Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 17 Oktober 2020

rudal gazaJakarta, ICMES. Militer Zionis Israel menyatakan bahwa dari Jalur Gaza telah diluncurkan sebuah roket menuju permukiman Israel yang berdekatan dengan jalur tersebut.

Sebuah rekaman video beredar dan memperlihatkan detik-detik  tentara Israel menyerang wartawan Palestina yang bermaksud meliput kegiatan petani Palestina memanen buah zaitun.

Kepala Divisi Riset Intelijen Militer Israel, Dror Shalom, menyatakan bahwa Presiden Suriah Bashar Assad seharusnya dibunuh karena telah melakukan apa yang disebut Shalom sebagai “penggunaan senjata kimia”.

Perusahaan Abdullah AlOthaim Markets di Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka telah berhenti mengimpor produk Turki.

Otoritas Turki telah menangkap seorang pria yang diduga memata-matai warga negara Arab asing untuk kepentingan Uni Emirat Arab (UEA).

Berita Selengkapnya:

Israel: Roket Melesat dari Jalur Gaza ke Wilayah Israel

Militer Zionis Israel menyatakan bahwa dari Jalur Gaza telah diluncurkan sebuah roket menuju permukiman Israel yang berdekatan dengan jalur tersebut, Jumat (16/10/2020).

“Menindaklanjuti laporan adanya pembunyian sirine di daerah sekitar Gaza, telah terjadi penembakan roket dari Jalur Gaza menuju wilayah Israel,” ungkap juru bicara militer Israel, Avichai Adrai, di halaman Twitter-nya.

Suara pekikan sirene terdengar di sejumlah wilayah Israel yang berbatasan dengan Jalur Gaza setelah sistem penangkis rudal Kubah Besi Israel mendeteksi peluncuran roket.

Sumber mengatakan kepada media Israel bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan roket itu mendarat di area terbuka pada Jumat malam. IDF mengkonfirmasi adanya serangan itu tak lama setelah sirene roket dibunyikan di Nativ Ha’ashara di dekat perbatasan Gaza.

IDF belakangan mengaku telah melancarkan serangan udara ke situs militer Hamas, di Jalur Gaza selatan, dan menyatakan bahwa serangan itu merupakan balasan atas serangan roket tersebut. (rta/jp)

Israel Serang Wartawan Palestina di Tepi Barat

Sebuah rekaman video beredar dan memperlihatkan detik-detik  tentara Israel menyerang wartawan Palestina yang bermaksud meliput kegiatan petani Palestina memanen buah zaitun di desa Burqa di utara kota Ramallah, Tepi Barat, Jumat (16/10/2020).

Dalam rekaman itu terlihat seorang tentara Zionis Israel bersenjata mendorong seorang wartawan, lalu menghampiri wartawan lain dan mencoba menendangnya.

Kepala Otoritas Perlawanan atas Permukiman dan Tembok Pemisah Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Walid Assaf, mengatakan bahwa tentara Israel melepaskan bom granat setrum dan gas air mata yang membakar pohon zaitun di sebuah bukit di barat laut desa Burqa, sementara para petani Palestina berusaha menjangkaunya untuk memetik buahnya pada awal musim panen.

Puluhan petani bersama sejumlah relawan dan aktivis berusaha mencapai ladang zaitun di dekat posko permukiman Zionis yang didirikan di atas tanah Desa Burqa sejak 2002. (rta)

Wawancara dengan Media Saudi, Pejabat Intelijen Israel: Assad Semestinya Dibunuh

Kepala Divisi Riset Intelijen Militer Israel, Dror Shalom, menyatakan bahwa Presiden Suriah Bashar Assad seharusnya dibunuh karena telah melakukan apa yang disebut Shalom sebagai “penggunaan senjata kimia”.

Seperti dikutip RT Arabic, Jumat (16/10/2020), Shalom dalam wawancara dengan surat kabar Elaf milik Arab Saudi membenarkan bahwa Israel menganggap Assad sebagai musuhnya.

“Presiden Assad adalah musuh Israel … Tapi rakyat Suriah bukanlah musuh kami, karena kami membantu mereka di masa perang. Apakah ada negara yang memberikan bantuan di tanah yang bermusuhan, tapi kami tidak melakukan apa-apa untuk menyingkirkan Assad”.

Shalom kemudian menuding Assad menyerang rakyatnya dengan bom Suriah.

“Beberapa tahun lalu, Assad menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya, dan komunitas internasional seharusnya tidak membuatnya tetap hidup, tapi bukan Israel, dan saya tidak tahu bagaimana mereka membuat diktator ini tetap memerintah Suriah, dan ini adalah pesan buruk bagi rakyat di kawasan,”ujarnya.

