Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 16 Maret 2023

Jakarta, ICMES. Mantan kepala intelijen Saudi Turki Al-Faisal telah mengaku optimis bahwa kesepakatan antara Teheran dan Riyadh untuk pemulihan hubungan diplomatik dan pembukaan kembali misi diplomatik akan menjadi “pengubah permainan” untuk kawasan Timur Tengah.

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC), Laksamana Ali Shamkhani, akan melakukan perjalanan ke Uni Emirat Arab (UEA) pada hari ini, Kamis (16/3), untuk mengadakan pembicaraan dengan pejabat senior  UEA di tengah hubungan yang menghangat antara Iran dan tetangganya di Teluk Persia.

Angkatan Laut (AL)  Iran mengumumkan dimulainya latihan maritim dengan partisipasi Iran, Rusia dan China di Samudera Hindia bagian utara.

Berita Selengkapnya:

Mantan Kepalda Intelijen Saudi Optimis Normalisasi Hubungan Iran-Saudi akan “Ubah Permainan”

Mantan kepala intelijen Saudi Turki Al-Faisal telah mengaku optimis bahwa kesepakatan antara Teheran dan Riyadh untuk pemulihan hubungan diplomatik dan pembukaan kembali misi diplomatik akan menjadi “pengubah permainan” untuk kawasan Timur Tengah.

Dalam sebuah wawancara dengan France 24, Selasa (14/3), Turki Al-Faisal mengatakan bahwa “pemulihan hubungan” yang terjadi setelah pembicaraan segi tiga di Beijing itu akan mempengaruhi perkembangan di negara-negara besar di Timur Tengah, termasuk Yaman dan Suriah.

“China yang bisa melakukannya, karena memiliki hubungan baik dengan kami berdua. Baik AS maupun Eropa tidak akan mampu menjadi perantara yang jujur antara dua pihak,” ungkapnya.

Ditanya apakah kesepakatan Iran-Saudi akan menjadi pengubah permainan di kawasan itu, Faisal menjawab, “semoga,” dan menekankan bahwa perjanjian itu “akan berdampak” pada perkembangan di Yaman, Suriah, Libanon dan Irak.

Setelah beberapa hari negosiasi intensif yang diselenggarakan oleh China, Iran dan Arab Saudi akhirnya mencapai kesepakatan pada hari Jumat pekan lalu untuk memulihkan hubungan diplomatik dan membuka kembali kedutaan dan misi dalam waktu dua bulan.

Sementara itu, seorang pejabat aktif Saudi, Rabu (15/3), mengatakan bahwa Presiden China Xi Jinping pada akhir tahun lalu menawarkan kepada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman untuk menengahi rekonsiliasi antaraSaudi  dan Iran, yang akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri kerenggangan.

Seperti diketahui, Jumat pekan lalu Iran dan Arab Saudi mengumumkan dimulainya kembali hubungan diplomatik mereka, yang terputus sejak 2016, dalam jangka waktu dua bulan setelah negosiasi yang diselenggarakan oleh China, dalam sebuah langkah yang mungkin melibatkan perubahan diplomatik regional yang besar.

Pejabat anonim Saudi itu mengatakan bahwa percakapan awal antara pemimpin China dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman terjadi padapertemuan bilateral pada pertemuan puncak di Riyadh pada bulan Desember.

 â€œPresiden China menyatakan keinginannya agar China menjadi jembatan antara Arab Saudi dan Iran. Yang Mulia Putra Mahkota menyambut baik hal ini,” lanjutnya.

Dia juga mengatakan  bahwa Riyadh percaya bahwa Beijing saat ini berada dalam posisi “unik” untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Teluk Persia.

Dia menjelaskan, “Sehubungan dengan Iran khususnya, China menempati urutan pertama atau kedua dalam hal mitra internasionalnya. Jadi ada pengaruh penting dalam hal ini, dan Anda tidak dapat memiliki alternatif yang sama pentingnya.”

Sementara itu, Organisasi Penerbangan Sipil Iran (CAO), Selasa, mengumumkan bahwa penerbangan antara Iran dan Arab Saudi akan dilanjutkan setelah izin resmi dikeluarkan.

“Setelah mempelajari masalah ini, izin yang diperlukan dan resmi untuk penerbangan ini akan dikeluarkan dan penerbangan akan dilakukan antara kedua negara,” kata Jafar Yazarlou, juru bicara CAO, dalam wawancara dengan kantor berita Tasnim.

Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada Januari 2016 setelah pengunjuk rasa Iran, yang marah atas eksekusi ulama terkemuka Syiah Sheikh Nimr Baqir al-Nimr oleh pemerintah Saudi, menyerbu kedutaan besarnya di Teheran dan konsulat jenderalnya di Masyhad.

