[Jurnal] Karakteristik dan Kontradiksi Masyarakat Arab

Tulisan ini merupakan intisari dari jurnal yang dimuat dalam Asian Affair yang berjudul ARAB SOCIETY: CHARACTERISTICS AND CONTRADICTIONS, Asian Affairs, 38:1, 1-11, DOI: 10.1080/03068370601108517. Dipublikasikan secara online pada 19 Februari 2007 di tautan ini: http://dx.doi.org/10.1080/03068370601108517. Perspektif, analisis, dan kesimpulan yang dilakukan penulis jurnal tidak mencerminkan sikap ICMES. Pemuatan artikel ini bertujuan untuk mempelajari model-model analisis yang dilakukan para ilmuwan dari berbagai latar belakang, dengan tujuan akademis. Selanjutnya, ICMES akan membuat tulisan [Commentary] yang berisi tanggapan ilmiah atas artikel jurnal ini.masjid umayyah

Karakteristik dan Kontradiksi Masyarakat Arab

Sir James Craig [1]

Pendahuluan

Saya bukan seorang sarjana atau seorang pemikir inventif. Jadi karakteristik dan kontradiksi yang saya susun sebagai bahan pertimbangan Anda adalah hasil pengamatan selama bertahun-tahun di Arab. Jadi, ulasan ini mungkin lebih mirip anekdot dibanding sebuah karya ilmiah. Bahkan lebih buruk dari itu, setelah menyusun draft ini, saya kecewa ketika menemukan beberapa karakteristik Arab yang saya sebutkan telah pernah diulas sebelumnya.

Selama beberapa abad terakhir, pemerintah Inggris telah memiliki akses untuk melakukan pembelajaran di Timur Tengah, baik akademis maupun praktek. Namun di saat yang sama, kita juga telah melakukan hal yang paling mengerikan, yaitu Deklarasi Balfour, Suez dan invasi Irak saat ini. Masih ada lagi kekejaman lainnya. Inilah kontradiksi. Antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Antara musyawarah dan keputusan, yang, terlihat mencolok.

Contoh di abad modern, kontradiksi bisa digambarkan melalui sikap dan tindakakan kelompok Hamas dan Hizbullah hari ini. Bukankah nenek moyang kita kejam sekaligus manusiawi di saat yang bersamaan? Apakah kita tidak tertarik untuk berdecak kagum sekaligus mengutuk?

Pembahasan

Nasionalisme Arab
Kontradiksi pokok yang ingin saya sampaikan tidak berlaku untuk satu kelompok tertentu melainkan untuk seluruh nasionalisme Arab. Yang saya maksud dengan nasionalisme Arab adalah gagasan untuk menyatukan semua masyarakat Arab menjadi satu, bahkan jika bisa, bersatu dalam satu negara. Seperti itulah doktrin yang menjadi pilar buku Nasser, ‘The Philosophy of the Revolution’ dan juga stasiun radio, ‘The Voice of the Arab’. ‘Wahda’ yang berarti ‘satu’ menjadi slogan pertama dari Partai Ba’ath. Namun ide telah memudar. Nasser telah didiskreditkan, dan Partai Baath diam-diam menyingkirkan ‘wahda’. Sementara itu, Liga Arab adalah macan ompong, memiliki maksud baik tetapi tidak efektif. Secara umum, mimpi untuk hal itu mungkin masih ada, tetapi diakui bahwa itu adalah mimpi yang mustahil.

Ada beberapa alasan. Pertama, kebangkitan Islam militan. Islam adalah pemecah belah sekaligus pemersatu. Tidak semua orang Arab adalah Muslim. Tidak semua Muslim merupakan orang Arab. Tujuan dari Arab Bersatu akan menyingkirkan orang Arab minioritas dan orang-orang non-Arab. Munculnya Syiah, baik secara politik maupun ekonomi juga menghidupkan kembali perpecahan.

