Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 29 Mei 2023

Jakarta, ICMES. Presiden petahana Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan kemenangannya dalam pemilihan presiden, dan dengan demikian dia akan memperpanjang pemerintahannya hingga dekade ketiga.

Komandan Angkatan Darat Iran Brigjen Kiomars Heidari mengatakan ketenangan dan stabilitas telah pulih di daerah perbatasan antara Iran dan Afghanistan setelah sempat terjadi kontak senjata antara pasukan penjaga perbatasan Iran dan militan Taliban.

Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran Brigjen Abbas Nilforoushan memperingatkan Barat untuk tidak mengulangi kesalahannya di masa lalu dan berhenti mengandalkan kelompok teroris. Dia juga menyatakan Israel menerima pukulan setiap hari akibat ulahnya anti-Iran.

Berita Selengkapnya:

Erdogan Umumkan Kemenangannya dalam Pilpres Turki

Presiden petahana Turki Recep Tayyip Erdogan, Ahad (28/5), mengumumkan kemenangannya dalam pemilihan presiden (pilpres), dan dengan demikian dia akan memperpanjang pemerintahannya hingga dekade ketiga.

Di sebuah bus di Istanbul, Erdogan berterima kasih kepada rakyat Turki atas suara mereka dan mengatakan para pemilih telah memberinya tanggung jawab untuk memerintah selama lima tahun ke depan.

“Satu-satunya pemenang adalah Turki,” tambahnya.

Ketua Komisi Pemilihan Umum, Ahmed Yanar, mengkonfirmasi kemenangan Erdogan setelah memperoleh 52,14 persen suara yang merupakan hasil resmi pilpres.

Yanar mengatakan setelah penghitungan 99,43 persen kotak suara, saingan Erdogan, Kemal Kılıçdaroğlu, mendapat 47,86 persen, dan bahwa dengan selisih lebih dari dua juta suara antara kedua calon, sisa suara yang belum dihitung tidak akan mengubah hasil.

Sementara itu, KılıçdaroÄŸlu di Ankara mengaku akan terus memimpin perjuangan, dan bahwa dia telah kalah dalam apa yang dia katakan sebagai “pemilihan paling tidak adil dalam beberapa tahun” melawan petahana.

Kilicdaroglu menambahkan bahwa hasil tersebut menunjukkan keinginan rakyat untuk mengubah pemerintahan otoriter. Dia juga mengaku sedih dengan “masalah” yang akan dihadapi Turki.

Meral Aksener, pemimpin oposisi Good Party (Ä°YÄ° Party), mengucapkan selamat kepada presiden atas kemenangannya, tetapi dia mengaku akan melanjutkan karirnya sebagai oposisi.

Aksener menambahkan bahwa hasil pilpres tersebut menunjukkan bahwa ada pelajaran besar yang perlu dipetik oleh Erdogan, dan dia berharap Erdogan akan menjadi presiden bagi semua orang Turki. (raialyoum)

Militer Iran Beri Peringatan Keras Usai Pasukannya Bentrok dengan Taliban

Komandan Angkatan Darat Iran Brigjen Kiomars Heidari mengatakan ketenangan dan stabilitas telah pulih di daerah perbatasan antara Iran dan Afghanistan setelah sempat terjadi kontak senjata antara pasukan penjaga perbatasan Iran dan militan Taliban.

Kiomars Heidari dan Wakil Komandan Polisi Iran Jenderal Qassem Rezaei pada hari Ahad (29/5) melakukan kunjungan ke provinsi Sistan va Baluchestan di bagian tenggara negara ini, yang berbatasan dengan Pakistan dan Afghanistan.

“Perbatasan dengan Afghanistan sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Darat Iran dan penjaga perbatasan, dan keamanan telah sepenuhnya ditegakkan di daerah perbatasan,” ungkap Heidari.

Dia menekankan bahwa negara-negara tetangga harus menyadari bahwa perbatasan bersama adalah perbatasan bersemangatkan persahabatan, dan bahwa pihak Iran tidak mengharapkan eskalasi perbatasan, tapi juga tidak akan membiarkan kemalangan terjadi.

Media Iran melaporkan bahwa militan Taliban telah menembaki pasukan penjaga perbatasan Iran pada hari Sabtu. Pasukan Iran lantas menanggapinya hingga menjatuhkan “korban berat dan kerusakan serius” di pihak lawan. Insiden itu terjadi di perbatasan provinsi Sistan dan Baluchestan Iran dan provinsi Nimroz di Afghanistan.

