[Jurnal] Assad: Rezim Suriah dan Strategic Worldview (10)

Artikel ini adalah intisari dari jurnal di Comparative Strategy yang berjudul Bashar’s Syria: The Regime and its Strategic Worldview, yang dipublikasikan secara online pada 23 Februari 2007 di tautan ini: http://dx.doi.org/10.1080/01495930601105412. Perspektif, analisis, dan kesimpulan yang dilakukan penulis jurnal tidak mencerminkan sikap ICMES. Pemuatan artikel ini bertujuan untuk mempelajari model-model analisis yang dilakukan para ilmuwan dari berbagai latar belakang, dengan tujuan akademis.Selanjutnya, ICMES akan membuat tulisan [Commentary] yang berisi tanggapan ilmiah atas artikel paper ini.

[Baca bagian sembilan]

IM in SyriaIslam dan Oposisi Islam di Suriah

Dua puluh tahun setelah penindasan pemberontakan Ikhwanul Muslimin di Suriah utara, ada pergeseran yang bisa dilihat di Suriah terhadap Islam. Tren ini ditandai dengan kembali umat Islam ke masjid, baik sebagai reaksi terhadap rezim ataupun sebagai cara untuk menyikapi situasi ekonomi yang memburuk. Kembali kepada Islam terwujud dengan cara mengenakan pakaian tradisional, adanya pertumbuhan Institute Agama Islam (600 lembaga baru untuk menghafal Al Quran )didirikan di bawah naungan rezim pada masa sebagai penyeimbang Ikhwanul Muslimin (IM). Fenomena yang menonjol lainnya adalah sejumlah besar keluarga Suriah menerima amal dari LSM Islam.

Tampaknya, salah satu motivator utama radikalisme Islam di Suriah adalah krisis yang berasal dari rezim Alawite, yang memberikan ruang untuk berbagai pemikiran Islam. Semenara Isam radikal biasanya menganggap indvidu yang melakukan penyimpangan agama harus divonis sebagai kafir (dan karenanya, ini dijadikan sarana melegitimasi pemberontakan). Mereka memandang Alawite sebagai golongan kafir atau non-Muslim. Oleh karena itu, sejak awal rezim Assad menetapkan tujuan ingin mendapatkan kepercayaan dan legitimasi dari umat Islam.

Kekuatan Islamis utama di Suriah IM. IM terlibat dalam pemberontakan berdarah pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, yang mengakibatkan rezim Suriah mengambil tindakan yang sangat keras, menghancurkan sebagian besar kota Ham’ah pada bulan Februari 1982, dengan korban warga sipil diperkirakan mencapai ribuan orang. Ideologi IM berdasarkan atas ‘being takfir’ atau melakukan takfir/ pengkafiran. Setelah mereka benar-benar ditumpas di Suriah, banyak pemimpin IM yang diasingkan, meskipun ada gerakan yang mengakomodasi IM dengan rezim, yang berakhir dengan dipulangkannya beberapa pemimpin IM ke Suriah.

Saat ini, IM Suriah secara resmi telah meninggalkan penggunaan kekerasan dan menciptakan citra bahwa mereka bersedia terintegrasi dalam proses politik di Suriah. Misalnya, pada Mei 2001, secara resmi IM menyiapkan ‘National Honour Pact’ yang menerima proses demokrasi dan untuk pertama kalinya, mengakui legitimasi rezim. Kemudian, pada tahun 2004, pejabat Suriah senior, termasuk Bashar, bertemu dengan pemimpin yang memiliki hubungan dengan IM, meskipun nesosiasi di anatar mereka masih melempem.

Upaya IM untuk menunjukkan diri sebagai kelompok moderat berfokus pada beberapa masalah utama,yaitu: kekerasan (pemimpin IM menegaskan bahwa mereka telah meninggalkan kekerasan); kerelaan untuk menerima rezim Suriah; mencabut fatwa takfir atas Alawite; kerelaan untuk menerima legitimasi Islam Sufi yang relatif kuat di Suriah; dan menahan diri dari menyerukan penghancuran Israel atau mengambil posisi anti-Semit.

Tren Islamis di Suriah, tidak semata-mata tumbuh di dalam negeri. Hal ini terjadi karena standar ganda rezim yang secara terbuka mendukung gerakan Hamas Palestina dan Hizbullah Lebanon, sementara disaat yang sama, kelompok Islam di Suriah sendiri diidentikkan sebagaimana serangan Al Qaeda atas Amerika Serikat.

Sejak kematian Hafez, dan semakin sejak jatuhnya rezim Irak, infiltrasi elemen Wahhabi anti-Alawite dan anti-Syiah ke Suriah telah diintensifkan. Unsur-unsur ini menemukan resonansi di utara negara, yang merupakan jantung dari pemberontakan IM pada tahun 1980-an. Melemahnya rezim akan memberikan kontribusi pada pengaruh dari unsur-unsur ini. Pada saat yang sama, IM tetap menjadi kekuatan yang potensial.

Worldview dan Strategi Pertahanan

Geografi dan sejarah Suriah menjadi faktor penting dalam membentuk strategi rezim. Beberapa hal ini merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi strategi:

  • Tidak adanya tradisi persatuan nasional (daerah Suriah modern saat ini yang telah terpisah dari Kekaisaran Ottoman, hanya memiliki sedikit persamaan satu sama lain).
  • Tetangga yang kuat (Israel dan Turki) bersekutu dengan Amerika Serikat.
  • Kurangnya kekayaan sumber daya alam.

