Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 25 September 2023

Jakarta, ICMES. Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan para ahli militer muda Iran telah memproduksi drone amfibi dan drone hibrida yang akan diluncurkan di masa  mendatang.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran Brigjen Reza Talaee Nik mengatakan bahwa Teheran telah membangun rudal yang dirancang khusus untuk menggempur tanah pendudukan Palestina yang diduduki oleh kaum Zionis Israel.

Kementerian Keamanan Iran mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah menggagalkan 30 upaya peledakan bom di Teheran, dan bahwa sebanyak 28 terduga teroris telah ditangkap.

Berita Selengkapnya:

Angkatan Laut IRGC Produksi Drone Amfibi dan Hibrida

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan para ahli militer muda Iran telah memproduksi drone amfibi dan drone hibrida yang akan diluncurkan di masa  mendatang.

“Angkatan Laut IRGC telah membangun drone yang dapat lepas landas di atas air dan mendarat di air,” kata komandan Angkatan Laut IRGC Laksamana Alireza Tangsiri dalam wawancara dengan media Iran, ahad (24/9).

“Ini adalah kemampuan yang akan diumumkan di masa depan… Drone amfibi mampu membawa rudal dan bom, dan drone hibrida memiliki dua mesin peluncur dan satu mesin penggerak.Mereka akan segera bergabung dengan Angkatan Laut,” tambah Jenderal Tangsiri.

Dia menjelaskan, “Angkatan Laut IRGC juga telah membuat drone amfibi yang terbang dengan satu mesin, dan mesin kedua adalah mesin penggerak dan drone tersebut dapat melakukan misi pengintaian hingga 15 jam.”

Dia juga menyebutkan beberapa prestasi lain, termasuk melengkapi kapal peluncur rudal dengan rudal, yang juga belum pernah terjadi sebelumnya di dunia.

Tangsiri menegaskan, “Republik Islam Iran tidak akan membiarkan musuh melakukan kesalahan sedikit pun terhadap tanah dan perairannya.”

Sebelumnya, dalam sebuah upacara, Tangsiri mengatakan bahwa meskipun Iran dikenai sanksi keras, pembangunan drone di negara ini mengalami kemajuan pesat,  dan bahwa para ahli militer Iran sedang membuat drone amfibi. (alalam/fna)

Kemhan Iran: Rudal Qasem Soleimani Didesain untuk Gempur Israel

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran Brigjen Reza Talaee Nik mengatakan bahwa Teheran telah membangun rudal yang dirancang khusus untuk menggempur tanah pendudukan Palestina yang diduduki oleh kaum Zionis Israel.

“Saat ini, kami memiliki rudal-rudal yang kami namai sebagai rudal-rudal yang dapat menyerang Israel karena sasaran utamanya  adalah wilayah pendudukan (Israel),” kata Talaee Nik dalam sebuah upacara yang diadakan untuk memperingati para martir Iran di kota Kabudarahang,  provinsi Hameda, Ahad (24/9).

“Sistem senjata kami dirancang secara proporsional sesuai dengan ancaman… Sistem ini dibangun oleh para ahli dalam negeri dan dinamai Qassem Soleimani. Ini disebut rudal yang dapat menyerang Israel,” sambungnya.

Dia menyebutkan bahwa rudal Qassem Soleimani berbahan bakar padat, memiliki panjang  11 meter dengan bobot sekitar 7 ton,  berhulu ledak seberat 500 kg, berkecepatan 12 mach, dan berjarak jangkau 1400 namun dapat ditingkatkan menjadi sekitar 1700-1800 km.

Sementara itu, Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menepis keras klaim negara-negara Barat bahwa Teheran bermaksud membuat senjata nuklir.

Raisi membela pengayaan uranium negaranya hingga tingkat kemurnian 60%, dengan mengatakan bahwa hal itu merupakan respon Teheran terhadap negara-negara Eropa yang tidak memenuhi perjanjian nuklir tahun 2015.

Dalam wawancara dengan CNN, Raisi dengan tegas menolak pengayaan uranium hingga mendekati volume yang diperlukan untuk membuat senjata.

 “Secara resmi diumumkan bahwa tindakan yang ingin kami ambil tidak dimaksudkan untuk mencapai senjata nuklir jenis apa pun atau dimensi militer apa pun,  apa pun jenisnya, melainkan merupakan respon atas kurangnya komitmen yang ditunjukkan oleh negara-negara Eropa,” tuturnya,

Iran mengaku memperkaya uranium hingga 60% pada tahun 2021, menyusul serangan terhadap fasilitas nuklir di atas permukaan tanah di Natanz, yang menurut Teheran dilakukan oleh rezim Israel.

Dia juga menegaskan kembali bahwa Iran tidak berencana untuk memperoleh bom nuklir.

Presiden Raisi juga mengatakan upaya yang dimediasi AS untuk menormalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, “tidak akan berhasil.” (alalam/fna)

Iran Gagalkan 30 Upaya Peledakan Bom di Teheran

Kementerian Keamanan Iran mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah menggagalkan 30 upaya peledakan bom di Teheran, dan bahwa sebanyak 28 terduga teroris telah ditangkap.

Pernyataan itu menyebutkan bahwa peledakan diupayakan untuk melemahkan kontrol keamanan, mencitrakan Iran sebagai negara yang tidak stabil, menebar frustasi dan ketakutan di tengah masyarakat, membangkitkan kerusuhan dan protes, dan direncanakan secara matang pada momen peringatan kerusuhan yang terjadi tahun.

Kementerian Keamanan Iran menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir, serangkaian operasi serentak dilakukan di provinsi Teheran, Alborz dan Azerbaijan Barat, terhadap banyak sel teroris, hingga berujung pada penangkapan 28 anggota jaringan teroris tersebut.

Disebutkan bahwa elemen-elemen itu terkait dengan kelompok teroris ISIS, dan beberapa di antaranya memiliki rekam jejak keterkaitan dengan ekstremis takfiri di Suriah atau kehadiran di Afghanistan, Pakistan, dan wilayah Kurdistan Irak.

Dinyatakan pula bahwa meskipun para terduga yang ditangkap itu diketahui terafiliasi dengan ISIS, namun model rancangan operasi ini dan pola perilaku mereka jauh lebih teknis dan kompleks dibandingkan pola gerakan takfiri biasa, dan sebagian besar berkecocokan dengan metode dan mekanisme yang dikenal oleh entitas Zionis.

Penerapan metode organisasi seluler dan tidak terorganisir yang paling terspesialisasi, penggunaan metode untuk mengecoh dan menduduki elemen intelijen internal, pemfokusan komunikasi pada jejaring sosial asing, khususnya WhatsApp, penggunaan berbagai elemen perantara dalam komunikasi, penggunaan pemalsu yang sepenuhnya profesional untuk menyediakan dokumen yang diperlukan, dan puluhan hal lain, semuanya menunjukkan bahwa di balik layar terdapat pelaku otak yang melampaui kompleksitas ISIS.

Peralatan dan perlengkapan kriminal yang ditemukan dalam operasi baru-baru ini antara lain ialah sejumlah besar bahan peledak dan bom siap pakai, sejumlah besar prekursor bom, paket berisi 100 alat peledak dan berbagai perangkat elektronik untuk bom waktu, 17 senjata ringan buatan  AS beserta pelurunya, berbagai perangkat komunikasi, ponsel pintar, perangkat satelit, seragam militer, rompi bunuh diri, modem yang digunakan di wilayah Kurdistan di Irak, dan sejumlah mata uang asing. (alalam)