Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 28 Desember 2021

Jakarta, ICMES. Di tengah suasana peringatan Perang Al-Furqan tahun 2008 dan gejolak yang sedang terjadi di wilayah pendudukan Tepi Barat, berbagai kelompok pejuang Palestina memastikan keteguhan tekad mereka untuk terus menggalang kekuatan dan berjuang melawan Rezim Zionis Israel.

Menteri Luar Negeri Rezim Zionis Israel Yair Lapid  bersumbar bahwa negaranya siap melakukan tindakan secara sepihak dan sendirian jika hal ini dirasa perlu.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menyatakan pihaknya sekarang sedang bekerja untuk penetapan tanggal perundingan dengan Arab Saudi, dan melakukan persiapan untuk putaran baru perundingan ini.

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon menyebut tuduhan  Arab Saudi dan sekutunya terhadap Hizbullah belakangan ini sebagai klaim sepele dan murahan.

Berita Selengkapnya:

Peringati “Perang Al-Furqan”, Para Pejuang Palestina Pastikan Terus Kembangkan Kekuatan

Di tengah suasana peringatan Perang Al-Furqan tahun 2008 dan gejolak yang sedang terjadi di wilayah pendudukan Tepi Barat, berbagai kelompok pejuang Palestina memastikan keteguhan tekad mereka untuk terus menggalang kekuatan dan berjuang melawan Rezim Zionis Israel.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, menegaskan bahwa kubu resistensi Palestina  terus meningkatkan kekuatannya untuk melawan Rezim Zionis Israel.

“Kubu resistensi Palestina di Jalur Gaza siap mencegah kemungkinan agresi terhadap Jalur Gaza,” kata juru bicara Hamas Abdul Latif al-Qanou, Senin (27/12).

Kepada Quds Press dia menyebutkan bahwa pasukan perlawanan Palestina, terutama sayap militer Hamas,  Brigade Izzuddin Al-Qassam, mengirim pesan kepada rakyat Palestina dan kepada kaum merdeka di dunia melalui latihan militer bersandi “Pilar Keras ke-2” bahwa brigade ini berada dalam kondisi prima serta lebih kuat dan terus bertekad membela bangsa Palestina serta berjuang meraih hak-hak mereka yang dinistakan oleh kaum Zionis Israel.

Dia menyatakan bahwa kudu resistensi Palestina “telah menggagalkan rencana dan tujuan pendudukan Israel yang diinginkan dalam perangnya di Jalur Gaza, mulai dari Pertempuran Al-Furqan hingga hari ini.”

Al-Qanou menambahkan, “Kubu resistensi bersandar pada basis kerakyatan yang besar dari anak-anak bangsa Palestina kami, dan pada keputusan nasional terpadu untuk mengelola konfrontasi dengan rezim pendudukan Israel.”

Senada  dengan ini, petinggi Gerakan Jihad Islam Palestina, Jamil Mezher, menegaskan,  â€œKubu resistensi Palestina mampu mematahkan pamor tentara Israel dan membuatnya bertekuk lutut di hadapan kehendak dan keteguhan bangsa kami, Palestina, dan pasukan perlawanannya.”

Sedangkan juru bicara Gerakan Pembebasan Palestina, Yasser Khalaf, mengatakan bahwa Perang Al-Furqan “telah membentuk tonggak penting dalam sejarah konflik dengan rezim pendudukan (Israel), dan merupakan awal yang sebenarnya dan nyata dari kemenangan kubu resistensi atas rezim pendudukan, yang gagal mencapai tujuannya.”

Khalaf menekankan bahwa “pilihan perlawanan dalam segala bentuknya, terutama perlawanan bersenjata, adalah pilihan strategis bangsa kami untuk mencapai aspirasi di jalan perjuangan mengalahkan rezim pendudukan.”

Orang-orang Palestina sedang memperingati 13 tahun peristiwa “Perang Al-Furqan” yang dipicu oleh agresi Israel di Jalur Gaza pada tahun 2008.  Dalam peristiwa itu para pejuang Palestina bangkit melawan agresi Zionis dengan menyerang permukiman-permukiman Zionis yang berdekatan dengan Jalur Gaza.

Perang itu menggugurkan 1440 orang Palestina, termasuk 400 polisi serta anggota parlemen Palestina Said Sayyam, tokoh Hamas Syeikh Nizar Rayan serta sejumlah petinggi keamanan Palestina. (alalam)

Israel Bersumbar Siap Menyerang Iran Sendirian

Menteri Luar Negeri Rezim Zionis Israel Yair Lapid  bersumbar bahwa negaranya siap melakukan tindakan secara sepihak dan sendirian jika hal ini dirasa perlu.

Pernyataan itu dilontarkan Lapid beberapa jam menjelang dimulainya putaran kedelapan pembicaraan di Wina untuk pemulihan kesepakatan nuklir Iran, Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), pada Senin malam (27/12).

“Tentu saja, kami lebih suka bertindak dalam kerjasama internasional, tapi jika perlu, kami akan bertindak sendiri, kami akan membela diri kami sendiri,” sumbar Lapid kepada Komisi Urusan Luar Negeri dan Pertahanan parlemen Israek Knesset.

