Rangkuman Berita Utama Timteng Minggu 12 November 2023

Jakarta, ICMES. Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Konferensi Kerja Sama Islam (OKI) di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menyerukan kepada negara-negara Islam untuk mengklasifikasikan tentara Israel sebagai “organisasi teroris” karena kebrutalannya di Gaza.

Pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah, mengatakan bahwa Israel belum mendapat capaian apapun dalam aksi menggelar aksi brutal di Jalur Gaza, sementara operasi militer kubu resistensi di Lebanon terus meningkat dari segi kuantitas serangan maupun kualitas senjata.

Berita Selengkapnya:

KTT Luar Biasa OKI, Presiden Iran Serukan Boikot dan Pemutusan Hubungan dengan Israel

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Konferensi Kerja Sama Islam (OKI) di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, Sabtu (11/11), menyerukan kepada negara-negara Islam untuk mengklasifikasikan tentara Israel sebagai “organisasi teroris” karena kebrutalannya di Gaza.

Presiden Raisi juga mengimbau negara-negara Islam  mempersenjatai para pejuang Palestina  jika  serangan Israel terhadap Gaza terus berlanjut.

 “Tentara Israel harus diklasifikasikan sebagai organisasi teroris,” seru Raisi.

Iran mendukung dan menganggap Hamas sebagai “gerakan pembebasan” nasional, sementara Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Uni Eropa menganggapnya sebagai “gerakan teroris.”

Raisi menambahkan, “Kita harus memainkan peran karena organisasi internasional kini menjadi tidak berguna,” dan menyeru  negara-negara Islam  untuk “mempersenjatai rakyat Palestina.”

Dia juga menyerukan boikot perdagangan terhadap Israel, yang tidak diakui oleh Teheran, terutama di “bidang energi,” dengan mengatakan, “Perdagangan dan kerja sama dengan Rezim Zionis harus dihentikan dan barang-barang  Israel  harus diboikot.”

Raisi kembali menuduh AS  “memotivasi kejahatan entitas Zionis di Gaza, dan AS telah memasuki perang di pihak  Israel  dengan mengirimkan kapal perangnya” ke Mediterania timur.

Dia juga menyerukan “pembentukan pengadilan internasional untuk mengadili Zionis dan AS yang terlibat dalam genosida dan pembantaian terhadap kemanusiaan di Gaza.”

Presiden Iran menganggap perlawanan sebagai satu-satunya jalan bagi bangsa Palestina dalam upaya memperoleh kembali hak dan martabatnya.

Dia mengutip perkataan Khamenei bahwa “solusi berkelanjutan adalah dengan mendirikan negara Palestina dari laut hingga sungai.”

 KTT itu sendiri sesi pertamanya telah berakhir, dan mayoritas peserta menyampaikan kata-kata kecaman. Naifnya, para pemimpin Arab tidak mengumumkan penarikan duta besar, pemutusan hubungan, atau ancaman pemutusan pasokan gas atau minyak.

Adegan yang tampak canggung dalam sesi pembukaan KTT Arab-Islam itu adalah kepergian Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman beberapa menit setelah sesi dimulai. Hal ini memicu badai kontroversi di mata publik mengenai alasannya.

Beberapa orang menganggap kepergian itu menunjukkan bahwa KTT tersebut tidak setimpal dengan peristiwa penting yang terjadi di kawasan. (raialyoum)

Sayid Nasrallah: Israel Belum Mendapat Capaian Apapun,  Serangan Hizbullah Meningkat

Pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah, mengatakan bahwa Israel belum mendapat capaian apapun dalam aksi menggelar aksi brutal di Jalur Gaza, sementara operasi militer kubu resistensi di Lebanon terus meningkat dari segi kuantitas serangan maupun kualitas senjata.

Sayid Nasrallah dalam pidatonya apda hari Sabtu (11/11) menyebutkan bahwa Palestina menuntut kekompakan negara-negara Arab dan Islam dalam Konferensi Tinggi Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang mempertemukan 57 negara di Riyadh, termasuk agar  pertemuan ini dapat membuka pintu perbatasan Rafah untuk mengangkut bantuan dan korban luka.

