Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 26 Oktober 2020

cuitan macron dengaqn bahasa arabJakarta, ICMES. Presiden Prancis Emmanuel Macron, Ahad (25/10/2020), memosting cuitan dalam bahasa Arab terkait dengan heboh penistaan terhadap Nabi Besar Muhammad saw, yang memperlihatkan kebersikukuhan pada pendiriannya membela penistaan itu atas nama kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menyebut Macron tak ubahnya menyerang Islam ketika membela penghinaan terhadap nabi umat Islam.

Kelompok-kelompok pejuang Palestina menyerukan aktivasi semua bentuk resistensi di Tepi Barat, menyusul terbunuhnya remaja Palestina, Amer Abedalrahim Snobar, akibat penganiayaan oleh pasukan Zionis Israel di distrik Turmus-Ayya di timur laut Ramallah, Tepi Barat.

Para alim ulama Yaman dalam sebuah muktamar akbar yang digelar di Sanaa, ibu kota Yaman, mengutuk keputusan rezim Sudan mengikuti jejak Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel.

Berita Selengkapnya:

Gunakan Bahasa Arab, Presiden Prancis Bersikukuh Bela Penista Islam

Presiden Prancis Emmanuel Macron, Ahad (25/10/2020), memosting cuitan dalam bahasa Arab terkait dengan heboh penistaan terhadap Nabi Besar Muhammad saw, yang memperlihatkan kebersikukuhan pada pendiriannya membela penistaan itu atas nama kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Bersamaan dengan ini, Kemlu Prancis meminta negara-negara Islam tidak memboikot produk Prancis, sementara Perdana Menteri Pakistan dan pemerintah Iran mengecam keras pendirian Macron.

Dalam postingan itu Macron menyatakan, “Tak ada yang membuat kami mundur, selamanya. Kami menghormati semua perbedaan dalam semangat perdamaian. Kami tidak pernah menerima ujaran kebencian, dan membela debat rasional. Kami akan selalu membela martabat manusia dan nilai-nilai universal.”

Sebelum itu Macron berjanji untuk terus menggalang kampanye melawan apa yang disebutnya “Islam radikal”, menyusul kasus tewasnya, Samuel Paty, guru sejarah sekolah Prancis Samuel, di tangan seorang remaja asal Cechnya, Abdullah Onzorov, 18 tahun, yang akhirnya ditembak mati oleh polisi.

Samuel Paty dibunuh dan dipenggal kepalanya oleh remaja itu karena telah menampilkan kartun Nabi Muhammad kepada murid di dalam kelas.

Seorang wali kota Prancis pada Jumat pekan lalu mengaku telah menerima ancaman pemenggalan kepala selang satu minggu kasus pemenggalan Samuel Paty.

Sementara itu, Kemlu Prancis meminta negara-negara Islam mengurungkan aksi boikot produk Prancis menyusul kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw.

“Seruan boikot itu tak berdasar, dan harus dihentikan secepatnya, sebagaimana semua serangan yang menyasar negara kami dan didorong minoritas ekstrem,” ungkapnya.

Kecaman Perdana Menteri Pakistan

Kecaman terhadap Prancis terus bermunculan dari Dunia Islam. Dalam perkembangan terbaru, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menyebut Macron tak ubahnya menyerang Islam ketika membela penghinaan terhadap nabi umat Islam.

Sebelum itu, Macron membela  Samuel Paty dan menyebutnya pahlawan.

“Dia dibunuh karena para Islamis ingin menguasai masa depan kami dan tahu bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan di hadapan pahlawan yang percaya diri seperti dia,” ungkap Macron.

Macron juga melontarkan pernyataan kontroversial ketika mengatakan bahwa Islam adalah “agama yang sekarang mengalami krisis di semua tempat di dunia.”

Menanggapi pernyataan ini, Imran Khan di halaman Twitternya, Ahad, menegaskan, “Sekarang adalah saat di mana Presiden Macron dapat memberikan sentuhan terapis dan menyingkirkan para eksretemis, bukan malah menambah polarisasi dan marginalisasi yang membangkitkan ekstremisme.”

Dia menambahkan, “Sayang sekali, dia memilih menggalakkan Islamfobia melalui serangan terhadap Islam, bukan terhadap para teroris yang memraktikkan kekerasan, baik Muslim maupun para ekstremis kulit putih atau pengusung ideologi Nazi.”

Kecaman Iran

Sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran menyesalkan apa yang disebutnya kelanjutan  penistaan terhadap Nabi Besar Islam (SAW) di Prancis dan mengecam sikap pemerintah negara Eropa ini.

