Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 24 Juli 2023

Jakarta, ICMES. Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi  mengecam keras sikap pemerintah Swedia terhadap penodaan Al-Quran di wilayahnya, dan mengatakan bahwa kecaman Stockholm atas tindakan keji itu sangat tidak cukup.

Kelompok Taliban yang berkuasa di Afghanistan menanggapi klaim Iran bahwa para pemimpin kelompok teroris ISIS telah dikirim ke Afghanistan.

Anggota parlemen dan kepala blok  Loyalitas kepada Resistensi yang berafiliasi dengan Hizbullah di Lebanon, Muhammad Ra’ad, menegaskan bahwa Israel harus mundur dari semua tanah Lebanon,  dan memperingatkan bahwa “masalah ini tidak didiamkan dalam agenda kubu resistensi.”

Berita Selengkapnya:

Presiden Iran: Kecaman Swedia terhadap Penistaan Al-Quran Tidak Cukup

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi  mengecam keras sikap pemerintah Swedia terhadap penodaan Al-Quran di wilayahnya, dan mengatakan bahwa kecaman Stockholm atas tindakan keji itu sangat tidak cukup.

“Rilis pernyataan pemerintah Swedia mengutuk penghinaan terhadap Al-Quran sama sekali tidak cukup dan pemerintah ini harus membawa para pelaku kejahatan ini ke pengadilan,” tegas Raisi, Sabtu (22/7).

Seperti diketahui, seorang pengungsi Irak yang mendapat suaka di Swedia, Salwan Momika, telah dua melakukan aksi penistaan terhadap kitab suci umat Islam. Pertama dia melakukan hal itu depan masjid terbesar Stockholm pada akhir Juni, dan untuk kedua kalinya di luar Kedubes Irak di kota yang sama pada hari Kamis lalu dengan mendapat perlindungan ketat dari polisi Swedia.

Aksi itu memancing gelombang  protes di seluruh dunia Muslim, termasuk di Iran, dan semua negara Muslim mengeluarkan kecaman keras atas tindakan keji tersebut.

Mengingat bahwa masa jabatan duta besar Iran dan Swedia saat ini telah berakhir, kepala eksekutif Iran mengatakan dia telah memerintahkan Kementerian Luar Negeri untuk tidak melanjutkan pertukaran duta besar baru antara kedua negara.

Iran juga telah memanggil utusan Swedia ke Teheran untuk menyampaikan protes keras terhadap pemerintah Swedia.

Pada hari Jumat, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan negaranya tidak akan menerima duta besar baru Swedia menyusul penodaan Al-Quran di negara Skandinavia itu.

“Berdasarkan perintah Presiden (Ebrahim Raeisi), duta besar Swedia yang baru tidak akan diizinkan kembali ke Iran sampai pemerintah negara itu mengambil tindakan serius dan efektif untuk menangani pelanggaran terus-menerus terhadap kesucian Islam,” kata Amir-Abdollahian dalam wawancara televisi.

Presiden Raisi turut menyerukan “hukuman terberat” bagi pelaku penodaan Al-Quran di Swedia, setelah seruan yang sama dinyatakan oleh Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Ayatullah Khamenei memperingatkan bahwa dengan mendukung pelaku penistaan kitab suci Al-Quran, pemerintah Swedia  telah memancing kebencian dan permusuhan negara-negara Muslim dan banyak pemerintah mereka.

“Seperti yang ditunjukkan oleh Pemimpin Revolusi Islam, insiden ini adalah perkembangan konspirasi dan berbahaya dan dukungan pemerintah Swedia untuk tindakan kriminal ini setara dengan melakukan pertempuran melawan dunia Muslim,” kata presiden Iran.

Iran juga telah menulis surat kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, mendesak badan dunia itu untuk mengambil tindakan keras terhadap tindakan penistaan demikian dan meminta negara-negara anggotanya untuk mencegah pengulangannya. (presstv)

Hizbullah: Israel Bahkan Tak Sanggup Memindah Lebanon Kemah di Perbatasan

Anggota parlemen dan kepala blok  Loyalitas kepada Resistensi yang berafiliasi dengan Hizbullah di Lebanon, Muhammad Ra’ad, menegaskan bahwa Israel harus mundur dari semua tanah Lebanon,  dan memperingatkan bahwa “masalah ini tidak didiamkan dalam agenda kubu resistensi.”

Dikutip Rai Al-Youm, Ahad (23/7), Muhammad Ra’ad dalam pidato di Lebanon selatan mengatakan, “Kami membuat jalan untuk menjaga koeksistensi kami di negara ini, untuk menjaga stabilitasnya, dan untuk menemukan formula yang dapat kami sepakati dengan orang lain, agar negara kita tetap berdaulat, bebas, tidak tunduk pada pemerasan dan bergantung pada kehendak orang asing.”

