali lagi, Anda diberi alasan-alasan yang lain lagi.

Akankah Anda mempercayai mereka lagi? Bagaimana jika seseorang telah dibunuh dalam aksi kebohongan itu? Bagaimana jika beberapa orang telah terbunuh? Bagaimana jika lebih dari satu juta orang yang benar-benar tidak bersalah telah tewas akibat kebohongan itu? Anda akan percaya orang itu selanjutnya?

Mari kita lihat rekam jejak kebohongan yang sudah dilakukan tokoh-tokoh AS dan disebarluaskan oleh korporasi media.

Secara sederhana, tidak ada keraguan bahwa Saddam Hussein sekarang memiliki senjata destruksi (pemusnah) massal. (Dick Cheney, 26 Agustus 2002)

Sekarang, Irak sedang memperluas dan meningkatkan fasilitas-fasilitas yang digunakan untuk produksi senjata biologis. (George W. Bush, 12 September, 2002)

Jika ia menyatakan senjata pembunuh massal itu tidak ada, maka kita akan tahu bahwa Saddam Hussein sekali lagi menyesatkan dunia. (Ari Fleischer, 2 Desember 2002)

Presiden Amerika Serikat dan Menteri Pertahanan tidak akan menegaskan secara blak-blakan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal jika itu tidak benar, dan jika mereka tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengatakan itu. (Ari Fleischer, 6 Desember 2002)

Kami tahu benar bahwa ada senjata di sana. (Ari Fleischer, 9 Januari 2003)

Para pejabat intelijen kami memperkirakan bahwa Saddam Hussein memiliki bahan untuk memproduksi sebanyak 500 ton sarin, mustard dan agen saraf VX. (George W. Bush, 28 Januari 2003)

Kita tahu bahwa Saddam Hussein bertekad untuk menjaga senjata-senjata pemusnah massalnya, ia bertekad untuk membuat lebih banyak lagi. (Colin Powell, 5 Februari 2003)

Untuk alasan-alasan birokrasi, kami tetap pada satu isu, senjata pemusnah massal [sebagai pembenaran untuk menginvasi Irak] karena itu adalah salah satu alasan setiap orang bisa setuju. (Paul Wolfowitz, 28 Mei 2003)

***

Sebuah studi tahun 2008 yang dilakukan oleh sebuah pemenang hadiah Pulitzer Prize (2014),  Center for Public Integrity, menemukan 935 pernyataan salah tentang ancaman yang ditimbulkan oleh Saddam Hussein Irak, yang dikeluarkan oleh pejabat pemerintahan Bush senior (termasuk Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Condoleeza Rice, dan George W Bush sendiri) yang diberitakan tanpa (atau hampir tidak ada) verifikasi oleh media arus utama. Kampanye kebohongan ini dirancang untuk membangun dukungan publik bagi invasi militer ke Irak, dan diberitakan oleh media massa tanpa telaah kritis, tidak hanya oleh media di AS tapi juga di seluruh dunia.

Ketika akhirnya kebohongan tuduhan keberadaan senjata massal itu mulai terkuak, editor New York Times menulis permintaan maaf  (26 Mei 2004), antara lain menyatakan:

Tapi kami telah menemukan sejumlah liputan yang tidak ketat seperti seharusnya. Dalam beberapa kasus, informasi yang dulu kontroversial, dan kini tampaknya bisa dipertanyakan, adalah kurang berkualitas atau dibiarkan tanpa verifikasi. Setelah meninjau hal ini, kami berharap, seandainya saja kami telah lebih agresif dalam memeriksa ulang klaim-klaim setiap ada kemunculan bukti baru – atau ketiadaan bukti.

Lebih lanjut, New York Times menuliskan kasus-kasus pemberitaan yang salah yang pernah ditayangkannya, antara lain:

Pada tanggal 21 April 2003, saat tim penyelidik senjata pembunuh massal masuk ke Irak bersama pasukan AS, artikel NYT di halaman depan berjudul, “Senjata-senjata terlarang disimpan sampai malam sebelum perang, kata seorang saintis Irak”.  Berita itu berisi,  ’seorang ilmuwan yang mengaku telah bekerja di program senjata kimia Irak selama lebih dari satu dekade telah mengatakan kepada tim militer Amerika bahwa Irak menghancurkan senjata-senjata kimia dan peralatan perang biologis hanya beberapa hari sebelum perang dimulai, kata anggota tim tersebut.”

