Membaca Terorisme

bomb parisOleh: Muhammad Dudi Hari Saputra*

Pada hari Jumat malam, 13 November 2015, Paris berduka. Sedikitnya 127 orang tewas dalam serangan bersenjata dan bom yang terjadi di kota itu. Serangan yang paling fatal terjadi di sebuah konser musik setelah sejumlah orang bersenjata menembak kerumunan. Korban lainnya tewas dalam sejumlah ledakan dekat Stade de France dan penembakan di restoran di pusat kota. ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Presiden Hollande juga telah menyebut ISIS sebagai “kelompok yang melakukan perang terhadap Perancis.”

Dunia sontak menyatakan berkabung atas tragedi Paris dan menyatakan penolakan terhadap terorisme. Diskusi tentang terorisme pun kembali mengemuka. Berbagai analisis telah dikemukan dalam hal ini.

Dalam buku panduan yang diterbitkan United States Institute of Peace, yang berjudul “Teaching Guide on International Terrorism”, disebutkan empat definisi terorisme, yaitu:

“The calculated use of violence or the threat of violence to inculcate fear; intended to coerce or to intimidate governments or societies in the pursuit of goals that are generally political, religious, or ideological.” (U.S. Department of Defense)

“Terrorism constitutes the illegitimate use of force to achieve a political objective when innocent people are targeted.” (Walter Laqueur)

“Terrorism is defined here as the recurrent use or threatened use of politically motivated and clandestinely organised violence, by a group whose aim is to influence a psychological target in order to make it behave in a way which the group desires.” (C. J. M. Drake)

“The unlawful use of force or violence against persons or property to intimidate or coerce a government, the civilian population, or any segment thereof, in furtherance of political or social objectives.” (FBI)

Pada intinya, terorisme adalah penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan politik dan ideologis. Berbeda dengan pembunuhan biasa, pelaku teror tidak membunuh korban dengan tujuan personal (karena kebencian atau dendam pribadi, misalnya) melainkan untuk memunculkan ketakutan di tengah masyarakat di mana kejadian teror itu berlangsung, demi tercapainya tujuan politik atau ideologis kelompok teror tersebut.

Bom Paris telah dinyatakan sebagai aksi teror yang dilakukan oleh ISIS. Karena itu, dalam menganalisisnya, kita perlu kembali merunut konflik Suriah, karena ISIS ‘lahir’ di tengah konflik negara tersebut.

Perkembangan “Jihad” di Suriah

Pemberontakan di Suriah pada awalnya dianalisis sebagai bagian dari Arab Spring yang membawa gelombang demokratisasi di negara-negara Arab yang terlalu lama hidup di bawah rezim yang otoriter dan tidak demokratis. Meskipun awalnya terlihat ditutup-tutupi oleh media mainstream, banyak di antara pemberontak Suriah yang ‘berjuang’ dengan membawa bendera Al Qaida dan melakukan aksi-aksi teror khas Al Qaida. Akhirnya, deklarasi dari Jabhah Al Nusrah dan beberapa kelompok jihad untuk mendirikan khilafah (20 November 2012) menunjukkan jati diri pemberontak Suriah, yang ternyata perpanjangan tangan Al Qaida. Sebulan setelah deklarasi itu, AS menyatakan bahwa JN adalah organisasi teroris yang merupakan cabang Al Qaida Irak (Sulaeman, 2013).

Jones (2013) telah memprediksikan bahwa ada tiga perkembangan di Suriah yang memiliki implikasi jangka panjang. Pertama, Suriah berkontribusi pada peningkatan ekstrimisme para alumni jihad Afghanistan pada tahun 1980-an. Seruan-seruan jihadis Afghanistan saat melawan Soviet, kini bergema kembali di Suriah. Pada Juni 2013, sebagian ulama di Mesir bahwa mengeluarkan fatwa kewajiban kaum Muslim untuk mendukung jihad di Suriah. Kedua, bangkitnya ekstrimisme ini membuat perdamaian dan stabilitas di Suriah sulit untuk diraih kembali, setidaknya dalam beberapa tahun mendatang. Jikapun Assad tumbang, aktor-aktor sub-state yang mendapatkan bantuan keuangan dan senjata dari pihak-pihak asing akan saling berkompetisi untuk menguasai Suriah. Ketiga, sebagian dari ekstrimis itu akan memperluas zona perangnya di Timur Tengah, Afrika Utara, dan bahkan Barat.

