Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 19 Agustus 2023

Jakarta, ICMES. Menteri Luar Negeri Iran Hossein-Amir Abdollahian mengatakan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman telah menerima undangan resmi untuk berkunjung ke Iran.

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi memuji peran pasukan elit negara ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam membela negara serta kaum Muslim Syiah dan Sunni dan bahkan non-Muslim.

Wakil kepala Otoritas Keamanan Nasional Israel, Eitan Ben-David, mengatakan kepada Saluran 13  TV Israel bahwa pemimpin Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, adalah “musuh berat Israel, tidak boleh meremehka kemampuannya, dengarkan ancamannya, dan tangani dengan serius.”

Berita Selengkapnya:

Ini Kata Menlu Iran Usai Jumpa Bin Salman

Menteri Luar Negeri Iran Hossein-Amir Abdollahian mengatakan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman telah menerima undangan resmi untuk berkunjung ke Iran.

Dalam pernyataan kepada wartawan sebelum pulang ke Iran, Jumat (18/8), Abdollahian mengaku telah mengirimkan undangan resmi kepada Mohammed bin Salman untuk mengunjungi Iran, dan dia pun menerima undangan itu serta menyatakan berniat mengunjungi Iran di waktu yang tepat.

Mengenai undangan Raja Salman kepada Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi, untuk mengunjungi Saudi, Abdollahian mengatakan bahwa Presiden Iran telah menerima undangan itu dan mengatakan bahwa kunjungannya ke Saudi akan dilakukan pada waktu yang tepat.

Dia juga mengatakan,“ Saya dan delegasi pendamping mengunjungi kedutaan Iran di Riyadh, konsulat Iran di Jeddah dan kantor perwakilan Republik Islam Iran untuk Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Jeddah, dan kami menyaksikan dari dekat proses dimulainya kembali secara resmi kegiatan diplomatik kami di Arab Saudi.”

Dia menambahkan bahwa para diplomat Saudi telah menetap di Teheran dan Masyhad, dan dalam beberapa hari mendatang duta besar kedua negara akan memulai pekerjaannya di Teheran dan Riyadh.

Dia menyebutkan bahwa Putra Mahkota Saudi menekankan bahwa pencapaian keamanan, stabilitas, dan pembangunan berkelanjutan di tingkat regional juga akan menguntungkan Arab Saudi, dan bahwa Ibnu Salman mengajukan beberapa gagasan mengenai diskusi regional dan internasional.

“Kami mengadakan konsultasi dalam hal ini, dan saya percaya bahwa pihak Saudi menunjukkan niat baik dan kemauannya dalam kunjungan ini,” ujar Menlu Iran.

Menurut Amir-Abdollahian, Arab Saudi menegaskan pandangannya yang berbeda tentang masa lalu terkait masalah regional, dan menyatakan kesediaannya untuk membuka halaman baru dalam hubungan antara Teheran dan Riyadh.

Menlu Iran mengaku setuju dengan sejawatnya di Saudi, Faisal bin Farhan Al-Saud, tentang perlunya penyelenggaraan pertemuan ekonomi dan perdagangan antarpengusaha dari kedua negara di Teheran, Riyadh dan kota-kota lain.

“Kami menyepakati perlunya membangun kerjasama bilateral yang berkelanjutan, dan dalam konteks ini kami menyepakati bagaimana membangun kerjasama yang lebih kuat di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, ilmu pengetahuan dan teknologi di sektor swasta dan publik. Beberapa isu regional dan internasional yang menjadi kepentingan bersama juga dibahas,” paparnya.

Abdollahian menegaskan, “Kawasan (Teluk Persia dan sekitarnya) telah memasuki babak baru kerja sama karena ada kesepakatan bahwa kawasan ini dapat maju dan berkembang dengan mengandalkan diri sendiri.” (alalam)

Presiden Iran: IRGC Bela Muslim Sunni dan Syiah, Bahkan Non-Muslim

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi memuji peran pasukan elit negara ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam membela negara serta kaum Muslim Syiah dan Sunni dan bahkan non-Muslim.

“Saat ini, IRGC yang menikmati dan dilengkapi dengan pelatihan yang ditingkatkan, ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki dua keistimewaan mendasar yang patut dibanggakan; aset spiritual dan aset sosial. Kedua keistimewaan IRGC ini harus dijaga,” kata Presiden Raisi pada hari kedua pertemuan Majelis Tinggi Komandan IRGC di Teheran, Jumat (18/8).