Narasumber berita juga mengklaim bahwa Irak telah mengirimkan senjata konvensional ke Suriah dan telah bekerja sama dengan Al Qaeda – dua klaim saat itu, hingga kini, sangat kontroversial. Tapi nada artikel menyarankan bahwa ”ilmuwan” Irak ini – yang dalam artikel selanjutnya menyebut dirinya sebagai seorang pejabat intelijen militer – telah memberikan justifikasi bagi invasi AS. New York Times tidak pernah menindaklanjuti kebenaran sumber ini atau berupaya untuk memverifikasi klaim-klaimnya.

 

Perhatikan bagaimana NYT mengaku sendiri bahwa pihaknya melakukan kesalahan. Namun terlambat. Saddam sudah tewas, bersama dengan setengah juga anak-anak Irak lainnya yang menjadi korban embargo AS.

Apakah Anda masih ngotot percaya sumber-sumber media mainstream kebanggaan Anda?

The Times dan beberapa media pernah menulis tentang hasil penelitian Biro Investigasi Jurnalisme yang isinya membongkar peran perusahaan PR (Public Relations/Humas) Inggris dalam perang Irak.

Kementrian Pertahanan AS (Pentagon) memberi perusahaan PR Inggris, Bell Pottinger,  uang lebih dari setengah miliar dolar untuk menjalankan program propaganda rahasia di Irak, Biro Jurnalisme Investigasi membeberkan.

Sebagai hasilnya, Bell Pottinger memasukkan program-program pendek televisi yang dibuat dalam gaya jaringan berita Arab dan video-video pemberontakan palsu yang dapat digunakan untuk melacak orang-orang yang menonton mereka, menurut seorang mantan karyawan.

Staf lembaga PR ini bekerjasama dengan perwira militer AS berpangkat tinggi di markas Baghdad Camp Victory.

Mantan direktur Bell Pottinger, Lord Tim Bell, mengkonfirmasi ke Sunday Times, bahwa perusahaannya telah bekerja pada sebuah operasi militer rahasia yang ditutupi oleh berbagai dokumen rahasia.

Bell Pottinger melaporkan hasil kerja mereka ke Pentagon, CIA, dan Dewan Keamanan Nasional AS.

Hasil kerja perusahaan itu ditandatangani oleh mantan Jenderal David Petraeus – saat itu komandan pasukan koalisi di Irak.

Pekerjaan Bell Pottinger di Irak adalah sebuah operasi besar yang memakan biaya rata-rata lebih dari seratus juta dolar setahun. Sebuah dokumen menunjukkan bahwa perusahaan itu mempekerjakan hampir 300 staf Inggris dan staf Irak pada satu titik.

Yang dilakukan oleh perusahaan humas Inggris ini, secara sederhana bisa dijelaskan seperti ini. Pertama, mereka membuat video-video yang menggambarkan al-Qaeda secara negatif. Video terlihat seolah-olah diciptakan oleh TV Arab. Misalnya video pemboman al Qaeda, kemudian diedit seperti sepotong berita footage. Lalu diberi suara bahasa Arab dan didistribusikan ke stasiun TV di seluruh wilayah Irak.

Irak adalah lahan yang menguntungkan bagi banyak perusahaan komunikasi. Biro Investigasi telah menemukan bahwa antara tahun 2006 dan 2008, lebih dari 40 perusahaan dibayar untuk layanan seperti TV dan radio, produksi video, billboard, iklan dan jajak pendapat. Ini termasuk perusahaan seperti Lincoln Group, Industri Leonie, dan Internasional SOS serta perusahaan-perusahaan berbasis Irak seperti Cradle of New Civilization Media, Babylon Media, dan Iraqi Dream.

Pada tahun 2005, terungkap bahwa perusahaan PR the Lincoln Grup telah membantu Pentagon untuk menerbitkan artikel-artikel tertentu di surat kabar Irak, kadang-kadang artikel itu disajikan sebagai berita netral. Kasus ini sempat diinvestigasi oleh Departemen Pertahanan AS.

