Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 7 November 2020

iran dan kubaJakarta, ICMES. Menteri luar Negeri Iran Mohammad Javad Zaif tibag Havana, ibu kota Kuba, Jumat (6/11/2020), untuk melakukan pembicaraan dengan sejawatnya di sana, Bruno Rodriguez, terutama dalam rangka saling dukung dalam menghadapi sanksi Amerika Serikat.

Pertempuran sengit antara Azerbaijan dan Armenia yang sudah berjalan enam minggu masih terus berkecamuk, dan dilaporkan bahwa sejauh ini telah merenggut nyawa lebih dari seribu orang.

Seorang pria Palestina, Maher al-Akhras, 49 tahun,  yang dipenjara oleh Israel sejak Juli 2020 karena dituduh sebagai anggota kelompok bersenjata telah mengakhiri aksi mogok makannya setelah 103 hari.

Berita Selengkapnya:

Iran dan Kuba Galang Aliansi Melawan AS

Menteri luar Negeri Iran Mohammad Javad Zaif tibag Havana, ibu kota Kuba, Jumat (6/11/2020), untuk melakukan pembicaraan dengan sejawatnya di sana, Bruno Rodriguez, terutama dalam rangka saling dukung dalam menghadapi sanksi Amerika Serikat (AS).

Surat kabar resmi Kuba Granma, Jumat (6/11/2020), menyebutkan bahwa Zarif dan Rodriguez akan memperlihatkan “solidaritas timbal balik antara kedua negara dalam menghadapi pengetatan sanksi pemerintah AS saat ini terhadap negara-negara yang tidak tunduk pada keinginannya”.

Pada tahun 2018, pemerintahan Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir penting yang ditandatangani antara Iran dan beberapa negara terkemuka dunia pada tiga tahun sebelumnya.

Setelah itu AS menerapkan kembali sanksi ketat sebagai bagian dari kampanye “tekanan maksimum” untuk melumpuhkan ekspor minyak Iran.

Di sisi lain, AS juga telah mengumumkan lebih dari 130 langkah untuk memperkuat embargo yang dialami Kuba sejak 1962.

Granma melaporkan “Kuba akan mendukung penggunaan energi dan teknologi nuklir secara damai untuk berkontribusi pada pembangunan sosial ekonomi, dan akan mengutuk keputusan pemerintah AS menarik diri secara sepihak dari  Perjanjian Nuklir dengan Iran.”

Zarif berkunjung ke Kuba dua hari setelah mengunjungi Venezuela, sekutu regional Iran lain yang juga terkena sanksi AS.

Menurut Granma, Zarif dan Rodriguez “akan membicarakan kemungkinan hubungan dan kerjasama komersial” dengan Wakil Perdana Menteri Kuba Ricardo Cabrisas.

Duta Besar AS di Havana, Michael Kozak, berkomentar miring di Twitter mengenai kunjungan Zarif tersebut.

“Zarif Iran dan rezim Castro memiliki banyak kesamaan: pelanggaran HAM, otoriterisme, pencurian kekayaan Venezuela, dan penyebaran pengaruh buruk mereka ke seluruh dunia. Hubungan mereka menegaskan kurangnya legitimasi mereka, ”cuit Kozak.

Disebutkan bahwa Zarif akan mengakhiri kunjungannya ke wilayah itu setelah menghadiri pelantikan presiden terpilih Bolivia Luis Arce, Ahad (8/11/2020). (aljazeera)

Sudah Berkecamuk 6 Minggu, Perang Karabakh Tewaskan 1000 Orang

Pertempuran sengit antara Azerbaijan dan Armenia yang sudah berjalan enam minggu masih terus berkecamuk, dan dilaporkan bahwa sejauh ini telah merenggut nyawa lebih dari seribu orang.

Dalam perkembangan terbaru, pusat media pemerintah Armenia menuding Azerbaijan telah membombardir kawasan sipil kota Stepanakert, ibu kota wilayah Nagorno-Karabakh, hingga menyebabkan tiga orang terbunuh dan beberapa rumah terlalap api. Tudingan ini dibantah oleh pihak Azerbaijan.

Pusat itu mengklaim bahwa Azerbaijan telah meroket kawasan itu dan bahwa tim evakuasi masih berada di sana di tengah kemungkinan bertambahnya jumlah korban yang tertimbun reruntuhan bangunan rumah dan fasilitas infrastruktur.