Kedua, masing-masing negara, dengan caranya masing-masing telah menggembangkan patriotisme ataupun kesetiaan lokal mereka sendiri. Salah satu contohnya adalah Lebanon. Ketika Lebanon dibentuk pada tahun 1920, banyak warganya, terutama dari kelompok Sunni khususnya yang bermukim di wilayah utara, tidak ingin terpisah dari Suriah. Tapi selama beberapa tahun mereka mulai melihat keuntungan menjadi warga negara Lebanon baik dari tradisi, identitas, dan kepentingan lainnya. Contoh lain adalah kegagalan dari sekian banyak upaya membentuk negara serikat atau federasi, seperti Mesir dan Suriah; Jordan dan Irak; Suriah dan Irak; Mesir, Libya dan Sudan. Semua runtuh dalam waktu yang singkat. Bahkan kata kunci seperti ‘watan’ atau ‘tanah air’ telah menjadi ambigu.

Pada tahun 1960, ada seorang pria asal Lebanon kaya raya setelah berbisnis di Afrika Barat. Ia juga dikenal sebagai sosok yang murah hati dan kerap melakukan kegiatan amal. Sehingga ketika kapalnya berlabuh di pelabuhan Beirut, media pun mewawancarinya.

Ia ditanya, “Sekarang Anda sudah kembali ke tanah air. Apa yang ingin Anda lakukan?”
Si pria kaya menjawab, “Hal yang ingin saya lakukan adalah ingin kembali ke tanah air saya.”
“Bukankan sekarang Anda sudah ada di tanah kelahiran?”
“Tidak. Saya sudah lepas dari Merjayoun,” jelas si pria kaya. Merjayoun adalah sebuah desa kecil di pegunungan selatan, Lebanon, tempat ia dilahirkan.

Beberapa tahun kemudian saya sedang berjalan-jalan di Alexandra dengan bankir asal Mesir. Ia mengeluh karena Alexandria telah lama dimanjakan dengan investasi dari orang-orang Arab.

“Tapi bukankah Anda sendiri orang Arab,” ujar saya.
“Tidak benar. Orang-orang Arab adalah mereka orang kaya baru yang kasar, mereka berasal dari Teluk.“

Saya juga ingat, ada beberapa orang Kristen Lebanon yang menolak mengaku sebagai Arab melainkan mengaku sebagai Fenisia. Orang-orang mungkin akan menyimpulkan dari kisah-kisah tersebut bahwa nasionalisme Arab sudah mati.

Ketika saya tinggal di Suriah ada tiga jenis antrian untuk meja imigrasi di Bandara Damaskus, yaitu untuk Suriah, orang asing, orang-orang Arab. Memang benar bahwa di bandara Arab Saudi hanya ada dua kategori: untuk Arab Saudi dan asing. Namun label asing (ajnabi) sepertinya dilekatkan pada warga negara Arab lainnya dengan penuh keraguan. Jadi, persatuan Arab terlihat seolah-olah telah mati, namun di saat yang sama terlihat masih hidup.

Permusuhan Terhadap Barat
Mungkin karakteristik yang paling mencolok dari masyarakat Arab pada saat ini adalah
permusuhannya pada dunia Barat. Contoh yang paling jelas adalah bagaimana Arab memusuhi Amerika Serikat. Tingkat permusuhan ini bervariasi dari satu tempat dan tempat lainnya, terasa kuat di Suriah, Irak, Aljazair, Palestina, Lebanon, Mesir, Arab Saudi, Maroko, dan Teluk.

Alasannya bervariasi, beberapa rezim Arab telah beradaptasi sendiri dengan sistem Barat karena ada timbal balik yang didapat kedua belah pihak. Misalnya perdagangan, bantuan keuangan, bahkan kerjasama militer untuk melawan musuh domestik dan eksternal. Namun rezim lainnya dengan yang memegang ideologi nasionalis atau Islam yang kuat lebih enggan untuk berkompromi dengan Barat. Tetapi perbedaan yang saya jelaskan hanya berlaku untuk rezim. Karena ketika kami mengamati masyarakat Arab di lapangan, hampir seluruhnya menunjukkan permusuhan terhadap Barat.

