Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 6 Mei 2021

hari qudsJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa peringatan Hari Quds Internasional pada hari Jumat terakhir bulan suci Ramadhan merupakan salah satu kebanggaan bagi Republik Islam Iran karena pendiri negara ini, Imam Khomaini, telah tampil sebagai penggagasnya pada tahun 1979.

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menegaskan bahwa masa depan Timteng ada di tangan Poros Resistensi, bukan Rezim Zionis Israel serta pendukung dan sekutu internasional dan regionalnya.

Pemimpin gerakan Ansarullah (Houth) di Yaman, Sayid Abdul Malik Al-Houthi, menyebut Hari Quds Internasional yang jatuh pada hari Jumat terakhir bulan suci Ramadhan sebagai peringatan penting dan momentum untuk membangkitkan umat Islam, mengasah kepedulian, dan meningkatkan kesadaran dan rasa tanggungjawab di depan isu umat Islam.

Berita Selengkapnya:

Hari Quds, Presiden Iran Pastikan Masjid Al-Aqsa akan Kembali ke Tangan Umat Islam

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa peringatan Hari Quds Internasional pada hari Jumat terakhir bulan suci Ramadhan merupakan salah satu kebanggaan bagi Republik Islam Iran karena pendiri negara ini, Imam Khomaini, telah tampil sebagai penggagasnya pada tahun 1979.

Rouhani dalam rapat kabinet Iran, Rabu (5/5), menyebutkan bahwa sejak itu banyak umat Islam di pelbagai penjuru dunia, terutama di Iran sendiri, menandai peringatan itu dengan berbagai aksi dan kegiatan untuk menunjukkan dukungan mereka kepada perjuangan bangsa Palestina melawan pendudukan Rezim Zionis Israel.

Dia menyebutkan bahwa kaum Zionis mengira bahwa pendudukan mereka atas Palestina akan bertahan lestari, “padahal bangsa Palestina cepat atau lambat pasti akan kembali ke tanah air mereka, dan kota suci Quds dan Masjid Al-Aqsa akan kembali kepada umat Islam”.

“Revolusi Islam Iran telah mengguncang kawasan, dan sejak itu kaum Zionis memraktikkan berbaai bentuk permusuhan dan makar terhadap bangsa Iran dan Republik Islam, termasuk konspirasi untuk menunda penandatangan perjanjian nuklir dan penentangan mereka terhadap penandatangan perjanjian itu oleh AS. Karena itu mereka dulu memanfaatkan kedatangan Donald Trump dan menghasutnya agar keluar dari perjanjian nuklir. Tapi sekarang konspirasi Zionis itu pada akhirnya gagal, dan negara-negara regional dan dunia sama-sama menekankan bahwa AS harus kembali kepada perjanjian nuklir dan menerapkannya secara penuh.”

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa bangsa Iran sekarang sedang melihat bagaimana kesabaran dan resistensinya mulai membuahkan hasil dalam perundingan nuklir di Wina, Swiss.

“Dari posisi saya sebagai presiden, saya umumkan bahwa sanksi (AS terhadap Iran) telah gagal, dan sanksi itu akan dicabut dalam waktu dekat ini jika kita bersatu,” ujarnya.

“Tak ada apapun bagi AS dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam dialog di Wina kecuali kembali kepada undang-undang dan konsisten kepada janji-janjinya secara penuh. Seluruh dunia sepakat bahwa tak ada jalan kecuali penerapan sepenuhnya perjanjian nuklir dan konsisten kepada pasal-pasalnya, dan ini merupakan kemenangan besar bagi bangsa Iran,” imbuhnya.

Menurut Presiden Rouhani, bangsa-bangsa Timur Tengah menyatakan bahwa mereka tak bermasalah dengan perjanjian nuklir Iran, mereka menghendaki penerapannya, dan dengan demikian konspirasi Zionis terhadap bangsa Iran dan negara-negara regional telah gagal.

“Pihak-pihak lain dalam perjanjian nuklir tahu persis bahwa Iran pantang menerima apapun kecuali penerapan perjanjian itu secara penuh dan pemulihan hak bangsa Iran yang telah diakui oleh perjanjian itu,” tegasnya.  (mm/alalam)

Hari Quds, Nasrallah: Quds Makin Dekat, Masa Depan Timteng Ada di Tangan Poros Resistensi

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menegaskan bahwa masa depan Timteng ada di tangan Poros Resistensi, bukan Rezim Zionis Israel serta pendukung dan sekutu internasional dan regionalnya.

Dia menyebutkan bahwa wibawa kota suci Quds  (Baitul Maqdis/Yerussalem) dalam beberapa pekan terakhir ini telah membangkitkan para pemuda gagah berani Quds di lapangan dan menggerakkan nyali mereka dalam berhadapan dengan pasukan Zionis Israel, sementara interaksi Tepi Barat dan masuknya Gaza ke kancah militer secara terencana untuk membela Quds merupakan satu perkembangan krusial.

