Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 9 November 2022

Jakarta, ICMES. Menteri Intelijen Iran Ismail Khatib secara terbuka menyatakan Israel, Inggris dan Arab Saudi berada di balik kerusuhan yang melanda Iran belangan ini.

Bocoran rekaman suara jurnalis saluran BBC Persia, Rana Rahimpour, mengungkap tujuan sebenarnya dari upaya sejumlah negara menunggi aksi demo protes dan membangkitkan kerusuhan di Iran.

Mantan penasihat keamanan nasional AS John Bolton mengatakan kelompok-kelompok subversif di Iran, yang dia sebut sebagai oposisi, dipersenjatai dengan senjata yang disita dari pasukan relawan Basij dan didatangkan dari Kurdistan Irak.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan negaranya dapat mempertimbangkan peningkatan hubungan dengan Suriah dari intelijen ke diplomatik, jika kondisinya tepat.

Berita Selengkapnya:

Iran Blak-Blakan Sebut Israel, Inggris dan Saudi Tunggangi Gelombang Kerusuhan

Menteri Intelijen Iran Ismail Khatib secara terbuka menyatakan Israel, Inggris dan Arab Saudi berada di balik kerusuhan yang melanda Iran belangan ini.

Dalam wawancara dengan situs web Pemimpin Besar Iran Ali Khamenei, Selasa (8/11), Ismail Khatib, mengatakan, “Dalam insiden belakangan ini, tangan Rezim Zionis (Israel) lebih jelas dalam implementasi, tangan Inggris lebih jelas dalam propaganda media, dan tangan rezim Saudi lebih jelas dalam dukungan keuangan.”

Ismail Khatib menjelaskan, “Arab Saudi memberikan dukungan finansial penuh untuk pameran Berlin yang korup di bidang periklanan, mengadakan ruang-ruang, menyewa peralatan fotografi, menyediakan fasilitas untuk kehadiran para jurnalis, mendistribusikan makanan, dan seterusnya.”

Dia menambahkan, “Kami tidak akan pernah mendukung aksi teror seperti dilakukan Inggris, tapi kami tidak akan ada keharusan bagi kami untuk mencegah ketidakamanan di negara-negara ini, jadi Inggris akan membayar harga atas tindakannya dalam mengacaukan keamanan Iran.”

Sebelumnya di hari yang sama, juru bicara pengadilan Iran Masoud Setayeshi mengatakan, “Membagi teroris menjadi baik dan buruk tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali membahayakan nyawa orang.”

Dia menambahkan, “Ketika musuh menyadari rakyat (Iran) tidak menanggapi mereka, mereka mencari bantuan dari para penjahat dan pengacau.”

Iran belakangan ini berulang kali dilanda kerusuhan yang dilakukan oleh massa perusuh hingga jatuh sejumlah korban tewas pasukan keamanan dan warga sipil.  

Meski berjumlah ribuan, massa perusuh yang melancarkan aksi demo dengan dalih protes atas kematian Mahsa Amini itu terlampau kecil dibanding demo-demo tandingan yang dilakukan oleh massa pro-pemerintah yang jumlahnya jutaan atau bahkan puluhan juta sebagaimana terlihat jelas dalam beberapa tayangan TV pemerintah, dan dapat dilihat di link berikut;

AS dan sejumlah negara Eropa menjatuhkan sanksi kepada para pejabat dan sejumlah instansi Iran dengan tuduhan “penindasan demonstran”, sementara Iran menuding negara-negara Barat berusaha menebar fitnah dan kekacauan di Iran dengan cara menyokong aksi-aksi massa perusuh. (almayadeen/sahara)

Bocoran Suara Wartawan BBC Persia Sebutkan Sejumlah Negara Inginkan Iran Terpecah dan Lemah

Bocoran rekaman suara jurnalis saluran BBC Persia, Rana Rahimpour, mengungkap tujuan sebenarnya dari upaya sejumlah negara menunggi aksi demo protes dan membangkitkan kerusuhan di Iran.

Dalam bocoran suara itu terdengar Rahimpour mengatakan, “Saluran Iran International (yang didanai Arab Saudi) mengarahkan kepada para stafnya untuk melakukan jumpa-jumpa televisi (gelar wicara) dengan para pemimpin partai-partai kontra-pemerintahan (Islam) di Iran.”

Dalam bocoran yang tersiar pada Senin (7/11) itu dia juga menyebutkan, “Berita yang saya dengar kemarin adalah mengenai direktur saluran Iran International yang mengarahkan kepada para stafnya untuk mengadakan jumpa-jumpa televisi saja dengan para pemimpin partai kontra-pemerintahan di Iran, maksud saya ialah para pemimpin partai-partai Kurdi, Arab dan lain-lain. Berita ini sangat meresahkan.”

