Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 26 Oktober 2023

Jakarta, ICMES. Pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menerima kunjungan pemimpim Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad al-Nakhalah dan Wakil Kepala Biro Politik Gerakan Hamas Saleh al-Arouri.

Dua tentara Israel tewas, dan tiga lainnya luka-luka akibat serangan para pejuang Hizbullah Lebanon yang menyasar situs Hanita di perbatasan Lebanon-Israel (Palestina pendudukan).

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Libya  menyerukan kepada para duta besar negara-negara yang mendukung Israel untuk segera meninggalkan Libya.

Sekjen Hizbullah Adakan Pertemuan dengan Pemimpin Jihad Islam Palestina dan Hamas

Pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menerima kunjungan pemimpim Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad al-Nakhalah dan Wakil Kepala Biro Politik Gerakan Hamas Saleh al-Arouri.

Tiga tokoh pejuang resistensi itu pada hari Rabu (25/10) mengadakan pertemuan yang membahas konfrontasi yang sedang berlangsung di perbatasan Lebanon-Israel (Palestina pendudukan) dan perkembangan peristiwa di  Jalur Gaza sejak dimulainya Operasi Badai Al-Aqsa.

Mereka mengevaluasi sikap-sikap internasional dan regional dan apa yang harus dilakukan oleh pihak-pihak Poros Resistensi pada tahap krusial ini. Mereka juga membahas cara-cara untuk mencapai kemenangan nyata bagi perlawanan di Gaza dan Palestina serta menghentikan agresi terhadap Gaza dan Tepi Barat.

Sayid Nasrallah, Al-Nakhalah, dan Al-Arouri sepakat untuk terus berkoordinasi dan menindaklanjuti perkembangan secara harian dan kontinyu.

Sayid Nasrallah mengirim pesan kepada unit media dan institusi Hizbullah dan menyetujui penamaan para syuhada yang bangkit sejak 7 Oktober 2023 sebagai “Syuhada di Jalan Menuju Al-Quds.”

Operasi kubu resistensi yang sedang berlangsung di Lebanon, yang dimulai pada tanggal 8 Oktober, bersamaan dengan dimulainya agresi pendudukan di Jalur Gaza setelah pertempuran Badai Al-Aqsa, menyebabkan kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Israel di front utara sejak Perang Juli 2006.

Media Israel menyebut  eskalasi militer yang terjadi di utara dengan front Lebanon sebagai “perang nyata,” dan mencatat bahwa Hizbullah tidak hanya menghalangi  Israel  di utara, melainkan juga menghalangi mereka untuk bertindak tegas di Gaza.

Menurut Amir Bouhbut, seorang analis urusan militer di website Walla Israel, operasi Hizbullah di utara menimbulkan tekanan pada  Israel  terkait dengan Gaza dan berkontribusi dalam mencegah atau mengurangi manuver darat. (almayadeen)

Pertempuran di Perbatasan Lebanon, Dua Tentara Zionis Tewas

Dua tentara Israel tewas, dan tiga lainnya luka-luka akibat serangan para pejuang Hizbullah Lebanon yang menyasar situs Hanita di perbatasan Lebanon-Israel (Palestina pendudukan), Rabu (25/11).

Kubu resistensi di Lebanon selatan melaporkan bahwa para mujahidin, pada pukul 15:25 hari ini, Rabu, menyerang situs Hanita dan Al-Bahri dengan peluru kendali dan mengancurkan peralatan artistik dan teknis Israel.

Sebelumnya di hari yang sama, para pejuang juga menyerang barak  Avivim , yang berdekatan dengan perbatasan Lebanon-Israel, dan secara langsung menargetkan tank Israel di barak tersebut, membunuh dan melukai anggota awaknya.

Di pihak lain, media Israel juga mengumumkan bahwa empat rudal diluncurkan dari Lebanon menuju wilayah utara Palestina pendudukan, sementara artileri Israel menyerang kota Tayr Harfa di Lebanon selatan.

Sehari sebelumnya, Hizbullah mengaku telah menargetkan situs Israel di Khirbet al-Manara dan barak Branit dengan peluru kendali dan peluru artileri hingga menjatuhkan beberapa korban.

Para pejuang Hizbullah juga menembakkan dua peluru kendali dari Lebanon ke situs Israel  Shtola  dan pemukiman Al-Manara, di seberang kota Mays Al-Jabal, Lebanon selatan.

Militer Israel pada Rabu malam mengaku mencegat rudal “permukaan ke udara” yang diluncurkan dari Lebanon selatan, untuk pertama kalinya sejak konfrontasi yang pecah pada 7 Oktober.

Juru bicara Angkatan Darat Daniel Hagari dalam sebuah pernyataan singkat  yang dilaporkan oleh radio militer mengatakan: “Beberapa waktu yang lalu, pertahanan udara mencegat rudal permukaan-ke-udara yang diluncurkan dari wilayah Lebanon menuju drone tentara Israel.”

Dia menambahkan: “Sebuah pesawat Angkatan Udara merespons dengan mengebom sumber peluncuran rudal di dalam wilayah Lebanon.”

Menurut surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, ini merupakan yang pertama kalinya rudal “permukaan ke udara” diluncurkan dari Lebanon, selama perang yang telah berlangsung sejak 7 Oktober.

Pihak Lebanon belum mengeluarkan komentar atas pernyataan Israel tersebut.

Sebelumnya pada hari Rabu, tentara Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan di platform  X  bahwa pasukannya telah menghancurkan situs militer dan titik pengawas Hizbullah Lebanon.

Selama lebih dari dua minggu, perbatasan Israel-Lebanon dilanda baku tembak antara tentara Israel di satu pihak  dan faksi Hizbullah dan Palestina di pihak lain, yang menjatuhkan sejumlah korban tewas dan cedera di kedua pihak. (almayadeen/raialyoum)

Parlemen  Libya Serukan Pengusiran Para Dubes Negara-Negara Pendukung Israel

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Libya pada hari Rabu (25/10) menyerukan kepada para duta besar negara-negara yang mendukung Israel untuk segera meninggalkan Libya.

Seruan itu diputus sebagai protes terhadap dukungan negara-negara itu kepada serangan brutal dan membabi buta Israel di Jalur Gaza.

Israel terus melancarkan serangan di Jalur Gaza, sebagai respons atas serangan yang dilakukan  Hamas  di wilayah selatan Israel (Palestina pendudukan 1948) pada 7 Oktober.

DPR Libya  dalam sebuah pernyataan menegaskan, “Perang yang terjadi di Gaza saat ini adalah perang genosida yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Barat terhadap orang-orang yang tidak berdaya dan terkblokade.”

Pernyataan itu menambahkan, “Demi tanggung jawab sejarah dan kemanusiaan, kami menyerukan kepada para duta besar negara-negara pendukung kejahatan entitas pendudukan (Israel)  untuk segera meninggalkan Libya.”

Tidak jelas bagaimana permintaan kepergian duta besar negara-negara Barat akan dilaksanakan, karena markas besar misi diplomatik asing berlokasi di ibu kota, Tripoli, di Libya barat, sebuah wilayah yang berada di bawah pemerintahan yang diakui secara internasional yang dipimpin oleh Abdul Hamid Al- Dabaiba, yang tidak mendapat dukungan dan pengakuan dari DPR, yang berbasis di bagian timur negara ini. (raialyoum)