Dia  juga mengatakan, “Inovasi kubu resistensi sangat menentukan, dan taruhan hari ini ada di lapangan.”

Dia menilai  Israel belum mendapatkan capaian apa pun, sementara kubu resistensi terus berjuang dengan penuh rasa bangga.

 “Agresi yang terjadi di Gaza adalah perkembangan yang berbahaya, besar, dan luar biasa, dan kejahatan ini mencerminkan balas dendam brutal Israel… Kejahatan pendudukan mencerminkan sifat brutalnya, dan tujuan mereka yang paling menonjol  adalah menundukkan masyarakat di kawasan dan menjatuhkan keinginan untuk menuntut hak,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Meningkatnya perlawanan di Tepi Barat mungkin memaksa rezim pendudukan (Israel) untuk menarik beberapa kelompok pasukannyanya dari perbatasan dengan Gaza dan Lebanon… Rezim pendudukan masih belum mampu menampilkan gambaran kemenangan  pada dirinya, ataupun gambaran kekalahan kubu resistensi.”

Mengenai partisipasi Yaman dan Irak dalam perang, Sayid Nasrallah menyebutkan,“Pasukan Yaman yang menyerang sasaran Israel dengan rudal dan drone memiliki hasil penting dan jauh dari upaya pencegatan terhadapnya…. Operasi perlawanan Irak terhadap sasaran AS adalah untuk mendukung Palestina dan mendukung gagasan pembebasan Irak dan Suriah.”

Dia juga mengatakan, “Rezim Pendudukan berbicara kepada Lebanon melalui kejahatannya di Gaza dan pembunuhan yang disengaja dan brutal…. Rezim pendudukan membuat kesalahan lagi, dan semua tujuannya akan gagal, dan aksi-aksi pembantaiannya (yang tercatat) dalam sejarah, termasuk Deir Yassin, menjadi saksi akan hal itu.”

Sayid Nasrallah menjelaskan, “Musuh(Israel)  menimbulkan banyak kerugian  pada dirinya sendiri…. memberikan pukulan fatal terhadap proyek normalisasi yang ia upayakan, dan pendirian masyarakat kita yang menolak normalisasi ini akan menjadi lebih keras.”

Dia mengatakan, “Pergeseran opini publik global, khususnya opini Barat, seperti yang terjadi di AS dan Eropa, adalah hal yang penting…. Rezim pendudukan kini berada di bawah tekanan waktu dan tidak lagi didukung kecuali oleh rezim Amerika dan kemudian rezim Inggris.”

Mengenai Iran, Sekjen Hizbullah menyatakan bahwa jika para pejuang resistensi di Lebanon, Palestina dan lain-lain memiliki kekuatan maka itu adalah berkat kepedulian dan kiprah para pemimpin Iran.

Dia menilai Irak tak henti-henti mendukung kelompok-kelompok pejuang resistensi agar bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah dapat bertahan solid, meski Teheran mendapat intimidari para kubu arogan dunia.

Dia juga memastikan terjadinya peningkatan pada skala operasi militer para pejuang resistensi di Lebanon, baik dari segi kuantitas maupun kualitas senjata, termasuk penggunaan drone serangan dan rudal, dan dalam hal ini Hizbullah mulai menggunakan rudal Burkan yang memiliki bobot setengah ton, dan setiap hari menerbangkan drone-drone pengintai ke kedalaman wilayah Palestina pendudukan hingga ke Haifa di mana sebagian drone kembali ke Lebanon dengan selamat dan sebagian lain tidak kembali.

“Kami berada dalam pertempuran penuh keteguhan, kesabaran dan akumulasi prestasi, dan kubu resistensi dan bangsa-bangsa memerlukan waktu untuk menimpakan kekalahan pada musuh,” ungkapnya.

“Musuh menjadi bingung, dan kebingungan ini tercermin dalam pernyataan-pernyataan kontradiktif Netanyahu,” sambungnya.

Sayid Nasrallah memastikan bahwa “waktu tidaklah menguntungkan musuh” dan terjadi “kegagalan di lapangan dalam upaya (Israel) menundukkan Gaza,   terjadi transformasi opini publik dunia, dan terdapat ketakutan pada Israel terhadap perluasan front pertempuran”. (raiayoum)