Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 15 Oktober 2020

pasien iranJakarta, ICMES. Wakil Kepala Kehakiman Republik Islam Iran Ali Baqeri menegaskan negaranya tidak akan pernah melupakan dan memaafkan beberapa negara Eropa yang bekerjasama dengan AS dalam penerapan sanksi keras terhadap Iran yang bahkan menghambat impor obat-obatan.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebut Amerika Serikat (AS) melakukan “kejahatan terhadap kemanusiaan”, karena menghalangi Iran memperoleh obat-obatan dan peralatan medis yang dibutuhkan di tengah pandemi Covid-19.

Puluhan militan tewas dalam serangan besar-besaran Angkatan Udara Rusia dan Suriah ke beberapa posisi kawanan bersenjata di bagian barat laut Suriah.

Seorang anggota senior Hizbullah menegaskan bahwa plot Amerika Serikat (AS) untuk mencegah partisipasi kubu resistensi di kabinet Lebanon akan gagal.

Berita selengkapnya:

Iran Nyatakan Tak akan Maafkan Kerjasama Eropa dengan Sanksi AS

Wakil Kepala Kehakiman Republik Islam Iran Ali Baqeri menegaskan negaranya tidak akan pernah melupakan dan memaafkan beberapa negara Eropa yang bekerjasama dengan AS dalam penerapan sanksi keras terhadap Iran yang bahkan menghambat impor obat-obatan.

Dalam pertemuan dengan Duta Besar Austria untuk Iran Stefan Scholz, Rabu (14/10/2020), Baqeri yang juga ketua Dewan Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) Iran itu menegaskan, “Negara-negara yang telah memberlakukan sanksi paling keras terhadap seluruh rakyat Iran dan telah menimbulkan ancaman serius terhadap hak hidup dan kesehatan mereka, yang merupakan salah satu hak dasar setiap manusia, tak dapat mengklaim sebagai pendukung HAM.”

Dia menambahkan, “Sungguh mengejutkan bagaimana negara-negara itu, yang menikmati pengenaan sanksi terhadap bangsa Iran dan meningkatkan tekanan sanksi setiap hari dan bahkan tidak menunjukkan belas kasihan kepada anak-anak sakit yang tidak bersalah, berbicara tentang HAM terhadap bangsa Iran.”

Baqeri menekankan bahwa bangsa Iran telah melewati banyak hari yang sulit dan akan keluar sebagai pemenang, “tapi tidak akan memaafkan atau melupakan tindakan tidak manusiawi negara-negara tertentu Eropa.”

Kantor Pengendalian Aset Luar Negeri Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi terhadap 18 bank dan lembaga keuangan Iran sebagai upaya untuk memaksa bangsa Iran bertekuk lutut kepada negara arogan tersebut.

Pemerintahan Trump memutuskan untuk menjatuhkan sanksi baru pada sektor keuangan Iran meski ditentang oleh sekutunya sendiri di Eropa, yang memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat berdampak buruk pada kemanusiaan di Iran. (fna)

Menlu Iran Sebut Pemblokiran AS atas Suplai Medis “Kejahatan terhadap Kemanusiaan”

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebut Amerika Serikat (AS) melakukan “kejahatan terhadap kemanusiaan”, karena menghalangi Iran memperoleh obat-obatan dan peralatan medis yang dibutuhkan di tengah pandemi Covid-19.

Kecaman itu dinyatakan Zarif dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Jepang Motegi Toshimitsu, Selasa (13/10/2020).

Dia menekankan perlunya akses Iran ke sumber mata uang asingnya di Jepang, dan mengutuk pembatasan ilegal yang diberlakukan dalam sanksi AS.

Zarif menyebut tindakan Washington yang mencegah pembelian obat dan makanan oleh bangsa Iran sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Kami berharap pemerintah Jepang dapat mencegah tindakan ilegal AS dalam kerangka kesepakatan umum negara-negara itu untuk melaksanakan resolusi Dewan Keamanan PBB, termasuk resolusi 2231,” tambahnya.

Sembari menekankan peran aktif dan konstruktif Iran dalam memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan, Zarif mengatakan,  “Kehadiran pasukan asing tidak membantu, dan malah menyebabkan kompleksitas dan memperburuk masalah di kawasan.”

Di pihak lain, Motegi menekankan penguatan kerjasama dalam kampanye melawan Covid-19 dan penyediaan peralatan medis ke Iran dengan dana yang berasal dari sumber keuangan negara.

Dia menambahkan bahwa Jepang terus mendukung kesepakatan nuklir Iran dengan beberapa negara terkemuka dunia. (fna)

Diamuk AU Rusia dan Suriah, Puluhan Militan Tewas

Puluhan militan tewas dalam serangan besar-besaran Angkatan Udara Rusia dan Suriah ke beberapa posisi kawanan bersenjata di bagian barat laut Suriah, Rabu (14/10/2020).

Laporan lapangan menyebutkan bahwa Angkatan Udara Rusia beraksi terutama di daerah Jisr Al-Shughour di barat Idlib dan membombardir posisi-posisi kelompok-kelompok ekstrem, terutama Partai Islam Turkestan (TIP).

Serangan itu menghancurkan kamp pelatihan “jihadis” yang terpantau drone Rusia menjelang serangan udara tersebut.

Laporan selanjutnya dari Sputnik mencatat serangan dahsyat itu menewaskan lebih dari 30 militan TIP di beberapa posisi strategis mereka di Jisr Al-Shughour.

Mengutip keterangan sumber lapangan, koresponden Sputnik melaporkan, “Pesawat pengintai Rusia telah mendeteksi pergerakan besar-besaran kendaraan dan militan yang mencoba mencapai salah satu markas di dekat kota Al-Hamama di daerah Jisr Al-Shughour.”

Sumber tersebut menambahkan bahwa serangan itu ini meluluh lantakkan beberapa markas serta mekanisme dan peralatan.

Informasi awal menyebutkan lebih dari 30 militan tewas dan beberapa lainnya terluka, dan bahwa pergerakan TIP tersebut biasanya terjadi menjelang serangan TIP terhadap posisi Pasukan Arab Suriah (SAA) di daerah sekitar. (amn)

Hizbullah: AS Tak Dapat Halangi Partisipasi Kelompok Pejuang di Kabinet Libanon

Seorang anggota senior Hizbullah menegaskan bahwa plot Amerika Serikat (AS) untuk mencegah partisipasi kubu resistensi di kabinet Lebanon akan gagal.

“Kubu resistensi tidak akan dikecualikan dari kabinet Lebanon,” ungkap Mahmoud Qamati, mantan menteri urusan parlemen dan anggota senior dewan politik Hizbullah, seperti dikutip oleh situs berita berbahasa Arab al-Ahd.

Dia menambahkan bahwa anggota parlemen, termasuk anggota Hizbullah, telah dipilih oleh rakyat Lebanon dalam pemilihan yang sah dan sah berdasarkan konstitusi.

“Parlemen adalah perwakilan rakyat,” tegasnya.

Kementerian Luar Negeri  Lebanon bulan lalu merilis pernyataan yang menyebut gerakan perlawanan Hizbullah sebagai “bagian tak terpisahkan” dari Lebanon.

“Lebanon menekankan haknya melawan demi membebaskan tanahnya dan mempertahankan kedaulatannya… Hizbullah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Lebanon,” ungkap kementerian itu. (fna)