Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 28 September 2021

Jakarta, ICMES. Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon mengecam penyelenggaraan konferensi normalisasi hubungan dengan Israel di kota Arbil, Kurdistan Irak, dan memandangnya sebagai promosi sia-sia “budaya dialog dengan musuh” dan “gugur sejak di kandungan”.

Wakil Tetap Iran untuk Organisasi Internasional yang berbasis di Wina, Kazem Gharibabadi, menanggapi keras pernyataan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) AS dan tiga negara Eropa (E3; Inggris, Jerman dan Perancis) mengenai proyek nuklir Iran.

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyebutkan bahwa jeda waktu 40 hari dari peringatan Tragedi Asyura (10 Muharram) hingga peringatan Arbain (20 Shafar) merupakan momen krusial untuk mengungkap dan menjelaskan hakikat kebangkitan cucunda Nabi Muhammad saw, Imam Husain as, di Karbala.

Tentara Yaman dan pasukan Lijan Shaabiya (Ansarullah/Houthi) berhasil menembak jatuh pesawat nirawak (UAV/drone) pengintai canggih jenis Scan Eagle buatan AS milik Arab Saudi di angkasa Provinsi Ma’rib, Yaman

Berita Selengkapnya:

Puji Irak, Hizbullah Kecam Konferensi Normalisasi dengan Israel di Kurdistan

Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon mengecam penyelenggaraan konferensi normalisasi hubungan dengan Israel di kota Arbil, Kurdistan Irak, dan memandangnya sebagai promosi sia-sia “budaya dialog dengan musuh” dan “gugur sejak di kandungan”.

Hizbullah juga memuji “sikap resmi, politik, rakyat dan keagamaan Irak yang menolak tegas segala bentuk normalisasi dengan musuh”, dan mengapresiasi “langkah-langkah hukum Irak yang mempidanakan para penormalisasi”.

Menurut Hizbullah, langkah-langkah itu mencerminkan “kesadaran tersendiri bangsa Irak beserta komponen-komponen politik  dan kekebalan nasionalnya terhadap proyek normalisasi hubungan dengan Israel di Timur Tengah”.

Hizbullah juga menyampaikan penghargaannya atas apa yang disebutnya keteguhan pendirian bangsa Irak dalam menyokong bangsa Palestina.

Seperti pernah diberitakan, faksi pejuang Palestina Hamas juga mengapresiasi sikap pemerintah Irak yang membela norma Palestina dan menentang normalisasi hubungan dengan Israel.

Konferensi tersebut diselenggarakan pada hari Jumat pekan lalu di Arbil, ibu kota wilayah otonomi Kurdistan Irak, dengan tema “Perdamaian dan Pemulihan”.

Konferensi ini dihadiri oleh sejumlah tokoh Irak, termasuk para pemuka adat, untuk menyerukan “perdamaian Abrahamik” yang mencakup realisasi perdamaian menyeluruh dengan Rezim Zionis Israel.

Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko dan Sudan telah meneken perjanjian damai itu di bawah mediasi Amerika Serikat. (raialyoum)

Beralasan dengan Ulah Israel, Iran Tolak Pemasangan Kamera di Fasilitas Nuklirnya

Wakil Tetap Iran untuk Organisasi Internasional yang berbasis di Wina, Kazem Gharibabadi, menanggapi keras pernyataan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) AS dan tiga negara Eropa (E3; Inggris, Jerman dan Perancis) mengenai proyek nuklir Iran.

“IAEA, AS dan tiga negara Eropa harus tahu bahwa tidak bisa mereka tinggal diam terhadap aksi teror Zionis dan tidak mencegahnya, tapi di saat yang sama menyerukan pemantauan lanjutan dan kehadiran kamera IAEA di fasilitas di mana tindakan sabotase itu telah dilakukan di sana,” tegas Gharibabadi.

“Ketika kamera pengawas milik IAEA tergagalkan oleh Rezim Zionis jangan berharap Iran akan memasangnya kembali tanpa ada (sanksi) yang harus dibayar rezim ini dan tanpa ada tindakan apapun dari IAEA dan negara-negara Barat terhadap rezim ini,” imbuhnya.

Gharibabadi menyatakan bahwa perjanjian baru-baru ini antara Iran dan IAEA sepenuhnya dilaksanakan dalam waktu yang disepakati.

 “Republik Islam Iran juga memantau bagaimana iktikad baiknya ditanggapi dan akan mengambil tindakan yang tepat di setiap tahap,” ungkapnya.

