Rangkuman Berita Utama Timteng, Senin 21 Februari 2017

pasukan tank irak di mosulJakarta, ICMES: Perdana Menteri Irak mengumumkan dimulainya operasi militer babak baru untuk pembebasan Mosul barat di bagian utara negara ini.

Iran mengancam akan meratakan Tel Aviv dan Haifa dengan tanah jika Israel berani mencoba menyerang Iran.

Arab Saudi menolak ajakan dialog Iran, dan malah menuduh Teheran pendukung utama terorisme di dunia dan pengacau stabilitas Timteng.

Pejabat Fatah Palestina menilai negara-negara Arab lumpuh dalam berhadapan dengan Israel, sedangkan Iran tegar.

Berita selengkapnya:

PM Irak Umumkan Dimulainya Operasi Pembebasan Mosul Barat, 79 Teroris Tewas

Pasukan Irak mengumumkan dimulainya operasi pembebasan bagian barat Mosul, Irak utara, dari pendudukan kelompok teroris ISIS, Minggu (18/2/2017). Demikian dinyatakan Perdana Menteri Irak Haider Abadi melalui statemen yang dikeluarkan oleh kantor perdana menteri Irak bidang pers.

“Kami mengumumkan dimulainya babak baru operasi bersandi ‘Qadimun, ya Nainawa’ (Kami Datang, Wahai Nineveh) untuk pembebasan sisi kanan (bagian barat, red.) Mosul,” bunyi statemen itu.

“Kami lepaskan pasukan kami untuk pembebasan warga dari teroris DAISH (ISIS) karena misi kami adalah pembebasan manusia sebelum tanah,” lanjut Abadi.

Sumber militer Irak di hari yang sama mengatakan pasukan Irak berhasil menguasai sedikitnya lima desa di selatan Mosul sehingga mereka berada di dekat Bandara Mosul.

Brigjen Abbas al-Jebouti menyatakan kepada AFP, “Operasi kami dimulai pada pukul tujuh pagi, dan kami bergerak menuju bandara.”

Kepala kepolisian federal Irak Letjen Shakir Jawdat menyatakan 79 teroris ISIS tewas diterjang operasi militer Iran di selatan Mosul. Selain itu, pasukan Irak telah menghancurkan 13 ranjau, 30 bom mobil, tiga terowongan, dan lima bom rompi serta menguasai beberapa gudang senjata.

Pasukan Irak memulai operasi militer besar-besaran untuk pembebasan Mosul sejak 17 Oktober 2016, dan pada 24 Januari lalu komando pasukan gabungan Irak mengumumkan keberhasilannya membebaskan secara total Mosul timur.

Di bagian lain, Kementerian Imigrasi Irak mengumumkan bahwa sejak dimulainya operasi pembebasan provinsi Nineveh, Irak utara, sampai sekarang sebanyak lebih dari 63,000 pengungsi sudah pulang ke rumah dan kampung halaman mereka di Mosul timur dan Shirqat. (raialyoum/alqudsalarabi/ alalam)

Iran Nyatakan Tel Aviv Dan Haifa Akan Rata Dengan Tanah Jika Menyerang

Sekretaris Dewan Kebijaksanaan Iran Mohsen Rezaei menegaskan negaranya akan meratakan kota Tel Aviv dan Haifa dengan tanah jika Israel mencoba “bertindak bodoh” dengan menyerang Iran. Bersamaan dengan ini, ketua parlemen Iran Ali Larijani menyatakan negaranya siap berunding dengan Arab Saudi tanpa syarat.

“Meski Iran memiliki sejarah peradaban yang cemerlang tapi rezim-rezim terdahulunya pada abad-abad silam menjadi antek Inggris, Rusia, dan Amerika sehingga bangsa-bangsa regional bahkan menganggap Iran sekutu Zionis (Israel), tapi rakyat Iran lantas bangkit selama 100 tahun silam, dan Imam Khomaini memimpin rakyat Iran berjalan menuju kebahagiaannya,” katanya di kota Arak, Iran tengah, Sabtu malam lalu (18/2/2017).

Mantan petinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ini mengatakan bahwa Iran sekarang berhasil menunaikan berbagai misi yang tak dapat dilakukan oleh Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Turki.

Dia menambahkan, “Rudal-rudal kami memiliki kelebihan berupa akurasinya yang sangat tinggi dengan nilai delapan kali lipat harga dulu. Jika Israel berani melancarkan agresi terhadap Iran maka kami akan menjadikan Tel Aviv dan Haifa rata dengan tanah. Tapi tentu kami bukanlah pihak yang menyerukan perang dan petualangan.”  (alalam)

Saudi Tolak Ajakan Dialog Iran

Menlu Saudi Adel al-Jubeir menolak ajakan dialog Iran sembari menuduh Teheran pendukung utama terorisme di dunia, pengacau stabilitas Timteng, dan bermaksud “menghancurkan kami”.