Ini semua adalah bukti hitam di atas putih bahwa sebagian pekerjaan media dibayar oleh Pentagon dan kemudian disebarluaskan ke seluruh korporasi media untuk mencapai tujuan-tujuan strategis AS, termasuk produksi film-film palsu yang dimaksudkan untuk membuat Anda bersimpati pada aksi-aksi militer Barat, memberikan kesan bahwa Anda berada di sisi kanan, menghancurkan kejahatan, musuh bebuyutan. Hal ini pulalah yang memotivasi mereka yang tertipu oleh kebohongan media untuk menyerang siapa pun yang mempertanyakan ini. Banyak kita temui di media sosial, jika seseorang menyatakan sesuatu yang berbeda dari narasi media mainstream, ia akan di-bully oleh banyak orang, bahkan akunnya di-report beramai-ramai sehingga down.

Pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh para pendukung intervensi militer Barat adalah: jika mereka (media dan Pentagon) sudah terbukti pernah menipu Anda sebelumnya, apa yang bisa menghalagi mereka untuk mencoba melakukannya lagi? Apa jaminannya bahwa kini, dalam konflik-konflik pasca konflik Irak, mereka tidak lagi membuat video palsu dan cerita palsu, demi membangkitkan kemarahan publik sehingga tetap mendukung kebijakan militer AS di Timteng?

Jawabannya adalah tidak ada sama sekali yang bisa menjamin bahwa kali ini mereka jujur. Bahkan, ada banyak bukti bahwa apa yang terjadi di Suriah adalah pengulangan metode penipuan informasi yang sama seperti Irak.

Pertama, adalah fakta bahwa AS dan sekutunya memiliki rencana untuk mengubah rezim di Suriah. Sebuah email internal yang tertanggal 7 Desember 2011 dari Stratfor (sebuah perusahaan intelijen global) yang diunggah oleh WikiLeaks memperlihatkan bahwa bahwa pasukan AS  telah lama diam-diam beroperasi di Suriah. Ini adalah email yang luar biasa, yang jelas menunjukkan bahwa AS sejak lama telah campur tangan dalam urusan Suriah, dan menunjukkan bahwa agen-agen dari AS, Perancis, Yordania, Turki, dan Inggris sudah di lokasi untuk melaksanakan pengintaian dan pelatihan pasukan oposisi.

Kedua, ada motif – setidaknya dalam jaringan media yang dimiliki Murdoch – untuk menerbitkan artikel yang melukiskan pemerintah Assad sebagai pemerintah yang jahat dan membutuhkan ‘intervensi’, yaitu karena Murdoch adalah salah satu pemilik Genie Energy yang berbasis di New Jersey. Wartawan Nafeez Ahmed menjelaskan :

Sebuah perusahaan minyak AS sedang bersiap untuk mengebor minyak di Dataran Tinggi Golan. Perusahaan ini menerima lisensi pada Februari 2013 dari Israel; namanya  Afek Oil dan Gas, yang merupakan anak perusahaan dari Genie Energy Ltd, yang memiliki anggota dewan komisaris termasuk mantan Wakil Presiden AS, Dick Cheney, pengusaha besar media Rupert Murdoch, dan pengusaha keuanganm Lord Jacob Rothschild.

Selain kepentingan finansial pribadi untuk Murdoch, penggulingan Assad akan mengubah tatanan kekuatan di kawasan. Bagi AS, bila adanya pemerintahan Suriah yang pro AS berarti berkurangnya musuh AS (yaitu poros Rusia-Iran-Suriah). Dan ini merupakan kondisi yang diinginkan oleh Israel. Selain itu, Suriah secara ekonomi akan dibuka untuk segala macam ‘kesempatan’ bagi perusahaan-perusahaan Barat.

Julian Assange, yang diwawancarai di kedutaan Ekuador di London – di mana ia berlindung dari aksi balas dendam AS akibat aksinya membongkar dokumen-dokumen rahasia AS di WikiLeaks, menjelaskan bagaimana rencana AS menggulingkan Assad sejak tahun 2006. Dan menonton di sini Dewan Perdamaian AS mengutuk seluruh narasi Suriah AS sebagai sebuah kebohongan.

