Rangkuman Berita Utama Timteng, Sabtu 10 Desember 2016

pasukan-suriah-di-aleppo2Jakarta, ICMES: Lebih dari 1000 militan telah keluar dari Aleppo secara sukarela, 953 orang di antara mereka telah mendapatkan amnesti, sementara PBB menyatakan pemberontak dan teroris Suriah melarang warga sipil meninggalkan Aleppo timur.

Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa kemenangan pasukan Suriah dan sekutunya di Aleppo akan berpengaruh besar dalam perang di semua kawasan Suriah.

Economist menilai Saudi kalah atas Iran di semua kancah.

Berita selengkapnya;

SAA Kuasai 93% Aleppo, 1000-an Militan Keluar Secara Sukarela

Sebanyak lebih dari 1000 militan telah keluar dari Aleppo secara sukarela, dan tak kurang dari 953 orang di antara mereka telah mendapatkan amnesti , sedangkan sisanya masih menjalani pemeriksaan. Demikian ditegaskan oleh  Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, Jumat (9/12/2016).

Kepala Departemen Operasi Utama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia Sergey Rudskoy dalam jumpa persnya menyebutkan sebanyak 52 lingkungan di Aleppo timur berhasil dibebaskan dari pendudukan kawanan bersenjata, dan kini pasukan pemerintah Suriah menguasai 93% wilayah kota ini.

“Akibat keberhasilan operasi serangan, 52 lingkungan di Aleppo timur telah dibebaskan dari kawanan bersenjata. Hanya dalam empat hari terakhir ini saja, kawasan yang dikuasai kawanan bersenjata menyusut sekira sepertiga,” terangnya.

Dia juga menyatakan setiap hari disalurkan puluhan ton bantuan kemanusiaan ke kawasan yang telah dibebaskan, dilakukan rehabilitasi bangunan infrastruktur, dan digalakkan bantuan kedokteran kepada penduduk.

“Kami berharap warga sipil dalam waktu dekat ini dapat pulang, bukan hanya ke Khan al-Sheikh dan al-Tal (provinsi Damaskus), melainkan juga ke Aleppo dan pusat-pusat permukiman lain yang telah dibebaskan dari para teroris,” lanjutnya.

Dia juga menyebutkan bahwa penduduk Aleppo yang telah kabur dari para teroris memberitahukan bahwa kelompok “oposisi moderat” menggunakan cara kekerasan dan pembunuhan dalam mencegah penduduk agar tidak meninggalkan Aleppo timur, dan Rusia kini sedang mendokumentasikan semua kejahatan ini. (mm/raialyoum/rt)

PBB: Militan Larang Penduduk Keluar Dari Aleppo Timur

Juru bicara Komisioner Tinggi PBB untuk HAM Rupert Colville menyatakan bahwa kelompok-kelompok pemberontak dan teroris Suriah melarang warga sipil meninggalkan Aleppo timur.

“Kelompok-kelompok bersenjata melarang, menurut informasi sebagian warga sipil yang berusaha kabur,” katanya kepada wartawan di Jenewa, Swiss,  Jumat.

Di hari yang sama, ribuan warga sipil keluar dari Aleppo timur dan ditempatkan di lokasi-lokasi penampungan sementara setelah dibukakan tiga jalur.

“Hari Jumat ini lebih dari 5000 warga sipil, sebagian besarnya perempuan dan anak kecil, keluar dari lingkungan-lingkungan Aleppo timur (al-Firdaus, Salahuddin, dan al-Kalasah) melalui jalur-jalur al-Azizah, Bab al-Hadid, dan Bab al-Nirab. Pemerintah provinsi telah menyiapkan untuk mereka 12 unit ambulan untuk membawa warga yang sakit serta 23 unit bus untuk mengevakuasi warga itu ke kawasan pabrik kapas di Jabrin di bagian selatan Aleppo timur,” ungkap sebuah sumber kepada DPA. (mm/raialyoum)

Nasrallah: Pembebasan Aleppo Bawa Timteng ke Babak Baru

Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa kemenangan pasukan Suriah dan sekutunya di Aleppo akan berpengaruh besar dalam perang di semua kawasan Suriah, dan demikian pula perang Mosul dan kawasan secara umum.

“Kewasan ini telah memasuki babak baru, dan ada agenda-agenda yang sudah berada di jurang kehancuran dan kekalahan,” katanya dalam pidato televisi, Jumat (9/12/2016).

