Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 7 Februari 2019

hassan nasrallah lebanonJakarta, ICMES: Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah memastikan Iran tidak akan pernah meninggalkan komitmen dan dukungannya kepada perjuangan Palestina meskipun dunia menelantarkannya.

Senada dengan ini, Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina Ziyad Nakhaleh menegaskan bahwa para pejuang Palestina dapat berjuang dengan performa yang lebih baik adalah berkat dukungan Iran.

Para pengamat sanksi PBB menyatakan bahwa kelompok teroris ISIS belum kalah di Suriah, dan masih menjadi ancaman paling signifikan dibanding kelompok-kelompok teroris lain.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan negaranya mendukung kembalinya Suriah ke organisasi negara-negara Arab, Liga Arab, dan dengan demikian secara resmi dia menjadi pemimpin Arab pertama yang menyatakan dukungannya untuk langkah itu.

Berita selengkapnya:

Sayid Nasrallah: Iran Tidak Akan Pernah Melupakan Palestina Meski Dunia Mengabaikannya

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah memastikan Iran tidak akan pernah meninggalkan komitmen dan dukungannya kepada perjuangan Palestina meskipun dunia menelantarkannya. Senada dengan ini, Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina Ziyad Nakhaleh menegaskan bahwa para pejuang Palestina dapat berjuang dengan performa yang lebih baik adalah berkat dukungan Iran.

Dalam pidato sambutan pada acara peringatan 40 tahun kemenangan Revolusi Islam di Iran di pinggiran selatan Beirut, ibu kota Lebanon, Rabu (6/1/2019), Nasrallah menyatakan bahwa revolusi Islam sukses mendepak Amerika Serikat (AS) dan “Israel” dari Iran dan bahwa negeri Persia ini berhasil meraih kemerdekaan sejati, mempertahankan independensinya selama 40 tahun, dan menjadi satu di antara sedikit negara di dunia yang mandiri dalam mengambil keputusan dan menentukan kehendak nasionalnya.

“Kesuksesan revolusi Iran antara lain ialah menjaga aset negara dan institusi-institusinya, serta menjaga persatuan…. Revolusi ini solid dalam menghadapi segala kesulitan, dan sejak hari pertamanya telah mulai membangun negara baru sesuai kedaulatan rakyat,” ujar Nasrallah.

Dia menjelaskan, “Mayoritas mutlak rakyat Iran dalam referendum telah memberikan suara mendukung pendirian republik Islam. Iran sama sekali tidak pernah berhenti menyelenggarakan pemilu, bahkan di tengah situasi perang yang dipaksakan (oleh rezim diktator Irak, Saddam Hossein) terhadapnya. Perang global telah dipaksakan terhadap Iran, tapi dapat bertempur dengan prima selama delapan tahun (1980 – 1988), solid, dan menang.”

Dalam pidato itu, sebagaimana terlihat dalam penggalan video yang dimuat di laman saluran al-Alam milik Iran, Sekjen Hizbullah juga menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah menelantarkan Palestina meskipun seandainya dunia menelantarkannya.

“Mengapa AS bermasalah terhadap Iran? Pertama adalah karena independensi dan kemandirian Iran serta kemampuannya memanfaatkan anugerah miliknya. Kedua adalah karena posisi regionalnya; dukungannya kepada kaum tertindas, pendiriannya yang prinsipal dalam masalah Palestina, al-Quds, dan kesucian, dan dukungannya kepada gerakan-gerakan muqawamah (resistensi anti AS dan Israel),” terangnya.

Dia kemudian berseru, “Saya tegaskan kepada Anda, dunia mungkin saja menelantarkan Palestina, tapi Republik Islam Iran tidak akan pernah menelantarkan Palestina, al-Quds, dan kesucian.”

Pada acara yang sama, Sekjen gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Nakhaleh juga menyampaikan kata sambutan yang menyebut Iran sebagai “kata kunci” dalam menghadapi agresi AS dan Israel.

“Iran adalah kata kunci dalam perlawanan terhadap agresi AS dan Israel. Kami dapat berperang dan melawan dengan performa yang lebih baik daripada sebelumnya adalah berkat Teheran,” ujarnya.

Nakhaleh menambahkan bahwa Iran tak pernah ragu barang sehari dalam membela Palestina dan menyokong perjuangan bangsa Palestina.

Dia kemudian mengingatkan kepada pihak-pihak (Saudi dan sekutunya) “yang mengira aliansi mereka dengan Israel akan dapat menghentikan resistensi”  bahwa mereka “berilusi” belaka.

“Bangsa Palestina konsisten kepada hak dan nasionalismenya meskipun ada barisan besar di belakang agenda Zionis,” tegasnya.