Dia  menambahkan,“Mereka menginginkan semua metode yang mereka gunakan untuk menyusup dan melanggar kedaulatan kita di negara ini, terkadang melalui kebijakan moneter, terkadang melalui kebijakan pertahanan, dan terkadang melalui peradilan atau melalui sabotase dan terorisme, dan lainnya dengan mencegah kita menangani takdir kita.”

Dia menegaskan, “Kami telah menempuh perjalanan panjang dalam mengungkap metode-metode ini dan membuktikan kesia-siaannya, dan apa yang kami saksikan hari ini sudah cukup tentang kekurangan dan kelemahan musuh, Zionis, yang biasa menakut-nakuti kawasan dan tentaranya di masa silam.”

Dia menambahkan, “Pasukan pendudukan ini, yang membom ibu kota negara-negara Arab tanpa memperhatikan siapa pun dan tanpa memperhitungkan Piagam PBB atau hukum internasional, dan pada tahun 70-an  mengebom reaktor Tammuz di Irak untuk menghilangkan segala kemungkinan pembangunan kekuatan, bahkan untuk pengembangan ilmiah atau manufaktur militer, tetapi pihak yang membom Irak pada tahun 70-an itu sekarang tidak dapat memaksa kubu resistensi untuk memindahkan tenda di perbatasan (Lebanon) dengan Palestina.”

Muhammad Ra’ad juga mengatakan, “Sekarang Israel harus menghapus apa yang mengelilingi bagian utara kota Ghajar di Lebanon,  harus mundur. Masalah ini tidak pernah didiamkan dalam agenda kubu resistensi , dan Israel harus menarik diri dari semua tanah Lebanon kami.”

Ra’ad mengambil kesimpulan dengan mengatakan, “Titik-titik yang disengketakan di sekitar Garis Biru harus diselesaikan. Perbatasan kami tidak membutuhkan demarkasi di darat, dan mereka telah ditarik sejak kemerdekaan Lebanon dan tidak membutuhkan kesepakatan, pemahaman, atau surveyor. Perbatasan kita diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan  Israel harus patuh dan keluar dari butiran debu terakhir perbatasan kita.” (raialyoum)

Taliban Tanggapi Klaim Iran Para Pemimpin ISIS Dikirim ke Afghanistan

Kelompok Taliban yang berkuasa di Afghanistan menanggapi klaim Iran bahwa para pemimpin kelompok teroris ISIS telah dikirim ke Afghanistan.

“Jika Iran memiliki intelijen bahwa anggota DAISH (ISIS) telah dipindahkan ke Afghanistan, kami berharap (mereka) membagikannya sehingga pasukan keamanan Afghanistan dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” kata Abdul Qahar Balkhi, juru bicara kementerian luar negeri Taliban, di Twitter, Sabtu (22/7).

“Emirat Islam Afghanistan telah dengan cermat berperang melawan ISIS selama dan setelah pendudukan berakhir,” tambahnya.

Balkhi juga mendesak otoritas Iran untuk mengambil sikap konstruktif terhadap masalah ekonomi, politik, dan sosial.

Selain itu, Balkhi menegaskan pemerintah Taliban “tidak akan membiarkan siapa pun” mengancam keamanan negara, “atau menggunakan wilayah kami untuk melawan pihak lain”.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan kepada televisi pemerintah dalam sebuah wawancara pekan lalu bahwa para pemimpin ISIS telah dikirim ke Afghanistan dari Irak, Suriah, dan Libya dalam beberapa bulan terakhir.

“Ini adalah salah satu tantangan yang dihadapi Taliban,” tambahnya.

Afiliasi ISIS di Provinsi Khorasan, ISKP, telah menjadi ancaman terbesar bagi otoritas Taliban,  dan mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan.

Ratusan orang tewas dan terluka, termasuk orang asing dan anggota komunitas minoritas Syiah Hazara, dalam serangan yang dilakukan oleh ISKP dalam upaya melemahkan pemerintahan Taliban.

Kelompok bersenjata itu juga telah membunuh pejabat administrasi Taliban, termasuk gubernur provinsi utara Balkh dalam serangan di kantornya pada Maret dan penjabat gubernur provinsi timur laut Badakhshan bulan ini.

Pemerintahan Taliban telah melancarkan tindakan keras terhadap anggota ISKP, dan menggerebek tempat persembunyiannya di beberapa provinsi. (aljazeera)