Sayyid Nasrallah juga menyebutkan adanya ancaman terhadap peninggalan sejarah Islam dan Kristen.

“Di setiap tempat umat Arab, peninggalan serjarah Islam dan Kristen mendapatkan dua ancaman, ancaman Israel dan ancaman takfiri. Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah terungkap bahwa Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lainnya telah sekian lama mendanai, memelihara, dan menyokong ancaman ini… Ini diakui oleh presiden terpilih AS Donald Trump, Joe Biden (wakil presiden terpilih AS), dan para pejajabat lain, ” katanya. (mm/alalam)

Economist: Saudi Kalah Atas Iran di Semua Kancah

Majalah Economist dalam sebuah artikelnya, Kamis (8/12/2016), menyebutkan bahwa setelah satu tahun Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Mohammad Bin Salman mendeklarasikan diakhirinya masa “koma” kebijakan luar negeri Saudi dan dimulainya tekanan negara ini terhadap Iran, sepak terjang Saudi di Timteng justru rontok satu persatu, dari Suriah dan Irak hingga Yaman dan Lebanon, dan bahkan dalam kontroversi minyakpun Saudi juga kalah telak.

Majalah terbitan Inggris ini menyebutkan bahwa Bin Salman blak-blakan menyokong pemberontak Suriah serta mati-matian berusaha supaya di Lebanon jangan sampai orang yang dekat dengan Hizbullah terpilih sebagai presiden, sementara di Yaman dia mengobarkan perang terhadap kelompok Houthi setelah para jenderal Saudi memastikan bahwa perang ini akan segera dapat membebaskan Sanaa, ibu kota Yaman, dari pendudukan milisi Houthi (Ansarullah).

Dalam isu minyak, Saudi semula menekan Iran dengan melambungkan volume produksi minyaknya. Demi ini Saudi bahkan menolak permintaan organisasi negara-negara pengekspor minyak, OPEC, supaya menurunkannya demi mendongkrak harga minyak. Dengan cara ini anak Raja Salman ini ingin membangkrutkan ekonomi Iran yang banyak bergantung pada sektor minyak.

Economist melanjutkan bahwa di Irakpun Bin Salman juga menjalankan agenda untuk mempengaruhi kebijakan Baghdad, dan dalam rangka ini dia antara lain menunjuk duta besar Saudi untuk Irak pertama kali dalam 25 tahun terakhir.

“Namun, di akhir tahun ini, kerajaan ini menemukan dirinya mundur di semua front. Duta besarnya ditarik keluar dari Irak, kabur dari semburan caci maki para politisi Syiah yang memandang Iran,” tulis Economist.

Majalah ini melanjutkan bahwa di Suriah, pemerintah yang didukung Iran dan Suriah terus menekan kawanan bersenjata dukungan Saudi hingga kota Aleppo sudah hampir jatuh sepenuhnya ke tangan pasukan Suriah.

Sedangkan di Lebanon, Saudi juga mengerutkan pendiriannya dan menerima terpilihnya Michel Aoun yang pro-Iran sebagai presiden.

Dalam isu minyak, pada sidang OPEC belum lama ini Saudi akhirnya bersedia mengurangi banyak volume produksi minyaknya, sementara Iran bukan saja tidak mengurangi volume produksinya, tapi malah menyetujui pengembalian volume kepada level pra-sanksi.

Di Yamanpun, Ansarullah dan sekutunya bertekad untuk tidak pernah membiarkan Saudi dan sekutunya merasakan gagahnya kemenangan.

“Houthi yang menjadi musuh Saudi tampak bertekad untuk menolak Pangeran Mohammad keluar secara terhormat. Mereka terus melancarkan serangan melalui perbatasan, dan pekan lalu mereka mendeklarasikan pemerintahan barunya sendiri, bukannya setuju membentuk satu (pemerintahan) yang melibatkan presiden yang diasingkan seperti yang dikehendaki sang pangeran. ‘Yaman akan menjadi Vietnam-nya Arab Saudi’  cibir pejabat Iran. Ini merupakan pendarahan bagi wibawa militer dan diplomatik Saudi,” tulis Economist.

Majalah ini menyebutkan bahwa Saudi gagal membentuk “blok Sunni”, dan bahkan kehilangan kehilangan sebagian negara sahabat dan sekutu lamanya, terutama Mesir yang belakangan ini hubungannya dengan Suriah membaik. (mm/economist)