Pada July 2016, lembaga bernama Dewan Perdamaian AS (US Peace Council) mengirim delegasi ke Suriah selama sepekan untuk bertemu dengan para tokoh sekuler dan tokoh agama Suriah. Mereka menyimpulkan bahwa segala narasi yang dikatakan AS soal Suriah adalah bohong. (Simak videonya di sini).

Para pembaca media mainstream tentunya akrab dengan nama White Helmets dan the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR). Keduanya hampir selalu dijadikan sumber rujukan oleh media Barat. Wartawan independen, Vanessa Beeley, telah melakukan perjalanan ke Suriah dan menulis sebuah laporan rinci yang menimbulkan pertanyaan serius tentang kredibilitas dan motif dari kelompok-kelompok ini.

Berikut ini kutipannya:

Penggunaan senjata kimia kelompok teroris, khususnya Al Nusra, melawan warga sipil di Aleppo Barat adalah aib yang ditutupi media Barat. Sebaliknya, mereka menayangkan laporan palsu yang dikeluarkan oleh kelompok-kelompok “aktivis” dan “jurnalis nasional” yang mengklaim bekerja di Aleppo. Seperti dalam kasus laporan 7 September dari Al-Jazeera, disebutkan bahwa tentara Suriah melancarkan serangan kimia terhadap warga sipil. Informasi ini disebarluaskan dengan antusiasme penuh oleh para wartawan yang berbasis di Washington, London, atau di tempat lain, yang memiliki kemampuan terbatas untuk memverifikasi informasi ini atau menilai apa yang sebenarnya terjadi di wilayah tersebut.

Fakta bahwa Nusra Front yang mengambil alih satu-satunya pabrik kimia di Aleppo pada 2012 disembunyikan oleh media mainstream; namun mantan inspektur senjata kimia PBB dan para ilmuwan roket dari MIT telah menegaskan bahwa Al Nusra Front memiliki kemampuan senjata kimia yang kuat.

Para ‘pengamat’ atau ‘pakar’ yang bicara tentang Suriah bergantung pada “kelompok aktivis” dan “jurnalis nasional,” yang berasal dari daerah yang diduduki oleh kelompok-kelompok teror seperti al Nusra, Ahrar al-Sham, berbagai brigade Free Syrian Army, dan bahkan Daesh (ISIS). Baik mereka adalah aktivis individu atau anggota White Helmets atau Aleppo Media Center, sulit untuk menyebut mereka independen atau objektif ketika mereka diketahui menerima dana dari Amerika Serikat, negara-negara anggota NATO, dan lembaga-lembaga yang didanai negara seperti USAID – semua yang memiliki kepentingan dalam “perubahan rezim” di Suriah. “Bukti” yang diberikan sumber-sumber ini selalu memperkuat narasi propaganda Barat dan mendukung aksi intervensi Barat.

Beeley menulis tentang White Helmets antara lain:

Pertahanan Sipil Suriah yang riil bukanlah ‘White Helmets’, tapi yang digambarkan oleh media Barat, WH satu-satunya unit tanggap darurat [tim SAR] di wilayah Suriah.

Untuk mendapatkan pertolongan dari tim SAR Suriah yang riil, Anda perlu menelepon 113 di wilayah Suriah. Tapi tidak ada nomor layanan publik White Helmets. Mengapa tidak ada? Mengapa sebuah organisasi berbiaya multi-juta dolar yang disuplai AS & NATO, dengan peralatan lengkap yang dipasok AS dan Uni Eropa melalui Turki, tidak memiliki nomor pusat layanan untuk warga sipil, yang siap sedia hadir menolong ketika ada “serangan bom”?

Sebelum kami memperkenalkan tim SAR Suriah yang riil, bersertifikat resmi di bidang SAR (search and rescue), mari kita lihat dulu siapa LSM berhelm putih yang dibiayai NATO dan ditempatkan secara eksklusif di kawasan yang dikuasai teroris.

Kita diberitahu [oleh media] bahwa WH secara rutin membongkar dinding bangunan-bangunan yang runtuh dan menggali reruntuhan demi menggali anak yang [konon] tertimbun di bawahnya, dengan tangan kosong. Tentu saja, mereka selalu beraksi dengan diikuti tim kameramen  yang cukup besar dan ponsel yang merekam aksi mereka.

