Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 21 September 2021

Jakarta, ICMES.  Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Hossein Baqeri menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel sudah terkepung oleh Poros Resistensi sehingga sangat menyadari ketidak mampuannya bertahan dalam perang dengan poros ini.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa pihaknya telah menggempur dan menghancurkan empat pangkalan kelompok kontra revolusi Islam Iran yang bertempat di Irak Utara.

Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayid Abdul Malik Al-Houthi, menyerukan  kepada rakyat negara ini turun ke jalan untuk menandai peringatan tujuh tahun “Revolusi 21 September”, yang terkait dengan masuknya pasukan Ansarullah ke Sanaa, ibu kota Yaman.

Berita Selengkapnya:

Jenderal Iran: Terkepung Poros Resistensi, Israel Sadar Tak Mampu Bertahan dalam Perang

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Hossein Baqeri menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel sudah terkepung oleh Poros Resistensi sehingga sangat menyadari ketidak mampuannya bertahan dalam perang dengan poros ini.

“Dengan merebut tanah Palestina, Rezim Zionis berpikir bahwa hal itu dapat membuka jalan pertumbuhan dan mendapatkan lebih banyak kekuatan dengan mengandalkan kekuatan AS, dan senang berhubungan dengan sejumlah negara tercela dan tentara bayaran di kawasan. Peristiwa di Afghanistan dan peristiwa lain di Poros Resistensi serta kekalahan berturut-turut rezim pembunuh anak-anak (Israel) menunjukkan bahwa akhir yang bahagia tidak menunggunya,” kata Jenderal Baqeri, Senin (20/9).

“Akhir-akhir ini, kami menyaksikan para pejabat rezim Zionis berkunjung ke AS satu demi satu, meminta AS untuk mengambil pendekatan yang lebih serius terhadap Iran dan Poros Resistensi, tapi mereka mengatakan bahwa mereka harus menemukan jalan sendiri,” tambahnya.

Dia juga menegaskan, “Setiap kali pejabat Rezim Zionis melontarkan ancaman, mereka tahu persis bahwa setiap serangan terhadap wilayah dan kepentingan Republik Islam Iran akan mendapat respon tegas dan menghancurkan dari Iran, dan mereka tidak akan mampu melakukan perlawanan dalam konfrontasi melawan Poros Resistensi dalam kepungan poros ini, termasuk Hamas dan Jihad (Islam Palestina),” kata Jenderal Baqeri.

Sebelumnya di hari yang sama, Menteri Pertahanan Iran Brigjen Mohammad Reza Ashtiani memperingatkan kepada bahwa agresi apapun akan menerima balasan menghancurkan dari Teheran.

Menyinggung ancaman pejabat Israel terhadap Iran belakangan ini, Ashtiani mengatakan, “Mereka yang membantu iblis dan rezim yang berafiliasi dengan kekuatan hampa mengatakan omong kosong dan melontarkan tuduhan karena putus asa.”

Dia melanjutkan, “Tidak ada lagi yang diharapkan dari rezim Zionis palsu yang selalu dikalahkan oleh bangsa Iran. Republik Islam Iran akan bergerak maju di jalur pertahanan dan pembangunan militer berdasarkan doktrin pertahanannya. ”

Dia lantas memperingatkan, “Musuh-musuh bangsa Iran pasti akan menerima tanggapan yang menghancurkan dalam menghadapi setiap langkah yang tidak bijaksana dan bodoh dan akan membayar mahal. Republik Islam Iran telah berulang kali menyatakan bahwa kekuatan pertahanan negara besar Iran dan kemajuan yang mengandalkan teknologi sains baru yang tumbuh di dalam negeri dan inovatif hanya dimaksudkan untuk menjaga keamanan dan melindungi perbatasan Islam Iran dan hanya untuk menanggapi segala kemungkinan ancaman dan agresi.”

Sementara itu, Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami memastikan negaranya tidak akan pernah menghentikan upaya seriusnya untuk mencapai teknologi canggih untuk melawan musuh.

Dia mengatakan, “Musuh memberlakukan sanksi ekonomi dan sains untuk membuat kami merasa takut bahwa kami mungkin menjadi negara terbelakang, sehingga lantas minta bantuan mereka.”

Sembari menekankan bahwa Iran tidak pernah memilih untuk meminta bantuan dari musuhnya, dia menegaskan, “Mimpi kami adalah menaklukkan bidang teknologi modern dan menutupi kesenjangan antara kebutuhan dan teknologi, dan ini adalah strategi kami yang tidak dapat diubah.” (fna)

Pasukan Elit Iran Gempur 4 Markas Kelompok Kontra Revolusi di Irak Utara

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa pihaknya telah menggempur dan menghancurkan empat pangkalan kelompok kontra revolusi Islam Iran yang bertempat di Irak Utara.

