KTT SCO, Presiden Iran Serukan Perlawanan terhadap Unilateralisme AS

Samarkand, LiputanIslam.com  Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi meminta negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) mengadopsi pendekatan baru dalam upaya menghadapi unilateralisme Amerika Serikat ( AS).

Berbicara pada KTT ke-22 SCO di Samarkand,  ibu kota Uzbekistan, Jumat (16/9), Presiden Raisi mengatakan bahwa pemerintah AS berusaha untuk memaksakan niat dan undang-undang internalnya pada sistem internasional dan negara-negara merdeka.

“Tidak ada keraguan bahwa AS memblokir negara-negara ini di jalan mereka menuju pembangunan,” katanya.

Dia meminta SCO “mengadopsi langkah-langkah khusus untuk menghadapi unilateralisme dan sanksi kejam AS”.

Dia menyebutkan bahwa salah satu solusinya adalah membentuk perdagangan berkelanjutan antarnegara anggota SCO yang membutuhkan pembangunan infrastruktur bersama di bidang-bidang semisal transaksi keuangan.

Presiden Raisi juga menyebut keamanan transportasi dan energi sebagai dua bidang utama lain bagi SCO. Mengacu pada kurangnya infrastruktur yang memadai di sektor transit di antara negara-negara anggota, dia mengatakan Iran telah memberikan prioritas khusus untuk pengembangan koridor Utara-Selatan, dan berinvestasi besar-besaran dalam proyek ini.

Dia menambahkan, “Selain itu, Koridor Laut China-Asia Tengah-Asia Barat (Timteng)-Mediterania yang memiliki potensi tinggi saat ini dipandang sebagai bagian penting dari solusi pengembangan perdagangan antara Eurasia Timur dan Barat. Dengan kerjasama anggota SCO, dimungkinkan untuk memberikan alasan yang diperlukan untuk penerapan koridor ini dan bagi anggota untuk mendapatkan keuntungan darinya.”

Dia juga menjelaskan bahwa transit yang berkelanjutan membutuhkan kerjasama multilateral antarnegara anggota dalam mengembangkan infrastruktur yang dibutuhkan, dan Iran siap menawarkan jaringan transit dan kapasitas pelabuhannya di Laut Kaspia, Laut Oman, dan Teluk Persia untuk meningkatkan transit.

Sementara itu, dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT tersebut, Presiden Raisi memastikan negara dan bangsanya pantang menyerah pada hegemoni dan intimidasi AS, dan bahwa negara-negara AS dan Eropa telah gagal mengindahkan komitmen mereka pada kesepakatan nuklir tahun 2015, yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Dia mengecam AS dan Eropa disebutnya tidak mematuhi kewajiban mereka dan enggan mencabut sanksi terhadap Teheran.

“Republik Islam Iran tidak akan pernah tunduk pada intimidasi AS,” tegas Raisi.

Dia menambahkan, “Meski permusuhan belum dihentikan dan tidak akan dihentikan, Iran berhasil melanjutkan jalur kemajuan dan perkembangannya.”

Di pihak lain, Presiden China memuji pendirian independen Iran dalam berbagai isu internasional, dan menyatakan bahwa hubungan Iran-China merupakan hubungan strategis dan akan terus berkembang serta terlepas dari perkembangan internasional apa pun. (mm/fna)

Takut Hizbullah, Tentara Israel Minta Penjelasan Soal Kegiatan di Blok Karish

TelAviv, LiputanIslam.com  Tentara Israel  meminta pihak-pihak terkait di negara Zionis ilegal membuat klarifikasi mengenai ladang gas lepas pantai Karish, dan mendesak supaya tidak dilakukan tindakan provokatif yang akan meningkatkan ketegangan Israel dengan Hizbullah, demikian dilaporkan oleh media Israel, Jumat (16/9).

Saluran 13 Israel menyebutkan, “Kekhawatiran akan konfrontasi dengan Hizbullah telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir terkait platform gas di Karish. Meskipun Israel mengumumkan bahwa tahap selanjutnya dari aktivasi platform ini akan segera dimulai, namun hal itu telah menjadi indikasi tersendiri bahwa pembicaraan bukanlah seputar ekstraksi gas darinya. Pesan itu dirancang atas permintaan institusi keamanan.”