Sebuah lembaga pengawas media Inggris, Media Lens, mempertanyakan SOHR (Observatorium untuk Hak Asasi Manusia Suriah) dalam sebuah artikelnya tahun 2012 tentang pembantaian massal di Houla:

Anehnya, the Guardian telah mengutip banyak info yang bersumber dari tangan kedua, yaitu  ‘para aktivis oposisi’ yang berbasis di Inggris. Sebagai contoh, Ian Black melaporkan pada 7 Juni tentang pembantaian al-Qubair dengan judul, ‘Pemerintah Suriah Dituduh Membantai 100′, sebagai berikut:

‘Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan pembantaian itu dilakukan di sebuah peternakan oleh milisi pro-rezim (Shabiha) yang bersenjatakan senapan dan pisau setelah pasukan reguler membombardir daerah itu.’

The Guardian telah mengutip SOHR belasan kali. Padahal, menurut Reuters, organisasi ini dijalankan oleh satu orang, Rami Abdulrahman, pemilik toko pakaian, yang bekerja di ‘rumah dengan dua kamar tidur di Coventry’.

Analisis ini telah menunjukkan keraguan pada kinerja media korporasi yang memberikan informasi tanpa verifikasi kritis, yang berasal dari perusahaan PR dan lembaga-lembaga yang dibentuk untuk melakukan penipuan informasi. Hal ini semakin membuktikan bahwa agenda perubahan rezim di Suriah sudah direncanakan sejak lama, setidaknya satu dekade yang lalu, termasuk dengan mempersiapkan tim PR (humas). Ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat serius tentang kredibilitas sumber-sumber yang digunakan media tanpa verifikasi. Sebelumnya, dalam kasus Irak, New York Times secara terbuka meminta maaf. Namun kini mereka mengulanginya lagi.

Kasus senjata kimia di Idlib pada April 2017, misalnya, diberitakan NYT hanya dengan mengandalkan sumber tangan kedua. Tuduhan bahwa Assad menyerang warganya dengan senjata kimia dijadikan alasan bagi Trump untuk menembakkan 59 Tomahawk, kurang dari 72 jam setelah kejadian.

Media mainstream terlihat diam, kecuali satu dua berita dengan nada datar, mengenai pelanggarakan HAM yang dilakukan di negara-negara sekutunya, misalnya Arab Saudi. Namun, dalam serangkaian kebetulan yang luar biasa, negara-negara yang ditargetkan oleh Barat untuk digulingkan (seperti yang dinyatakan oleh Jenderal AS Wesley Clark, ada 7 negara yang akan digulingkan oleh AS dalam 5 tahun) semua mendapat liputan masif, pemimpinnya dicitrakan sebagai ‘diktator jahat’ sebelum akhirnya NATO turun tangan untuk ‘’membantu’ rakyat di sana terlepas dari diktator.

Korporasi media telah konsisten mendukung agenda perang AS dan ini sama artinya dengan melakukan kejahatan yang telah mengakibatkan kematian jutaan (atautak terhitung lagi) manusia yang tidak bersalah. Mereka seharusnya diperlakukan sebagai collaborator atau kaki tangan pelaku kejahatan dan mendapatkan hukuman atas kejahatan itu.  

Publik bisa menghukum mereka dengan cara memboikotnya dan mempertimbangkan lebih serius pemberitaan dari media-media alternatif. Di luar sana ada banyak penulis dan analis yang independen yang telah terbukti kredibilitas mereka, akurasi, dan jujur melakukan pekerjaan mereka dari waktu ke waktu. Mereka bekerja menyampaikan kebenaran, bukan untuk mencari reputasi dan gaji tinggi dari korporasi media.

“Peran korporasi media adalah untuk melindungi, mempromosikan, dan melegitimasi tujuan-tujuan destruktif dan amoral dari kekuasaan swasta yang mencari keuntungan. Setiap wartawan atau kolumnis bekerja dalam sistem yang secara aktif membantu korporasi media untuk mencapai tujuan ini. Mereka ini bertanggung jawab atas terjadinya perang-perang ilegal dan serakah, serta perusakan atas planet bumi.” (the Gatekeepers)

[Diadaptasi dari tulisan Simon Wood]