Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 20 Januari 2021

Antony Blinken ASJakarta, ICMES. Antony Blinken, kandidat menteri luar negeri pemerintahan presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden, mengklaim bahwa jangka waktu yang dibutuhkan Iran untuk membuat material fisil bagi satu bom nuklir telah berkurang dari satu tahun menjadi 3-4 bulan.

Pasukan Iran dari berbagai satuan masih terus menggelar latihan perang besar-besaran. Kali ini, Angkatan Darat Iran memulai latihan perang bersandi “Eghtedar (Kekuatan) -99” di wilayah tenggara negara ini.

Pasukan Rezim Zionis Israel meningkatkan kesiagaan pasukan khususnya di kawasan Laut Merah karena khawatir terhadap kemungkinan terjadinya serangan Iran pada jam-jam terakhir pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat.

Pemerintah Amerika Serikat melalui laman Departemen Keuangan, Selasa (19/1), mengumumkan pengecualian beberapa kelompok bantuan internasional dari sanksinya terhadap Yaman.

Berita Selengkapnya:

Kandidat Menlu AS Ungkap Perkembangan Nuklir Iran

Antony Blinken, kandidat menteri luar negeri pemerintahan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden, mengklaim bahwa jangka waktu yang dibutuhkan Iran untuk membuat material fisil bagi satu bom nuklir telah berkurang menjadi 3-4 bulan setelah semula lebih dari satu tahun sesuai perjanjian nuklir JCPOA.

“Jangka waktu yang akan dihabiskan Iran untuk produksi material fisil yang cukup untuk membuat satu senjata telah berkurang dari satu tahun sesuai JCPOA menjadi setidaknya tiga atau empat bulan sesuai laporan yang telah diumumkan,” ungkap Blinken, Selasa (19/1).

Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action /JCPOA) adalah nama perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia, termasuk Amerika Serikat (AS) di era kepresidenan Barack Obama, pada tahun 2015, namun Presiden AS berikutnya, Donald Trump, melakukan tindakan sepihak dan sewenang-wenang dengan menarik negaranya dari perjanjian itu pada tahun 2018 sebelum kemudian menerapkan kembali sanksi-sanksi AS terhadap Iran.

Blinken mengatakan bahwa selanjutnya AS akan bekerjasama dengan negara-negara sekutunya terkait dengan Iran untuk mencapai “perjanjian yang lebih berjangka panjang dan kuat”.

Dia menyebutkan bahwa perjanjian yang dia maksud itu akan mencakup urusan senjata nuklir serta berbagai kekhawatiran lain, termasuk menyangkut kemampuan rudal Iran serta stabilitas regional.

Di pihak lain, para pejabat Iran sudah berulangkali menegaskan tidak akan pernah ada perjanjian nuklir lagi, dan bahwa siapapun tak boleh melancangi urusan alutsista Iran.

Belakangan ini pihak Biden mengaku telah memulai kontak dengan Iran, namun pemerintah Iran membantahnya. (raialyoum)

Angkatan Darat Iran Memulai Latihan Perang di Pesisir Laut Iman

Pasukan Iran dari berbagai satuan masih terus menggelar latihan perang besar-besaran. Kali ini, Angkatan Darat Iran memulai latihan perang bersandi “Eghtedar (Kekuatan) -99” di wilayah tenggara negara ini, Selasa (19/1).

Latihan itu berlangsung di sepanjang pantai Makran di pesisir Laut Oman dengan partisipasi unit udara, pasukan khusus dan brigade reaksi cepat, dan dihadiri oleh Panglima Angkatan Bersenjata Mayjen Abdolrahim Mousavi, Kepala Staf Angkatan Darat Brigadir Jenderal Kiumars Heidari dan para petinggi militer lainnya.

Menurut Jenderal Heidari, latihan perang ini bersifat ofensif dan melibatkan unit reaksi cepat dan brigade bergerak dan penyerang.

Dia menjelaskan bahwa pasukan yang terlibat dalam latihan itu akan menerima dukungan logistik dan tempur dari Angkatan Udara dan Divisi Lintas Udara Angkatan Darat di zona pesisir.

Heidari juga menyebutkan bahwa tujuan utama latihan tempur ini adalah untuk mengevaluasi mobilitas dan kekuatan serangan brigade dan korps reaksi cepat serta unit serangan bergerak Angkatan Darat.

Sementara itu, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami, menggambarkan kesiagaan pasukannya dengan mengatakan bahwa jari jangan pasukannya ada di pelatuk, dan menegaskan bahwa mereka tidak membutuhkan pujian siapa pun dalam membela negara.

Mengacu pada latihan perang IRGC bersandi “Payambar-e Azam (Nabi Besar 15)”, Hossein Salami mengatakan,”Latihan semacam itu adalah bagian penting dari kebijakan pencegahan Republik Islam Iran…Latihan-latihan ini diadakan agar musuh tidak melakukan kesalahan dalam perhitungan atau estimasi mereka tentang daya pertahanan Iran, dan memahami sepenuhnya tekad bangsa Iran untuk mempertahankan kemerdekaan, integritas teritorial, dan otoritasnya.”