Disebutkan pula bahwa Susha, kota terbesar kedua yang berjarak 15 kilometer dari Stepanakert, juga terkena serangan yang dilancarkan pada malam hari hingga menyebabkan beberapa rumah terbakar.

Di pihak lain, Kemhan Azerbaijan membantah laporan itu dengan menyebutnya “informasi menyesatkan”.

Reuters melaporkan bahwa pertempuran berkecamuk antara kedua belah pihak untuk menguasai daerah-daerah pemukiman utama, dan pertempuran meluas dengan eskalasi serangan pasukan Azerbaijan ke dua kota terbesarnya.

Menurut Reuters, sejauh ini sedikitnya seribu orang tewas akibat pertempuran yang sudah berkecamuk selama hampir 6 minggu.

Wilayah Nagorno-Karabakh merupakan bagian dari Azerbaijan, sebagaimana diakui oleh masyarakat  internasional, namun dihuni dan dikuasai oleh orang-orang yang beretnis Armenia. (aljazeera)

Pria Palestina Yang Ditahan Israel Akhiri Mogok Makan Setelah 103 Hari

Seorang pria Palestina, Maher al-Akhras, 49 tahun,  yang dipenjara oleh Israel sejak Juli 2020 karena dituduh sebagai anggota kelompok bersenjata telah mengakhiri aksi mogok makannya setelah 103 hari.

Pria itu ditangkap di dekat kota Nablus di Tepi Barat dan dimasukkan dalam penahanan administratif, sebuah kebijakan yang digunakan Israel untuk menahan tersangka tanpa dakwaan.

Istrinya, Taghrid, kepada kantor berita AFP, Jumat (6/11/2020), mengatakan bahwa Maher telah “menghentikan aksi mogok makannya setelah 103 hari”.

Dalam percakapan telepon dari rumah sakit Kaplan di Rehovot, sebuah kota Israel di selatan Tel Aviv tempat suaminya dirawat, Taghrid mengaku “senang” atas keputusan itu,  namun masih “prihatin” atas kondisi medis Maher yang parah serta menderita sakit jantung dan kejang.

Belum ada komentar langsung dari otoritas Israel mengenai apakah mereka telah menawarkan jaminan khusus kepada Maher.

Sebelumnya di hari yang sama, Taghrid mengatakan bahwa Maher hampir meninggal dunia, mengalami kejang yang parah dan sakit kepala.

Badan keamanan internal Israel Shin Bet mengatakan Maher ditahan setelah ada informasi bahwa dia adalah seorang agen kelompok bersenjata Jihad Islam, sebuah tuduhan yang dibantah istrinya.

Ayah enam anak ini melakukan aksi mogok makan untuk memprotes perintah penahanan empat bulan yang berakhir pada 26 November namun bisa diperpanjang.

Saat itu Maher berjanji untuk terus menolak makanan padat meskipun ada keputusan pada bulan Oktober oleh Mahkamah Agung Israel untuk tidak memperpanjang masa penahanannya setelah tanggal tersebut.

Tapi setelah menerima apa yang disebut “komitmen tegas Israel untuk tidak memperbarui penahanan administratifnya” Maher memutuskan untuk mengakhiri mogok makan,” menurut keterangan Klub Tahanan Palestina, Jumat.

Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh telah menuntut pembebasan Maher sesegera mungkin, sementara orang-orang Palestina, termasuk yang ada di wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948), telah berunjuk rasa untuk menandai dukungan dan simpatinya kepada Maher.

Menurut kelompok hak asasi manusia B’Tselem Israel, pada Agustus tahun ini sekira 355 warga Palestina, termasuk dua anak di bawah umur, ditahan Israel di bawah perintah penahanan administratif.

Banyak tahanan Palestina mengatakan bahwa mereka telah mengalami penyiksaan dan kekerasan saat berada di dalam tahanan. Ada banyak protes terhadap kondisi penjara yang buruk dalam beberapa tahun terakhir, termasuk beberapa aksi mogok makan.

Banyak pula tahanan yang mengalami kelalaian medis di penjara sehingga bahkan harus membayar perawatan medis mereka sendiri karena tidak diberi perawatan kesehatan yang memadai. (aljazeera)