Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 14 Oktober 2023

Jakarta, ICMES. Ribuan warga Palestina melarikan diri dari kota Gaza pada hari Jumat ke arah selatan setelah peringatan dikeluarkan oleh tentara Israel dan ditolak oleh Hamas untuk meninggalkan rumah mereka sebelum dilancarkan serangan terhadap Hamas sebagai tanggapan atas serangan paling berdarah dalam sejarah Israel.

Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon mengumumkan serangan terhadap sejumlah posisi Israel di perbatasan antara Lebanon dan Palestina pendudukan sebagai tanggapan atas serangan Israel ke sekitar sejumlah kota di selatan Lebanon.

Sedikitnya satu jurnalis tewas dan enam lainnya luka-luka dalam penembakan yang dilakukan pasukan Israel di Lebanon selatan, menurut saksi mata dan wartawan di tempat kejadian.

Berita selengkapnya:

Jumlah Korban Gugur Akibat Amukan Israel di Gaza Bertambah Menjadi 1900 Orang

Ribuan warga Palestina melarikan diri dari kota Gaza pada hari Jumat ke arah selatan setelah peringatan dikeluarkan oleh tentara Israel dan ditolak oleh Hamas untuk meninggalkan rumah mereka sebelum dilancarkan serangan terhadap Hamas sebagai tanggapan atas serangan paling berdarah dalam sejarah Israel.

Seruan tentara Israel itu dinyatakan enam hari setelah pejuang Hamas menembus pagar perbatasan dan menewaskan lebih dari 1.300 orang Israel, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi Israel di Gaza “hanyalah permulaan.”

Di Jalur Gaza yang terblokade total, 1.900 warga Palestina, termasuk 583 anak kecil, gugur dan lebih dari 7.388 orang lainnya terluka akibat pemboman intensif Israel, menurut jumlah korban terbaru dari Kementerian Kesehatan Hamas pada hari Jumat (13/10).

Penduduk yang tinggal di Jalur Gaza utara berangkat dengan mobil, motor, truk, dan berjalan kaki, menurut koresponden AFP, ketika perang antara Israel dan Jalur Gaza memasuki hari ketujuh dan kemungkinan invasi darat meningkat. .

Pada Jumat pagi, tentara Israel meminta “semua penduduk Kota Gaza untuk mengungsi dari rumah mereka dan menuju ke selatan untuk melindungi diri mereka dan berada di selatan Lembah Gaza“ dan “tidak akan diizinkan kembali ke Kota Gaza sampai ada pernyataan yang mengizinkannya”.

Menurut koresponden AFP, tak lama setelah itu, tentara Israel menjatuhkan selebaran berbahasa Arab di langit Gaza yang mendesak warga segera mengungsi dari rumah mereka di kota tersebut, disertai  gambar peta Gaza dengan panah yang menunjukkan wilayah selatan Jalur Gaza.

Perdana Menteri Palestina Muhammad Shtayyeh dalam konferensi pers pada hari Jumat mengatakan, “Israel melakukan genosida terhadap rakyat kami di Jalur Gaza. Gaza telah menjadi daerah bencana.”

Komite Palang Merah Internasional memperingatkan bahwa serangan Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel tidak membenarkan penghancuran Jalur Gaza, dan menyerukan “jeda dalam pertempuran.”

Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres di hari yang sama sebelum pertemuan Dewan Keamanan mengingatkan mengenai eskalasi antara Israel dan Gaza dengan mengatakan, “Bahkan perang pun memiliki aturannya.”

Guterres mengatakan kepada wartawan bahwa “situasi di Gaza telah mencapai tingkat yang berbahaya,” dan menekankan bahwa “sistem kesehatan berada di ambang kehancuran” dan “kamar mayat penuh sesak,” selain “krisis air”.

Menanggapi seruan Israel agar penduduk Gaza mengungsi, dia mengingatkan, “Memindahkan lebih dari satu juta orang melalui zona perang yang padat penduduk ke daerah tanpa makanan, air, atau tempat tinggal, sementara seluruh sektor dikepung, sangatlah berbahaya, dan terkadang tidak mungkin.” (raialyoum)

Balasan Serangan, Hizbullah Gempur Beberapa Posisi Israel

Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon mengumumkan serangan terhadap sejumlah posisi Israel di perbatasan antara Lebanon dan Palestina pendudukan pada hari Jumat (13/10), sebagai tanggapan atas serangan Israel ke sekitar sejumlah kota di selatan Lebanon.

 “Mujahidin kubu resistensi menargetkan posisi-posisi Israel; situs Al-Abad, situs Miskvam, situs Ramia, dan situs Jabal Al-Alam, dengan senjata langsung dan tepat, sehingga menghasilkan serangan yang akurat,” ungkap Hizbullah.

Dua hari sebelumnya, Hizbullah menanggapi sengit serangan Israel, dan menyatakan telah menyerang situs  Al-Jardah  Israel di seberang wilayah Al-Dhahira.

