Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 26 November 2016

Assad melambaikan tanganJakarta, ICMES: Presiden Suriah Bashar al-Assad meninjau langsung perkembangan situasi perang di Aleppo melalui jet tempur Sukhoi.

50 teroris ISIS tewas, 32 lainnya tertangkap, dan empat tempat perlindungan para sniper ISIS hancur di selatan Mosul.

Presiden Iran meminta pemerintah Irak supaya bertindak “lebih tegas” terhadap para pelaku serangan teror yang membunuh 70 peziarah Karbala yang 60 orang di antaranya adalah warga negara Iran.

Bocoran dokumen menunjukkan bahwa Amerika Serikattelah memasok banyak senjata ke Yaman selama beberapa tahun sebelum terjadi perang saudara di negara ini.

Berita selengkapnya:

Presiden Suriah Pantau Aleppo Dari Udara

Presiden Suriah Bashar al-Assad dilaporkan telah meninjau langsung perkembangan situasi perang di Aleppo melalui jet tempur Sukhoi generasi terbaru. Demikian dilaporkan surat kabar ad-Diyar terbitan Lebanon, Jumat (25/11/2016).
Disebutkan bahwa al-Assad bermaksud melihat langsung situasi pertempuran di Aleppo antara pasukan pemerintah Suriah dan sekutu di satu pihak dan berbagai kelompok pemberontak dan teroris takfiri di pihak lain.
Penerbangan al-Assad ini dilakukan setelah terjalin komunikasi antara al-Assad dan sejawatnya di Rusia, Vladimir Putin. Dalam komunikasi ini disebutkan bahwa al-Assad dapat memantau Aleppo bersama pilot Rusia paling mahir melalui pesawat berkursi ganda Su-37 yang tergolong paling terkini di dunia.
Sebelum naik ke pesawat, al-Assad diperiksa kesehatan untuk melihat bagaimana kesiapan fisiknya untuk berada di dalam pesawat tempur ini, karena usia para pilotnya tidak lebih dari 35 tahun. Hasilnya, dia dipastikan berada dalam kondisi prima dan dapat menyertai pilot.

Al-Assad memantau situasi Aleppo dan berkeliling di atas udara selama beberapa menit lalu kembali ke pangkalan udara Hmeimim dekat Latakia.

Putin diberitahu ihwal penerbangan al-Assad ini saat Su-37 lepas landas dan mendarat. Dia kemudian menyarankan al-Assad supaya tidak mengulangi penerbangan seperti ini lagi.

Pasukan Irak Serbu Mosul Barat, 50 Teroris ISIS Tewas, 32 Lainnya Tertangkap

Kepolisian Irak menyatakan sebanyak 50 teroris ISIS tewas, 32 lainnya tertangkap, dan empat tempat perlindungan para sniper ISIS hancur di selatan Mosul, Irak utara, Jumat (25/11/2015).
Bersamaan dengan ini, pasukan kontra-terorisme Irak menyatakan telah menyerbu tiga kawasan permukiman di sisi barat Mosul melalui poros timur dan utara.

Komandan pasukan ini, Sami al-Aridi, menjelaskan pihaknya telah menyerbu kawasan al-Masarif, al-Qahirah dan al-Amin di sisi barat Mosul setelah berhasil membebaskan kawasan al-Tahrir, al-Akha, al-Qadisyah I dan II, al-Abrajiyyah, Aden dan perkampungan al-Khadra’.

“Kemajuan berjalan lambat di area-area permukiman akibat adanya keluarga-keluarga yang dijadikan sandera oleh para anggota ISIS,” imbuhnya.

Sementara itu, juru bicara pasukan relawan al-Hashd al-Shaabi, Ahmad al-Asadi, dalam statemennya mengumumkan dimulainya tahap kelima operasi pasukan ini di barat Mosul. Dia mengatakan bahwa pada tahap ini misi pasukan relawan ialah membebaskan kawasan berskala luas di front barat Mosul di mana ISIS sudah kehilangan aksesnya menuju Suriah.

Secara terpisah, juru bicara gerakan Asaib Ahl al-Haq yang merupakan salah satu komponen al-Hashd al-Shaabi menyatakan pihaknya berhasil membebaskan dua desa Um Nakhila dan al-Tufaha pada Jumat pagi.

