Rangkuman Berita Utama Timteng, Senin 23 Januari 2017

rudal-yamanJakarta, ICMES: Pertempuran sengit berlangsung di Yaman, puluhan orang tewas, di saat utusan khusus PBB berkunjung ke negara ini untuk perundingan damai.

Iran mengancam akan secepatnya memperkaya uranium lagi jika Presiden Amerika Serikat membatalkan perjanjian nuklir Iran.

Kelompok teroris ISIS meminta dengan paksa perhiasan emas kaum perempuan Mosul melalui komite-komite khusus yang mereka bentuk untuk menggalang dana.

Diplomat terkemuka Mesir Amr Moussa mengingatkan bahaya pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat ke Baitul Maqdis

Berita selengkapnya;

Utusan Khusus PBB Datang, Pertempuran Kian Berkobar di Yaman

Tentara Yaman loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang didukung oleh Komite Rakyat yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah telah melancarkan serangan misil dan artileri secara masif terhadap beberapa pos dan pangkalan militer Saudi di wilayah perbatasan kedua negara, mengakibatkan kerugian jiwa dan materi pada pihak Saudi, Minggu (22/1/2017).

Bersamaan dengan ini, pasukan loyalis presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansor Hadi yang didukung serangan udara koalisi pimpinan Saudi juga melancarkan serangan untuk merebut daerah pesisir Laut Merah, menjatuhkan puluhan korban tewas dari kedua belah pihak.

TV al-Masirah milik Ansarullah Yaman yang bersekutu dengan tentara loyalitas mantan presiden Ali Abdullah Saleh mengklaim serangan itu menerjang pangkalan-pangkalan Tabat al-Hamrah, al-Qamamah, Qaem Zabid, al-Shabaka, al-Kers, dan kamp militer stategis al-Ghaviyeh, dan mengakibatkan hancur dan atau rusaknya banyak kendaraan lapis baja dan perlengkapan militer Saudi.

Dilaporkan pula serangan itu juga menewaskan dan melukai puluhan tentara Saudi, sementara pasukan Saudi yang tersisa melarikan diri basis mereka, meninggalkan beberapa persenjataan yang hangus dan berlindung di kota al-Khobe, provinsi Jizan.

Pasukan Yaman itu juga menewaskan sedikitnya 14 tentara bayaran Saudi dan melukai 22 lainnya dalam pertempuran di dekat Selat Bab al-Mandab , Yaman barat daya.

Di pihak lain, jet tempur pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan lebih dari 100 kali serangan udara di al-Mikha, provinsi Hudaida, Yaman, sejakSabtu malam hingga Minggu kemarin (21-22/1/2017).

Selain itu, kawasan al-Raudhah di utara Sanaa, ibu kota Yaman, fakultas kedokteran di daerah al-Salif, provinsi Hudaida, kawasan al-Khazain, provinsi Saadah, dan daerah Sarwah, provinsi Marib, juga berulang kali mendapat serangan udara Saudi.

Menghebatnya pertempuran ini terjadi justru ketika Utusan Khusus PBB untuk Yaman Ismail Ould Cheikh Ahmad tiba di Sanaa, Minggu, untuk merundingkan penyelesaian krisis Yaman.

Pasukan loyalis presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang bermusuhan dengan milisi Ansarullah (Houthi) dan loyalis Saleh sejak Juli 2015 berhasil menguasai lima provinsi di Yaman selatan, tapi setelah itu mereka kesulitan untuk memperluas wilayah kekuasaan, meskipun didukung pasukan koalisi pimpinan Saudi.

Sekarang pasukan loyalis Hadi dan pasukan koalisi sekutunya melancarkan operasi militer bersandi “Panah Emas” (al-Rimh al-Dzahabi) untuk mengusir pasukan Ansarullah dari kawasan yang membentang sepanjang 450 km di pesisir Laut Merah. Dalam rangka ini mereka bermaksud mengasai daerah Dabab kemudian kita al-Mikha, dan selanjutnya maju menuju Hudaida dan kawasan Midi di dekat perbatasan Saudi.

Sumber koalisi pimpinan Saudi mengklaim bahwa dalam operasi ini 52 pasukan Ansarullah dan 14 pasukan loyalis Hadi terbunuh. (irna/raialyoum)

Iran Ancam Perkaya Uranium Lebih Besar

Kepala Badan Tenaga Atom Iran Ali Akbar Salehi menyatakan akan secepatnya memperkaya uranium lagi jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan perjanjian nuklir Iran dengan enam negara terkemuka dunia.

