Rangkuman Berita Utama Timteng, Senin 26 Desember 2016

pasukan-suriahJakarta, ICMES:  Pasukan Suriah terus menguat, kawanan bersenjata banyak yang menyerah, sementara Arab Saudi kecewa berat menyaksikan Turki masuk dalam aliansi Rusia-Iran.

Di Irak hujan deras menyebabkan tewas tujuh anggota ISIS, dan di Tunisia ribuan demonstran menolak kepulangan para teroris.

Berita selengkapnya;

SAA Menguat, Para Pemimpin Pemberontak Menyerah Satu Persatu

Sumber militer Suriah menyatakan pasukan tambahan pemerintah Suriah yang didukung para pejuang Hizbullah telah tiba di kawasan Wadi Bardi di barat Damaskus, ibu kota negara ini, untuk meningkatkan operasi penumpasan pemberontak.

“Pasukan tambahan ini mencakup para petempur baru, pasukan peluncur rudal dan artileri kelas menengah serta senjata otomatis berat dalam rangka memulai tahap kedua operasi militer di desa-desa Wadi Bardi akibat penolakan kawanan bersenjata terhadap kesepakatan perjanjian penyelesaian,” ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasikan itu kepada DPA, Minggu (25/12/2016).

Dia menambahkan bahwa gempuran Pasukan Arab Suriah (SAA) pada hari itu telah menimpakan kerugian dalam jumlah besar pada kawanan bersenjata berupa hancurnya rumah sakit lapangan, media center, gudang senjata, serta tewasnya  minimal 10 anggota militan bersenjata di Wadi Bardi.

Bersamaan ini, beberapa kelompok bersenjata terus berkomunikasi dengan SAA untuk penyerahan diri dan posisi-posisi mereka dengan penyelesaian mengenai status dan pemindahan mereka ke Idlib.

Di sisi lain, sumber militer juga menyebutkan adanya negosiasi para pemimpin SAA dengan para wakil kawanan bersenjata di distrik Sabir, 45 km dari pusat kota Damaskus, dan distrik Beit Tima di bagian selatan provinsi Damaskus. Negosiasi ini sudah hampir menghasilkan kesepakatan yang menjamin pemindahan kawanan bersenjata yang berkenaan ke Idlib dan penetapan status orang-orang yang masih tersisa. Perjanjian ini diharapkan dapat diterapkan pada beberapa hari mendatang.

Di provinsi Daraa di bagian selatan Suriah, sejumlah pemimpin pemberontak, termasuk Brigade Tauhid al-Ummah, menyerahkan diri kepada SAA.

Sementara itu, warga Kristen kota Aleppo dapat kembali merayatakan Natal setelah kota ini berhasil dibebaskan oleh SAA dari cengkraman pemberontak dan teroris. Hal yang sama juga terjadi di kota Bartela yang telah dibebaskan oleh pasukan Irak dari pendudukan kawanan teroris ISIS. (raialyoum/alalam)

Blunder Saudi Setelah Turki Masuk Aliansi Rusia-Iran

Kerajaan Arab Saudi kecewa berat menyaksikan perubahan kontras Ankara dari koordinasi dengan Riyadh menjadi koordinasi dengan Teheran dan Moskow terkait dengan krisis Suriah dan berbagai isu Timteng lainnya.

Seperti dikutip al-Alam, Minggu (25/12/2016), media online Rai al-Youm yang berbasis di London menyebutkan bahwa perubahan sikap Turki itu membuat Saudi mengalami kondisi blunder sehingga harus “berhati-hati dan tenang” dalam membuat statemen mengenai Suriah demi menghindari terjadinya “kejutan-kejutan” susulan.

Saudi tak menduga Turki terlibat dalam pertemuan dengan Iran dan Rusia yang telah menghasilkan keputusan yang sangat berpengaruh dalam isu Suriah Selasa pekan lalu. Kejutan ini terjadi di saat Saudi sangat berharap Turki bisa menggantikan Mesir yang sudah tak patuh lagi kepada Saudi.

Saudi selama ini ingin Turki bisa menjadi alat militer untuk kebijakan Riyadh memerangi Presiden Suriah Bashar al-Asad dan membendung “ambisi” Iran di Suriah, terutama ketika misi militer AS di Timteng menyurut bersamaan dengan membengkaknya pengaruh Rusia di Timteng. Sedemikian besar keinginan itu sehingga Riyadh bahkan sempat berusaha melibatkan Turki dalam serangan ke Yaman.