“Kelompok-kelompok anti-revolusi telah diorganisir oleh badan intelijen negara-negara musuh dan asing, dan bahkan negara-negara Arab tertentu, di Irak Utara untuk digunakan sesuai dengan tujuan mereka dan menciptakan hambatan di jalan Republik Islam,” ungkap Wakil Komandan Pangkalan IRGC Hamzeh Seyed al-Shohada di Barat Laut Iran, Brigjen Majid Arjmandfar, kepada wartawan, Senin (20/9).

Dia juga mengatakan, “Kelompok-kelompok anti-revolusi ini ditempatkan tidak jauh dari perbatasan Iran, dan peringatan yang diperlukan telah diberikan kepada pemerintah Irak serta para pejabat dan manajer di bagian utara negara tetangga ini.”

Arjmandfar menjelaskan, “Kami telah mengatakan dan memperingatkan bahwa jika kesalahan sekecil apa pun dari kelompok-kelompok yang bermusuhan ini terlihat maka mereka akan mendapat respon keras, yang menyebabkan penghancuran empat pangkalan kelompok anti-revolusi  ini.”

Dia menggarisbawahi bahwa di mana pun kelompok kontra-revolusi ini ditempatkan dianggap sebagai wilayah musuh oleh Iran.

 “Kami membuktikan ini dalam serangan baru-baru ini dan kami menargetkan semua posisi, pusat komando, dan tempat pembuangan amunisi yang mereka miliki,” lanjutnya.

Sebelumnya pada hari itu IRGC dalam sebuah pernyataannya menyebutkan bahwa pasukan mereka telah menggempur dan menghancurkan tempat persembunyian teroris di wilayah Kurdistan Irak.

Sebuah pernyataan oleh Pangkalan Hamzeh Seyed al-Shohada IRGC di Provinsi Azerbaijan Barat di Iran Barat Laut menjelaskan, “Empat pangkalan kelompok anti-revolusi menjadi sasaran dan dihancurkan oleh senjata presisi sebagai tanggapan atas gerakan mereka di perbatasan negara kami dengan Irak Utara”.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa kelompok anti-Iran telah diorganisir dan disponsori di wilayah utara Irak oleh dinas intelijen asing serta beberapa negara Arab untuk menggunakannya sesuai dengan tujuan mereka dan menciptakan hambatan di jalan Republik Islam Iran.

Mengenai hal yang sama, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Hossein Baqeri memperingatkan akan adanya serangan lanjutan negara ini terhadap tempat-tempat persembunyian kelompok anti-revolusi di wilayah tersebut, khususnya wilayah Kurdistan Irak. (fna)

Pemimpin Ansarullah Serukan Partisipasi Rakyat dalam Peringatan 7 Tahun Revolusi Yaman

Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayid Abdul Malik Al-Houthi, menyerukan  kepada rakyat negara ini turun ke jalan untuk menandai peringatan tujuh tahun “Revolusi 21 September”, yang terkait dengan masuknya pasukan Ansarullah ke Sanaa, ibu kota Yaman.

Dalam pidato yang disiarkan oleh saluran Al-Masirah milik Ansarullah, Senin (20/9), Al-Houthi menegaskan, “Dengan spirit revolusi dan identitas keimanan, kita akan terus menempuh jalan perjuangan menghadang agresi (pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi) hingga tercapainya kemerdekaan penuh.”

Dia menyebutkan bahwa Ansarullah sekarang sedang menghadapi “agresi dan blokade masif dari negara-negara pemilik fasilitas besar namun hina di lingkungan Arab”.

Dia menilai revolusi rakyat Yaman yang digerakkan oleh Ansarullah “telah menghentikan kesia-siaan yang mengarah kepada kehancuran negara, dan menyetop mandat asing” dan  revolusi ini akan terus berlanjut tanpa boleh berhenti di tengah jalan.

Sayid Al-Houthi juga memastikan bahwa revolusi ini sama sekali tidak memiliki tujuan agresif terhadap pihak manapun, baik di dalam maupun di luar negeri, terutama negara-negara jiran.

“Revolusi ini tidak bertujuan agresif di dalam negeri ataupun di lingkungan Arab dan Islam, terutama negara-negara jiran,” ujarnya.

Dia menyebut pemerintahan presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi sebagai “antek” asing yang telah “menyerahkan kekayaan negara kepada pihak-pihak asing hanya demi kepentingan pribadi”.

Menyinggung Amerika Serikat dia mengatakan, “Washington melalui para dubesnya telah merampas keputusan-keputusan Yaman demi menyukseskan ketamakannya yang ilegal, sedangkan Saudi dan Emirat hanyalah alatnya.”

Gerakan Ansarullah mendatangi Sanaa pada 21 September 2014 sehingga pemerintahan Mansour Hadi kabur ke wilayah lain. Ansarullah lantas menguasai beberapa provinsi Yaman sehingga Arab Saudi dan sekutunya yang mendukung Mansour Hadi membentuk pasukan koalisi untuk  melancarkan invasi militer ke Yaman dengan tujuan menumpas Ansarullah namun gagal.

Sejak invasi itu Yaman dilanda perang sampai sekarang dan membuat negara ini terpuruk dalam krisis yang disebut oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai yang terburuk di dunia. (raialyoum/alam)