Pada hari Selasa, Hizbullah menyerang kendaraan pengangkut personil Israel tipe Zelda Israel di lokasi Al-Sadah, sebelah barat kota Salha, dengan dua rudal, dan menyerang pula kendaraan militer Israel lain dengan rudal di pemukiman  Avivim  di seberang Maroun al-Ras.

Pada hari Kamis Hizbullah melesatkan drone dari wilayah Lebanon ke wilayah udara Palestina yang diduduki.

Pada hari Rabu, media Israel melaporkan adanya gangguan di wilayah utara yang menyebabkan kepanikan di seluruh Israel, setelah dilaporkan adanya intrusi paralayang yang membawa pejuang dan drone dari Lebanon ke wilayah utara Palestina pendudukan, tapi kemudian Israel membantah kabar masuknya drone-drone dari Lebanon.

Israel khawatir Hizbullah ikut terlibat dalam pertempuran Badai Al-Aqsa dari front utara untuk mendukung faksi-faksi  Palestina di Jalur Gaza, yang akan meningkatkan tekanan pada tentara Israel.

Saluran 13  Israel melaporkan bahwa Hizbullah tidak hanya menghalangi  Israel  di utara, melainkan juga menghalangi mereka untuk bertindak tegas di Gaza.

Media Israel mengkonfirmasi bahwa perbatasan Palestina pendudukan dengan Lebanon tidak seperti perbatasan di selatan (Jalur Gaza), dan situasinya lebih buruk jika terjadi konfrontasi,sehingga Israel  tidak menginginkan pertempuran di utara.

Pada hari Jumat, Lebanon diwarnai unjuk rasa akbar anti-Israel, dan dalam unjuk rasa ini Wasekjen Hizbullah Syaikh Naim Qassem dalam orasinya menegaskan kesiapan Hizbullah berperang secara terbuka terhadap Israel.

Hizbullah sepenuhnya mengerti kewajibannya, kami hadir dan siap dengan sepenuh kesiapan, kami mengikuti (perkembangan situasi) saat demi saat,” ujarnya,

Dia juga mengatakan, “Tak akan pernah ada pengaruhnya kontak-kontak  komunikasi di balik panggung yang dilakukan terhadap kami oleh negara-negara besar  serta oleh negara-negara Arab dan utusan PBB, baik langsung maupun tidak langsung.

Syeikh Naim Qasem menjelaskan, “Mereka meminta kami untuk tidak campur tangan dalam konfrontasi. Dan ketika kami menyoal mereka; Mengapa kalian tak menghentikan perang?!Mereka mengatakan; Jangan campur tangan dalam pertempuran.(Kami katakan): Perhatikanlah faktor penyebabnya, bukan memperhatikan akibat yang mungkin terjadi.’”

Wasekjen Hizbullah kemudian menegaskan, “Kami, Hizbullah, turut andil dalam konfrontasi,  dan akan andil di dalamnya sesuai perspektif dan perencanaan kami. Kami memonitoring langkah-langkah musuh. Kami memiliki kesiapan sepenuhnya. Dan kapanpun tiba saatnya untuk melakukan aksi apapun kami akan melakukannya.” (almayadeen/sahara)

Israel Serang Lebanon Selatan, Satu Wartawan Tewas dan Beberapa Lainnya Terluka

Sedikitnya satu jurnalis tewas dan enam lainnya luka-luka dalam penembakan yang dilakukan pasukan Israel di Lebanon selatan, menurut saksi mata dan wartawan di tempat kejadian.

Kantor berita Reuters mengkonfirmasi pada hari Jumat (13/10) bahwa Issam Abdallah, seorang videografer, tewas dalam serangan itu.

“Kami segera mencari lebih banyak informasi, bekerja sama dengan pihak berwenang di wilayah tersebut, dan memberikan dukungan kepada keluarga dan kolega Issam,” kata Reuters dalam sebuah pernyataan.

Dilaporkan bahwa dua jurnalis Reuters lainnya, Thaer Al-Sudani dan Maher Nazeh, menderita luka-luka.

Aljazeera menyebutkan bahwa juru kamera Elie Brakhya dan reporter Carmen Joukhadar termasuk di antara mereka yang terluka.

AFP menyatakan dua wartawannya juga termasuk korban luka. Mengutip sumber keamanan Lebanon, AFP melaporkan melaporkan bahwa penembakan itu terjadi setelah terjadi upaya infiltrasi perbatasan Israel dari Lebanon selatan oleh faksi Palestina.

Associated Press menyatakan sebuah kendaraan di dekatnya hangus akibat serangan itu, mengutip seorang fotografer yang berada di lokasi peristiwa.

Sindikat Editor Pers Lebanon mengutuk “penargetan” jurnalis dan menyebut pembunuhan Abdallah sebagai “kejahatan yang disengaja”.

Di Gaza dan Israel, setidaknya 10 jurnalis telah terbunuh sejak Sabtu, menurut Komite Perlindungan Jurnalis yang berbasis di New York. (aljazeera)