Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 2 Juni 2021

serangan ansarullah di jizanJakarta, ICMES. Pasukan Ansarullah (Houthi) Yaman memublikasi dokomentasi gambar-gambar operasi militernya yang dilancarkan secara meluas di provinsi Jizan di bagian selatan Arab Saudi.

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menegaskan percuma gencatan senjata di Yaman diusulkan jika koalisi yang dipimpin Arab Saudi masih memblokade Yaman.

Asisten Menlu Qatar yang juga jubir Kemlu negara ini, Lolwah Al-Khater, dalam wawancara dengan Sputnik menyatakan negaranya terbuka untuk berperan sebagai mediator antar kekuatan di kawasan Timur Tengah, baik antara AS dan Hamas maupun antara Arab Saudi dan Iran.

Berita Selengkapnya:

Pasukan Saudi Di Kandang Sendiri Dihajar oleh Pasukan Yaman, Bin Salman Dibully Netizen Saudi

Para pegiat medsos Saudi meluncurkan kampanye tuntutan kepada rezim negara ini, yang secara de facto ada di tangan Putra Mahkota Mohamed bin Salman (MbS) , agar menghentikan perangnya terhadap Yaman, melindungi tentara kerajaan ini terutama di wilayah Saudi, dan tidak menyepelekan nyawa mereka, sebagaimana dilaporkan situs The Saudi Reality, Senin (30/5).

Kampanye itu dilakukan dengan membuat tagar berbahasa Arab yang berarti “cukuplah penyia-nyiaan terhadap tentara kita” setelah media perang milik pasukan Ansarullah (Houthi) Yaman merilis penggalan-penggalan video dokumentasi serangan mereka yang membuat tentara Saudi dan pasukannya bayarannya, terutama dari Sudan, tunggang langgang dan berjatuhan sebagai korban serbuan pasukan Ansarullah Yaman ke Jizan yang merupakan wilayah provinsi Saudi di bagian selatan negara ini.

Militer Yaman melaporkan bahwa dalam serangan pada Jumat pekan lalu itu sebanyak 32 kendaraan militer Saudi hancur, dan lebih dari 70 tentara dan pasukan bayarannya tewas. Selain itu, beberapa lainnya terluka dan ditawan.

Jubir koalisi yang dipimpin Saudi menepis keaslian video itu dan menyebutnya “hoax”, tapi dia sendiri malah dibully oleh netizen Saudi akibat bantahannya ini. Mereka bahkan menyebut MbS bertanggungjawab atas “kegagalan” yang membuat nyawa tentara Saudi di Yaman terancam bahaya.

Mereka mendesak MbS selaku menteri pertahanan Saudi untuk segera mundur, mengingat bahwa di berbagai negara dunia juga ada para menteri pertahanan yang mundur karena peristiwa-peristiwa yang bahkan tak sefatal itu.

Mohammed al-Otaibi di Twitter sembari memosting salah satu penggalan video mencuit, “Dia (MbS) mengira bahwa kita akan melupakan kegagalan yang melenyapkan nyawa anak-anak dari para ibu serta para ayah dari anak-anak kecil. Mengapa tentara kabur tanpa senjata sedemikian rupa? Apakah karena ada kekurangan logistik? Apakah mereka ditelantarkan ketika terjadi serangan, sebagaimana biasa dan kami dengar?”

Aktivis medsos lain, Walid Al-Hathloul menyatakan, “Sejarah selalu terulang. Perang ini mengingatkan kita pada peristiwa ketika Abdel Nasr memasuki Yaman, yang kemudian berujung pada perang sia-sia, menghancurkan Yaman dan menimbulkan banyak kerugian pada barisan tentara Mesir. Semoga Allah membebaskan kita dari MbS, karena bahayanya besar bagi negara…”

Aktivis lain pengguna akun “Aseeryhur” menyatakan, “Tentara kita dibunuhi di selatan, sedangkan mereka (rezim Saudi) sibuk menutup pengeras suara (masjid). Dalih mereka bahwa pemandangan (video) itu palsu adalah demi menutupi kegagalan mereka, tapi dalih ini tidak mempengaruhi siapapun. Cukuplah kalian berbuat sia-sia dan ceroboh.”

Pengguna  “2someonee” mencuit, “Apa yang terjadi di Jizan adalah tragedi dalam arti yang sesungguhnya, 200 tentara Saudi gugur syahid! Houthi menguasai 40 posisi serta menghancurkan dan merampas 63 kendaraan militer. Hal ini cukup untuk membuat menteri pertahanan di negara manapun di dunia mengajukan pengunduran diri, kecuali di Saudi yang agung.”

Pemilik akun “Obaid” menyatakan, “Saya telah melihat apa yang saya tidak ingin melihatnya sejak awal perang. Tapi saya ingat bahwa saya memiliki famili dan teman yang terbunuh dalam perang akibat orang yang keras kepala memulai perang, tapi dia sendiri pergi berpesta di Kepulauan Maladewa. Sejarah tak kenal ampun dan akan menandai coreng arang di jidatmu, hai pria lemah.”