Dalam pidato pada kegiatan “Mimbar Bersatu” menyokong Palestina, Selasa malam (5/5), Sayid Nasrallah menekankan komitmen, keimanan dan keteguhan Poros Resistensi pada tanggungjawabnya dalam masalah Palestina, dan menyerukan partisipasi dan ekspresi yang tepat untuk pendirian yang tulus, beriman, dan berani mengenai Quds dan Palestina.

Menurutnya, apa yang terjadi belakangan ini di Tepi Barat, termasuk operasi-operasi serangan gagah berani, menegaskan keteguhan bangsa Palestina pada haknya dan menunjukkan bahwa generasi muda Palestina siap berkorban demi kemenangan di masa mendatang.

Sayid Nasrallah memastikan bahwa, berbeda dengan rezim-rezim Arab, Poros Resistensi adalah kubu yang serius, tulus dan nyata berjuang serta terus menggalang kekuatan, bekerjasama dan berkoordinasi sedemikian rupa “sehingga kami merasa bahwa Quds sudah lebih dekat”.

“Di saat kita melihat kesolidan Poros Resistensi di tengah berbagai kesulitan, perang, blokade dan hasutan, kita menyaksikan keretakan poros-poros lain yang semula mengomando perang terhadap Poros Resistensi di kawasan,” ujarnya.

Dia menilai krisis politik yang mendalam di tubuh Israel juga mulai memperlihatkan apa yang membuat para pengamat Israel sendiri gamang dan meragukan kelestarian negara Zionis ilegal ini.

Mengenai sejumlah negara Arab yang belakangan telah menormalisasi hubungan dengan Israel, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain, Nasrallah mengatakan bahwa mereka tak pernah menjadi bagian dari pertempuran (melawan Israel) karena itu apa yang mereka lakukan tidak akan mempengaruhi pertempuran.

Dia berseru, “Tanggungjawab hari ini ialah memberikan segala bentuk dukungan ke resistensi Palestina, dan Poros Resistensi harus menguat karena masa depan kawasan akan dibuat oleh poros ini… Kaum Zionis sendiri tahu bahwa entitas ini tak punya masa depan, bahwa usia yang tersisa bagi mereka tinggal sedikit sekali, dan karena itu mereka bersia-sia dengan jerih payah dan darah mereka. ”

Dia bagian akhir Sekjen Hizbullah menegaskan bahwa selagi bangsa Palestina bersiteguh pada haknya dan melanjutkan perjuangan maka rezim-rezim Arab pengkhianat tak akan pernah dapat memadamkan perkara Palestina.

“Sebab jihad bangsa ini adalah argumen bagi setiap orang Arab dan Muslim dan bahkan seluruh manusia merdeka di dunia,” pungkasnya. (alalam)

Hari Quds, Pemimpin Ansarullah: Bangsa Yaman  Ingin Andil Besar dalam Pembebasan Palestina

Pemimpin gerakan Ansarullah (Houth) di Yaman, Sayid Abdul Malik Al-Houthi, menyebut Hari Quds Internasional yang jatuh pada hari Jumat terakhir bulan suci Ramadhan sebagai peringatan penting dan momentum untuk membangkitkan umat Islam, mengasah kepedulian, dan meningkatkan kesadaran dan rasa tanggungjawab di depan isu umat Islam.

Dalam pidato televisi, Rabu (5/5), dia juga memuji solidaritas dan kepedulian bangsat Yaman kepada saudaranya bangsaPalestina yang sudah sekian lama ditindas dan dijajah oleh kaum Zionis Israel.

“Bangsa kami, Yaman, dengan ikatan dan identitas keimanannya terus bersiteguh pada pendiriannya yang benar dalam menolong bangsa Palestina dan berusaha membebaskan Palestina, kesucian Palestina, dan seluruh tanah Arab yang terduduki,” ungkapnya.

Dia memastikan bahwa bangsa Yaman terus mencari-cari peluang untuk berperan aktif dan berkontribusi besar bersama kaum merdeka umat Islam dan Poros Resistensi, dalam perjuangan pembebasan Palestina meskipun harus berhadapan dengan segala tekanan dan agresi dari para antek Zionis.

“Pendirian bangsa kami dalam menolong Palestina bertolak dari prinsip keimanan serta norma agama dan kemanusiaan, dan tak akan mundur darinya… Bangsa kami memandang musuh, Israel, sebagai ancaman bagi umat (Islam) secara keseluruhan serta bagi keamanan, perdamaian, dan stabilitas regional dan internasional. Israel adalah entitas perampas dan llegal serta merupakan kanker yang harus dibasmi,” tegasnya.

Dia juga memastikan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel yang dilakukan oleh sebagian rezim Arab  merupakan kemunafikan, pengkhianatan terhadap Islam dan kaum Muslimin, dan kebergabungan dengan barisan musuh  secara terbuka dan memalukan. (alalam)

.