Rangkuman Berita Utama Timteng, Sabtu 3 Desember 2016

pasukan-suriah-di-aleppo2Jakarta, ICMES. Pasukan Arab Suriah (SAA) menguasai separuh kawasan Aleppo timur dari tangan kawanan bersenjata.

Menlu Rusia Sergei Lavrov menyebut “Pasukan Aleppo”  tak lain adalah Jabhat al-Nusra.

Pasukan Irak menepis laporan PBB bahwa sebanyak 1959 pasukan Irak terbunuh dalam perang pembebasan Mosul.

Para peretas telah menggempur jaringan komputer milik beberapa lembaga penting Arab Saudi dalam dua minggu terakhir.

Berita selengkapnya;

Pasukan Suriah Kuasai Separuh Aleppo Timur

Lembaga Obeservatorium Suriah untuk HAM, Jumat malam (2/12/2016) menyatakan bahwa Pasukan Arab Suriah (SAA) telah merebut dan menguasai separuh kawasan Aleppo timur dari tangan kawanan bersenjata.

“Kemajuan terbaru membuat pasukan pemerintah Suriah kini menguasai separuh wilayah itu,”  ungkap direktur eksekutif lembaga yang bermarkas di London itu, Rami Abdulrahman, kepada AFP.

Dia menambahkan bahwa pasukan pemerintah Suriah itu telah memperkut posisi-posisi  mereka di dua lingkungan di Aleppo timur dan terus bergerak maju.

AFP melaporkan bahwa Jumat kemarin terdengar kecamuk pertempuran sengit di lingkungan Tariq al-Bab yang telah dimasuki oleh tentara Suriah pada Kamis lalu, sementara penduduk lari meninggalkan lingkungan al-Shiar.

Sejak Sabtu pekan lalu sampai sekarang tak kurang dari 50,000 di antara  250,0000 penduduk telah kabur dari Aleppo timur menuju kawasan Aleppo barat yang dikuasai oleh SAA.

Observatorium Suriah untuk HAM melaporkan lebih dari 300 warga sipil Aleppo timur, 42 di antaranya anak kecil, dan 59 orang di Aleppo barat terbunuh dalam pertempuran sengit SAA melawan kelompok-kelompok pemberontak dan teroris sejak 15 November lalu. (raialyoum)

Menlu Rusia: “Pasukan Aleppo”, Nama Baru Jabhat al-Nusra

Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan  bahwa kubu oposisi Suriah berada di balik  kemunculan kelompok yang menamakan dirinya “Pasukan Aleppo”  (Jaish Halab/Army of Aleppo) di Aleppo timur, Suriah.

Dalam jumpa pers bersama sejawat Italianya, Paolo Gentiloni, di Roma, Italia, Jumat (2/12/2016), Lavrov memastikan bahwa “Pasukan Aleppo” tak lebih dari akal-akalan oposisi Suriah untuk melindungi kelompok teroris Jabhat al-Nusra, cabang jaringan teroris al-Qaeda di Suriah, dengan cara memberi mereka “merek baru.”

“Saya tidak mengesampingkan bahwa ini hanyalah upaya lain untuk mengubah citra Jabhat al-Nusra dan melindunginya dari pembalasan yang benar,” katanya.

Menurutnya, hampir semua kelompok bersenjata di Aleppo  timur dikendalikan oleh Jabhat al-Nusra.

“Seperti telah saya sebutkan, menurut intelijen kita, … hampir semua kelompok oposisi bersenjata di bagian timur Aleppo memberikan laporan kepada Jabhat al-Nusra. Al-Nusra memiliki sekitar 1.500 militan di sana, sementara kelompok lain di bawah komandonya memiliki hingga 6.000 militan,” tegas Lavrov.

Sehari sebelumnya, Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura kembali menyerukan kepada Jabhat al-Nusra supaya angkat kaki dari Aleppo timur.

Dia mengingatkan bahwa Aleppo timur akan hancur jika aksi militer berkelanjutan di kawasan ini. (sputnik)

Irak Bantah Laporan PBB Soal Jumlah Korban Perang Mosul

Pasukan operasi gabungan Irak dalam sebuah statemennya yang dirilis Jumat (2/11/2016) menepis laporan kantor Misi Bantuan PBB untuk Irak, UNAMI, bahwa sebanyak 1959 pasukan Irak terbunuh dalam perang pembebasan Mosul selama November lalu.

