[Paper] Timur Tengah Lama dan Timur Tengah Baru

Artikel ini adalah intisari dari paper di Contemporary Arab Affairs yang berjudul Middle Easts, old and new, yang dipublikasikan secara online pada 21 Januari 2010 di tautan ini: http://dx.doi.org/10.1080/17550910903471181. Perspektif, analisis, dan kesimpulan yang dilakukan penulis jurnal tidak mencerminkan sikap ICMES. Pemuatan artikel ini bertujuan untuk mempelajari model-model analisis yang dilakukan para ilmuwan dari berbagai latar belakang, dengan tujuan akademis.

middle eastTimur Tengah Lama dan Timur Tengah Baru

Ghassan Salamé [1]

Apakah wilayah yang disebut Timur Tengah benar-benar ada? Saya berusaha menghindari menggunakan sebutan ‘Timur Tengah’ yang sebenarnya adalah area geografis yang kosong. Di awal abad 20 ketika kapal dari London bergerak ke Timur dan perlu mengisi bahan bakar, mereka berhenti di Timur Dekat (Malta dan Siprus), di Timur Tengah (sekitar Suez dan Aden), dan Timur Jauh (Bombay dan sekitarnya). Tapi sekarang London bukan lagi pusat dunia, dan yang disebut ‘Timur Tengah’ adalah definisi yang belum disepakati.

Tidak ada yang bisa membantah tentang banyaknya definisi yang kacau tentang area itu. ‘Timur Tengah’ bagi France Air tidak sama dengan ‘Timur Tengah’ ala British Airways. Di Amerika Serikat (AS), bagi Sekretaris Negara ‘Timur Tengah’ bukanlah daerah yang dikenal dalam pemetaan geografis oleh Pentagon. Beberapa pihak mendefinisikannya dengan sangat sempit yaitu sebagai ‘wilayah Israel dan tetangganya’. Definisi ini menjadi perdebatan tanpa akhir. Apakah Sudan, Afrika Utara, Iran, dan Turki, adalah bagian dari Timur Tengah? Saya pernah bertanya kepada pejabat AS dimanakah Timur Tengah itu, dan ia menjawab “dari Marrakech hingga ke Bangladesh”.

Menteri Luar Negeri AS James Baker dalam pembukaan acara konferensi perdamaian di Madrid pada tahun 1991 berkata, ”Selama lebih dari empat dekade dunia menunggu hal ini.” Ia menyebut hal itu ketika Irak kalah di Kuwait, dan AS sedang berusaha menjadi insinyur perdamaian di wilayah yang disebut ‘Timur Tengah’. Konsep sederhana dan realistis yang diusulkan Baker, segera menjadi fantasi yang sepenuhnya matang yang tertuang dalam buku Shimon Peres yang berjudul The New Middle East (1993). Ia bermimpi semua negara-negara di Timur Tengah akan menerima supremasi militer AS, membuka ladang minyaknya yang kaya, dan menekan Palestina untuk menerima demiliteriasasi Bantustan yang disebut ‘the State of Palestine’. Cinta damai di ‘Timur Tengah baru’ dalam wujud ‘homo economicus’. Bisnis menggantikan erang. Integrasi regional mengakhiri konflik disintegrasi. Normalitas untuk menyukseskan exceptionalism.

Untuk Eropa yang netral secara politik, Laut Mediterania adalah kerangka regional yang lebih meyakinkan dibandingkan dengan Timur Tengah yang bergolak permanen. Eropa menggantikan AS di kursi ‘pengemudi’ namun tujuannya masih sama: Israel in, Iran out, Turki sesuai dengan keuntungan yang bisa dihasilkan. Mediterania adalah prioritas utama Eropa.

Peristiwa 9/11 merupakan titik balik. Dalam mencari beberapa kerangka geografis untuk proyek ‘Perang Melawan Teror’, Afghanisan, Pakistan, Irak, Yaman, Libya dan Sudan disebut sebagai target potensial, dan Presiden George W. Bush datang dengan merek dagang baru, yang disebut degan ‘Timur Tengah Raya’. Sebagian beberapa negara Muslim harus ‘diperas’, dihajar dengan invansi militer yang selanjutnya akan menghasilkan demokrasi. Untuk menenangkan Timur Tnegah yang terus bergejolak adalah dengan memaksa perubahan rezim, menjatuhkan rezim yang lalim dan tiran. Inilah strategi nasional AS yang dinyatakan secara eksplisit pada tahun 2002 bahwa perdagangan bebas tidak hanya melulu pada prinsip ekonomi, tetapi juga moral. Pentagon bersiap memerangi Irak, padahal masih berperang melawan Taliban di Afghanistan. Kata ‘kebebasan’ digunakan mungkin sekitar 50 kali dalam pidato Bush ketika ia kembali terpilih sebagai presiden AS untuk periode kedua, dan kala itulah pandangan Nathan Sharansky tentang Timur Tengah menjadi visi resmi Presiden, dan dengan demikian, Arab dan atau Islam menjadi tersangka. Pryce-Jones menyatakan dengan tegas bahwa demokrasi untuk Arab bukanlah hal yang idealis tetapi sebuah kontradiksi (Pryce-Jones 1991, hal. 69).