“Tak diragukan lagi bahwa pendirian pejabat Prancis yang tidak dapat dibenarkan itu bukanlah tanggapan yang tepat dan bijaksana terhadap ekstremisme dan kekerasan … dan itu menyebabkan kebencian lebih dari sebelumnya saat kita menyaksikan beberapa tindakan penghinaan yang mencurigakan dan menjijikkan terhadap Al-Quran oleh beberapa aliran ekstremis dan anti-Islam di sejumlah negara Eropa yang dikutuk keras,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Iran Saeed Khatibzadeh, Sabtu. (rta/alalam/fna)

Remaja Gugur Dihajar Pasukan Zionis, Faksi-Faksi Palestina Kutuk UEA, Bahrain, dan Sudan

Kelompok-kelompok pejuang Palestina menyerukan aktivasi semua bentuk resistensi di Tepi Barat, menyusul terbunuhnya remaja Palestina, Amer Abedalrahim Snobar, akibat penganiayaan oleh pasukan Zionis Israel di distrik Turmus-Ayya di timur laut Ramallah, Tepi Barat.

Mereka juga menegaskan bahwa Israel semakin brutal dan beringas terhadap orang Palestina setelah beberapa negara Arab, yaitu Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Sudan, menormalisasi hubungan dengan Israel.

Pusat medis melaporkan bahwa luka di leher Snobar adalah akibat “dihajar habis-habisan dengan dengan popor senapan tentara Israel”.

Faksi Jihad Islam Palestina dalam sebuah statemennya, Ahad (25/10/2020), menegaskan bahwa penganiayaan itu merupakan salah satu bukti aksi teror Israel terhadap bangsa Palestina di seluruh bagian Tepi Barat, dan karena itu segala bentuk perlawanan di wilayah pendudukan ini harus digalang kembali.

“Rahmat (Allah) atas remaja syahid Amer Abedalrahim Snobar dan seluruh syuhada, kehinaan atas rezim-rezim dan badan-badan yang telah menelan lidahnya dan mencabik mulutnya di depan agresi brutal ini, dan celakalah para pengkhinat yang menormalisasi (hubungan dengan Israel),” ungkap Jihad Islam.

Jubir Hamas Hazem Qasem juga menyebut pembunuhan itu sebagai salah satu bentuk aksi teror yang dipraktikkan oleh kaum Zionis.

“Reaksi bangsa kami adalah melanjutkan resistensi dan revolusinya, meningkatkan status intifada anti rezim pendudukan dan imigran di Tepi Barat,” tegasnya.

Dia juga memastikan kejahatan itu termotivasi oleh normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel.

Front Rakyat Pembebasan Palestina juga angkat bicara dengan menegaskan, “Darah Syahid Snobar akan terus menjadi laknat bagi semua negara penormalisasi dan pengkhianat Arab, di mana yang terbaru di antaranya adalah rezim Sudan yang telah menjadi agen. Mereka bersekongkol terhadap perkara nasional kami, dan memberi rezim pendudukan kemasan untuk menambah kejahatannya terhadap bangsa Palestina.”

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menegaskan bahwa pasukan Israel melakukan “tindakan brutal yang mengerikan terhadap seorang pemuda tak berdaya, yang kejahatannya hanyalah statusnya sebagai orang Palestina”. Pejabat senior PLO Hanan Ashrawi mengkonfirmasi bahwa Snobar telah “dipukuli” oleh pasukan Israel.

Amer Abedalrahim Snobar berasal dari desa Yatma, di selatan kota Nablus, Tepi Barat. (alalam/aljazeera)

Gelar Muktamar Akbar, Para Ulama Yaman Kutuk Rezim Sudan dan Presiden Prancis

Para alim ulama Yaman dalam sebuah muktamar akbar yang digelar di Sanaa, ibu kota Yaman, Ahad (25/11/2020), mengutuk keputusan rezim Sudan mengikuti jejak Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel.

Selain itu mereka juga mengutuk Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait dengan penistaan terhadap Nabi Muhammad saw.

Para ulama yang berdatangan dari berbagai provinsi di Yaman itu menyerukan kebangkitan bangsa-bangsa Arab dan Islam melawan normalisasi hubungan dengan Israel, dan menyebut rezim Sudan telah ikut menikam dan mengkhianati Palestina sebagaimana telah diperbuat oleh rezim UEA dan Bahrain.

Alim ulama Yaman juga mengutuk pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang telah membela para penista Islam dan Nabi Muhammad saw. Mereka menilai Macron memprovokasi dan meremehkan perasaan umat Islam atas nama kebebasan berekspresi.

Sanaa dalam beberapa hari ini sedang bersiap menyelenggarakan rapat akbar Maulid Nabi Muhammad saw, yang tampaknya akan menjadi momentum untuk memperlihatkan penolakan mereka secara besar-besaran terhadap maraknya aksi penistaan Islam dan Nabi Muhammad saw di Prancis belakangan ini.

Bersamaan dengan ini, anggota Dewan Tinggi Politik Yaman Mohammad Al-Houthi menyerukan pertemuan Dunia Islam untuk menunjukkan penolakan terhadap penistaan tersebut dan menggalang petisi yang menuntut pemidanaan penista agama dan nabi. (alalam)