Rangkuman Berita Utama Timteng, Senin 6 Maret 2017

qaher f-313Jakarta, ICMES: Iran akan segera mengujicoba terbang jet tempur siluman buatannya, “Qaher”.

Pasukan Arab Suriah (SAA) dan sekutunya terus bergerak maju dan mendekati kota strategis Khafsa, provinsi Aleppo.

Ratusan keluarga Kristen Koptik mengungsi dari al-Arish, Mesir, akibat ancaman para teroris.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding otoritas Jerman berperilaku seperti NAZI, menyusul pelarangan unjuk rasa para pendukung Erdogan di Jerman.

Berita selengkapnya;

Iran Akan Segera Ujicoba Jet Tempur Siluman “Qaher”

Menteri Pertahanan Iran Brigjen Hossein Dehghan menyatakan negara akan segera menyelesaikan proyek pembuatan jet tempur “Qaher”, dan ujicoba terbang finalnya akan dilakukan pada tahun depan kalender Hijriah Syamsiah (HS) yang berlaku di Iran (dimulai 21 Maret 2017).

Seperti dikutip Fars News, dia menambahkan bahwa jet tempur ini akan ditempatkan di landasan terbang sebelum akhir tahun HS ini.

Proyek pengembangan pesawat tempur siluman satu kursi Qaher dipublikasikan sebelumnya pada tahun 2013.

Dia juga menepis anggapan bahwa proyek produksi jet tempur lain jenis Saeqeh dihentikan. Menurut, ujicoba terbang pesawat  tempur ini juga akan segera lakukan.

Belum lama ini Iran juga telah menguji coba sistem rudal pertahanan udara “Bavar 373” yang diklaim mirip dengan sistem S-300 buatan Rusia. Selain itu, Iran juga menguji coba rudal cruise “Nasr” buatannya yang, menurut Dehghan, berhasil membidik sasaran dengan tingkat presisi yang maksimal serta dapat ditempatkan di kapal perang, kapal selam, jet tempur dan komplek swa-gerak pantai. (farsnews)

SAA Dekati Kota Strategis Khafsa, 65000 Penduduk Aleppo Mengungsi

Pasukan Arab Suriah (SAA) dan sekutunya terus bergerak maju di bagian timur provinsi Aleppo dan mendekati kota Khafsa, tempat sumber utama penyediaan air minum penduduk Aleppo.

Sumber militer Suriah, Minggu (5/3/32017), mengatakan kepada AFP bahwa tentara Suriah dan sekutunya berada di lokasi yang berjarak 10 km dari kota Khafsa, selatan Manbij, setelah menguasai banyak desa melalui pertempuran yang dapat memukul mundur kelompok teroris ISIS .

Sumber ini menambahkan bahwa lebih dari 30 teroris terbunuh, beberapa di antaranya komandan ISIS dan warga negara asing, dua tank hancur, dan SAA berada lokasi yang berjarak sekira 8 km dari pangkalan udara militer al-Jarah.

Sumber militer lain mengatakan, “Pasukan pemerintah Suriah berusaha menguasai Khafsa karena kota ini tak kalah pentingnya dengan kota al-Bab dan Tadaf yang bersebelahan dengannya, mengingat bahwa di Khafsa terdapat satu pusat suplai air ke Aleppo.”

Jumlah daerah yang berhasil dikuasai SAA dalam operasi militer yang berlangsung sejak lebih dari dua bulan lalu sampai sekarang mencapai 111 desa dan distrik.

SAA juga berusaha mencapai kota Dair Hafir secepatnya untuk mengamankan pangkalan militernya di bandara Kuwaires dan jalur suplainya yang terhubung ke kota Manbij dari serangan balik ISIS.

Koordinator Kemanusiaan PBB, Minggu, menyatakan sekira 66,000 orang mengungsi akibat pertempuran Pasukan Turki dan SAA melawan ISIS belakangan ini di provinsi Aleppo. Dilaporkan bahwa 40,000 orang di antaranya adalah penduduk al-Bab dan Tadaf, sedangkan 26,000 sisanya berasal dari kawasan di timur al-Bab.

Sementara itu, Menlu Rusia Sergey Lavrov menegaskan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan yang diarahkan terhadap pemerintah Suriah melalui isu penggunaan bom kimia yang dilontarkan di Dewan Keamanan PBB.