Kedua pihak telah mengadakan lima putaran perundingan di ibu kota Irak, Baghdad sejak April 2021. (presstv/raialyoum)

Pejabat Tinggi Keamanan Iran akan Berkunjung UEA untuk Pembicaraan Tingkat Tinggi

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC), Laksamana Ali Shamkhani, akan melakukan perjalanan ke Uni Emirat Arab (UEA) pada hari ini, Kamis (16/3), untuk mengadakan pembicaraan dengan pejabat senior  UEA di tengah hubungan yang menghangat antara Iran dan tetangganya di Teluk Persia.

Situs berita Nour News yang dekat dengan SNSC, Rabu (15/3), melaporkan bahwa kunjungan itu dilakukan atas undangan Penasihat Keamanan Nasional UEA Sheikh Tahnoon bin Zayed al-Nahyan.

Shamkhani akan mengadakan pembicaraan dengan Sheikh Tahnoon serta pejabat senior UEA lainnya untuk membahas masalah bilateral, regional dan internasional yang menjadi perhatian bersama. Pejabat ekonomi, perbankan, dan keamanan senior akan menemani Shamkhani.

UEA mengembalikan duta besarnya untuk Iran pada bulan September tahun lalu, setelah lebih dari enam tahun level hubungan antara keduanya diturunkan menyusul insiden serbuan demonstran Iran ke kedutaan Saudi di Teheran pasca peristiwa eksekusi ulama terkemuka Syiah, Sheikh Baqir al-Nimr, oleh rezim Saudi.

Kunjungan pejabat tinggi keamanan Iran ke Abu Dhabi terjadi kurang dari seminggu setelah Iran dan Arab Saudi mengumumkan normalisasi hubungan mereka setelah beberapa hari perundingan maraton yang ditengahi oleh China antara Shamkhani dan mitranya dari Arab Saudi di Beijing.

Kesepakatan itu mengarah pada pemulihan hubungan diplomatik antara Teheran dan Riyadh dan pembukaan kembali misi diplomatik masing-masing dalam jangka waktu dua bulan ke depan.

Kesepakatan tersebut mendapat sambutan luas dari komunitas internasional dan memicu spekulasi atas potensi kesepakatan normalisasi antara Iran dan negara-negara Arab lainnya yang mengikuti jejak Riyadh pada tahun 2016 dengan menurunkan atau memutuskan hubungan dengan Iran.

Jubur Kemlu Iran Nasser Kanaani Senin lalu mengkonfirmasi bahwa ada potensi kesepakatan serupa antara Iran dan negara-negara regional lainnya, terutama Bahrain dan Yordania.

Menurutnya, kesepakatan Iran-Saudi dapat membantu meningkatkan kerjasama regional untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di kawasan.

“Kesepakatan ini berdampak baik pada kerjasama dan konvergensi di kawasan untuk membantu memperkuat perdamaian, stabilitas, dan keamanan di sana, khususnya di kawasan strategis Teluk Persia,” katanya.

Dia juga mengatakan persiapan sedang dilakukan untuk pertemuan antara menteri luar negeri Iran dan Saudi dalam waktu dekat. (presstv/raialyoum)

Iran, Rusia dan China Gelar Latihan Militer “Sabuk Pengaman Maritim”

Angkatan Laut (AL)  Iran mengumumkan dimulainya latihan maritim dengan partisipasi Iran, Rusia dan China di Samudera Hindia bagian utara, Rabu (15/3).

Manuver bersama itu digelar dengan sandi “Sabuk Keamanan Maritim” dan akan berlanjut selama lima hari.

Di hari yang sama, Kementerian Pertahanan China dalam sebuah pernyataannya mengumumkan peluncuran latihan maritim bersama dengan Iran dan Rusia di Laut Oman, selatan Iran, yang akan berlangsung selama lima hari.

Menurut pernyataan Kementerian Pertahanan China, angkatan bersenjata Rusia, China, dan Iran sepakat untuk mengadakan latihan maritim bersama bertajuk “Sabuk Keamanan Maritim 2023” dari tanggal 15 hingga 19 Maret di Laut Oman.

Manuver bersama ketiga negara itu juga pernah dilakukan pada tahun 2019 dan 2022.

Kapal perusak dan peluncur rudal China “Nanning” mengambil bagian dalam manuver ini. Menurut pernyataan tersebut, latihan bersama ini berkontribusi untuk pengembangan kerjasama antara angkatan laut negara-negara peserta dan meningkatkan kesiapan bersama untuk memastikan keamanan maritim dan mengkonsolidasikan perdamaian dan stabilitas kawasan.

Ketiga negara sebelumnya telah melakukan manuver yang disebut “Sabuk Pengaman Maritim” pada Desember 2019 yang berlangsung selama empat hari. Manuver demikian diulang pada tahun lalu.

Washington menyorot kerjasama militer dan ekonomi tingkat tinggi serta koordinasi politik antara ketiga negara, manakala AS menghadapi tantangan Rusia di Ukraina di Eropa Timur, China di Asia Timur, dan Iran di Asia Barat. (raialyoum)