Dia menambahkan,”Latihan ini adalah sumber kenyamanan, ketenangan, keamanan dan kepercayaan diri bagi bangsa Iran, serta memiliki pesan serius dan nyata bagi musuh Republik Islam bahwa kami tidak menghendaki pujian siapapun dalam membela identitas, kemerdekaan dan martabat kami. ”

Salami juga menegaskan,”Kami selalu siap terhadap segala ancaman, dan tangan kami selalu ada di pelatuk atas nama bangsa Iran.” (mna)

Takut Diserang Iran, Pasukan Israel Bersiaga Tinggi di Laut Merah

Pasukan Rezim Zionis Israel meningkatkan kesiagaan pasukan khususnya di kawasan Laut Merah karena khawatir terhadap kemungkinan terjadinya serangan Iran pada jam-jam terakhir pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat (AS).

Situs berita Walla milik Israel, Selasa (19/1), melaporkan bahwa tentara Israel telah meningkatkan kewaspadaannya di Laut Merah karena khawatir Iran melancarkan serangan sebagai pembalasan atas keterbunuhan dua tokohnya; komandan Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Qassem Soleimani, dan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh.

Menurut Walla, ketakutan Israel terhadap balasan Iran muncul setelah Teheran menyalahkan Israel atas terbunuhnya Fakhrizadeh, yang mendorong para pemimpin politik dan militer di Tel Aviv untuk menempatkan pasukan khusus negara mereka di Laut Merah dalam keadaan siaga tinggi.

Walla menyebutkan bahwa pasukan Israel yang bersiaga antara lain armada kapal selam dan Shaytet 13, yang merupakan unit angkatan laut yang memiliki senjata ampuh. Kapal selam Israel bergerak menuju Laut Merah dan Teluk Aden, yang berarti pesan yang kuat kepada Iran bahwa Tel Aviv siap menghadapi segala skenario.

Ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, terbunuh oleh serangan teror bermodus canggih yang menerjang konvoi mobilnya di daerah Damavand, dekat Teheran, ibu kota Iran, pada akhir November 2020.

Pemerintah Iran menuding Israel berada di balik aksi teror tersebut. Presiden Iran Hassan Rouhani mengancam akan membalas pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka Iran tersebut, sementara Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, menginstruksikan investigasi dan menekankan keharusan penjatuhan hukuman terhadap dalang dan pelaku serangan tersebut. (amn)

AS Kecualikan Beberapa Kelompok Bantuan Internasional dalam Sanksi terhadap Yaman

Pemerintah Amerika Serikat(AS) melalui laman Departemen Keuangan, Selasa (19/1), mengumumkan pengecualian beberapa kelompok bantuan internasional dari sanksinya terhadap Yaman.

AS memberitahukan bahwa pengecualian itu bertujuan untuk memungkinkan dukungan kepada proyek-proyek kemanusiaan, membangun demokrasi, pendidikan dan pemeliharaan lingkungan hidup oleh kelompok penyalur bantuan Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross/ICRC), dan Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies/IFRC), mendukung.

Menurut laman Departemen Keuangan AS, Washington telah menyetujui ekspor barang-barang pertanian, obat-obatan, dan peralatan medis ke Yaman.

Kementerian itu juga menyatakan bahwa izin publik telah dikeluarkan untuk membantu memfasilitasi kesepakatan khusus terkait Yaman sehubungan dengan sanksi baru AS.

Pada akhir pekan lalu Washington mengumumkan keputusannya melabeli gerakan Houthi sebagai organisasi teroris asing.

Penunjukan tersebut mulai berlaku mulai hari ini, Selasa (19/1), sehari sebelum pemerintahan Presiden AS Donald Trump meninggalkan jabatannya.

Sehari sebelumnya, Gerakan Ansarullah (Houthi) Yaman mengutuk AS sembari menyatakan bahwa terorisasi Ansarullah dilakukan ketika AS sendiri membantu kelompok-kelompok yang jelas-jelas teroris semisal ISIS dan Al-Qaeda dalam memerangi Yaman.

“Deskripsi Amerika (tentang Ansarullah) ini berasal dari orang yang sama, yang berperang di front yang sama dengan Daesh (ISIS) dan al-Qaeda melawan kami,” ujar Mohammed Ali al-Houthi, anggota Dewan Tinggi Politik Yaman.

Ali Al-Houthi mengatakan AS mendukung dua kelompok teror tersebut sehingga dapat menggunakan mereka sebagai “dua senjata” untuk melawan tentara dan pejuang Yaman.

Washington, lanjut Al-Houthi, mengalamatkan label yang sama kepada gerakan-gerakan perlawanan Palestina yang jelas-jelas membela bangsanya di depan pendudukan dan agresi Israel, sedangkan Rezim Zionis ini sendiri justru lolos dari sebutan teroris.

Al-Houthi lantas menegaskan bahwa manuver AS sedemikian rupa tidak memiliki arti penting bagi para pemimpin revolusioner dan politik Yaman. (raialyoum/mna)