Dia menambahkan bahwa Rusia juga menghendaki penyelidikan kasus-kasus penggunaan senjata kimia, dan telah memberikan laporan tentang ini kepada Organisasi Larangan Senjata Kimia. (rt/irna)

Diancam Teroris, 258 Keluarga Kristen Koptik Mesir Mengungsi

Sebanyak 258 keluarga Kristen Koptik belakangan ini mengungsi dari al-Arish, ibu kota provinsi Sinai Utara, Mesir, akibat ancaman para teroris.

Wakil Kementerian Sosial Mesir di provinsi Sinai Utara, Munir Abul Khair, Minggu (5/3/2017), menjelaskan bahwa para pengungsi itu tersebar di 13 provinsi di mana 114 keluarga di antaranya berada di provinsi Ismailiyah, 40 keluarga di Kairo, dan sekira 30 keluarga lainnya di Port Said.

Dia mengatakan bahwa sampai sekarang masih ada beberapa pemuka agama dan warga Kristen di dalam gereja Koptik Al-Arish, namun pasukan keamanan Mesir menjaga keamanan mereka dengan memblokir semua jalan menuju geraja ini.

Dilaporkan bahwa mereka mengungsi karena dalam beberapa minggu terakhir telah terjadi serangkaian serangan teror yang menewaskan tujuh warga Kristen Koptik di Sinai Utara. Kelompok teroris Wilayat Sinai yang berafilasi dengan ISIS menyatakan bertanggungjawab atas serangan itu dan mengancam akan terus membantai warga Kristen Koptik yang tinggal di Semenanjung Sinai.

Selasa lalu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyatakan pemerintah Kairo menolak gagasan evakuasi seluruh penduduk al-Arish agar tentara Mesir dapat memaksimalkan tekanan terhadap para teroris yang telah menakut-nakuti penduduk setempat. El-Sisi menegaskan bahwa Mesir belum mengerahkan semua pasukannya untuk menghancurkan para teroris. (tass)

Erdogan Tuding Pemerintah Jerman Berperlaku Ala NAZI

Hubungan Turki dengan Jerman terus memburuk. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahkan menuding otoritas Jerman berperilaku seperti NAZI, menyusul pelarangan unjuk rasa para aktivis Turki di Jerman.

“Jerman, Anda tidak memiliki hubungan apapun dengan demokrasi, dan Anda harus tahu bahwa tindakan Anda saat ini tidak berbeda dengan orang-orang pada periode Nazi,” kecam Erdogan pada sebuah aksi demo di Istanbul, Minggu (5/3/2017).

Dia menambahkan, “Kami akan berbicara tentang tindakan Jerman di gelanggang internasional, dan akan membuat mereka malu di depan mata dunia…Kami tidak ingin melihat aksi fasis mereka… Kami semula mengira era itu merupakan masa lalu, tapi tampanya tidak demikian.”

Belum lama ini otoritas kota Gaggenau, Jerman, mencabut izin unjuk rasa bagi Uni Demokrat Turki Eropa (UETD) yang dekat dengan Erdogan. Otoritas kota ini beralasan mereka kuatir terhadap faktor keamanan unjuk rasa pro-referendum yang akan diselenggarakan oleh Erdogan pada 16 April mendatang.

Refrendum itu sendiri ditujukan untuk menghapus kantor perdana menteri dan memberikan kewenangan lebih besar kepada posisi presiden yang selama ini bersifat seremonial.

Kantor Kanselir Jerman Angela Merkel belum menanggapi pernyataan Erdogan tersebut, namun pemimpin partai tempat dia berasal, Uni Demokrasi Kristen, menyebut Erdogan “berlaku seperti anak kecil yang kemauannya tidak dituruti.”

Sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Jerman negara penyokong terorisme, setelah otoritas Jerman membatalkan dua pertemuan menteri Turki dengan warganya di Jerman.

Awal pekan lalu, otoritas Turki menahan jurnalis surat kabar Die Welt milik Jerman dengan dakwaan melakukan aksi mata-mata untuk Jerman, dan Jermanpun membantah tudingan Erdogan ini dengan menyebutnya tidak masuk akal.

Sementara itu, Austria mendesak Uni Eropa agar memberlakukan larangan kampanye mendukung referendum tersebut. (presstv)