Namun demikian, menurut Rai al-Youm, beberapa faktor berupa perkembangan situasi militer, keputusan tegas Rusia untuk menuntaskan kemelut Suriah, agenda AS yang memungkinankan adanya “negara Kurdi” di Suriah, dan berubahnya ISIS menjadi musuh Turki membuat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terpaksa banting setir dalam menjalankan agenda politik dan militernya hingga terjebak masuk ke jalur aliansi Rusia yang menghendaki bertahannya pemerintahan Bashar al-Assad. (alalam)

Hujan Sebabkan Tujuh Teroris ISIS Tewas Mengenaskan

Sumber keamanan provinsi Kirkuk, Irak, Minggu (25/12/2016), mengabarkan bahwa guyuran hujan telah membuat tujuh anggota gerombolan teroris takfiri ISIS tewas mengenaskan di bagian barat daya provinsi ini.

“Derasnya hujan hari ini ikut andil dalam runtuhnya sebuah terowongan ISIS di distrik Hawija (55 km barat daya Kirkuk). Berbagai informasi yang masuk menyebutkan tewasnya tujuh anggota ISIS yang sedang berlindung dalam terowongan dari gempuran cuaca,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu.

Dia menambahkan, “Hujan juga telah membantu orang-orang yang kabur dari Hawija menemukan ranjau-ranjau yang ditanam  ISIS di jalur-jalur pelarian warga, demikian pula terowongan-terowongan yang terendam air hujan.”

Distrik Hawija serta beberapa daerah lain di barat Daya Kirkuk dikuasai ISIS sejak Juni 2014, dan sejak itu sebanyak lebih dari 150,000 warga sipil kabur dari sana menuju Kirkuk.

Sehari sebelumnya, kepolisian federal Irak menyatakan dua komandan ISIS , Abu Ayyub al-Quraisyi dan Abu Saif, tewas terkena gempuran rudal pasukan Irak yang menerjang kawasan al-Quds dan Bab al-Tub di bagian barat Mosul.

Pasukan Irak melancarkan operasi pembebasan provinsi Nineveh sejak 17 Oktober lalu, dan sejauh ini sekira 50 persen provinsi sudah berhasil dibebaskan dari pendudukan ISIS. (alsumarianews/alalam)

Rakyat Tunisia Tolak Kepulangan Teroris

Ribuan orang menggelar demonstrasi anti “jihadis” di sekitar gedung parlemen Tunisia, Sabtu (24/12/2016). Mereka mendesak pemerintah supaya tidak mengizinkan para ekstrimis asal Tunisia pulang ke negara ini.

“Tak ada kebebasan bagi kelompok-kelompok teroris,” pekik para demonstran.

Dalam foto yang diambil oleh AFP, terlihat ibu-ibu berunjuk rasa dengan membawa plakad bertuliskan antara lain, “Kami katakan kepada teroris; ‘Tak ada kompromi, tak ada penerimaan’”, dan “Wahai para penguasa Tunisia, anak-anak mudamu senantiasa ketakutan.”

Panitia demonstrasi mengatakan aksi ini diikuti oleh 1,500 orang.

Di hari yang sama, otoritas Tunisia menyatakan telah menangkap tiga tersangka “jihadis” yang terhubungan dengan Anis Amri, warganegera Tunisia tersangka pelaku serangan teror di Pasar Natal Berlin, Tunisia Anis Amri, yang menewaskan 12 orang dan melukai 48 lainnya.

Para pengunjuk rasa juga mengecam ketua partai Ennahda, Rached Ghannouchi, yang pernah mendukung ide pemberian izin kepada para ekstrimis yang sudah “tobat” untuk pulang ke Tunisia.

Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi awal bulan ini menegaskan negara ini menolak mengampuni warganya yang ikut berperang bersama organisasi-organisasi teroris.

“Banyak di antara mereka ingin kembali, dan kita tidak dapat mencegah mereka pulang ke negaranya,tapi kami akan waspada,” katanya kepada AFP.

Menanggapi badai kecaman di media dan jejaring sosial, dalam pidatonya di televisi pada 15 Desember lalu dia menegaskan negaranya “tidak akan memanjakan teroris.”

Menurut sebuah kelompok kerja PBB tentang tentara bayaran, lebih dari 5000 orang Tunisia ikut berperang bersama kelompok-kelompok teroris di berbagai negara, terutama Irak, Suriah dan Libya.

Jumat malam lalu, Menteri Dalam Negeri Hedi Majdoub mengatakan kepada parlemen bahwa 800 warga Tunisia yang telah berperang untuk kelompok ekstrimis di luar negeri telah kembali ke negara ini. (mm/enca)