Pemerintah Arab bersikap pragmatis dan keras kepala. Mereka perlu mempertimbangkan hal-hal pokok seperti neraca pembayaran, keamanan, kesiapan militer, impor makanan, ekspor, teknologi baru, pendidikan lanjutan, dan juga kemungkinan adanya sanksi. Bagi mereka sentimen yang terlalu kuat terhadap ideologi akan sangat berbahaya. Mereka mengakui perlunya sebuah kompromi. Sedangkan bagi masyarakat/ penduduk Arab, kompromi nyaris tidak mendapat tempat. Menurut mereka, alasan-alasan kompromi tersebut adalah bentuk dari sikap pengecut. “Kami memiiliki musuh dan kami akan menentangnya. Kami memiliki alasan akan berjuang untuk itu.”

Itulah sebabnya Bush dan Blair keliru ketika mereka berpikir bahwa jika Timur Tengah dapat dikonversi ke dalam sistem demokrasi, perdamaian akan tercapai. Ibarat singa bisa berbaring dengan domba. Arab liberal mengetahui bahwa ekspektasi ini salah. Meskipun mereka menginginkan reformasi, mereka menginginkan reformasi dengancara mereka sendiri. Kemenangan Hamas dalam pemilu Gaza telah membuktikan bahwa mereka benar.

Apa alasan Arab memusuhi Barat? Daftarnya panjang. Para analis Barat menyebutkan karena Perang Salib. Khotbah Jumat juga kadang menyinggung hal itu. Namun di atas semua itu, sebenarnya nasib Palestina yang menjadi persolan Bangsa Arab. Tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah sampai bahwa masalah utama adalah dipecahkan.

Berikutnya adalah penghinaan yang dirasakan oleh Bangsa Arab atas cara Barat memandang mereka. Churchill pernah mengancam akan mengusir mereka ke dalam selokan, karena mereka seharusnya tidak pernah muncul. Lord Cromer mengatakan bahwa seorang nasionalis Mesir tak ada bedanya dengan invertebrata (hewan tak bertulang belakang). Pandangan seperti itu sudah berubah di Inggris, tetapi masih ada kelompok yang memandang rendah Bangsa Arab di dalam hirarki masyarakat. Di Amerika bahkan lebih buruk lagi.

Alasan lain yang jelas untuk tetap merawat permusuhan terhadap Barat adalah memori kolonialisme. Kebencian kepada kekuasaan asing tidak terbatas pada orang-orang Arab dan, tidak seperti Perang Salib, kenangan itu baru saja terjadi dan susah untuk untuk dilupakan. Hal ini meskipun terdengar menjengkelkan, beberapa orang Arab menyerang Barat karena kolonialisme, karena melakukan intervensi di dalam urusan dunia Arab. Namun pada saat yang sama mereka menyalahkan Barat ketika tidak melakukan intervensi dalam hal-hal seperti: mengakui rezim sebagai pemerintah yang sah, padahal mereka menganggap rezim mereka tak ubahnya penguasa di abad pertengahan yang ketinggalan zaman. Mereka juga menyalahkan Barat karena membuat batas-batas antar negara, padahal di saat yang sama penduduk bisa mendapatkan minyak yang berlimpah, dan hal itu tidak mungkin bisa mereka peroleh tanpa batas-batas itu. Inilah bentuk kontradiksi.

Kekacauan mengerikan di Irak hari ini adalah hasil dari upaya Barat untuk menyingkirkan salah satu rezim yang telah ketinggalan zaman. Tidak diragukan lagi bahwa banyak orang Arab menyambut gembira penggulingan Saddam, meskipun mereka gelisah karena hal ini dilakukan oleh pihak luar dengan tuduhan yang dibuat-buat. Tapi cara menangani tragedi itu telah menghasilkan kontradiksi lebih lanjut. Opini masyarakat Arab dan Barat telah menyatu bahwa mereka bersama-sama mereka memerangi Al-Qaeda dan Baath sekuler. Namun di saat yang sama mereka juga tetap memegang identitasnya sebagai Sunni dan Syiah. Hal ini membuat Irak semakin berdarah.Yang membuat lebih bingung dan paradoks, sikap Inggris dan Amerika pada serangan di Lebanon telah melahirkan sekelompok orang-orang yang pro-Barat

Beralih ke bidang sosial dan seni budaya. Ketika saya memberikan mata kuliah saya berkata, “Setiap masyarakat Arab ketika ia melihat sekelilingnya melihat bahwa semua penunjang hidupnya berasal dari Barat, seperti kereta api, motor, mobil, televisi, pesawat terbang, penisilin, coca-cola, mesin cetak, X-ray, dan makanan kaleng. Bukan hanya hal-hal yang sifatnya fisik, ada juga yang berupa ide seperti sosialisme, Darwinisme,
antisepsis, pemilu, produksi massal, iklan, bahkan nasionalisme.”

