Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 2 Mei 2023

Jakarta, ICMES. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa lebih dari 800.000 orang dapat melarikan diri dari Sudan, mengingat pertempuran yang sedang berlangsung antara tentara Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).

Mesin pesawat udara yang sepenuhnya buatan Iran berhasil diuji di Kelompok Industri MAPNA di hadapan Presiden Iran.

Pasukan Rezim Zionis Israel melancarkan agresi baru terhadap Suriah dengan menyasar bandara kota Aleppo dan sekitarnya, hingga menewaskan seorang tentara dan melukai tujuh lainnya.

Berita Selengkapnya:

Pertempuran Berlanjut di Sudan, PBB Perkirakan 800,000 Orang Mengungsi

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Senin (1/5), bahwa lebih dari 800.000 orang dapat melarikan diri dari Sudan, mengingat pertempuran yang sedang berlangsung antara tentara Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di ibu kota, Khartoum, meskipun gencatan senjata untuk sementara waktu telah diumumkan dan evakuasi oleh negara asing dihentikan.

Ratusan orang tewas dan ribuan lainnya terluka selama lebih dari dua minggu pertempuran akibat memuncaknya konflik lama antara kedua pihak yang bertikai hingga menjadi pertempuran sejak 15 April.

Peluang tampaknya tipis untuk solusi cepat atas krisis ini, yang telah menyebabkan bencana kemanusiaan, menimbulkan banyak kerusakan di berbagai kawasan di Khartoum, meningkatkan risiko polarisasi kekuatan regional, dan memicu kembali konflik di wilayah Darfur.

Pada Ahad lalu kedua belah pihak sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama 72 jam. PBB mengatakan kepada Reuters bahwa kedua pihak dapat mengadakan pembicaraan tentang gencatan senjata di Arab Saudi, namun suara serangan udara dan tembakan anti-pesawat berkecamuk pada Senin pagi dan asap mengepul di angkasa Khartoum, dan kota-kota terdekat.

Asisten Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Raouf Mazou,  mengatakan bahwa UNHCR memperkirakan sebanyak  815.000 orang keluar dari Sudan, termasuk 580.000 orang Sudan, selain pengungsi asing yang sekarang tinggal di negara tersebut.

Dia menambahkan bahwa sekitar 73.000 orang telah meninggalkan negara itu. Muhammad Izz al-Din, seorang warga Sudan yang keluar dari Khartoum mengatakan kota itu telah berubah total.

Dia sempat meninggalkan Khartoum dan kemudian kembali lagi karena masuknya pengungsi menyebabkan kenaikan biaya akomodasi di luar ibu kota.

“Kami melihat mayat di jalanan. Kami melihat pabrik-pabrik yang dijarah dan sekelompok orang yang menarik televisi dari punggung mereka dan membawa ponsel yang telah mereka rampas dari pabrik-pabrik tersebut,” ungkapnya.

Banyak yang mengkhawatirkan nyawa penduduk di tengah perebutan kekuasaan di seluruh negeri antara para pemimpin kedua pihak yang berkonflik, yang sempat berbagi kendali pemerintahan setelah kudeta 2021, tetapi berselisih mengenai rencana untuk kembali ke pemerintahan sipil.

Puluhan ribu orang Sudan telah meninggalkan rumah mereka, dan beberapa berkerumun di pusat-pusat seperti Atbara, di Khartoum timur laut, saat mereka memikirkan apa yang harus dilakukan atau pergi ke perbatasan dengan Mesir atau Chad. (raialyoum)

Iran Sukses Ujicoba Mesin Pesawat Udara Buatannya

Mesin pesawat udara yang sepenuhnya buatan Iran berhasil diuji di Kelompok Industri MAPNA di hadapan Presiden Iran.

Pengujian mesin dan sistem kontrol mesin udara, yang dibuat dengan metode rekayasa terbalik oleh para ahli dari Kelompok Industri MAPNA diadakan selama kunjungan Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi ke Perusahaan MAPNA pada peringatan Hari Buruh, Senin  (1/5).

Presiden Raisi mengunjungi pameran pencapaian teknologi Kelompok Industri MAPNA di berbagai bidang, antara lain pembangkit listrik termal dan terbarukan, minyak dan gas, transportasi kereta api, layanan dan perombakan, mesin udara, elektrifikasi mobil, teknologi pintar, industri padat energi, kesehatan, dan air.

Raisi juga mengunjungi turbin gas kelas-F canggih seluruh Iran untuk pembangkit listrik di mana suku cadang canggih dan berteknologi tinggi serta rantai pasokan suku cadangnya dibuat di dalam negeri oleh Perusahaan MAPNA.

Raisi juga mengunjungi lokomotif MAP24 yang merupakan produk yang dirancang dan dibangun oleh para ahli kelompok tersebut.