Dia mengklaim, “Kami telah memberi sekutu kami sedikit data intelijen yang kuat tentang program nuklir Iran. Ini bukan sekedar opini dan posisi melainkan data intelijen konkret yang membuktikan Iran menipu dunia dengan cara yang sepenuhnya sistematis.”

Dia menambahkan, “Yang mereka (Iran) pedulikan ialah pencabutan sanksi, dan penggelontoran miliaran dolar ke dalam program nuklirnya, dan penyaluran ke Hizbullah, Suriah, Irak dan jaringan teroris yang telah mereka sebarkan di seluruh dunia.”

Lapid juga mengatakan, “Kesepakatan yang bagus itu bagus. Kami menentang kesepakatan yang tidak memungkinkan pengawasan nyata terhadap program nuklir Iran.”

Dia mengaku lebih memilih Amerika Serikat dan kekuatan lain menarik diri dari pembicaraan nuklir daripada “kesepakatan yang buruk.”

Komisi Keuangan Knesset Israel, Senin, menyetujui transfer 1,5 miliar shekel (480 juta dolar) ke Kementerian Pertahanan. Beberapa hari sebelumnya Knesset juga menyetujui alokasi 7,4 miliar shekel (2,3 miliar dolar) untuk pertahanan.

Transfer keuangan ke Kementerian Pertahanan Israel dilakukan bersamaan dengan adanya instruksi dari Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel, Aviv Kohavi, untuk mempercepat persiapan kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Para pejabat Israel bersumpah untuk tidak membiarkan Iran memperoleh senjata nuklir yang, menurut mereka, merupakan ancaman bagi eksistensi Israel karena pejabat Iran berulang kali bersumbar untuk memusnahkan negara ilegal Yahudi ini. (jp/raialyoum)

Iran Ungkap Perkembangan Dialognya dengan Arab Saudi

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menyatakan pihaknya sekarang sedang bekerja untuk penetapan tanggal perundingan dengan Arab Saudi, dan melakukan persiapan untuk putaran baru perundingan ini.

Dalam wawancara dengan lembaga pemberitaan Fars, Senin (27/12), ketika ditanya mengenai tanggal dimulainya pembicaraan putaran kelima antara Iran dan Arab Saudi, Abdollahian menjawab, “Belum diputuskan, namun kami sedang mengatur agenda.”

Di hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan, “Negosiasi dengan Arab Saudi berlanjut dengan kesadaran akan adanya titik-titik perselisihan dan kesamaan serta penyelesaian perselisihan melalui dialog.  Kami siap menjalani  negosiasi putaran kelima.”

Dia juga mengatakan, “Riyadh telah mengeluarkan visa untuk tiga diplomat kami untuk mewakili Teheran di Organisasi Kerjasama Islam (OKI).”

Khatibzadeh menambahkan, “Kami telah mempresentasikan daftar proposal ke pihak Saudi dan sedang menunggu tanggapan. Ada ketidak percayaan antara kedua belah pihak, dan kami mencoba untuk mengatasinya melalui dialog.”

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Abdollahian mengatakan bahwa delegasi Iran akan melakukan putaran negosiasi berikutnya dengan Arab Saudi, yang akan diadakan di Baghdad dengan mediasi Irak. (fna)

Hizbullah Sebut Tuduhan Saudi dan Sekutunya “Murahan Tak Layak Ditanggapi”

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon menyebut tuduhan  Arab Saudi dan sekutunya terhadap Hizbullah belakangan ini sebagai klaim sepele dan murahan.

Pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi menuduh Hizbullah  dan Iran membantu Ansarullah (Houthi) dalam peluncuran rudal dan drone dari Bandara Sanaa, Yaman, ke wilayah Saudi.

“Apa yang disebut dalam konferensi pers juru bicara pasukan agresor Saudi terhadap Yaman mengenai apa yang dianggapnya sebagai bukti-bukti peran Hizbullah di Yaman adalah perkara remeh, murahan dan tak layak ditanggapi,” ungkap Hizbullah dalam sebuah pernyataan singkatnya, Senin (27/12).  

Sehari sebelumnya, juru bicara koalisi itu, Brigjen Turki al-Maliki, dalam konferensi pers di Riyadh   menuding Iran dan Hizbullah mengirim para ahli dan personelnya ke bandara Sanaa untuk membantu gerakan Ansarullah meluncurkan rudal balistik dan drone ke wilayah Saudi.

Dia mengatakan, “Houthi menggunakan bandara Sanaa sebagai titik dan pusat utama untuk meluncurkan rudal balistik dan drone.”

Dia juga memperlihatkan rekaman video yang disebutnya “markas para ahli Iran dan Hizbullah di bandara itu”, dan mengklaim bahwa “Hizbullah di bandara itu sedang melatih Houthi untuk pemasangan bom dan penggunaan pesawat nirawak.”

Pada Sabtu lalu pasukan koalisi mengumumkan operasi militer “berskala besar” di Yaman, setelah tersiar kabar bahwa dua orang tewas dan tujuh lainnya terluka dalam serangan Ansarullah ke Saudi. Arab Saudi menuduh Iran dan Hizbullah memasok senjata berkualitas kepada Ansarullah, sementara Iran membantahnya. (raialyoum)