Mengutip laporan anti-Iran dari Dirjen IAEA Rafael Grossi, tiga negara Eropa tersebut telah mengeluarkan pernyataan yang menuduh Teheran gagal untuk sepenuhnya mematuhi perjanjian 12 September dengan IAEA. (alalam)

Ayatullah Khamenei: Asyura hingga Arbain, Momen Krusial dalam Sejarah Islam

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyebutkan bahwa jeda waktu 40 hari dari peringatan Tragedi Asyura (10 Muharram) hingga peringatan Arbain (20 Shafar) merupakan momen krusial untuk mengungkap dan menjelaskan hakikat kebangkitan cucunda Nabi Muhammad saw, Imam Husain as, di Karbala.

“Jika hari Asyura merupakan puncak jihad dan pengorbanan jejiwa mulia dan agung maka jeda waktu 40 hari yang menyusulnyapun merupakan puncak jihad untuk pencerahan dan penyingkapan hakikat-hakikat yang ada. Penjelasan secara gigih oleh Imam Al-Sajjad (Ali Zainal Abidin), Sayyidah Zainab dan Sayyidah Ummu Kultsum serta kesabaran luar biasa keluarga Rasul saw merupakan penyempurna pengorbanan itu dan penyebab kelestarian kebangkitan Karbala,” terangnya dalam sebuah ceramah singkat melalui konferensi video dengan para mahasiswa Universitas Teheran, Senin (27/9).

Dia juga menyinggung gencarnya propaganda anti-Iran oleh musuh-musuh negara ini dengan berbagai macam cara untuk mengelabui opini dunia tentang Iran. Karena itu dia mengimbau mahasiswa untuk andil sebagai pelita yang memberikan penjelasan dan pencerahan mengenai berbagai hal yang tak jelas bagi orang-orang yang terjangkau oleh mereka, termasuk melalui dunia maya dan media sosial.

“Tentu, prinsip pasti dalam masalah jihad penjelasan dan penyingkapan hakikat hendaklah dilakukan secara etis, logis, kokoh, rasional, simpatik dan terjauh dari pencemaran nama baik, dusta dan manipulasi dalam berhadapan dengan opini publik,” imbuhnya.

Ayatullah Khamenei mengaku gembira atas intelektualitas dan luasnya wawasan anak-anak muda Iran, dan mengimbau agar keistimewaan ini terus ditingkatkan dari hari ke hari.

Dia juga mengatakan, “Jalan Pemuka Syuhada (Imam Husain) adalah jalan yang diberkahi dan indah, dan yang akan mencapai hasil dan kesuksesan yang pasti. Kalian, para pemuda, insya Allah, dengan mengambil inspirasi dari jalan dan makrifat nan cemerlang ini akan dapat membawa negara ke puncak demi puncak kesejahteraan materi dan spiritual.” (tasnim)

Ansarullah Rontokkan Drone Canggih Scan Eagle Buatan AS di Ma’rib

Tentara Yaman dan pasukan Lijan Shaabiya (Ansarullah/Houthi) berhasil menembak jatuh pesawat nirawak (UAV/drone) pengintai canggih jenis Scan Eagle buatan AS milik Arab Saudi di angkasa Provinsi Ma’rib, Yaman, Senin (27/9).

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah, Brigjen Yahya Saree, menyatakan, “Dengan pertolongan Allah, pertahanan udara pada pagi hari ini dengan senjata yang sesuai berhasil menembak jatuh pesawat nirawak pengintai jenis Scan Eagle buatan AS.”

Dia menambahkan bahwa pesawat nirawak itu ditembak ketika sedang menjalankan “aksi-aksi agresi” di angkasa distrik Madghal, Provinsi Ma’rib.

Pada 14 Agustus lalu Ansarullah dan sekutunya juga telah merontokkan sebuah drone dari jenis yang sama dengan rudal darat-ke-udara di daerah yang juga sama.

Sebelum itu, pada 20 dan 22 Juni, mereka juga menembak jatuh drone pengintai jenis yang sama di angkasa kawasan Al-Mashjah, distrik Sarwah, Provinsi Ma’rib.

Pesawat nirawak Scan Eagle dibuat oleh Insitu, anak Perusahan Boeng AS. Pesawat seharga US$ 11.25 juta atau lebih dari Rp. 156 miliar ini digunakan untuk mensketsa secara presisi target-target serangan udara.

Keistimewaan drone ini antara lain terletak pada dimensinya yang mungil dibanding drone-drone semisalnya yang digunakan oleh pasukan-pasukan militer, sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Pesawat ini juga dilengkapi kamera pengintai tipe electro optical dan kamera lain yang bekerja dengan sinar infra merah. (alalam)