PBB menyatakan sebanyak 73 warga telah mengungsi dari Mosul dan kawasan sekitarnya selama operasi pembebasan Mosul yang dimulai pada 17 Oktober lalu.

Juru bicara Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Joel Millman dalam jumpa pers di Jenewa, Swiss, menambahkan bahwa jumlah pengungsi di Mosul menurun dalam lima hari terakhir.

Pasca Teror Peziarah Iran, Rouhani Minta Irak Lebih Tegas Tindak Pelaku

Presiden Iran Hassan Rouhani tampak sangat geram atas tragedi serangan teror bom mobil yang membuat banyak warganya terbunuh di Irak.

Dia meminta pemerintah Irak supaya bertindak “lebih tegas” terhadap para pelaku serangan teror yang terjadi, Kamis (24/11/2016), di selatan Baghdad dan membunuh 70 peziarah Karbala yang 60 orang di antaranya adalah warga negara Iran tersebut.

“Aksi teror di kawasan Hillah, Iraq, yang telah menggugurkan dan melukai sebagian peziarah Imam Husain ini telah melukai hati seluruh umat Islam, khususnya kaum Muslim Syiah,” katanya.

Dia menambahkan, “Saya meminta kepada pemerintah Irak bertindak lebih tegas terhadap orang-orang yang terlibat dalam aksi tak berprikemanusiaan seperti ini.”

Dia menegaskan bahwa pemerintah Republik Islam Iran tetap bertekad memerangi para teroris dan ekstrimis.
“Kami yakin tak lama lagi kita akan menyaksikan kemenangan final bangsa Irak dalam perang melawan kelompok-kelompok teroris dan para pendukungnya,” lanjutnya.

Kelompok teroris takfiri paling bengis di dunia, ISIS, menyatakan bertanggungjawab atas peledakan bom mobil tersebut.

Serangan mematikan ini terjadi ketika pasukan Irak terus mengepung dan menekan ISIS di dalam kota Mosul, Irak utara, dalam operasi militer besar-besaran untuk pembebasan kota terbesar kedua di Irak yang diduduki ISIS sejak 2014 tersebut.

Berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, Pakistan, Suriah, dan Lebanon mengutuk serangan teror ini.

Wikileaks: AS Pasok Banyak Senjata ke Yaman Jelang Perang Saudara

Situs Wikileaks, Jumat (25/11/2016), memublikasi bocoran dokumen yang menunjukkan bahwa selama beberapa tahun sebelum terjadi perang di Yaman antara pasukan Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi dan pasukan Ansarullah (Houthi) Amerika Serikat (AS) telah memasok senjata dan sarana militer dalam jumlah besar ke Yaman.
Bocoran itu berupa 500 dokumen surat menyurat Kedutaan Besar AS untuk Yaman.

Disebutkan bahwa “berkas Yaman” ini menjadi bukti-bukti kuat bahwa AS telah mempersenjatai, melatih, dan mendanai angkatan bersenjata Yaman selama bertahun-tahun menjelang pecahnya perang saudara Yaman.

Daftar perlengkapan militer yang didatangkan AS ke Yaman terdiri atas pesawat tempur, kapal, sarana transportasi, dan sarana biometri untuk identifikasi jatidiri.

Pendiri Wikileaks Julian Assange mengatakan bahwa perang Yaman telah menyebabkan pengungsian sebanyak 3.5 juta orang.

Dia menambahkan bahwa peliputan perang Yaman dengan bahasa Inggris jumlahnya sedikit meskipun AS telah memasukkan bom dalam jumlah besar ke Yaman dan terlibat jauh dalam perang Yaman.

Menurut Assange, Yaman merupakan negara yang sangat strategis karena berada di Selat Bab al-Mandeb yang dilalui oleh 11% ekspor minyak dunia yang melintas di Terusan Suez, Mesir.

Data-data yang dibocorkan oleh situs yang membidangi pembocoran dokumen-dokumen rahasia ini merupakan dokumen tahun 2009 – 2013, ketika Hillary Clinton menjabat sebagai menteri luar negeri AS hingga dua tahun pertama John Kerry menduduki jabatan ini menggantikan Clinton. (mm/alalam/raialyoum/alsumarianews/afp/irna/rayalyoum)