Presiden Barack Obama secara eksplisit mengakhiri penyimpangan ini. Dia mengubur ‘Perang Global Melawan Teror’ sebagai konstruksi mental dan, sampai batas tertentu, sebagai strategi. Ia mengunjungi Ankara dan Kairo untuk mengungkapkan bahwa ia menghormati Islam dan menawarkan prospek dialog dengan iran. Adanya jeda dari eksternal untuk membentuk kembali ‘Timur Tengah’ adalah pengakuan implisit bahwa mimpi-mimpi tahun 1990-an ataupun aktivitas militer telah mengasilkan kedamaian dan kesejahteraan di Timur Tengah pada dekade ini. Sementara itu, kekuatan lokal di Timur Tengah mencoba untuk membentuk kembali wilayah mereka sendiri.

Timur Tengah seperti apa yang sebenarnya berusaha diciptakan oleh orang-orang di Timur Tengah? Antara pemain satu dengan pemain lainnya menghendaki hal yang berlainan. Jika Israel dibiarkan untuk memulai, maka mentalitas fortress-nya akan tersingkap. Sebuah bangsa yang bersembunyi di balik dinding jahat, yang selama ini mengaku berlindung dari tetangganya…akan mengandalkan supremasi militer. Namun, Israel tidak akan menemukan tempat yang aman di era ini, dengan adanya proliferasi rudal di Suriah, Lebanon Selatan, Gaza, bahkan di Iran. Pencegahan permanen mungkin relevan jika digunakan teradap negara-negara yang bermusuhan, namun tidak demikian halnya dengan kelompok perlawanan yang telah menyempurnakan taktik perang asimetris seperti yang terlihat pad tahun 2006 oleh Hizbullah Lebanon, maupun perang di Gaza terbaru (Desember 2008-Januari 2009). Adanya ancaman dari kelompok perlawanan Palestina dan Lebanon, ditambah dengan program nuklir Iran, mungkin masyarakat internasional akan memahami dilema Israel. Dengan begitu, definisi Timur Tengah yang sekarang adalah wilayah yang ‘menganggu Israel’.

Beralih ke Iran. Berkat kesalahan AS dalam menafsirkan Iran, dalam dekade terakhir ini, Iran dengan cekatan telah memperkuat pengaruhnya di kawasan, memperdalam aliansinya dengan Suriah, meningkatkan dukungan untuk aktor non-negara seperti Hizbullah dan Hamas, dan tentu saja secara bertahap akan membangun pengaruhnya atas faksi-faksi Irak. Dengan semua ‘aset’ ini, maka marjinaliasasi Iran di Timur Tengah adalah sebuah lelucon. Siapa yang berani mempertanyakan eksistensi Iran sebagai bagian dari kawasan Timur Tengah? Sapa yang berani menolak peran yang dimainkannya? Siapa yang berpikir bahwa perdamaian sipil di Irak dan Afghanistan akan terwujud tanpa adanya kontribusi Iran? Iran ingin memainkan gerakan Islamis di seluruh wilayah, dan hal ini hanya sebanding dengan peran Moskow yang memainkan partai-partai komunis di masa kejayaan Revolusi Bolshevik. Hanya saja, Iran memainkan peran melebihi kemampuan tangannya, sebagaimana keangkuhan Yunani di masa lalu. Di satu sisi mungkin Iran memang unggul, tetapi Iran mengabaikan keterbatasannya, dan akhirnya menjadi korban ambisinya sendiri. Para pemimpin Iran tidak bisa bergantung pada sikap pasif masyarakat sipil, dan mereka juga tidak bisa mengabaikan keretakan sekterian yang telah diciptakan. Itulah sebabnya, mengkonsolidasikan hubungan dengan Barat adalah kesempatan bagi Iran untuk mendapatkan hasil yang lebih besar, dibandingkan menghamburkan material untuk memmenuhi ambisinya yang tak pernah terpuaskan: mencari pengaruh yang lebih luas.

Dulu, sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu, Turki di bawah kepemimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Turki telah ‘membersihkan diri’ dari kebijakan politiknya menggunakan senjata berat. Berpikiran lebih terbuka untuk mengatasi masalah dengan etnis Kursi, melakukan rekonsiliasi yang menyangkut identitas tradisional dan sejarah budaya, dan mengembangkan kebijakan ‘neo-Ottomanist’ di kawasan. Turki bermaksud memiliki pengaruh ke wilayah yang dulunya merupakan provinsi Kekhalifahan Ottoman, dari Sandjak di zaman Serbia modern menuju Barat, ke Irak, dan mungkin meluas ke Basra di selatan. Selain itu, Turki melakukan rekonsiliasi dengan Armenia, dan yang lebih penting, pemulihan hubungan multifaset dengan Rusia.

