[Commentary] Tepatkah Predikat ‘Teroris’ untuk Hizbullah?

Tulisan ini telah merupakan tanggapan ilmiah dari jurnal yang dimuat dalam Journal of Human Behavior in the Social Environment, 23:4, 475-484, DOI: 10.1080/10911359.2013.772425, yang intisarinya telah dipublikasikan di tautan ini: http://ic-mes.org/politics/jurnal-fenomena-hizbullah-menurut-teori-asosiasi-diferensial/

SMHApakah Hizbullah adalah kelompok teroris? Iya, menurut Amerika Serikat, sebelum akhirnya pada Maret 2015, Senator AS, James Clapper, Direktur National Intelligence, melaporkan bahwa AS menghapus Iran dan Hizbullah dari daftar teroris. [1] Selain AS, ada Perancis, Australia, Canada, Belanda, dan Israel yang juga memasukan Hizbullah sebagai kelompok teroris.

Namun jika kita bertanya pada rakyat Lebanon, negara lahirnya kelompok Hizbullah, niscaya kita akan mendapati jawaban yang berbeda. Sebut saja Julia Boutros, seorang penyanyi Kristen asal Lebanon, yang terang-terangan menunjukkan dukungannya kepada Hizbullah. Pada 11 Oktober 2006, Julia Boutros mengeluarkan single baru dengan label “Ahibaii” (mereka yang saya cintai), sebuah lagu yang liriknya berdasarkan surat yang dikirim oleh Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah kepada para pejuang Hizbullah di Lebanon Selatan pada musim panas 2006 dalam Perang antara Lebanon dan Israel. Semua keuntungan dari penjualan lagu ini dipersembahkan dan untuk membantu keluarga pejuang Hizbullah dan warga Lebanon yang meninggal dalam konflik Israel-Lebanon. Penjualan lagu itu mencapai tiga juta dolar dan diserahkan kepada keluarga warga sipil, tentara, pasukan keamanan, dan pejuang Hizbullah Libanon yang meninggal dalam konflik tersebut. Jumlah penjualan ini tiga kali lipat dari yang ditargetkan yang semula hanya satu juta dolar. Tahun 2013, Julia Boutros kembali menggelar konser dan menyanyikan dua buah lagu sebagai bentuk terimakasihnya kepada Hizbullah. [2]

Kedua, ulama Ahlussunah Lebanon, Syeikh Maher Hammoud yang juga merupakan imam masjid al-Quds di Saida, merupakan pendukung Hizbullah sejati. Kerena dukungannya ini, tak ayal ia sering menjadi sasaran serangan oleh kelompok-kelompok takfiri. Ketika Hizbullah memutuskan masuk ke dalam konflik Suriah untuk membantu pemerintahan Bashar al-Assad memerangi terorisme, Syeikh Maher Hammoud mengatakan bahwa langkah Hizbullah sangat tepat, karena bagaimanapun, kekacauan Suriah akan berdampak pada keamanan di Lebanon.

Ketiga, rakyat Lebanon. Sebuah tulisan lama dari Nytimes, mengungkapkan bagaimana Hizbullah, tak hanya piawai memegang senjata di medan tempur, namun juga mengabdi untuk rakyat Lebanon. Disebutkan, Hizbullah bergerak seperti bayangan — melintasi pegunungan dari Lebanon selatan, menjadi pekerja di kota-kota dan desa-desa layaknya hantu, dan telah melebur dalam  kehidupan masyarakat. Mereka membantu biaya pengobatan, menawarkan asuransi kesehatan, membayar uang sekolah dan menanamkan modal untuk masyarakat yang merintis usaha kecil. Mereka tidak terlihat, tetapi sesungguhnya mereka ada dimana mana, menyediakan berbagai pelayanan penting- yang selama bertahun tahun tidak mampu dipenuhi oleh pemerintah Lebanon. [3]

Israel melakukan agresi militer ke Lebanon pada tahun 1982, dan agresi itulah yang melatarbelakangi munculnya kelompok Hizbullah. Hizbullah, mempertahankan negaranya dari agresi, karena saat itu, tentara reguler Lebanon tidak sanggup melindungi mereka. Agresi militer Israel terhadap Lebanon berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama. Terakhir, Israel dan Hizbullah kembali terlibat bentrok pada tahun 2006 dalam Perang 33 Hari.

Yang harus dipertanyakan dari tulisan Taylor Armstrong & Jonathan Matusitz dalam jurnalnya “Fenomena Hizbullah Menurut Teori Asosiasi Diferensial” adalah, apakah tepat predikat teroris ini disematkan kepada Hizbullah? Bukanlah menjadi sebuah ironi, jika kelompok yang disebut teroris, pada kenyataannya mendapakan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat Lebanon.

Teori asosiasi diferensial ini bertumpu pada premis bahwa pembelajaran perilaku kekerasan paling efisien ketika ditumbuh-kembangkan dalam kelompok yang memiliki pemikiran/ ideologi yang sama (Sutherland, 1949). Dan memang, Hizbullah merupakan gerakan perlawanan yang anggotanya adalah muslim Syiah dengan ideologi yang matang. Taat kepada kepemimpinan, membela kaum tertindas dan melakukan perlawanan atas tirani. Hizbullah juga memiliki ikatan religius seperti perayaan Asyura ataupun Hari Al-Quds Internasional yang merupakan simbol perekat.

Namun sayangnya, Taylor Armstrong & Jonathan Matusitz melupakan bahwa kelompok ini mendapatkan dukungan yang sangat besar di luar muslim Syiah. Bahkan, ketika Hizbullah dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh Uni Eropa, pemerintah Lebanon meminta agar Uni Eropa tidak melakukan hal itu. Presiden Lebanon Michel Suleiman dalam pernyataannya,menyebut Hizbullah satu bagian dasar masyarakat Lebanon dan mendesak UE menahan dari dari mengambil keputusan dengan cara tergesa-gesa dan tanpa bukti yang objektif dan menentukan. [4]

Taylor Armstrong & Jonathan Matusitz juga menyebut Hizbullah sebagai kelompok yang melakukan berbagai kekejaman, namun tidak menjelaskan, siapa yang menjadi korban kekejaman Hizbullah? Apakah Hizbullah membantai penduduk sipil? Nyatanya, Hizbullah melakukan perlawanan kepada agresor Israel, dan rakyat Lebanon memberikan dukungan penuh. Seandainya situasinya kita rubah, jika saja Israel tidak melakukan invansi militer kepada Lebanon, akankah Hizbullah tercipta? Bukankah Perdana Menteri Israel, Ehud Barak di majalah Newsweek berkata, “Ketika kami memasuki Lebanon, tidak ada Hizbullah; kehadiran kami yang menciptakan Hizbullah (hal. 33).

Tidak ada yang keliru dengan teori asosiasi diferensial, seandainya digunakan untuk menganalis suatu organisasi yang memang melakukan teror seerti Al-Qaeda, ISIS, Boko Haram, dll. Namun teori ini menjadi tidak tepat ketika digunakan kepada Hizbullah, karena kelompok Hizbullah bukanlah teroris.

[1] https://www.middleeastmonitor.com/news/americas/17579-us-removes-iran-and-hezbollah-from-list-of-terror-threats
[2] http://www.monitormideast.com/en/2013/09/christian-singer-julia-boutros-honors-hezbollah-in-concert/
[3]www.nytimes.com/2006/08/06/world/middleeast/06tyre.html?pagewanted=all&_r=0
[4] http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=12681&type=104#.VhYUsyscPIU