“Untuk kesekian kalinya  telah tersiar laporan yang tidak akurat atas nama kantor PBB di Baghdad (UNAMI) yang mengandung data-data keliru serta angka-angka yang sangat berlebihan dan kemudian dilansir oleh media. Laporan itu menyebutkan bahwa 1956 pasukan keamanan Irak terbunuh selama November lalu,” bunyi statemen itu, seperti dikutip Iraq Media War. (

Pasukan Irak kemudian menjelaskan bahwa pemulangan pengungsi ke berbagai kawasan yang sudah dibebaskan dari cengkraman kelompok teroris ISIS sudah dimulai tepat sesuai rencana dengan kerjasama UNAMI.

Pasukan Irak mengimbau semua organisasi internasional dan media agar cermat dalam membuat laporan dengan menggunakan data-data resmi, dan “bukan memublikasi berita-berita palsu yang menguntungkan ISIS serta dibuat secara berlebihan demi mempengaruhi jalannya operasi bersandi ‘Kami Datang, Wahai Nineveh.’” (dpa)

Peretas Ganyang Saudi, Iran Dituduh

Para peretas telah menggempur jaringan komputer milik beberapa lembaga penting Arab Saudi dalam dua minggu terakhir. Berbagai sumber mengatakan kepada channel Bloomberg News bahwa sesuai berbagai petunjuk digital, serangan itu datang dari Iran.

Serangan serupa pernah terjadi pada tahun 2012 yang menghancurkan 35,000 komputer milik perusahaan minyak Saudi hanya dalam hitungan jam dengan menggunakan malware atau virus komputer Shamoon, dan para pejabat Amerika Serikat (AS) lantas menuding Iran berada di balik serangan ini.

Kali ini, serangan peretas menerjang sedikitnya delapan lembaga Saudi, termasuk kantor berita serta sektor-sektor energi, industri dan transportasi.

Para ahli bidang keamanan jaringan komputer sekarang berdatangan ke Arab Saudi untuk mengetahui  bagaimana para peretas dapat membuat data di komputer secara massal.

Kantor berita Arab Saudi, SPA, menyebutkan bahwa serangan yang menimpa berbagai lembaga pemerintahan Saudi itu “bertujuan  melumpuhkan semua layanan dan sarana, dan para peretas menguasai data-data sistem komputer serta menanamkan program-program jahat (malware). “

Para peretas menarget Otoritas Umum Penerbangan Sipil yang mengatur bandara-bandara Saudi, dan Kementerian Perhubungan yang mengawasi jaringan jalan negara kerajaan ini, namun cara kerja malware menunjukkan bahwa sasaran utama serangan adalah badan penerbangan sipil.

Serangan peretas sebesar ini jarang sekali terjadi.  Berbagai perusaha bidang keamanan elektronik termasuk  CrowdStrike, FireEye, McAfee, Palo Alto Networks, dan Symantec pekan ini merilis laporan yang membenarkan adanya serangan itu.

Dilaporkan bahwa pada tanggal 17 November pukul 20.45 waktu Saudi,  malware itu mulai menghapus data-data yang tersimpan di komputer berbagai lembaga Saudi. Semua file tiba-tiba berubah menjadi foto bocah Suriah Alan Kurdi, 3 tahun, yang  mayatnya ditemukan terdampar di pantai Turki dalam peristiwa insiden kapal imigran yang tenggelam dalam pelayaran menuju Eropa.

Malware itu kemudian menguasai booting record, dan mencegah re-run.

Serangan peretas ini terjadi hanya beberapa hari setelah OPEC menyepakati penurunan produksi minyak   untuk pertama kalinya selama delapan tahun terakhir. Kesepakatan ini menguntungkan Iran karena negara ini dapat meningkat volume produksinya.

Peneliti independen bidang cyber Collin Anderson menduga serangan itu dilakukan Iran untuk menekan Arab Saudi, sementara Eric Chien direktur teknis perusahaan Symantec menyatakan serangan itu berhasil.  (bloomberg/cnn)