Rangkuman Berita Utama Timteng, Sabtu 8 Oktober 2016

s-300-milik-rusiaJakarta, ICMES:  Wakil Menhan Rusia Anatoly Antonov, memastikan sekira35,000 militan tewas di Suriah sejak Rusia melancarkan serangan udara  di Suriah tahun lalu. Rusia juga menyatakan akan memveto resolusi  PBB yang digagas Perancis untuk menyerukan gencatan senjata di kota Aleppo dan penerapan larangan terbang semua pesawat di angkasa kota ini.

Lebih jauh Rusia menegaskan bahwa keputusannya menyebar  sistem rudal anti serangan udara S-300 di Suriah terjadi setelah Rusia mendapatkan bocoran informasi mengenai adanya iktikad buruk AS di Suriah. Bersamaan dengan ini, terjadi pertempuran intensif antara dua kelompok teroris besar di provinsi Idlib, Suriah, hingga menewaskan beberapa kombatan teroris.

Demikian beberapa berita utama dari Timteng dengan rangkuman sebagai berikut:

Rusia Habisi 35,000 Teroris

Militer Rusia menyatakan sekitar 35,000 militan tewas di Suriah sejak Rusia melancarkan serangan udara  di Suriah tahun lalu.

Wakil Menhan Rusia Anatoly Antonov, Jumat (7/10/2016), mengatakan bahwa jumlah itu mencakup sekitar 2,700 warga negara Rusia sendiri dan sejumlah negara eks-Uni Soviet.

Dia mengatakan, “Dalam operasi militer Rusia di Suriah sebanyak 586 kawasan (desa, distrik, dan kota) dengan luas 12,000 km persegi di negara ini berhasil dibersihkan dari teroris.”

Menurutnya, dalam enam bulan terakhir sebanyak 13,000 warga Suriah dan sekitar 3500 tentara negara ini terbunuh akibat operasi serangan para teroris.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengatakan ada sekitar 5000 – 7000 orang dari Rusia dan negara-negara eks-Uni Soviet ikut berperang di Suriah sebagai anggota ISIS atau kelompok-kelompok teroris lainnya.

Serangan udara Rusia yang dilancarkan dengan alasan memerangi terorisme itu berhasil menciptakan perubahan besar  dalam perang di Suriah serta banyak membantu keberhasilan pasukan Suriah merebut kembali berbagai kawasan strategis.

Gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) dan Rusia membentur jalan buntu sejak bulan lalu. Sejak itu hubungan dua negara ini bahkan memburuk, dan Antonov menyalahkan AS dalam perkembangan situasi ini.

Rusia Ancam Veto Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Aleppo

Rusia menyatakan akan memveto resolusi  PBB yang digagas Perancis untuk menyerukan gencatan senjata di kota Aleppo dan penerapan larangan terbang semua pesawat di angkasa kota tempat kawanan bersenjata terkepung oleh pasukan Suriah dan sekutunya tersebut.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin mengatakan kepada wartawan bahwa daripada menghentikan serangan udara Rusia dan Suriah di Aleppo, Dewan Keamanan PBB lebih baik mempelajari  gagasan Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura yang mencanangkan supaya kelompok-kelompok teroris yang terafiliasi dengan al-Qaida meninggalkan Aleppo.

Usai penjelasan de Mistura kepada Dewan Keamanan PBB  Jumat (7/10/2016),  Churkin mengatakan, “Usulan Perancis sangat tergesa-gesa dikemukakan secara bersamaan, dan saya terus terang percaya bahwa ini dirancang bukan untuk membuat kemajuan, melainkan untuk mendatangkan  veto Rusia. ”

Sementara itu, juru bicara Kemlu Suriah Maria Zakharova mengingatkan bahwa perubahan pemerintahan di Suriah akan menimbulkan resiko yang jauh lebih buruk daripada apa yang terjadi di Irak dan Libya.

Dia mengatakan, “Akibatnya akan puluhan kali lebih buruk daripada apa yang sudah terjadi sebelumnya.”

Bocoran Informasi AS Sebabkan Rusia Kerahkan S-300 ke Suriah

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa keputusan untuk menyebar  sistem rudal anti serangan udara S-300 di Suriah terjadi setelah Rusia mendapatkan bocoran informasi mengenai adanya iktikad buruk AS di Suriah.

“S-300 muncul di sana (di Suriah) setelah para ahli yang dekat dengan para elit Amerika Serikat (AS) mulai membocorkan informasi bahwa AS berkemungkinan menyerang pangkalan udara Suriah dengan rudal jelajah,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova dalam sebuah wawancara dengan channel TV Dozhd milik Rusia.

Sebelumnya, Zakharova mengecam seruan Menteri Luar Negeri AS John Kerry agar dilakukan  penyelidikan “kejahatan perang Rusia” di Suriah.

Selasa lalu Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa sistem pertahanan udara S-300 telah dikirim ke Suriah untuk melindungi pangkalan angkatan laut di Tartus,  serta kapal perang Rusia yang dikerahkan di lepas pantai Suriah.

Zakharova mengingatkan bahwa jika isu kejahatan perang hendak diangkat maka AS harus memulainya dengan masalah Irak, kemudian Libya, dan lalu Yaman untuk mencari tahu apa yang terjadi di sana.

“Saya ingin mengatakan bahwa permainan kata ini sangat berbahaya, karena di balik perwakilan  AS ada kejahatan perang yang sesungguhnya,” tegasnya.

Dua Kelompok Teroris Besar Bertempur di Suriah, 9 Orang Tewas

Para aktivis oposisi Suriah menyatakan terjadi pertempuran intensif antara dua kelompok teroris besar di provinsi Idlib, Suriah, hingga menjatuhkan beberapa kombatan teroris tewas.

Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM yang dekat dengan kelompok oposisi Suriah dan berbasis di Inggris melaporkan bahwa pertempuran dimulai setelah kelompok teroris Ahrar al-Sham menyerang posisi kelompok teroris Jund al-Aqsa di beberapa area di Idlib.

Disebutkan bahwa dalam pertempuran itu sembilan kombatan Ahrar al-Sham  sendiri tewas, namun kelompok ini berhasil merebut pangkalan Mastoumeh, bekas barak militer pasukan Suriah, dari tangan teroris Jund al-Aqsa, Jumat (7/10/2016).

Pertempuran antara dua kelompok teroris kuat ini dinilai tak biasa terjadi, tapi sebagian kelompok pemberontak Suriah mengeluhkan ideologi Jund al-Aqsa.

Abu Waqqas, anggota Jund al-Aqsa, mengakui intensitas pertempuran itu.

“Ahrar al-Sham menyerang kami dengan peluncur-peluncur roket multiple,” katanya.

 (segodnya/sputnik/RT/AP/raialyoum)