Kondisi ini kontras jika dibandingkan dengan situasi pada kekhalifahan Abbasiyah. Pada saat itu, Arab lebih maju dibanding Eropa di segala bidang. Sehingga kondisi saat ini menunjukkan karakteristik Bangsa Arab yang kurang memiliki kepercayaan diri.

Kami di Inggris, memang telah kehilangan wilayah kerajaan, keunggulan di bidang industri, pengaruh politik, dan juga kepercayaan diri pada batas tertentu. Namun kami memiliki karakter yang berbeda jika dibandingkan dengan Bangsa Arab. Kami di Inggris menerima kemunduran ini sebagai sebuah keberuntungan. Bagi kami, kemunduran ini hanya bagian sebuah fase. Kami adalah kami, bukan nenek moyang kami. Kami menemukan pelipur lara, kenyamanan, dan kemakmuran ketika kami turut berkontribusi dengan kecerdasan yang kami miliki.

Sementara orang-orang Arab, mereka menyalahkan kemunduran mereka atas ketidak-adilan global, faktor-faktor eksternal seperti imperialisme dan konspirasi. Mereka mencari kenyamanan dengan fasilitas yang berasal dari luar. Ada yang sedikit menyalahkan faktor internal seperti pendidikan yang buruk dan tidak adanya kebebasan berbicara. Mereka bersedia menerima perubahan. Tetapi mereka cenderung mengklaim bahwa mereka adalah korban. Mungkin sulit untuk membantah klaim itu. Namun di sini juga ada kontradiksi dan paradoks. Para pemuda Arab Saudi menangis menentang pemerintah yang membiarkan Amerika Serikat mendirikan pangkalan militer di negaranya namun disaat yang sama mereka berduyun-duyun ke Mc Donald dan Kentuky Fried Chicken di Mekkah.

Osama Bin Laden dan Zarqawi mengutuk materialisme Barat namun kemudian membeli Kalashnikov dan roket dari pedagang senjata Eropa. Para imam berkhotbah melawan imoralitas dan imperialisme Amerika dan kemudian terbang ke Chicago untuk memeriksakan kesehatan jantung mereka. Apakah seorang ayah yang akan menolak penisilin untuk anaknya yang sakit karena penisilin merupakan inovasi Barat? Salah satu aliran pemikiran mengatakan bahwa kita harus mempelajari, mengikuti, mencontoh sedapat mungkin peradaban Barat. Namun pemikiran lain mengatakan bahwa kita salah karena telah meninggalkan cara-cara lama dan karenanya kita harus kembali kepada cara-cara yang diajarkan Islam. Reaksi Muslim terhadap Barat yang sifatnya konservatif adalah mereka ingin kembali ke masa lalu, non-asing, radikal, dan melawan Barat. Ada juga yang berkata bahwa mereka bisa mengejar ketinggalan, tetapi harus tetap menjadi diri sendiri. Perdebatan seperti ini terus terjadi.

Apa yang harus kita lakukan terhadap sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh masyarakat Arab ini? Saat ini bukan waktunya saya untuk menjawab. Tapi intinya, kita tidak boleh memaksakan solusi.

Bahasa
Karakteristik Arab lainnya adalah kecintaannya pada kata-kata. Semua bahasa memang memiliki perbedaan, satu dengan lainnya. Bahasa Arab lebih berbeda lagi, tidak hanya dalam tata bahasa, kosakata maupun fonetik, tetapi ada yang lebih mendasar, dan mengandung unsur spiritual.

Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an, sehingga bahasa ini disebut Bahasa Allah. Bahasanya tidak dapat diterjemahkan, hanya dapat difrasekan atau dijelaskan. Pandangan ini dapat diterima oleh banyak orang Arab, termasuk non-Muslim. Seorang intelektual Mesir terkemuka mengatakan kepada saya bertahun-tahun yang lalu. Ia adalah seorang Kristen Koptik dan menjadi kolumnis di salah satu surat kabar terkemuka Kairo, Al-Ahram. Ia mengatakan, “Saya adalah seorang Kristen, cenderung Marxis. Saya dididik di Sornonne dan Cambridge. Saya benar-benar akrab dengan budaya Inggris dan Perancis. Namun ketika saya membaca Al-Qur’an, saya mempercayai keajaiban bahasanya.“ Itu menunjukkan bahwa untuk orang Arab, bahkan non-Muslim, bagi mereka bahasa memiliki kualitas yang tinggi/ suci.

Pada tingkat sekuler atau tingkat politik, bahasa Arab adalah salah satu faktor, dan bisa jadi merupakan faktor utama, untuk menumbuhkan rasa persatuan antara Bangsa Arab. Tentu saja ada dialek yang berbeda-beda, tetapi masih bisa saling mengerti satu sama lain. Untuk membaca, menulis, berpidato, mereka menggunakan standar bahasa klasik. Kata-kata baru, idiom baru dan metafora telah diciptakan untuk kebutuhan komunikasi di era modern. Tetapi dasar tata bahasa mereka tetap sama sebagaimana yang tertulis di dalam Al-Qur’an. Ini berarti bahwa seorang seperi Ibnu Batttuta bisa melakukan perjalanan sejauh ribuan mil, dari Maroko menuju Kairo, bisa membaca surat kabar Mesir, bisa memahami khotbah di Al-Azhar maupun berkomunikasi dengan intelektual Mesir.

Bahasa Arab adalah bahasa murni yang memang patut dibanggakan. Bahasa Arab yang sistematis, seolah-olah diciptakan oleh komite ulama berbakat. Anda mudah memahami kata-kata, pola, maupun kata yang belum pernah Anda dengar sebelumnya. Bahasa Arab meminjam kata-kata asing, namun terdengar sesuai dengan Bahasa Arab itu sendiri, rapi dan enak didengar. Bagaimana mereka membentuk pola untuk menerjemahkan ide-ide baru seperti sosialisme, komunisme, atau penemuan baru seperti telepon dan pesawat. Karya sastra dalam Bahasa Arab jumlahnya melimpah, seperti puisi di era 1.400 tahun yang lalu, masih bisa dibaca dan dinikmati hari ini.

Baik agama maupun politik, baik sosial maupun budaya berbahasa, seluruhnya menjadi ikatan emosional bagi orang-orang Arab. Tapi ada yang lebih penting daripada itu, namun ini hanya tebakan semata. Mungkin karena di padang pasir, Bangsa Arab hanya memiliki hiburan yang terbatas, maka bahasa menjadi suatu kenikmatan tersendiri (tidak ada lukisan, tidak ada olahraga, tidak ada filateli). Bahasa bukan hanya menjadi sarana ekspresi diri tapi juga menjadi kenikmatan tersendiri. Bermain kata-kata, berpuisi, berpidato, menjadi pengganti dari bermain golf atau berkebun. Di kota Basra dan Kuffah di Irak selatan, penduduknya telah lama berperang satu sama lain, mereka tidak berperang dengan tombak dan pedang tapi berperang dengan teori-teori dan mantik.

Pada pembukaan Bandara Jeddah, saya menonton Raja disambut dengan enam atau tujuh pidato yang nyaring dan panjang. Ada puisi klasik dan harian. Permainan kata-kata menghasilkan frase yang nyaring dengan aliterasi. Sebagaimana khotbah pada abad ke-19 di Skotlandia, pidato dan puisi didengarkan bukan hanya dengan kesabaran tetapi juga dengan antusias. Pidato berlangsung terus menerus tetapi penonton sepertinya tidak lelah. Dalam mendengarkan pidato, maka orang Arab-lah juaranya. Tetapia ada paradoks di sini. Beberapa politisi menyadari hal ini dan memanfaatkannya. Pada tahun 1960, saya menjabat sebagai sekretaris di kedutaan Beirut. Duta Besar menugaskan saya untuk menghadiri rapat umum politik yang salah satu tamunya adalah Wakil Ketua DPR. Dia adalah seorang orator terkenal. Setelah pidatonya usai, saya menemuinya untuk mengucapkan selamat walau tidak ikhlas. Dan ia berkata, “Ah James, maafkan saya. Anda pastinya tagu bahwa saya harus melakukan ini.”

