Rangkuman Berita Utama Timteng, Rabu 30 November 2016

penduduk-aleppo-kaburJakarta, ICMES: PBB menyatakan sekira 16,000 orang  telah kabur dari Aleppo timur, Suriah, ke tempat-tempat lain di kota yang sama dalam beberapa hari terakhir.

Relawan Irak hancurkan konvoi mobil ISIS di barat Mosul, sementara AU gempur markas ISIS di dalam kota Mosul.

Pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi tidak hanya atas berbagai kelompok Syiah, tapi juga dianggotai oleh puluhan kelompok bersenjata Sunni.

Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menilai Bashar al-Assad masih bisa bertahan sebagai presiden Suriah.

Berita selengkapnya;

PBB: 16,000 Orang Kabur Dari Aleppo Timur

Sekira 16,000 orang  telah kabur dari Aleppo timur, Suriah utara, ke tempat-tempat lain dalam kota ini dalam beberapa hari terakhir. Demikian dikatakan kepala bantuan kemanusiaan PBB Stephen O’Brien, Selasa (29/11/2016), sembari menyebutkan bahwa situasi di kawasan yang dikuasai oleh kelompok-kelompok pemberontak Suriah di kota kedua terbesar di Suriah itu “memprihatikan dan mengerikan.”

“Kami sangat prihatin ihwal nasib warga sipil akibat kondisi dalam kota Aleppo yang memprihatinkan dan mengerikan,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa kelompok-kelompok pemberontak telah kehilangan sekitar sepertiga wilayah Aleppo timur akibat pesatnya gerak maju pasukan pemerintah Suriah.

Dia mengatakan bahwa di sana pasukan Suriah melancarkan serangan darat dan udara secara membabi buta hingga menjatuhkan puluhan korban tewas dan luka di pihak sipil, sementara semua rumah sakit berhenti beroperasi, dan stok bahan pangan sudah nyaris habis total.

Penduduk lantas menyingkir dari Aleppo timur di tengah kecamuk pertempuran hebat yang terjadi setelah tentara Suriah mengepung wilayah ini sejak Juli lalu, namun dia memperkirakan di kawasan yang masih dikuasai kawanan bersenjata masih terdapat sekitar 250,000 orang.

“Gencarnya serangan terhadap  lingkungan-lingkungan Aleppo timur belakangan ini membuat penduduk terpaksa kabur ke berbagai kawasan lain kota ini,” terangnya.  (raialyoum)

Relawan Irak Hancurkan Konvoi Mobil ISIS, AU Gempur Markas Mereka

Laskar relawan Irak al-Hasdh al-Shaabi yang berjuang di front barat Mosul, Irak utara, telah menggempur konvoi mobil kelompok teroris ISIS, Selasa (29/11/2016). Bersamaan dengan ini, jet tempur F-16 Angkatan Udara Irak menggempur sebuah markas ISIS di Mosul hingga menewaskan puluhan teroris, 11 di antaranya berstatus komandan.

Al-Hashd al-Shaabi mengumumkan bahwa dalam kelanjutan operasi penumpasan ISIS di selatan dan barat Mosul tak lama lagi mereka akan dapat membebaskan pusat distrik Abtah yang berada di wilayah administrasi wilayah al-Khidir, dan menumpas ISIS di kawasan ini.

Dalam proses ini mereka telah menggempur konvoi ISIS yang terdiri atas delapan kendaraan militer hingga menewaskan semua teroris yang ada di dalamnya.

Di Mosul, angkatan udara Irak telah menggempur salah satu markas komando ISIS di sisi kiri kota ini. Serangan dilancarkan dengan menggunakan jet tempur F-16 dan  menewaskan 11 komandan ISIS dan 18 anak buah mereka serta  tujuh warga negara asing yang menjadi pakar ISIS di bidang peledakan dan penghancuran. Selain itu, enam unit drone berbahan peledak milik ISIS hancur.

Serangan ini dilancarkan setelah angkatan udara Irak mendapatkan informasi intelijen yang dinilai akurat.

Dikabarkan pula bahwa serangan juga menewaskan 13 teroris lain yang berkewarganegaraan Arab Saudi dan Tunisia.  (mm/shafaqnews/dpa)

Al-Hashd al-Shaabi, Laskar Syiah?

Pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi selama ini dijuluki sebagai laskar atau milisi Syiah oleh media milik Arab Saudi dan sekutunya serta negara-negara Barat. Namun  demikian, dalam “laskar Syiah” ini ternyata terdapat lusinan kelompok bersenjata bermazhab Sunni atau Ahlussunah Waljamaah.

Karena itu, sebagaimana disebutkan oleh situs berita Al-Ahed milik Lebanon, Selasa (29/11/2016), tidak benar propadanda banyak media selama ini bahwa kelompok relawan besar Irak itu adalah laskar sektarian Syiah. Sebaliknya, dalam pasukan relawan ini, para pejuang Syiah dan Sunni Irak bahu membahu melawan kelompok teroris takfiri ISIS yang berfaham Salafi/Wahabi.

Al-Hashd al-Shaabi yang didukung penuh oleh Iran sudah dua setengah tahun berjuang menumpas gerombolan teroris ISIS dan andil besar dalam pembebasan berbagai kota dan daerah Irak dari pendudukan ISIS.

Selama berkiprah itu mereka kerap dikabarkan menindas dan bahkan membunuhi warga Sunni di berbagai kawasan yang berhasil mereka bebaskan. Karena itu, tak jarang rezim-rezim dinasti Arab serta Turki dan Barat mengaku cemas setiap kali al-Hashd al-Shaabi beraksi di kawasan yang mayoritas penduduknya bermazhab Sunni.

Di tengah badai fitnah mereka tetap bertekad dan solid berjuang, meskipun fitnah itu menyebabkannya mengalah dalam beberapa kasus, termasuk dalam perang Mosul yang sedang berkobar. Mereka bersedia untuk tidak ikut masuk ke kota Mosul, dan taat kepada keputusan pemerintah dalam masalah ini.

Belakangan ini, kelompok relawan tersebut disahkan sebagai sebuah lembaga militer resmi dalam sebuah undang-undang parlemen yang didukung oleh 170 dari total 208 anggota parlemen Irak.

Beberapa waktu lalu Irak merilis daftar 25 nama kelompok Sunni beserta nama pemimpin masing-masing yang terlibat dalam kelompok relawan al-Hashd al-Shaabi.

Sesuai undang-undang itu, semua komponen relawan yang terlibat dalam al-Hashd al-Shaabi memiliki hak hukum dan diakui sebagai pasukan yang setara dan pendukung pasukan militer Irak serta berhak mempertahankan entitas dan karakteristik masing-masing.  (mm/irna)

Sekjen Liga Arab: Al-Assad Bisa Bertahan Sebagai Presiden

Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menilai Bashar al-Assad masih bisa bertahan sebagai presiden Suriah. Dia mengatakan tak masalah al-Assad ikut lagi dalam pemilu presiden Suriah apabila rakyat sepakat untuk menyelenggarakan pemilu, gencatan senjata diberlakukan, dan kelompok-kelompok oposisi tidak keberatan.

“Tak masalah jika rakyat Suriah Bashar al-Assad memilih Bashar al-Assad dalam pemilu mendatang,” katanya dalam acara talk show bersama jurnalis Ahmad Mousa di channel TV satelit Sada al-Balad, Selasa (29/11/2016).

Dia menyebutkan beberapa hal lain, yaitu bahwa; salah satu syarat penyelesaian krisis Suriah ialah  adanya pemerintahan rekonsiliasi yang melibatkan pihak pemerintah dan oposisi untuk jangka waktu tertentu; persoalan akan tetap ada untuk sementara waktu; zona keamanan tak dapat diciptakan di Suriah; dan Rusia tidak menerima penerapan zona larangan terbang di Suriah.

Menurutnya, krisis Suriah maupun Libya tidak mungkin dapat diselesaikan dengan cara militer.

“Adalah ilusi belaka anggapan bahwa konflik di Suriah dan Libya dapat dituntaskan secara militer,” katanya.

Lebih lanjut Sekjen Liga Arab mengatakan bahwa belakangan ini memang terjadi ganjalan dalam hubungan antara Mesir yang mendukung tentara Suriah dan Arab Saudi yang mendukung pemberontak Suriah. Namun dia optimis masalah ini akan dapat diselesaikan, termasuk dengan mediasi sejumlah negara Arab Teluk Persia. (mm/alalam)