Pencapaian terbesar dalam peran Suriah di panggung regional terjadi di masa kepemimpinan Hafez. Sepanjang dekade pemerintahannya, Suriah menjadi teman bicara utama untuk semua persoalan yang terjadi di Lebanon, dan dipandang sebagai aktor sentral dalam proses perdamaian Arab – Israel (bukan hanya negosiasi Israel-Suriah tetapi juga jalur Palestina).

Selain itu, Hafez menggunakan hubungannya dengan Iran untuk mengimbangi Irak. Ia juga menentang Israel, dan menumbuhkan hubungan dengan Arab Saudi untuk menjamin dukungan ekonomi Suriah dan menjamin status Suriah di Lebanon.

Komponen utama dari kebijakan strategis Suriah adalah terkait dengan organisasi teroris. Suriah bisa dibilang sebagai ‘founding father’ dari daftar negara sponsor terorisme yang dikeluarkan AS. Suriah mendukung Hizbullah, Hamas, PFLP-GC, PU, ​​dan lainnya, memberikan organisasi-organisasi ini beberapa hak dan perlindungan. Jadi, di satu sisi Suriah memberikan materi dan dukungan kepada organisasi teroris di Palestina, namun melarang teroris-teroris ini untuk menyerang Israel dari Dataran Tinggi Golan. Suriah juga berhati-hati dalam menggunakan terorisme untuk melawan Turki. Mereka pernah memberikan dukungan kepada kelompok PKK (kelompok Kurdi yang dimasukkan ke dalam daftar teroris oleh Turki) yang ada di Lebanon. Namun ketika Turki menyuarakan penentangan, Suriah pun menghentikan dukungannya kepada PKK.

Kebijakan luar negeri Hafez memiliki tujuan yang jelas, yaitu untuk meningkatkan status Suriah di kawasan, mencegah adanya perdamaian tersendiri antara Israel dengan Yordania, Lebanon, dan Palestina, dan menumbuhkan hubungan baik dengan kekuatan eksternal (Rusia, Eropa, Teluk). Quote bijak yang diyakini oleh negara Timur Tengah dan Barat adalah bahwa tidak akan pernah ada perang Arab-Israel yang tanpa melibatkan Mesir, dan tidak akan pernah ada perdamaian Arab-Israel yang abadi tanpa adanya Suriah. Artinya, negara-negara Arab tidak mungkin akan berperang dengan Israel selama Israel dan Mesir telah menyepakati perdamaian. Namun di saat yang sama, tidak akan pernah ada perdamaian abadi antara Arab dan Israel selama Suriah masih menolak untuk berdamai dengan Israel.

Hubungan Suriah dengan Iran juga dapat dilihat dalam konteks pilar pertahanan jika dukungan Sovyet tidak lagi ada. Hal ini kemudian tergenapi dengan kepentingan Suriah untuk mencari sekutu di Lebanon. Maka Hizbullah yang menjadi proxy Iran) pun dirangkul. Hubungan dengan Iran juga merupakan tawar menawar penting dalam hubungan Suriah dengan AS dan Israel. Aspek religius juga hadir dalam aliansi ini. Syiah Iran memberikan legitimasi penuh untuk Alawite di Damaskus. Semua ini tetap relevan di era Bashar, dan ditambah dengan kekaguman Bashar untuk Iran yang menentang AS dan Israel.

Bedanya, Bashar kurang memiliki pegalaman militer dan hal itu mempengaruhi proses pengambilan keputusan (meskipun ia dibantu oleh penasehat). Sehingga ada selentingan bahwa Bashar merasa perlu untuk melawan citranya sebagai pemimpin yang dianggap lemah. Dalam periode Bashar, ada perubahan strategis di kawasan, misalnya: (1) Penarikan Israel dari Lebanon dilaksanakan dalam waktu singkat sebelum Bashar menjabat; (2) Beberapa waktu kemudian, Lebanon mulai menyesuaikan diri dengan situasi baru dan ada upaya untuk mengeksploitasi penarikan Israel, dengan tujuan mengusir Suriah dari Lebanon; (3) Intifada Palestina pecah beberapa bulan kemudian; (4) Pemilihan Ariel Sharon sebagai Perdana Menteri Israel; (5) serangan 9/11; (6) Perang Global Terhadap Terorisme yang dicanangkan AS; (7) Pendudukan Afghanistan; dan akhirnya, (8) Invasi ke Irak yang menggulingkan rezim Ba’th di Baghdad. Semua perkembangan ini terjadi di era awal kekuasaan Bashar, dan kurangnya pengalaman, juga kurangnya ketajaman politik, menyebabkan ia terlihat tidak mengetahui arah.

Dalam berbagai kasus, kebijakan luar negeri yang diambil Bashar adalah bersifat defensif dan reaktif. Misalnya dengan memperbaiki hubungan dengan Rusia dan Eropa sebagai penyeimbang atas permusuhan Suriah dengan AS. Namun kebijakan ini menemui jalan buntu ketika terjadi pembunuhan Hariri. Suriah juga menumbuhkan hubungan strategis dengan Iran, mengeluarkan kebijakan demokratitasi bertahap (dengan pemilihan presiden dari 2007), dan memperingatkan kekacauan yang akan muncul sebagai dampak perubahan rezim dalam rangka untuk menghalangi upaya untuk menghapus rezim. Suriah juga bersedia sesekali untuk memperbarui perundingan dengan Israel dan menahan faksi Suriah pro-Palestina.

[Lanjut ke bagian kesebelas]