Dalam wawancara dengan CBC milik Kanada, Salehi menyatakan Iran tidak ingin membatalkan perjanjian yang dinamai  Rencana Aksi Bersama Komprehensif (Joint Comprehensive Plan Of Action/JCPOA) itu, tapi jika Tramp jadi mencabiknya, “maka dengan mudahnya kami memperkaya uranium lagi seperti dulu, dan bahkan bukan kembali ke tempat semula, melainkan secara teknologi kami dapat melangkah lebih jauh lagi daripada dulu.”

Seperti diketahui, Trump di masa kampanye presiden AS menyebut JCPOA “mengerikan,” “terburuk” dalam sejarah perjanjian AS, dan dapat menjurus pada “bencana nuklir.”

JCPOA disepakati Iran dengan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Rusia, Inggris, Perancis, dan Cina) plus Jerman yang mewakili Uni Eropa pada tahun 2015. Perjanjian ini dicapai dengan tujuan mengatasi kekuatiran AS dan sekutunya terhadap kemungkinan Iran memperkaya uranium untuk membuat bom nuklir. (raialyoum)

ISIS Rampasi Perhiasan Emas dan Berbisnis Narkoba

Kelompok teroris ISIS meminta dengan paksa perhiasan emas kaum perempuan Mosul melalui komite-komite khusus yang mereka bentuk untuk menggalang dana. Selain itu, ISIS selama ini juga berbisnis narkoba untuk memenuhi kebutuhan dananya.

Sumber lokal Mosul, Minggu (22/1/2017), mengatakan aksi perampasan perhiasan emas itu dinyatakan oleh badan pengadilan ISIS.

“Para teroris ISIS di kawasan al-Dawasah di bagian kanan (barat) Mosul mengancam akan menghukum orang-orang perempuan Mosul yang diketahui tidak menyerahkan perhiasan emasnya kepada pasukan pengadilan ISIS,” ungkap sumber anonim itu sembari menyebutkan bahwa sanksi hukumannya adalah cambuk.

Sementara itu, Menlu Rusia Sergei Lavrov dalam konferensi pemberantasan narkoba di Moskow menyatakan bahwa pendapatan ISIS dan kelompok-kelompok teroris lain diperoleh antara lain dari penyelundupan narkoba, dan ini menjadi ancaman nyata bagi ekonomi Rusia dan kesehatan rakyat negara ini.

(aliraq/irna)

Amr Mousa Serukan Penghadangan Terhadap Pemindahan Kedubes AS ke al-Quds

Diplomat terkemuka Mesir dan mantan sekjen Liga Arab Amr Moussa mengingatkan bahaya pemindahan Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) untuk Israel dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis, dan menyebutnya “penghancur kesempatan damai.”

Dalam  statemennya yang dirilis dengan bahasa Arab dan Inggris, Minggu (22/1/2017), dia menegaskan, “Sinyalemen pemindahan Kedubes dalam waktu dekat ini ke al-Quds (Baitul Maqdis) memunculkan berbagai potensi bahaya yang menuntut kesiapan untuk menghadangnya setegas mungkin.”

Dia menyerukan kepada rakyat dan pemerintah negara-negara Arab, Islam dan Kristen supaya “memobilisasi seluruh masyarakat internasional untuk melawan langkah irasional dan penghancur bagi kesempatan damai ini.”

Amr Moussa menambahkan, “(Presiden AS Donald) Trump harus mendapat pesan baru dari masyarakat internasional bahwa al-Quds merupakan garis merah, dan bahwa bermain-main dengan masa depan al-Quds merupakan tindakan melawan hukum internasional yang dampaknya akan fatal.”

Trump yang dilantik Jumat lalu (20/1/2017) sebagai presiden AS dalam kampanye menjelang pilpres berjanji akan memindah Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis, padahal tindakan demikian menyalahi kebijakan para pemimpin AS pendahulunya yang menolak rencana pemindahan yang diputuskan oleh Kongres AS pada 1995 tersebut.

Penolakan itu mereka lakukan setiap enam bulan sekali dengan cara menandatangani surat penundaan pemindahan untuk jangka waktu enam bulan dengan alasan demi menjaga keamanan nasional.

Al-Quds merupakan obyek yang paling vital dalam konflik Palestina-Israel. Palestina menuntut al-Quds Timur supaya menjadi ibu kota negara Palestina yang mereka cita-citakan. (dostor/alyoum7)