“Selagi Iran tidak mengubah perilakunya, sulit sekali bekerjasama dengan negara seperti ini,” katanya dalam Konferensi Keamanan Munich, Jerman, Minggu (19/2/2017).

Sebelumnya, ketua parlemen Iran Ali Larijani menyatakan Teheran menyambut baik dialog tanpa “prasyarat” dengan negara-negara Arab, terutama Arab Saudi.

Al-Jubeir mengecam dukungan Iran kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad dan menuduh Teheran mendanai milisi Ansarullah (Houthi) dan “kelompok-kelompok kekerasan” di berbagai wilayah Timteng.

Dia menambahkan bahwa khalayak dunia harus menerapkan “garis merah” yang jelas terhadap gerak-gerik Iran.

Saudi memutus hubungan diplomatiknya dengan Iran pada awal 2016 menyusul insiden serangan demonstran terhadap Kedubes Saudi di Teheran dan konsulat jenderalnya di Masyhad.

Demonstrai itu sendiri dilakukan rakyat Iran untuk memrotes hukuman mati yang dijatuhkan otoritas Saudi terhadap ulama Syiah negara ini, Syeikh Nimr al-Nimr. (alarabiya/alalam)

Tokoh Fatah Palestina: Tak Seperti Iran, Arab “Lumpuh” Hadapi Israel

Anggota Komisi Pusat Gerakan Fatah Palestina, Abbas Zaki, menyatakan bahwa konferensi mengenai Palestina yang akan digelar di Teheran, Iran, menjadi satu “kemenangan nyata” bagi Palestina.

Dalam wawancara panjang lebar dengan al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon, Minggu (19/2/2017), dia menyebut negara-negara Arab “lumpuh” dalam menghadapi Israel akibat “hegemoni Amerika Serikat (AS)”.

“Sedangkan Iran dengan semua transformasinya di bidang teknologi dan senjata, atau adanya Hizbullah, telah membuat Israel berpikir keras sebelum berbuat untuk petualangan apapun, dan di saat yang sama ini merupakan dukungan bagi Palestina,” katanya.

Dia menambahkan. “Berbagai statemen dan serangan media Arab terhadap Iran dan membesar-besarkan bahaya negara ini merupakan pelarian dari realitas regional.”

Abbas Zaki pessimis terhadap dukungan Arab kepada Palestina di tingkat formal.

“Dukungan ini tidak akan melampuai garis-garis yang sudah ditetapkan oleh AS, terutama di bawah pemerintahan Trump, dan orang yang bersama AS tidak akan bisa melayani rakyat Palestina… AS adalah musuh, dan Israel merupakan salah satu alat musuh ini,” tuturnya.

Dia mengaku heran mengapa tak ada satupun negara yang bereaksi terhadap pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengaku memiliki hubungan baik dengan negara-negara Arab.

Dia menambahkan ada 22 solusi yang akan diterapkan oleh pemimpin Palestina melalui komisi politik, satu di antaranya menarik diri dari pengakuan terhadap Rezim Zionis Israel.

“Apa yang terjadi sekarang berada di luar Perjanjian Oslo, dan kami akan berbuat sesuatu yang akan meresahkan Israek, terutama dalam memerangi proyek pembangunan permukiman,” lanjutnya.

Dia kemudian menuding Qatar mencampuri urusan internal Palestina sehingga memperparah perselisihan antarkomponen Palestina.

Dia juga menjelaskan bahwa hubungan Palestina dengan Mesir dan Arab Saudi terjalin sesuai hubungan antarnegara dan berdasarkan kepentingan bilateral, ”tapi yang menyakitkan Israel adalah hubungan dengan Iran.”

Sementara itu, di hari yang sama Wakil Sekjen Front Rakyat Pembebasan Palestina Abu Ahmad Fouad mengatakan bahwa Saudi sejalan dengan Israel, dan Riyadh menentang Teheran karena Iran gigih membela perjuangan bangsa Palestina.

Dia juga menjelaskan bahwa dalam Konferensi Keamanan Munich, Jerman, Minggu, Menlu Saudi Adel al-Jubeir kembali menuding Iran negara pendukung terorisme. Senada dengan ini, pada sidang yang sama Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menyatakan Iran berusaha melemah Saudi di Timteng.  (almayadeen)