“Modal sosial yang sangat besar inilah yang menjadikan IRGC saat ini sebagai tempat bernaung dan tempat berlindung yang aman bagi Syiah, Sunni, Muslim, dan non-Muslim. Semua orang menganggap IRGC sebagai tempat berlindung yang aman,” sambungnya.

Dia menyebutkan bahwa misi IRGC yang paling penting adalah melestarikan dan melindungi revolusi Islam Iran dalam menghadapi semua ancaman, sanksi, dan agitasi.

Mengenai perang yang dikomandani  Jenderal Qassem Soleimani melawan kawanan teroris ISIS dan lain-lain di Timur Tengah, Presiden Raisi mengatakan bahwa jika bukan dia dan kampanye anti-teror IRGC, niscara teroris ISIS sekarang sudah mendominasi kota-kota Eropa.

Sehari sebelumnya, dalam pertemuan serupa dengan para komandan IRGC, Pemimpin Besar Iran   Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan bahwa musuh berusaha menodai citra pasukan sukarelawan IRGC dan Basij.

Dia juga menyebut IRGC sebagai kekuatan anti-teror terbesar di dunia.

Sementara itu, Brigjen AU IRGC Amir Ali Hajizadeh usai pertemuan dengan Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa Iran telah menyiapkan strategi pertahanan hibrida dalam menghadapi perang hibrida musuh.

Menurut Hajizadeh, Ayatullah Khamenei senang atas kemajuan IRGC, namun juga mengharapkan lebih dari kemajuan yang dicapai sekarang.

IRGC, yang juga dikenal nama Sepah, didirikan pada April 1979 oleh pendiri Republik Islam Imam Khomeini sebagai organisasi paramiliter yang bertugas melindungi Republik Islam yang baru lahir.

Pasukan ini bekerja sama erat dengan Angkatan Bersenjata Iran dalam menghadapi ancaman asing seperti yang diwujudkan selama perang delapan tahun melawan agresi militer Irak di era diktator Saddam Hussein pada 1980-an.

Teheran menegaskan bahwa IRGC adalah badan resmi negara yang telah dan akan terus memiliki peran penting dan kunci dalam upaya menjamin keamanan dan stabilitas Iran dan kawasan, dan bahwa IRGC merupakan pelindung negara dan dianggap sebagai garis merah bagi Teheran. (mna/fna)

Petinggi Keamanan Israel: Nasrallah Musuh Berat

Wakil kepala Otoritas Keamanan Nasional Israel, Eitan Ben-David, mengatakan kepada Saluran 13  TV Israel bahwa pemimpin Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, adalah “musuh berat Israel, tidak boleh meremehka kemampuannya, dengarkan ancamannya, dan tangani dengan serius,”seperti dikutip Rai Al-Youm, Jumat (19/8).

Bersamaan dengan ini, pakar Israel  Tzivi Yehezkali kepada saluran yang sama mengatakan, “Kita harus memperhatikan apa yang dikatakan Nasrallah, karena kepercayaan dirinya meningkat, dan ancamannya harus diperhitungkan, terutama setelah dia menunjukkan pengetahuannya tentang  masyarakat Israel.”

Pernyataan demikian terlontar beberapa hari setelah Sayid Nasrallah berpidato dan banyak bicara tentang Israel pada peringatan 17 tahun kemenangan Hizbullah dalam perang Juli 2006 melawan Israel, dan kemudian perhatian besar media di Israel.

Dalam pidatonya, ditujukan kepada para pemimpin Israel, dia mengatakan, “Jika kalian memilih perang melawan Lebanon, maka kalian juga akan kembali ke zaman batu.”

Dia mengatakan demikian sebagai tanggapan atas sesumbar dan ancaman Menteri Keamanan Israel, Yoav Gallant, bahwa Israel akan mengembalikan Lebanon ke zaman batu.

Menyusul pidato itu, Brigjen Pasukan Cadangan Israel Amir Avivi dalam sebuah wawancara dengan Saluran 13 Israel  mengatakan bahwa Sayid Nasrallah merasa percaya diri lantaran rudal-rudal presisi yang dimiliknya serta menjadi keseimbangan ketakutan dan ancaman strategis yang harus dihadapi Israel.

Amir Bar Shalom, komentator urusan keamanan dan politik di Saluran 12 mengatakan bahwa Sayid Nasrallah memiliki “pengetahuan yang sangat mengesankan tentang detail Israel,” dan masalah ini adalah “bagian dari perang psikologisnya terhadap Israel.” (raialyoum)