Sekjen JID juga mengingatkan bahwa kondisi dan penderitaan bangsa Palestina akibat pendudukan kaum Zionis Israel sangat berat dan tiada taranya, dan karena itu tak perlu ragu dalam melawan kezaliman, agresi, dan pendudukan. (raialyoum/alalam)

PBB: ISIS Masih Jadi Bahaya Terbesar Dan Belum Kalah Di Suriah

Para pengamat sanksi PBB menyatakan bahwa kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS/ISIL/DAESH) belum kalah di Suriah, dan masih menjadi ancaman paling signifikan dibanding kelompok-kelompok teroris lain, berbeda dengan klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa ISIS sudah kalah dan nyaris musnah.

Menurut laporan tim pemantau sanksi yang diajukan kepada Dewan Keamanan PBB, ada sekitar 14.000-18.000 militan ISIS di Suriah dan di Irak, termasuk sekira 3.000 militan asing.

“ISIL belum dikalahkan di Republik Arab Suriah, tetapi masih berada di bawah tekanan militer yang kuat di wilayah bekas bentengnya di timur negara ini. Hal itu menunjukkan tekad untuk melawan dan kemampuan untuk melakukan serangan balik,” bunyi laporan itu, menggunakan akronim Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL).

Pada 19 Desember 2018 Trump mengejutkan sekutu Baratnya dengan mengumumkan bahwa AS akan menarik total 2000 tentaranya dari Suriah sembari beralasan dengan klaim bahwa ISIS sudah kalah, klaim yang bahkan berseberangan dengan penilaian direktur intelijen nasionalnya sendiri, Dan Coats, yang menyebut ISIS sebagai ancaman kuat di Timur Tengah dan Barat.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada pertemuan 79 negara di Washington Rabu lalu mengatakan bahwa AS tetap berkomitmen untuk menghancurkan ISIS tetapi menambahkan bahwa pendekatan itu dapat berubah pada “era jihad yang didesentralisasi.”

Para pemantau sanksi PBB, dalam laporannya mengenai ancaman ISIS, Al-Qaeda dan kelompok-kelompok teroris lain yang dicantumkan oleh PBB dalam daftar hitam kelompok teroris, menyatakan bahwa ISIS justru berada di peringkat paling berbahaya.

“ISIL terus dikaitkan dengan lebih banyak aktivitas teroris daripada kelompok rivalnya yang manapun, sehingga ISIL terus menjadi ancaman paling signifikan,” ungkap laporan itu.

Laporan itu menjelaskan bahwa setelah kehilangan “kehalifahan”-nya di Irak dan Suriah, ISIS berubah menjadi jaringan rahasia di bawah kepemimpinan Abu Bakar al-Baghdadi. Kepemimpinan IS telah direduksi menjadi kelompok yang tersebar dan “mengarahkan beberapa petempur agar kembali ke Irak untuk bergabung dengan jaringan di sana” dengan tujuan ” bertahan hidup, berkonsolidasi dan bangkit kembali di wilayah inti. (raialyoum/france24)

Mahmoud Abbas Jadi Pemimpin Arab Pertama Pendukung Kembalinya Suriah Ke Liga Arab

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan negaranya mendukung kembalinya Suriah ke organisasi negara-negara Arab, Liga Arab, dan dengan demikian secara resmi dia menjadi pemimpin Arab pertama yang menyatakan dukungannya untuk langkah itu.

“Kami pada prinsipnya mendukung kembalinya Suriah ke Liga Arab, dan kami berharap tujuan ini akan tercapai melalui konsultasi antarnegara Arab di periode mendatang,” kata Abbas dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Sputnik milik Rusia, Rabu (6/2/2019).

Dia menambahkan: “Kami selalu dan terus bersama kesatuan dan keutuhan teritorial Suriah serta penyelesaikan konflik melalui dialog.”

Abbas mengaku “tidak berencana mengunjungi Suriah dalam waktu dekat,” namun juga mengaku terus mengikuti dengan cermat perkembangan situasi yang terjadi di Suriah, terutama karena sekira setengah juta pengungsi Palestina tinggal di sana.

Abbas mengatakan bahwa Otoritas Palestina bekerja sama dengan pemerintah Suriah dan UNRWA untuk membangun kembali kamp pengungsi Yarmouk di Damaskus demi mengembalikan para pengungsi Palestina ke kamp itu sesegera mungkin.

Pada November 2011 Liga Arab membekukan keanggotaan Suriah menyusul krisis pemberontakan dan terorisme yang melanda negara ini.

Namun, setelah pemerintah Suriah berhasil mengatasi musuh-musuhnya, belakangan ini terlihat langkah-langkah Arab menuju normalisasi hubungan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad, terutama pada 16 Desember lalu ketika al-Assad dikunjungi Presiden Sudan Omar al-Bashir sehingga al-Bashir menjadi presiden Arab pertama yang mengunjungi Damaskus sejak 2011.

Bahrain kemudian mengumumkan pengoperasian kembali kedutaan besarnya di Damaskus, tak lama setelah UEA membuka kembali kedutaan besarnya setelah ditutup selama tujuh tahun. (raialyoum)