Beberapa tahun yang lalu saya hendak memberikan kuliah dengan mengangkat tema ‘What is an Arab?’. Karena saya khawatir ada kekeliruan, saya mengirim draf materi kuliah itu kepada teman saya, dari Arab Saudi, seorang politisi senior. Berikut ini tanggapannya, “Dampak yang paling rusak pada Bahasa Arab dalam politik adalah karena tiga hal: Menggunakan kata-kata untuk menyembunyikan kebenaran atau besarnya sebuah peristiwa yang sedang dijelaskan. Kedua, karena Bahasa Arab dapat digunakan sebagai slogan nikmat yang memuaskan, namun sebenarnya nyaris tidak memiliki arti. Ketiga, ketika kata-kata memiliki kesan yang lebih kuat dibanding tindakan, sehingga ketika Anda mengatakan sesuatu, Anda terlebih dahulu telah melakukannya.”

Individual
Salah satu komentar tentang masyarakat Arab adalah sangat mementingkan hubungan personal. Setiap pengusaha yang mencari peluang untuk memasuki pasar Timur Tengah diberitahu bahwa menghubungi kliennya secara langsung merupakan cara efektif untuk memuluskan usaha. Anda tidak hanya berurusan dengan calon ekspotir, agen atau pelanggan, tetapi juga berurusan dengan individu itu sendiri. Jangan langsung berbicara tentang bisnis padanya, melainkan tanyalah bagaimana kesehatannya, rumah barunya, kemajuan sekolah anak-anaknya. Bagi pria Arab, keluarga adalah di atas segalanya.

Seorang pangeran Arab Saudi pernah mengatakan kepada saya bahwa dia dan beberapa teman-temannya, semuanya dididik di Barat, memutuskan untuk mendirikan klub yang seperti yang mereka lihat di Inggris dan Amerika. Mereka tidak kekurangan uang, sehingga mereka bisa membeli rumah yang indah, yang telah dilengkapi dengan pegawai, ruang makan, meja, surat kabar dan fasilitas lainnya. Namun tidak ada yang benar-benar menggunakannya. Ketika jam kantor usai, semua orang pulang ke rumahnya masing-masing, dan tidak ada yang menghabiskan waktunya di klub tersebut atau keluyuran. Keluarga tetap nomor satu. Keluarga berada di atas kepentingan kota, negara, suku ataupun rekan-rekan kerja. Dia mengutipkan kepada saya pepatah Arab, “Aku dan saudaraku berkelahi melawan sepupu. Namun aku dan sepupuku bisa bersatu berperang melawan orang asing.”

Loyalitas ini merupakan sumber kohesi sosial dan stabilitas. Namun tentu saja ada kontradiksi. Persaingan antara saudara dan sepupu telah berkembang di Dinasti Arab. Keluarga kerajaan Arab Saudi sampai beberapa tahun yang lalu masih memiliki sejarah pertengkaran antar saudara, dan baru-baru ini, penerus penguasa Qatar menggulingkan ayahnya. Sebelumnya, sang Ayah menggulingkan saudaranya.

Dengan menekankan hubungan pribadi, terbukti memang cukup membantu. Saya tinggal hampir setahun lamanya dengan empat mahasiswa Arab di sebuah apartemen sederhana di Kairo. Mereka, sebagaimana generasi lainnya, keras dan lantang memusuhi imperialisme Inggris. Tapi mereka selalu mengecualikan saya dari kecaman mereka. “James, kami membedakan antara Anda dan pemerintah Anda. Anda adalah teman kami.”