Prediksi Jones telah menjadi kenyataan secara mengerikan. Pada 2014, ISIS terbentuk dan melakukan aksi-aksi teror yang jauh lebih sadis dan brutal dibanding Al Qaida. ISIS merupakan sempalan dari Al Qaida yang menolak patuh pada pimpinan Al Qaida Irak, Zarqawi. Mereka merekrut jihadis dan simpatisan dari berbagai negara di dunia, termasuk negeri-negeri Barat. Bahkan kini gerakan terrorisme itu sudah masuk ke Eropa sedemikian rupa dan merenggut nyawa warga Eropa.

Relawan asing terbesar ISIS berasal dari Perancis yang terdoktrin Islam radikal atau –menurut klaim sebagian pihak—pengungsi dari Timur Tengah yang mendapatkan suaka di Perancis dan kemudian menyebarkan paham radikalnya di negeri Napoleon itu. Bahkan otoritas Perancis pun sebenarnya memiliki andil kesalahan dengan membiarkan oknum-oknum radikal itu bergabung dengan ISIS dan pergi berjihad ke Suriah, karena Perancis memang berkepentingan dengan penggulingan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad. Namun, hingga kini, Assad tidak jatuh dan kerjasamanya dengan Rusia, Iran, dan Hizbullah justru berbalik menyudutkan gerakan ISIS. Para relawan itu kemudian memilih pulang kembali ke Eropa dan menyebarkan sel jaringan teroris di benua tersebut.

Analisis Teror Paris

Bila kita merujuk pada “Teaching Guide on International Terrorism”, ada beberapa faktor yang mendorong suatu kelompok melakukan aksi teror, yaitu psikologis, ideologis, dan strategis. Faktor psikologis adalah ketika seseorang atau kelompok melakukan aksi teror semata-mata karena sebab personal berdasarkan kondisi psikologis mereka. Motivasi mereka tidak lebih dari kebencian atau keinginan untuk berkuasa. Faktor ideologis adalah ketika aksi teror didasarkan oleh keyakinan, nilai, atau tujuan suatu kelompok. Idelogi ini bisa berupa agama atau filosofi. Sementara faktor politik adalah ketika aksi teror dimaksudkan sebagai upaya perlawanan politis atau upaya mencari perhatian pemerintah agar tuntutan-tuntutan mereka dipenuhi.

Bom Paris 13/11/2015 tentu bisa dipastikan terkait dengan ideologi ISIS yang ingin mendirikan negara Islam berbasis teologi Wahabisme yang menghalalkan darah orang-orang di luar kelompok mereka. Namun, penulis ingin mengeksplorasinya lebih jauh dengan menggunakan perspektif ekonomi-politik.

Dalam pandangan akademik geopolitik dan Ekonomi-Politik, kita melihat bahwa kejadian ledakan bom dan aksi teror yang terjadi akhir-akhir ini, baik di negara-negara Timur Tengah, Afrika, maupun Perancis dan Belgia, dilakukan oleh kelompok-kelompok yang berideologi sama, meskipun namanya berbeda-beda, bisa ISIS, Jabhat Al-Nusra, Ahrar al Shams, atau Boko Haram. Bila kita merunut lagi aliran dana kelompok-kelompok radikal ini, kita akan mendapati bahwa kelompok-kelompok itu selalu lahir dari kepentingan proxy war negara-negara Barat (AS, NATO, Israel) berasaskan kebijakan intervensionis dan gun-boat diplomacy (diplomasi kekerasan), baik itu untuk membendung pengaruh negara besar lain, maupun untuk mengganti rezim berkuasa yang tidak sesuai dengan kepentingan mereka.

Misalnya, kita tahu bahwa Al-Qaeda dan Osama bin Laden besar di Afghanistan berkat peranan AS pada era 80-an (dan hal ini sudah diakui mantan Menlu AS Hillary Clinton dan beberapa mantan pejabat AS lainnya). AS secara masif mendanai dan mensuplai senjata-senjata canggih kepada Al Qaida dan Taliban dengan tujuan menghalau dan mengalahkan dominasi Uni Sovyet di Asia Selatan dan Tengah saat itu. Begitu pula ISIS, lahir dari proses yang sama, dan besar berkat bantuan secara tidak langsung dari negara-negara intervensionis ini.