Sedangkan pengguna akun “Sharqiyyah” mengomentari berita di akun “Akhbar Al-Saudiyyah” dengan menyatakan, “Houthi berburu tentara kita di perbatasan, sedangkan kalian tidur bersama madu, merusak rumah dengan hajat-hajat kalian. Berbicaralah dengan para pengikut mereka, dan rilislah pernyataan keputusan apapun yang menguatkan keluarga mereka.” (thesaudireality)

Direktur Baru Mossad: Iran Berusaha Memiliki Senjata Nuklir dengan Kedok Perlindungan Internasional

David Barnea yang baru dilantik sebagai direktur baru badan intelijen Israel Mossad menggantikan Yossi Cohen menyebut Iran berupaya memiliki senjata nuklir “di bawah perlindungan internasional”

Dalam kata sambutannya pada acara serah terima jabatan tersebut di markas Mossad yang juga dihadiri oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Selasa (1/6), Barnea mengatakan, “Tantangan keamanan yang kita hadapi sengatlah besar sebagaimana telah disinggung oleh perdana menteri, di mana Iran menempati posisi teratas dalam daftar.”

Dia menegaskan, “Harus dikatakan dengan suara keras dan jelas bahwa Iran sekarang bekerja untuk mewujudkan impian nuklirnya di bawah perlindungan internasional, di bawah perjanjian dan bahkan tanpa perjanjian. Melalui kedustaan dan penyembunyian, Iran melanjutkan gerak majunya yang kontinyu menuju proses pembuatan senjata destruksi massal.”

Dia menambahkan, “Fakta ini mengharuskan kesiapan kita untuk menciptakan cakrawal baru yang sesuai konteks berbagai urusan, baik di level internasional maupun regional ataupun teknologi. Kekuatan Mossad terletak pada personil yang mengabdi di dalamnya. Anda sekalian merupakan aset kemanusiaan kami karena merupakan orang-orang cerdas dan bernilai serta berfokus pada pelaksanaan misi.”

Netanyahu sendiri pada acara yang sama mengatakan bahwa ancaman eksistensial terbesar bagi Israel adalah “ambisi Iran” memiliki senjata nuklir, dan karena itu dia siap berhadapan dengan sikap AS dalam masalah ini.

Pernyataan-pernyataan tersebut dilontarkan manakala sejak April lalu berlangsung pembicaraan di Wina, Swiss, mengenai upaya menghidupkan kembali perjanjian nuklir Iran, Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Perjanjian ini ditentang keras oleh Israel karena, menurutnya, tidak akan mencegah upaya Iran memiliki senjata nuklir, meskipun pemerintah Iran berulangkali menegaskan pihaknya sama sekali tidak berambisi membuat bom nuklir dan bahkan menyebut senjata destruksi massal sebagai senjata haram dan menyalahi syariat Islam. (raialyoum)

Israel Serang Pos Pantau Tentara Suriah di Golan

Tentara Israel mengaku telah menyerang dan menghancurkan sebuah pos pantau milik tentara Suriah di kawasan Golan dengan dalih bahwa posisi pos itu “melanggar kedaulatan Israel.”

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Avichai Adraee di Twitter, Selasa (1/6), menyatakan bahwa tentara Zionis Israel pada malam sebelumnya telah menghancurkan “sebuah pos pantau garis depan tentara Suriah yang didirikan di kawasan Israel di barat Garis Alfa di bagian tengah Dataran Tinggi Golan.”

Dia menyebutkan bahwa tentara Israel menyerang dan meledakan pos pantau tersebut dan bahwa serangan seperti ini merupakan yang ketiga kalinya dalam satu tahun terakhir.

“Tentara tidak akan menolerir segala bentuk upaya pelanggaran terhadap kedaulatan Israel, dan akan terus bekerja demi melindungi keamanan warganya,” lanjut Adraee.

Belum ada komentar dari pihak Suriah terkait dengan peristiwa ini.  (raialyoum)

13 Tentara Turki Tewas Diserang Pasukan PKK di Irak Utara

Sebanyak 13 tentara Turki terbunuh di Irak utara akibat serangan pasukan Partai Pekerja Kurdi (PKK) di wilayah Kurdistan Iran.

Kantor berita Kurdi Havar (ANHA), Selasa (1/6), melaporkan bahwa Pasukan Pertahanan Rakyat (Karela) yang merupakan sayap militer PKK, telah melancarkan “operasi militer di medan Dulamaran di kawasan Afashin di kawasan pertahanan yang sah”, yaitu kawasan yang dinamai demikian oleh pasukan Kurdi untuk wilayah pegunungan Qandil yang membentang di sepanjang perbatasan Irak-Turki.

ANHA menambahkan bahwa Turki pada 13 April lalu telah melancarkan serangan sengit ke tiga daerah Zab, Matina dan Afashin di kawasan pegunungan tersebut. (rt)