Dia lantas mengatakan, “Negara-negara kawasan sekitar tak menginginkan Iran yang demokratis, karena jika demokrasi terterapkan, gerakan wanita mengalami kemajuan dan mereka mendapatkan hak-haknya maka pihak yang akan paling ketakutan dan panik adalah Saudi.”

Dia menambahkan, “Tentu saja, kalangan oposisi tidak mementingkan masa depan Iran. Pertanyaan sekarang ialah mengapa mereka menginginkan disintegrasi Iran. Jawabannya ialah karena mereka ingin Iran jatuh lemah.”

Rana Rahimpour sendiri dalam postingannya di Instagram mengakui keaslian bocoran suara itu.

Jumat lalu kantor berita Fars milik Iran mengumumkan bahwa media kubu musuh negara republik Islam ini telah menyebarkan lebih dari 38,000 berita hoax anti-Iran dalam jangka waktu dari 14 September hingga 31 Oktober tahun ini.

Sebuah pernyataan bersama dari Kementerian Keamanan Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengenai gelombang kerusuhan itu menegaskan, “Musuh dalam beberapa bulan terakhir berusaha menggalang kerusuhan dengan menghabiskan anggaran berlipat-lipat dan mengadopsi beragam cara.”

Pernyataan itu menambahkan, “Musuh menyewa akun tokoh-tokoh ternama yang memiliki jutaan pengikut untuk jangka waktu tertentu dengan tujuan menyebarkan informasi hoax atau menyudutkan Iran.” (almayadeen/raialyoum)

Bolton: Kubu Oposisi Iran Dipersanjatai dari Kurdistan Irak

Mantan penasihat keamanan nasional AS John Bolton mengatakan kelompok-kelompok subversif di Iran, yang dia sebut sebagai oposisi, dipersenjatai dengan senjata yang disita dari pasukan relawan Basij dan didatangkan dari Kurdistan Irak.

Dalam sebuah wawancara dengan saluran TV BBC Persia yang berbasis di London, Bolton, yang mempelopori kebijakan AS anti-Iran di masa kepresidenan Donald Trump, berharap aksi protes di Iran, yang dipicu oleh kematian seorang wanita muda Mahsa Amini dalam tahanan polisi, akan mengarah pada “perubahan rezim”.

Dia membandingkan gelombang protes di Iran tahun 2009 setelah kemenangan mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad dalam pilpres dengan gelombang protes dan kerusuhan sporadis yang terjadi belakangan ini.

Bolton menuduh pasukan keamanan Iran melakukan tindakan represif pada tahun 2009, dan mengklaim bahwa sekarang tindakan kekerasan meningkat dan meluas.

Bolton, yang terkenal dengan sikap hawkish-nya, menilai kubu oposisi Iran lebih rentan dari sebelumnya.

Dia juga mengaku telah melihat gambar pasukan Kurdi yang dilatih dan dipersenjatai di Irak, dan menyesali bahwa tidak seperti AS, Iran tidak memiliki amandemen konstitusi untuk mengeluarkan lisensi bagi rakyatnya untuk memiliki senjata.

“Jika tidak, rakyat Iran akan memiliki senjata di tangan mereka sekarang, dan ini bisa membuat perbedaan besar,” katanya.

Kerusuhan pecah di Iran pada pertengahan September setelah kematian Mahsa Amini. Wanita Kurdi Iran berusia 22 tahun itu pingsan di kantor polisi di Teheran dan dinyatakan meninggal tiga hari kemudian di rumah sakit akibat penyakit yang diidapnya. Unjuk rasa dan kerusuhan kemudian terjadi akibat merebaknya rumor bahwa Amini meninggal karena dianiaya. (presstv)

Turki Ingin Tingkatkan Hubungan dengan Suriah hingga ke Level Diplomatik

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan negaranya dapat mempertimbangkan peningkatan hubungan dengan Suriah dari intelijen ke diplomatik, jika kondisinya tepat.

“Saat ini tidak ada rencana untuk berkomunikasi dengan Suriah, tapi kontak antara dinas intelijen masih berlanjut,” kata Cavusoglu, dalam pernyataan kepada wartawan usai rapat pemerintah, Selasa (8/11).

Dikutip media lokal Turki, dia juga menyebutkan negaranya “dapat meningkatkan hubungan dengan Suriah dari level intelijen ke level diplomatik, jika kondisinya menguntungkan.”

Beberapa waktu lalu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan kesiapannya untuk bertemu dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Menteri Luar Negeri Turki mengaku telah mengadakan pembicaraan singkat dengan mitranya dari Suriah, Faisal Mekdad, di mana kedua membahas mekanisme  dukungan Turki untuk rekonsiliasi antara oposisi dan pemerintah Suriah. (raialyoum)