Dia melanjutkan, “Saya pikir mereka membuat penilaian yang benar secara politis dan strategis, dan kami tidak ingin campur tangan sehingga mereka tidak akan menuduh kami tentang apa pun. Kami mencampuri urusan Suriah dalam hal mencegah Iran berkuasa, dan saya termasuk di antara mereka yang memimpin teori perlunya menyerang orang Iran agar mereka tidak mengubah Suriah menjadi Libanon lagi.”

Sementara itu, dalam wawancara belum lama ini dengan Sputnik milik Rusia, Dror Shalom menanggapi persyaratan dari Assad berupa penyerahan kembali Dataran Tinggi Golan kepada Suriah untuk normalisasi hubungan Suriah dengan Israel.

Dia mengatakan, “Saya tidak akan merepotkan diri saya sehingga membaca berita ini, dan saya menyarankan agar dia berbicara tentang kesefahaman, sebab kami tidak menyentuh semua waktu yang digunakan Assad untuk mengendalikan Iran di Suriah.”

Dia juga mengatakan, “Adapun masalah Golan, ini adalah masalah politik yang tidak saya usik. Masalah pembicaraan damai dengan Assad, saya pikir itu tidak mungkin karena dia tidak memerintah negara, melainkan lebih mengatur wilayah tertentu, dan diapun tak akan bertahan di sana tanpa dukungan Rusia.” (rta)

Pasar Saudi Mulai Aksi Boikot Produk Turki

Di tengah ketegangan politik yang terus berlanjut antara Riyadh dan Ankara, Abdullah AlOthaim Markets di Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka telah berhenti mengimpor produk Turki, sembari menegaskan bahwa para pemimpin dan pemerintah Kerajaan Saudi adalah “garis merah” bagi mereka.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Jumat (16/10/2020), perusahaan itu menyatakan, “Kami menjelaskan kepada pelanggan kami yang terhormat bahwa departemen perusahaan ini telah diperintahkan untuk berhenti mengimpor semua produk Turki dari Turki, berhenti memasoknya dari pemasok lokal, dan untuk bekerja cepat mengosongkan stok produk ini di semua cabang dan gudang serta tidak membuat permintaan baru. ”

Abdullah AlOthaim Markets menambahkan, “Keputusan ini datang sebagai solidaritas dengan kampanye kerakyatan untuk pemboikotan, dan sebagai kepercayaan perusahaan ini pada kewajiban nasionalnya, dan sebagai tanggapan terhadap perlakuan pemerintah Turki terhadap tanah air tercinta kami.”

Perusahaan kemudian menegaskan, “Para pemimpin kami, pemerintah kami, dan keamanan kami adalah garis merah yang boleh diusik. Salam dan rasa hormat kepada saudara kami, rakyat Turki, yang jauh dari perilaku keji pemerintah mereka.”

Hubungan antara Turki dan Saudi mengalami ketegangan sejak beberapa tahun lalu akibat persoalan kebijakan luar negeri dan perlakuan terhadap kelompok-kelompok politik berlabel Islamis, terutama setelah pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, pada 2 Oktober 2018, di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. (rta)

Turki Ringkus Terduga Mata-Mata UEA

Otoritas Turki telah menangkap seorang pria yang diduga memata-matai warga negara Arab asing untuk kepentingan Uni Emirat Arab (UEA).

Seorang pejabat senior keamanan Turki, Jumat (16/10/2020), mengatakan kepada Reuters bahwa pria itu telah mengaku melakukan kegiatan spionase dan bahwa pejabat intelijen Turki telah memperoleh “sekumpulan dokumen” darinya, yang menunjukkan afiliasinya dengan UEA.

Pejabat anonim itu menjelaskan bahwa pria yang identitasnya belum diungkap itu memasuki Turki dengan menggunakan paspor non-UEA dan telah “menyusup ke jaringan jurnalis dan pembangkang Arab selama bertahun-tahun”.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Turki dengan beberapa negara Arab Teluk Persia, terutama Arab Saudi dan UEA, memanas akibat perselisihan dalam kebijakan luar negeri dan perlakuan terhadap gerakan Ikhwanul Muslimin.

Hubungan Ankara dengan Riyadh dan Abu Dhabi mulai memburuk sejak Saudi dan sekutunya memblokade Qatar.

Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan UEA memutuskan hubungan dengan Qatar pada 5 Juni 2017 setelah  mereka menuding Qatar mensponsori terorisme. Qatar membantah tuduhan itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Agustus lalu mengatakan bahwa Ankara sedang mempertimbangkan penangguhan penuh hubungan diplomatik dengan UEA menyusul kesepakatan normalisasi hubungan UEA dengan Israel. (aljazeera/trt)