Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 11 Januari 2021

Ansarullah di kamp maribJakarta, ICMES. Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman melontarkan ancaman terkeras terhadap Rezim Zionis Israel dengan menegaskan bahwa mereka akan menggempur sasaran-sasaran paling sensitif di Israel (Palestina pendudukan 1948).

Ketua parlemen Iran Majelis Permusyawaratan Islam, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa bagi Teheran tidaklah penting Amerika Serikat (AS) akan kembali atau tidak kepada JCPOA, perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia.

Konvoi besar kendaraan milik pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) memasuki Suriah timur laut menuju pangkalan militer di Provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, sembari membawa tank dan berbagai jenis senjata berat pada akhir pekan lalu.

Berita Selengkapnya:

Ansarullah Yaman Ancam Serang Sasaran-Sasaran “Paling Sensitif” di Israel

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman melontarkan ancaman terkeras terhadap Rezim Zionis Israel dengan menegaskan bahwa mereka akan menggempur sasaran-sasaran paling sensitif di Israel (Palestina pendudukan 1948).

Ancaman ini dinyatakan oleh anggota biro politik Ansarullah, Fadhl Abu Thalib, Ahad (10/1), setelah militer Israel menyatakan bahwa Tel Aviv memantau situasi di Yaman.

“Jika Israel sampai terlibat dalam segala tindakan bodoh terhadap bangsa kami maka bangsa ini tak akan pernah ragu sedikitpun dalam mengumumkan jihad di jalan Allah melawan musuh yang satu ini, dan tak akan pernah ragu pula dalam mengarahkan serangan sejauh mungkin terhadap sasaran-sasaran yang sangat sensitif bagi rezim musuh, Israel, “ tegas Abu Thalib dalam wawancara dengan kantor berita FNA milik Iran.

“Pernyataan Zionis penjahat perang ini sudah berulang bahwa Yaman merupakan ancaman bagi entitas Zionis. Karena itu di sini kami ingin mengingatkan kepada pernyataan pemimpin kami Sayid Abdul Malik Badruddin Al-Houthi bahwa sikap kami dalam memusuhi Israel yang notabene rezim penjajah dan musuh bagi umat Islam adalah sikap prinsipal berasaskan moral kemanusiaan dan kepatuhan religius di mana kami bertemu dengan kaum merdeka dan terhormat lain di antara umat Islam,” imbuhnya.

Mengenai kemungkinan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi mengajukan usulan gencatan senjata ataupun perdamaian di Yaman, Fadhl Abu Thalib mengatakan, “Negara-negara agresor memandang Yaman dengan mentalitas arogan dan mentang-mentang, sehingga mereka berusaha mengalahkan bangsa Yaman secara telak demi memuaskan kesombongan, keangkuhan, dan syahwat mereka kepada pembunuhan dan penghancuran.”

Dia lantas berkesimpulan bahwa kubu Saudi “di tahap sekarang tidaklah serius memikirkan solusi politik, terutama ketika mereka sedang mengalami kondisi frustasi, tak berdaya, putus asa, dan kalah, dan setiap kali mereka bertambah lemah bertambah pula kedengkian dan keliaran mereka dalam pembunuhan dan pelampiasan dendam.” (raialyoum)

Ketua Parlemen Iran: Tak Penting AS Kembali atau Tidak Kepada Perjanjian Nuklir

Ketua parlemen Iran Majelis Permusyawaratan Islam, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa bagi Teheran tidaklah penting Amerika Serikat (AS) akan kembali atau tidak kepada JCPOA, perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia.

“Perjanjian nuklir bukan perjanjian suci bagi Teheran, melainkan perjanjian yang ia terima dengan persyaratan agar sanksi terhadapnya dicabut,” ungkap Ghalibaf, Ahad (10/1).

“Iran tidak mementingkan kembalinya Washington kepada perjanjian nuklir, bagi kami yang penting hanyalah pencabutan sanksi secara implementatif dan signifikan…Barat harus mengakui hak Iran. Jika Barat hendak menambah tekanan terhadap Iran maka mereka harus siap membayarnya,” lanjut ketua parlemen Iran.

Dia memperingatkan, “Tanpa pencabutan perjanjian nuklirpun Teheran berhak menghentikan komitmennya sesuai pasal 36 dan 37 perjanjian ini sebagai balasan atas inkonsistensi pihak lawan perjanjian… Iran akan menerapkan komitmennya pada perjanjian nuklir apabila pihak lain mengimplementasikan komitmennya. Semua sanksi dan seluruh keputusan presiden AS Doland Trump harus dicabut.”

Mengenai presiden terpilih AS Joe Biden, Ghalibaf mengatakan, “Tandatangan Biden bukanlah jaminan bagi kami. Pengalaman pelanggaran Washington terhadap perjanjian nuklir di era Obama mengajarkan kepada kami untuk tidak percaya kepada pencabutan sanksi saja dari segi hukum dan di atas kertas.”

Dia kemudian menegaskan, “Dalam pandangan kami, pencabutan sanksi berarti bahwa kami dapat menjual minyak dan mendapatkan penghasilan melalui jalur-jalur konsumsi resmi, yang sekiranya dapat memenuhi kebutuhan rakyat Iran, dan para produsen dan pengusahapun dapat berinteraksi dengan dunia. Saat itulah baru Iran dapat menerapkan perjanjian nuklir.” (railayoum)

Bala Bantuan Militer AS  Masuk Sembari Memboyong Tank dan Senjata Berat

Konvoi besar kendaraan milik pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) memasuki Suriah timur laut menuju pangkalan militer di Provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, sembari membawa tank dan berbagai jenis senjata berat pada akhir pekan lalu.

Kantor berita Suriah, SANA, Ahad (10/1), mengutip laporan sumber-sumber lokal bahwa pasukan koalisi itu mengirim bala bantuan militer dan logistik ke pangkalan mereka di Deir Ezzor setelah menyebrang ke wilayah Suriah dari pintu perbatasan Al-Waleed yang dikendalikan oleh Pasukan Demokrasi Suriah (SDF).

Menurut  sumber-sumber itu, konvoi yang terdiri dari sekira 30 kendaraan, termasuk truk yang memuat meriam dan berbagai jenis senjata berat lain serta tank milik tentara AS, memasuki Provinsi Al-Hasakah, Suriah,  dari wilayah Provinsi Nineveh, Irak, sebelum kemudian bergerak menuju ke pangkalan di Deir Ezzor.

Sumber-sumber itu menyebutkan bahwa konvoi itu melintasi jalur Al-Kharafi antara Deir Ezzor dan Al-Hasakah dengan diiringi oleh helikopter dan kendaraan militer AS.

Konvoi bala bantuan militer AS ini diduga merupakan bagian dari rotasi pasukan yang terjadi setiap beberapa minggu di mana mereka dari Irak sering memasuki Suriah dan memindahkan pasokan ke salah satu pangkalan mereka di Suriah.

Laporan lain menyebutkan bahwa tentara Suriah berhasil menimpakan kerugian besar pada personel dan peralatan sisa-sisa organisasi teroris ISIS. .

Satuan-satuan tentara Suriah di pedesaan timur laut Salamiyeh di Provinsi Hama bertempur sengit melawan kawanan teroris ISIS di daerah Shakousiya dan al-Rahjan.

Sumber lapangan menyebutkan bahwa tentara Suriah saat itu didukung tempur Rusia dan Suriah sendiri, yang melancarkan serangan intens di garis belakang ISIS dan titik penyebaran mereka di gurun timur Hama. (amn/alalam)