Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 11 September 2021

Jakarta, ICMES. Media Israel, Jumat (10/9), memublikasi video penangkapan dua di antara enam pria tahanan yang kabur dari Penjara Gilboa pada lima hari sebelumnya.

Iran menyatakan bahwa kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan asing di Afghanistan tidak boleh dibiarkan begitu saja, dan bahwa Teheran  tidak akan mengakui pemerintah yang mengambil alih kekuasaan dengan paksa.

Berita Selengkapnya:

Israel Tangkap Dua dari Enam Tahanan Palestina yang Kabur, Roket Melesat dari Gaza

Media Israel, Jumat (10/9), memublikasi video penangkapan dua di antara enam pria tahanan yang kabur dari Penjara Gilboa pada lima hari sebelumnya.

Dalam sebuah pernyataan, seorang juru bicara polisi mengatakan bahwa kedua pelarian itu ditangkap di Gunung Precipice, sebuah situs suci Kristen di dekat Nazareth.

Media Israel melaporkan bahwa kedua pria yang ditangkap adalah adalah Mahmoud Al-Arida dan Yaqub Al-Qaderi yang sama-sama anggota kelompok Jihad Islam Palestina.

Wasekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menyatakan bahwa bangsa Lebanon sanggup menghadapi blokade musuhnya yang menekan negara ini.

Dalam video yang beredar di media sosial terlihat petugas Israel menempatkan dua pria di belakang kendaraan polisi yang terpisah.

Israel menggelar operasi perburuan besar-besaran terhadap enam tahanan yang pada Senin lalu berhasil kabur dari penjara Gilboa melalui terowongan yang digali di bawah wastafel di dalam sel.

Empat pelarian lainnya masih buron.

Serangan Roket dari Gaza

Sumber-sumber Palestina pada Jumat malam melaporkan bahwa sirine berbunyi di Ashkelon, Israel (Palestina pendudukan 1948).  Sedangkan sumber-sumber Israel menyatakan bahwa sebuah roket telah ditembakkan dari Jalur Gaza ke arah permukiman Israel.

Tembakan roket ini terjadi tak lama setelah polisi Israel menangkap dua tahanan Palestina tersebut, dan Israel menghadapinya dengan sistem rudal Kubah Besi.

Saluran 13 Israel melaporkan bahwa Kubah Besi telah mencegat sebuah rudal di angkasa Ashkelon. Seorang warga Israel mengaku mendengar suara ledakan-ledakan setelah sirine dibunyikan, sementara jubir militer Israel mengaku berhasil merontokkan roket tersebut.

Warga Israel Tembak Tiga Bocah Palestina

Seorang warga Israel melepaskan tembakan dengan peluru tajam pada tiga anak Palestina di Tepi Barat.

Para saksi mata mengatakan bahwa seorang warga Zionis Israel mendatangi Persimpangan Distrik Al-Ram di utara Quds dan kemudian melepaskan tembakan ke arah tiga anak Palestina yang berusia sekitar 13-14 tahun.  

Satu Warga Palestina Gugur

Satu orang Palestina gugur syahid ketika berusaha menyerang polisi Israel dengan senjata tajam di Kota Lama Quds. Polisi Israel menyatakan bahwa orang Palestina ditembak ketika bermaksud menikamkan pisaunya.

Sebelumnya, ratusan orang Palestina berkonsentrasi di halaman Masjid Al-Aqsa untuk memperlihatkan solidaritas mereka kepada enam tahanan Palestina yang kabur.

Aksi dukungan kepada para pelarian Palestina meningkat setelah polisi Israel menangkap sebagian kerabat mereka.

Warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Quds Timur turun ke jalan untuk memperlihatkan solidaritas mereka dengan tahanan Palestina dan memrotes hukuman terhadap mereka.

“Para tahanan di penjara Palestina merindukan kebebasan. Mereka ingin menjalani hidup mereka. Mereka bukan penjahat biasa, melainkan patriot yang berjuang untuk kebebasan,” kata Muhammad Khabeisa kepada Al Jazeera.

Dia menambahkan, “Israel telah menempatkan orang Palestina di penjara dengan pendudukan tanah mereka. Ketika Palestina mengangkat senjata, dunia menyebut kami teroris dan ketika kami meletakkan senjata dan melawan dengan damai, Israel membunuh kami.”

Dukungan kepada para pelarian Palestina juga dilakukan oleh orang-orang Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak kecil, di selatan Damaskus, ibu kota Suriah, dengan menggelar pawai akbar.