Koresponden urusan politik saluran tersebut, Maria Wahlberg, mengatakan, “Klarifikasi ini tidak dibuat dengan sia-sia, melainkan ditujukan terutama ke telinga Hizbullah, karena mereka di Israel tidak ingin menciptakan, memprovokasi, dan meningkatkan ketegangan, terlebih karena ketegangan pada dasarnya sudah ada dalam masalah ini.”

Wahlberg juga menyebutkan, “Ada ketidaksepakatan pada para pemimpin Israel mengenai teks pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi ini. Badan profesional percaya bahwa klarifikasi ini tidak boleh diberikan dalam masalah ekstraksi gas alam, sementara pihak-pihak di tentara meminta agar klarifikasi ini dikeluarkan oleh Kementerian Energi agar tidak ada peningkatan ketegangan dengan Hizbullah.”

Menurut Wahlberg,  pada akhir bulan ini, platform itu seharusnya mulai mengekstraksi gas, namun para pemimpin Israel mengharapkan penundaan, terutama, karena alasan teknis, dan bahwa hal ini tak kaitannya ada hubungannya dengan masalah keamanan.

Pada 11 September lalu, sumber informasi mengungkapkan kepada saluran Al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon bahwa utusan AS untuk demarkasi perbatasan laut, Amos Hochstein, menyerahkan koordinat garis pelampung laut kepada Lebanon, dan menjelaskan bahwa koordinat ini merupakan ” poin terakhir yang harus dinegosiasikan,” sebagai persiapan untuk mengirimkan “penawaran penuhnya” pada minggu depan. (mm/almayadeen)

Jurnal Bergengsi Inggris Tuding AS Pembuat Covid-19

London, LiputanIslam.com  Jurnal ilmiah The Lancet merilis laporan Komisi Covid-19, yang mencakup sekelompok peneliti dan pakar, yang menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) mencegah pengungkapan rincian penelitian asal-usul virus ini serta proses kemuculan dan penyebarannya.

Dikutip Rai Al-Youm, Jumat (16/9), jurnal medis bergengsi terbitan Inggris tersebut juga menyatakan bahwa ketua komisi itu, Prof. Jeffrey Sachs, dalam pidatonya pada konferensi di sebuah universitas Spanyol Juni lalu memastikan bahwa Covid-19 diproduksi di laboratorium menggunakan teknologi AS.

The Lancet yang menerapkan kebijakan editorial independen adalah mingguan yang naik daun setelah dulu pernah menerbitkan laporan tim penelitinya yang menyatakan bahwa invasi militer AS ke Irak pada tahun 2003 telah menyebabkan tewasnya hampir satu juta warga Irak.

Laporan mengenai krisis Irak itu tak pelak membangkitkan kecaman global terhadap AS sehingga Washington berusaha membantah dan menyoal hasil investigasi tim yang didukung dengan berbagai dokumen dan gambar tersebut.

Tentara Rusia pada Februari lalu mengungkapkan keberadaan laboratorium biologi AS di dekat Kyiv, ibu kota Ukraina, yang memproduksi senjata biologis.  

Selanjutnya, komandan pasukan pertahanan radiologi, kimia dan biologi di Angkatan Bersenjata Rusia, Igor Kirilov, menyatakan bahwa Kementerian Pertahanan sedang mempelajari kemungkinan keterlibatan badan pembangunan Internasional AS di balik kemunculan Covid-19 dan penyebarannya sebagai pandemi.

Rai Al-Youm menyoal, “Entah mengapa Badan Kesehatan Dunia (WHO) tidak membentuk komite pakar internasional independen untuk menyelidiki laboratorium-laboratorium biologi militer AS serta kesimpulan yang dicapai oleh Komisi Covid-19 Jurnal The Lancet dalam masalah ini.”

Rai Al-Youm menyebutkan bahwa negara sekeji AS yang pernah menggunakan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki serta menggenosida ratusan ribu orang tak berdosa tak akan segan-segan membuat senjata biologi dan menjadikan dunia sebagai ladang percobaannya. (mm/raialyoum)