Tujuannya pun bisa kita baca, yaitu untuk menjatuhkan rezim Bashar Al-Assad yang selama ini selalu menolak dana dari IMF, WB, dsb. Apalagi, fakta menunjukkan bahwa upaya penggulingan Assad dimulai tak lama setelah Suriah menandatangani perjanjian dengan Irak dan Iran untuk membangun pipa gas dari kedua negara itu, melewati Suriah (Mediterrania), dan terus ke pasar Eropa. Pendukung jalur ini adalah Rusia dan China. Jalur ini mengancam jalur pipa gas Nabucco–yang didukung Barat—yang menyalurkan gas dari Timur Tengah dan Laut Kaspia, melewati Turki, hingga ke pasar Eropa (Sulaeman, 2013).

Selain itu, faktor Israel juga tidak bisa dilupakan. Rezim Assad tidak pernah mau berdamai dengan Israel, bahkan memberikan dukungan dan perlindungan kepada musuh bebuyutan Israel, Hamas; serta bersahabat baik dengan Iran (berserta subordinatnya, Hezbollah). Faktor Rusia juga penting karena AS berkepentingan menghalau pengaruh Rusia yang memiliki pelabuhan kapal dan lapangan udara militer di Tartus dan Latakia.

Tipikal pola gerakan ini sebenarnya juga menimpa Libya, dimana organisasi teroris digunakan oleh negara-negara Barat ini untuk menjatuhkan rezim Qaddafi yang mereka anggap tidak sejalan lagi dengan agenda mereka.

Mungkin, timbul pertanyaan: mengapa Perancis?

Dalam statemennya, Presiden Perancis Francoise Hollande menyebut bahwa Perancis tengah diperangi oleh ISIS. Ini tentu pernyataan yang ahistroris dan hipokrit mengingat ISIS justru tumbuh besar berkat kebijakan intervensionis dan pendanaan besar dari Perancis (bersama Inggris, AS, dan negara-negara Teluk). Karena itu muncul pertanyaan, mengapa ISIS justru menyerang ‘induk’-nya sendiri?

Kelompok ISIS mengklaim bahwa serangan mereka adalah balasan atas keikutsertaan Perancis dalam pasukan koalisi AS untuk menumpas mereka. Padahal faktanya, serangan koalisi AS bak macan ompong, sekedar membatasi atau mengontrol (containtment), dan pencitraan. Itulah sebabnya, meski serangan koalisi sudah terjadi semenjak setahun lalu tidak ada dampak kehancuran apa-apa bagi ISIS. Bahkan wilayah kekuasaan mereka bertambah luas ke Idlib, Aleppo, Palmyra, bahkan Mosul di Irak.

Atas dasar ini, ada dua analisis yang bisa dikemukakan, yaitu false flag dan pre-text. False flag adalah upaya melakukan perang tipuan, yang tujuannya untuk mendesak PBB agar menyetujui kebijakan no-fly zone di Suriah atau bahkan menyerang langsung negara itu dengan menggunakan pasukan NATO. Kemungkinan kedua adalah bom Paris menjadi agenda pre-text atau dalil bagi kebijakan anti-asing yang ingin diberlakukan oleh Hollande.

Skenario pertama (false flag) hingga artikel ini ditulis (Januari 2016), masih belum terbukti. Mungkin karena Suriah memang bukan Libya yang dengan mudah diserbu oleh NATO. Di Libya, tidak ada aktor besar lain yang mengawal Qaddafi, sementara di Suriah ada kekuatan multi-polar lain yang menjaga Assad, yaitu Rusia, Iran, bahkan China yang sudah menempatkan kapal perangnya sejak Juni 2015 di laut Mediterania. Sementara dugaan kedua (pre-text) telah terbukti dengan ditutupnya setiap perbatasan sehingga imigran asing tidak bisa masuk lagi. Dengan memanfaatkan ketakutan yang amat besar dari warga Perancis atas aksi teror, Hollande telah melakukan agenda kelompok kanan yang menolak imigran asing dan menyudutkan kelompok kiri yang membuka peluang imigran asing untuk masuk. []

Referensi:

Jones, Seth G. 2013. Syria’s Growing Jihad, Survival: Global Politics and Strategy, 55:4, 53-72.

Sulaeman, Dina Y. 2013. Prahara Suriah. Jakarta: IIMaN

Teaching Guide on International Terrorism (United States Institute of Peace), http://www.usip.org/sites/default/files/terrorism.pdf

 

*Alumnus Pascasarjana Ilmu Politik UGM