Sebelumnya, faks-faksi pejuang Palestina mengumumkan “Jumat amarah” dan menyerukan kepada orang-orang Palestina di manapun untuk berunjuk rasa mengecam semakin buruknya perlakuan Israel terhadap para tahanan Palestina menyusul kaburnya enam tahanan Palestina dari Penjara Gilboa yang dikenal sangat ketat.  (alalam/aljazeera/wafa)

Iran Nyatakan Tidak akan Mengakui Pemerintahan yang Dipaksakan di Afghanistan

Iran menyatakan bahwa kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan asing di Afghanistan tidak boleh dibiarkan begitu saja, dan bahwa Teheran  tidak akan mengakui pemerintah yang mengambil alih kekuasaan dengan paksa.

Menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB di Afghanistan, Jumat (10/9), Wakil Tetap Iran untuk PBB Majid Takht-Ravanchi mengatakan, “Afghanistan sedang melalui masa kritis. Ratusan ribu telah meninggalkan negara ini, hampir 600.000 lainnya telah mengungsi,  mkanan pokok hampir habis dan 18,4 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.”

Dia menilai situasi saat ini di Afghanistan pertama-tama merupakan akibat langsung dari intervensi AS dan kekuatan asing lainnya di Afghanistan serta penarikan mereka secara tidak bertanggung jawab.

“Ketika mereka memasuki Afghanistan, mereka membawa bencana bagi orang Afghanistan, dan ketika mereka pergi, mereka meninggalkan tragedi bagi orang Afghanistan,” kata Takht-e Ravanchi.

Diplomat senior Iran itu mengatakan bahwa rakyat Afghanistan harus dibantu untuk mencapai perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran yang permanen.

Diplomat senior Iran ini mengecam serangan Taliban ke wilayah Pansjhir, dan menyebutkan bahwa Teheran tidak akan mengakui pemerintah yang berkuasa di Afghanistan dengan paksa.

Dia menegaskan bahwa jalan menuju stabilitas, perdamaian abadi dan pembangunan berkelanjutan di Afghanistan praktis melalui negosiasi antar-Afghanistan dengan partisipasi aktif dari semua kelompok etnis, bahasa dan agama.

Dia mengatakan bahwa seperti tetangga Afghanistan lainnya, Iran sangat prihatin tentang ketidakamanan dan ketidakstabilan di negara itu, serta ancaman yang ditimbulkan oleh teroris dan jaringan perdagangan narkoba dan manusia.

Dia juga menekankan bahwa Iran juga sangat yakin bahwa dalam keadaan apa pun wilayah Afghanistan tidak boleh digunakan untuk mengancam atau menyerang suatu negara atau untuk melindungi atau melatih teroris, atau untuk merencanakan atau membiayai kegiatan teroris. (mna)

Hizbullah: Lebanon Sanggup Hadapi Blokade Musuh

Wasekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menyatakan bahwa bangsa Lebanon sanggup menghadapi blokade musuhnya yang menekan negara ini.

“Kami sanggup menghadapi blokade sebagaimana kami menghadapi entitas musuh. Aksi-aksi kami menghasilkan antara lain bebasnya tanah, membaiknya bidang kesehatan, dan kita bahu membahu secara sosial untuk meringankan penderitaan,” ungkapnya dalam sebuah forum bertema “Arab Bersatu demi Resistensi Lebanon terhadap Blokade, Penimbunan dan Korupsi”, Jumat (10/9).

Wasekjen Hizbullah memastikan bahwa tentara, rakyat dan para pejuang resistensi Libanon kuat dan tangguh menghadapi segala tantangan, termasuk adanya upaya kotor dari berbagai pihak untuk menimbulkan kekacauan yang menjurus pada perang saudara di tengah krisis bahan bakar minyak (BBM).

“Apa yang diberikan kepada Lebanon oleh para pengupaya kekacauan dan perang saudara? Lebanon kuat dengan tentara, rakyat dan kubu resistensinya. Kita tak akan pernah menerima kekacauan dan tak akan pula tunduk pada blokade. Kita akan menghadapi praktik penimbunan (BBM), dan kita akan menang, insya Allah,” tegas Naim Qassem.

Lebih lanjut dia mengutuk praktik korupsi yang, menurutnya, tak punya agama dan tak pula terkait dengan kelompok tertentu, melainkan terjadi di semua wilayah Lebanon sehingga harus diperangi.

Di bagian akhir, Syeikh Naim Qassem mengucapkan selamat kepada bangsa Palestina atas keberhasilan sejumlah tahanan Palestina kabur dari penjara Gilboa Israel.

Kamis lalu, fraksi pendukung resistensi Lebanon menyatakan bahwa kapal-kapal tanker Iran yang mengirim bahan bakar ke Lebanon telah mempermalukan semua pihak yang menerapkan sanksi AS terhadap Libanon. (alalam)