Rangkuman Berita Utama Timteng  Selasa 7 Desember 2021

Jakarta, ICMES. Serangan rudal dilaporkan telah dilancarkan oleh Ansarullah (Houthi) Yaman terhadap sasaran di ibu kota Saudi, Riyadh pada Senin malam.

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi saat ditemui petinggi Uni Emirat Arab menekankan perlunya kebijaksanaan dan pemahaman bersama negara-negara regional untuk menggagalkan plot musuh terhadap kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.

Iran mengecam Prancis atas penjualan senjata besar-besaran ke negara-negara Arab Teluk Persia, dan meminta Paris untuk bertindak lebih bertanggung jawab di kawasan tersebut.

Berita Selengkapnya:

Rudal-Rudal Yaman Meledak di Angkasa dan Daratan Riyadh

Serangan rudal dilaporkan telah dilancarkan oleh Ansarullah (Houthi) Yaman terhadap sasaran di ibu kota Saudi, Riyadh pada Senin malam (6/12).

Saluran TV pemerintah Saudi menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Saudi telah menangkis serangan rudal tersebut.

Meski demikian, beberapa laporan menyebutkan bahwa penerbangan ke Bandara Riyadh juga telah ditangguhkan setelah serangan tersebut.

Beberapa netizan Saudi mengaku mendengar beberapa suara ledakan di Riyadh.

Sejumlah video yang beredar di medsos memperlihatkan bola-bola api melesat dan kemudian terlihat pijaran api di angkasa Riyadh.

Sebagian besar rekaman video memperlihatkan keberhasilan sistem pertahanan udara Saudi merontokkan rudal-rudal yang datang dari arah Yaman. Namun, dalam satu video di antaranya terlihat bola api melesat di angkasa kemudian jatuh dan meledak di permukaan.

Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman kubu Sanaa yang bersekutu dengan Ansarullah, Brigjen Yahya Saree, mengumumkan, “Pasukan Yaman telah melancarkan operasi serangan ekstensif dan berkualitas di kedalaman wilayah Saudi.”

Dia menambahkan bahwa serangan itu tak lain sebagai balasan atas “kejahatan agresi Saudi-Amerika”, dan rinciannya akan dijelaskan pada hari ini, Selasa.

Sebelumnya, beberapa sumber Yaman menyebutkan bahwa tentara negara ini dan pasukan Lijan Shaabiya (Ansarullah) telah melepaskan beberapa rudal balistik ke Riyadh pada Senin malam. (fna/alalam)

Ditemui Petinggi UEA, Presiden Iran Serukan Kebersamaan Menghadapi Plot Musuh

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menekankan perlunya kebijaksanaan dan pemahaman bersama negara-negara regional untuk menggagalkan plot musuh terhadap kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.

“Kebijakan musuh negara-negara regional adalah untuk menciptakan ketakutan di antara tetangga, tetapi konspirasi ini akan digagalkan dengan kebijaksanaan dan pemahaman bersama,” kata Raisi saat menerima kunjungan Penasihat Keamanan Nasional UEA, Syeikh Tahnoon bin Zayed Al-Nahyan, di Teheran, Senin (6/12).

Raisi menyebut dukungan kepada orang-orang Muslim di kawasan sebagai kebijakan pasti bagi negaranya.

“Zionis di kawasan mengejar tujuan jahat mereka, dan di mana pun mereka dapat menemukan pijakan mereka akan mengubahnya menjadi alat ekspansionisme, karena itu negara-negara regional harus berhati-hati,” lanjutnya.

Raisi mengatakan, “Keamanan negara-negara di kawasan saling terkait dan Iran mendukung keamanan negara-negara pesisir Teluk Persia… seharusnya tidak ada hambatan dalam hubungan antara dua negara Muslim Iran dan UEA, dan hubungan ini tidak boleh dipengaruhi oleh pihak luar.”

Di pihak lain, Syekh Tahnoon, mengatakan, “Kami adalah anak-anak dari kawasan ini dan kami memiliki takdir yang sama, sehingga pengembangan hubungan antara kedua negara ada dalam agenda kami.”

Mengenai pembicaraannya dengan sejawatnya dari Iran, Ali Shamkhani, Syekh Tahnoon mengatakan, “Pertemuan ini akan menjadi titik balik dalam hubungan antara kedua negara.”

“Kami siap mengembangkan kerjasama, dan berharap babak baru hubungan kedua negara akan dimulai dengan kunjungan Presiden Iran Raisi ke UEA,” imbuhnya.

Sebelumnya di hari yang sama Sheikh Tahnoon dan Shamkhani dalam pertemuan di Teheran membahas kerjasama keamanan antara kedua negara. Keduanya juga bertukar pikiran mengenai perkembangan regional dan internasional.

Sheikh Tahnoon berkunjung ke Teheran pada hari Senin atas undangan resmi Shamkhani setelah Mantan Menteri Luar negeri UEA  Anwar Gargash menyatakan bahwa negaranya “telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan [dengan Iran] karena kami tidak tertarik dalam konfrontasi”. (fna)

Iran Kecam Obral Senjata Prancis di Kawasan Teluk Persia

Iran mengecam Prancis atas penjualan senjata besar-besaran ke negara-negara Arab Teluk Persia, dan meminta Paris untuk bertindak lebih bertanggung jawab di kawasan tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh dalam konferensi pers di Teheran, Senin (6/12), mengatakan, “Kami mengharapkan negara-negara seperti Prancis untuk bertindak lebih bertanggung jawab. Penjualan senjata canggih senilai miliaran dolar oleh negara-negara Eropa, termasuk Prancis, ke negara-negara Arab Teluk Persia, adalah akar penyebab kerusuhan dan perang, contohnya adalah apa yang terjadi di Yaman. Peran destruktif negara-negara seperti Prancis tidak boleh diabaikan.”

Dia juga menyayangkan kegiatan obral senjata Barat ke kawasan Teluk karena dilakukan justru sembari mempersoalkan pengembangan rudal Iran.

“Kami menyaksikan penjualan senjata canggih senilai puluhan miliar dolar ke negara-negara Teluk Persia, tapi mereka malah bertemu dan membicarakan beberapa rudal kami,” ujarnya.

Khatibzadeh memperingatkan, “Mulai sekarang mereka harus ingat bahwa Iran tidak akan berbicara tentang keamanannya dengan siapa pun, dan dengan situasi yang kami lihat terkait dengan penjualan senjata, kami serius akan melengkapi perisai pertahanan kami demi keamanan rakyat. Kami berharap suatu hari negara-negara ini akan menjauh dari kebijakan standar ganda dan berhenti menjual senjata.”

Prancis mengumumkan kesepakatan bernilai miliaran euro pada hari Jumat lalu untuk penjualan jet tempur dan helikopter tempur ke UEA.

UEA membeli 80 pesawat tempur Rafale yang ditingkatkan dalam kesepakatan yang menurut Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis bernilai €16 miliar (US$18 miliar) dan merupakan kontrak senjata Prancis terbesar untuk ekspor. Kementerian itu juga mengumumkan kesepakatan dengan UEA untuk menjual 12 helikopter tempur buatan Airbus. (fna)