Di sisi lain ada harga yang harus dibayar jika ingin menitik beratkan pada hubungan pribadi. Di Inggris, kami memiliki komunitas dan klub yang beragam, dan mudah untuk berhubungan dengan mereka. Namun tidak demikian halnya dengan di Timur Tengah. Misalnya di Jeddah, setiap klub membutuhkan izin resmi dan sponsor dari dari perintah Arab Saudi. Saya menemukan komunitas Choral Society, Amateur Dramatic Society, Wives’ Association, Windsurfing Club, Burns’ Night Supper di Inggris, dan mudah saja jika kita membutuhkan pertolongan mereka. Namun penduduk Arab Saudi tidak begitu. Mereka lebih cenderung mengurus keluarganya.

Saya harus mengatakan bahwa kecenderungan mereka terhadap kehidupan pribadi dan keluarganya, kadang-kadang dibarengi dengan ketidak-pedulian mereka terhadap individu lain atau kepedulian terhadap skala yang lebih luas. Negara-negara di Arab tidak memiliki catatan yang baik tentang hak asasi manusia. Saya ingat sebuah panti asuhan di Arab Saudi, sekolah untuk anak-anak buta di Lebanon, Rumah Sakit St John Eye di Yerusalem dan Gaza, semuanya dimulai atas prakarsa pihak asing. Di Inggris, jika seseorang mengalami ketidakadilan, jika orang yang tidak bersalah dihukum, jika seorang wanita tua meninggal dari kelalaian di rumah sakit, maka akan ada kampanye untuk membela hak-hak mereka atau untuk memperbaiki hal yang keliru tersebut. Pihak keluarga akan memimpin kampanye, dan komunitas masrayakat akan terus menekan agar kasusnya ditindaklanjuti. Mereka akan menuntut pengadilan ulang, buku-buku akan diterbitkan, menteri turut melobi, surat-surat dikirimkan kepada media. Tapi di Arab, jika seseorang dihukum maka masalahnya dianggap selesai.

Kesimpulan

Saya akan mengakhiri ini dengan dua kontradiksi dramatis. Yang pertama menyedihkan dan mengejutkan. Namun disisi lain nampak ironis dan lucu. Frank Gardner, koresponden BBC dan pembicara Arab, pada tahun 2004 disapa oleh seorang pemuda Muslim dengan ucapan, ‘Assalamu’alaikum’ dan ia pun membalas salam itu dengan ‘semoga kedamaian menyertaimu’. Namun kemudian pemuda itu mengacungkan pistol, menembak Ardner dan hampir membunuhnya. Tidak ada pertentangan/ kontradikisi yang lebih mengerikan daripada ajaran dan semangat Islam.

Yang kedua adalah cerita yang lebih ceria. Suatu hari pada akhir tahun 1970 saya kembali ke Damaskus dari kunjungan singkat di Aleppo. Saya menumpangi mobil dinas, Anda akan terkejut mendengar, mobil ini dipinjamkan oleh Kantor Menteri Luar Negeri Suriah, jenis Daimler. Kondisi mobil masih mulus, namun tentu saja mobil itu sudah cukup tua. Saat berada di kota utara, Homs, mobilnya mulai bergetar. Tapi sopir saya mengatakan bahwa kami beruntung karena di Homs, hanya dihuni oleh seluruh mekanik/ ahli mesin dari seluruh Suriah yang mengerti bagaimana memperbaiki Daimler. Homs adalah kota industri yang lusuh. Saya pun turun dari mobil dan menunggu mobil diperbaiki. Saat ini, Suriah merupakan negara favorit saya, tetapi Homs bukan kota favorit saya.

_________

[1] Sir James Craig adalah Dosen Bahasa Arab di Universitas Durham, Principal Instructor untuk Middle East Centre for Arabic Studies (MECAS. Ia adalah Duta Besar Inggris untuk Suriah dan kemudian menjadi Duta Besar Inggris untuk Arab Saudi. Jurnal ini merupakan rangkuman dari kuliah umum yang ia sampaikan pada peringatan kematian Sir David Gore-Booth, 25 Oktober 2006.

Daftar Pustaka

1. A. Herman,The Scottish Enlightenment, London: Fourth Estate, 2003.