Menurut kantor berita Fars, satu pasukan penjaga perbatasan Iran tewas dan dua warga sipil terluka akibat kontak senjata tersebut.

Wakil kepala polisi Iran mengatakan bahwa penjaga perbatasan Iran menanggapi “dengan tegas” penembakan “tanpa alasan”. Menyusul serangan itu, pihak Iran memberikan peringatan yang diperlukan kepada penyerang Taliban sesuai dengan protokol perbatasan.

Rezaei menambahkan bahwa Kepala Polisi Iran Ahmad Reza Radan memberikan semua “perintah tegas yang diperlukan” kepada penjaga perbatasan untuk “dengan berani dan tegas mempertahankan perbatasan dan tidak mengizinkan siapa pun masuk tanpa izin atau mendekat.”

Ketegangan meningkat antara Iran dan Afghanistan dalam beberapa bulan terakhir ketika Iran menilai Taliban tidak menghormati perjanjian pembagian air tahun 1973. Taliban membatasi aliran air dari Sungai Helmand ke wilayah timur Iran yang gersang.

Teheran belum secara resmi mengakui Taliban sejak kelompok itu menguasai Afghanistan setelah penarikan pasukan Amerika Serikat pada Agustus 2021. Para pejabat Iran telah berulang kali menekankan bahwa pengakuan itu bergantung pada pembentukan pemerintahan “inklusif” di Afghanistan. (fna)

IRGC: Israel Setiap Hari Bayar Mahal atas Aksinya Anti-Iran

Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Brigjen Abbas Nilforoushan memperingatkan Barat untuk tidak mengulangi kesalahannya di masa lalu dan berhenti mengandalkan kelompok teroris. Dia juga menyatakan Israel menerima pukulan setiap hari akibat ulahnya anti-Iran.

“Kami memperingatkan orang-orang Barat untuk tidak mengulangi pengalaman gagalnya di masa lalu dan tidak bermain-main dengan kayu mati berupa kelompok teror Mojahedin-e-Khalq (MKO). Jangan paksa kami memakai sepatu bot militer kami lagi; Anda harus mengemis,” tegas  Nilforoushan, Sabtu (28/5).

“Anda mungkin bertanya kepada rezim Zionis bagaimana menerima tanggapan atas aksi jahatnya pada tahun lalu.  Zionis menerima tanggapan mereka setiap hari,” imbuhnya.

Nilforoushan memastikan melemahnya kekuatan pemerintah AS dalam kebijakan dalam dan luar negeri, dan menyatakan bahwa AS sedang bergulat dengan krisis parah di dalam dan luar negeri.

Pada pertengahan April lalu, Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi mengatakan bahwa perkembangan terbaru di seluruh wilayah pendudukan menunjukkan bahwa kejatuhan rezim Israel akan terjadi lebih cepat dari jangka waktu 25 tahun yang diproyeksikan oleh Pemimpin Besar Iran Sayid Ali Khamenei.

Dia menyebut krisis politik dan sosial internal di wilayah pendudukan sebagai tanda bahwa kejatuhan rezim Zionis akan jauh lebih dekat dari yang diharapkan. Menurutnya, kaum Zionis saling berperang dan mereka terburu-buru untuk menghancurkan diri mereka sendiri.

Media Israel melaporkan bahwa banyak orang Zionis mencari jalan keluar dari wilayah pendudukan di tengah memburuknya krisis politik dan eksistensial yang dialami rezim Israel yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Iran menyebut Israel sebagai biang kerok instabilitas dan kacaunya keamanan kawasan Timur Tengah, dan  memastikan  kebiadaban Israel yang didukung AS tidak akan mengubah nasib rezim Tel Aviv.

Teheran mengatakan sejarah rezim apartheid penuh dengan pembunuhan, pembantaian, penyiksaan dan pembunuhan anak-anak Palestina, dan menyebut kekejaman rezim Tel Aviv dan pembantaian terhadap kaum perempuan dan anak-anak kecil Palestina sebagai indikasi ketidak berdayaan kaum Zionis.

Para pejabat Iran mengatakan rezim Tel Aviv telah berjuang selama lebih dari 70 tahun untuk keluar dari krisis identitasnya yang telah bercampur dengan genosida, penjarahan, pemindahan paksa dan sejumlah tindakan tidak manusiawi lainnya. (fna)