Tidak semua pihak merasa senang ketika Turki menyebut dirinya sebagai kekuatan regional di Timur Tengah. Israel khawatir tentang masa depan Perjanjian Keamanan 1996 dengan Turki. AS nampaknya cukup tertarik, dan menurut penulis, AS tidak mengecam ide ini asalkan Turki tetap menjadi anggota NATO yang setia. Satu-satunya pemain yang tidak berhak mengeluh adalah Eropa. Dengan menutup aksesi Turki ke Uni Eropa, maka sejumlah pemimpin Eropa tanpa sengaja telah membantu Turki menemukan jati dirinya.

Setelah kita berbicara tentang Israel, Iran dan Turki, lalu bagaimana dengan orang-orang Arab? Jawaban termudah adalah mengilustrasikan mereka sebagai saksi pasif, yang akhirnya menjadi korban virtual regionaliasasi. Seruan untuk solidaritas Arab adalah hal yang sangat kosong, dan berbicara tentang persatuan Arab adalah arkeologi (hal yang lapuk-pen). Pemerintah Arab melakukan penyesuaian yang egoistically dalam politik regional. Maroko dan Tunisia berada dalam suasana isolationist mood. Libya dan Sudan berfantasi melarikan diri dari Timur Tengah dan menasbihkan diri sebagai Afrika. Di daerah lain, seperti Semenanjung Arab atau di tepi Sungai Nil, berada dalam dilema yang tidak menemukan momen untuk menyusun strategi regional yang konsisten. Irak dan Yaman berada menghadapi masalah dalam negeri yang serius, yang akan tetap menyibukkan mereka di tahun-tahun mendatang. Ironisnya, Suriah, yang di masa lalu memantapkan diri sebagai ‘beating heart of Arabism’ kini telah mengambil sikap sebagai ‘pembantu’ dalam membentuk kembali Timur Tengah yang baru, dan membiarkan Turki dan Iran memainkan peran utama. Mungkin hal ini disebut sebagai strategi jangka panjang atau oportunisme negara, sedangkan penulis sendiri menduga hal ini adalah perpaduan dari keduanya. Lebanon, tentu saja, adalah contoh dari campuran kegemilangan kewirausahaan abad 21 dengan konflik sekterian di abad ke-19.

Yang benar tentang politik Arab adalah kombinasi dari tiga faktor:

  1. Akut dan kekanak-kanakan dalam masalah kedaulatan negara.
  2. Pengangkangan kekuasaan dan sumber daya oleh penguasa, baik negara yang berbentuk monarki ataupun republik.
  3. Persaingan yang ketat di antara dinasti dan pemerintah.

Tiga ciri di atas adalah kelemahan negara-negara Arab. Dan dampaknya, mereka tidak memiliki imbas apapun dalam ranah politik regional. Liga Arab adalah cermin dari impotensi negara-negara Arab.

Kesimpulannya: Pertama, tidak ada pihak yang akan berhasil membangun Timur Tengah baru jika tidak memiliki konsep Timur Tengah yang lama. Kedua, dalam rangka membentuk kembali Timur Tengah yang baru, harusnya dilakukan bukan dengan memerangi atau mengusir penduduknya dari wilayah yang telah mereka tempati. Meskipun dangkal, tetapi dua aturan ini telah diabaikan oleh Barat di masa lalu, yang membuka jalan bagi kekuatan non-Barat untuk mendapatkan pijakan di wilayah tersebut…dan yang lebih penting, telah memberikan peluang bagi pemain regional di Timur Tengah untuk membentuk kembali Timur Tengah baru sesuai dengan ambisinya masing-masing.

—–

[1] Former Lebanese Minister of Culture

Notes:
This paper was originally submitted and delivered as a speech at the ‘Oil and Money’ Conference held in London, UK, on 21 October 2009. It has been modified very slightly from its original form as an address and references have been added. The author is Professor of International Relations at the Institut d’études politiques, Paris (1988–); senior adviser to The United Nations Secretary General (June 2003–); a board member of the International Crisis Group (ICG) (2004–); and a member of the Bibliotheca Alexandrina (2005–); The Arab Anti Corruption Organization (2005); The Bassel Fuleyhan Foundation (2006); The High Level Experts Group for the Community of Democracies (2006–); and Le Haut Conseil de la Francophonie (2003–) [Editor].

References
Aikman, D., 1991. Perplexitas Arabica. The National Interest, 25, 35.
Peres, S., 1993. The new Middle East: For the future of Israel. New York: Norton. Pryce-Jones, D., 1991. The closed circle: The interpretation of the Arabs. Dearborn, MI: Harper.