Dalam kunjungan ini, Presiden Raisi menekankan pemenuhan kebutuhan lokomotif dalam negeri dengan mengutamakan produksi dalam negeri dan juga memanfaatkan kapasitas balai latihan lokomotif perusahaan ini.

Raisi kemudian mengunjungi sistem penggerak kendaraan listrik, termasuk bus, mobil penumpang, dan kargo, yang semuanya didesain dan diproduksi oleh Kelompok Industri MAPNA.

Sementara itu, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen  Hossein Salami di Teheran pada hari yang sama mengatakan bahwa pihak musuh melakukan apa yang mereka bisa untuk menghentikan kemajuan Iran, namun negara republik Islam ini tidak akan mundur dari jalur kemajuan yang telah dipijaknya sejak revolusi Islam tahun 1979.

“Hari ini, musuh telah membawa semua bidak di papan catur politiknya bersama-sama dengan sekuat tenaga melawan Republik Islam Iran yang suci dan revolusi yang mulia. Bidak-bidak catur ini semuanya bekerjasama dan ini berarti bahwa bangsa ini memiliki tumbuh terlalu megah, kuat, dan tahan sehingga berdiri kokoh di medan perang dengan kemenangan,” kata Salami pada sebuah upacara pengangkatan komandan baru Pangkalan Konstruksi IRGC Khatam al-Anbia.

Jenderal Salami menambahkan semua plot yang dirancang musuh untuk melawan Iran telah gagal.

“Tidak ada mimpi musuh tentang kita yang menjadi kenyataan dan apa yang mereka pikirkan tentang kita malah menimpa ke diri mereka sendiri. Berlawanan dengan semua itu, bangsa Iran telah bersinar (di berbagai bidang) dan kebersinaran ini terus berlanjut,” tambahnya.

Dia juga menekankan kemerdekaan lebih lanjut dan mengandalkan sumber daya internal daripada melihat ke Barat, dengan mengatakan bahwa sejak revolusi Islam, Iran mengandalkan kemampuannya sendiri dan jalan ini akan berlanjut dengan kekuatan untuk mendapatkan lebih banyak prestasi. (mna)

Satu Tentara Suriah Gugur Akibat Serangan Israel ke Aleppo

Pasukan Rezim Zionis Israel melancarkan agresi baru terhadap Suriah dengan menyasar bandara kota Aleppo dan sekitarnya, hingga menewaskan seorang tentara dan melukai tujuh lainnya, sementara pertahanan udara Suriah menghadapi agresi Israel dan berhasil menembak jatuhsebagian besar rudal pada Senin malam (1/5).

Sumber militer yang identitasnya tidak diungkapkan mengatakan, “Musuh, Israel, melakukan serangan udara dengan semburan rudal dari tenggara Aleppo, menyasar Bandara Internasional Aleppo dan sejumlah titik di sekitar Aleppo.”

Dikatakan bahwa serangan itu mengakibatkan kerugian material dan lumpuhnya Bandara Internasional Aleppo.

Sebuah sumber keamanan mengatakan, “Pesawat Israel menembakkan sejumlah rudal di beberapa lokasi di pedesaan timur Aleppo, sementara pencegat pertahanan udara Suriah mampu mencegat sebagian besar rudal musuh.”

Sumber-sumber lokal Suriah menyatakan bahwa agresi Israel itu menyasar area sekitar Bandara Internasional Aleppo, yang tidak berfungsi karena kerusakan parah pada landasan pacu, dan juga manyasar distrik As-Safira di bagian selatan provinsi Aleppo.

Sumber itu menambahkan bahwa rudal Israel diluncurkan dari pesawat tempur yang datang dari angkasa perairan internasional lepas pantai Suriah.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, Sabtu lalu melaporkan bahwa pertahanan udara telah mencegat target musuh di angkasa kota Homs.

Kamis lalu, perwakilan tetap Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzia, mengumumkan bahwa Moskow mengutuk meningkatnya serangan Israel di wilayah Suriah dan kurangnya tanggapan dari pimpinan PBB terhadanya.

“Kami prihatin dengan meningkatnya serangan udara Israel di wilayah Suriah,” kata Nebenzia dalam sesi Dewan Keamanan PBB.

“Sejak awal tahun, lebih dari 10 serangan semacam itu telah dilakukan, yang mengakibatkan dua kali gangguan terhadap pekerjaan Bandara Internasional Aleppo, di mana bantuan kemanusiaan menjangkau mereka yang terkena dampak gempa dahsyat,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan, “Tindakan kekuatan seperti itu, yang melanggar kedaulatan Suriah dan negara-negara Arab tetangga, dan kurangnya reaksi terhadap mereka oleh pimpinan PBB menyebabkan keprihatinan dan kecaman yang mendalam.”  (raialyoum)