Rangkuman Berita Utama Timteng, Rabu 25 Januari 2017

perundingan suriah di astana 2Jakarta, ICMES: Perundingan damai Suriah di Kazakhstan ditutup dengan kesepakatan Rusia, Turki dan Iran untuk mengadakan mekanisme penerapan dan pengawasan gencatan senjata di Suriah.

Pertempuran baru berkecamuk di sekitar kota Mukha, sementara Ansarullah membantah laporan jatuhnya kota ini ke tangan lawannya, pasukan loyalis Mansour Hadi.

Rusia-Iran berada di balik proses pendekatan antara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dan pemerintah Mesir.

Berita selengkapnya:

Perundingan Astana; Rusia, Turki dan Iran Sepakat Adakan Mekanisme Penjagaan Gencatan Senjata

Pada penutupan perundingan damai pemerintah dan oposisi Suriah di Astana, Kazakhstan, Selasa (24/1/2017), Rusia, Turki dan Iran selaku segi tiga negara yang mensponsori perundingan damai Suriah sepakat untuk mengadakan mekanisme penerapan dan pengawasan gencatan senjata di Suriah.

Menlu Kazakhstan Kairat Abdrakhmanov dalam pembacaan deklarasi penutupan perundingan Astana pada hari itu menyatakan telah diputuskan “pendirian mekanisme segi tiga untuk pengawasan dan jaminan kepatuhan penuh pada gencatan senjata, pencegahan segala bentuk tindakan provokatif, dan penentuan semua model gencatan senjata.”

Tiga negara tersebut juga mendukung partisipasi oposisi dalam perundingan damai yang akan diselenggarakan dengan kerjasama PBB di Jenewa, Swiss, 8 Februari mendatang.

Deklarasi Astana menegaskan “tak ada solusi militer bagi konflik Suriah, dan konflik ini hanya bisa diselesaikan melalui proses politik.”

Iran dan Rusia sebagai sekutu pemerintah Suriah dan Turki selaku sekutu kubu oposisi Suriah menyatakan akan berusaha “memperkuat sistem gencatan senjata melalui langkah-langkah kongkret dan menggunakan pengaruhnya terhadap pihak-pihak (yang bertikai).”

Disebutkan pula dalam deklarasi itu bahwa pemerintah Damaskus antara lain menuntut pemisahan kelompok oposisi “moderat” dari kelompok teroris ISIS dan Jabhat al-Nusra yang kini berganti nama menjadi Jabhat Fath al-Sham.

De Mistura mengaku optimis pada prospek perundingan damai.  “Kita tidak jauh dari kemungkinan adanya deklarasi final,” katanya.

Perundingan Astana berlangsung dua hari sejak Senin hingga Selasa (23 – 24/1/2017) dalam rangka menyudahi krisis dan pertumpahan darah yang sudah berlangsung sejak 2011.

Pertempuran Berkecamuk Dekat Pelabuhan Mukha, 40 Orang Yaman Terbunuh

Pasukan loyalitas presiden Yaman tersingkir Abd Rabbuh Mansour Hadi terlibat pertempuran baru dengan milisi Ansarullah dan tentara loyalis mantan presiden Ali Abdullah Saleh di sekitar kota Mukha, barat laut Yaman.

Sedikitnya 40 orang tewas di sisi selatan dan timur Mukha di mana pasukan loyalis Hadi mengepung kota ini, sementara para sniper Ansarullah dan loyalis Saleh yang bertahan dalam kota mencegat lawan memasuki pusat kota.

Gerakan Ansarullah Yaman menepis berita bahwa kota dan pelabuhan Mukha di bagian selatan provinsi Taiz telah jatuh ke tangan pasukan loyalis presiden tersingkir Abd Rabbuh Mansour Hadi.

Jubir Ansarullah Syaraf Luqman Ghalib kepada Sputnik menyatakan berita berupa klaim pasukan loyalis Hadi yang didukung Saudi itu tidak berdasar.

“Pertempuran masih berlanjut, dan pasukan bayaran belum mencapai kota Mukha,” bantahnya.

Dia menambahkan bahwa pasukan Ansarullah-Saleh telah menghabisi puluhan “pasukan antek” dan menghancurkan beberapa mobil mereka.

Dalam beberapa hari terakhir pasukan loyalis Hadi bergerak maju menuju Mukha dengan bantuan serangan udara sengit Saudi.

Pasukan Ansarullah-Saleh mengusai sebagian besar wilayah Yaman di bagian utara, tengah, barat, dan ibu kota negara ini, Sanaa.

Senin malam lalu terjadi kontak senjata antara kedua pihak dan kemudian pasukan loyalis Hadi mengklaim berhasil menguasai kota Mukha.

Beberapa sumber menyebutkan dalam pertempuran yang terjadi sepanjang Senin lalu 40 orang tewas, 28 di antaranya pasukan Ansarul-Saleh, dan 12 sisanya pasukan loyalis Hadi, dan dengan demikian jumlah korban tewas menjadi 200 orang sejak pasukan loyalis Hadi melancarkan serangan masif pada 7 Januari lalu untuk mengusir pasukan Ansarullah-Saleh dari kawasan pesisir Barat Yaman.

Seorang perwira pasukan loyalis Hadi mengatakan pasukan Houthi (Ansarullah) masih bertahan dalam kota meskipun mereka menderita kerugian jiwa dalam jumlah besar.

Dia menambahkan bahwa pasukan Ansarullah-Saleh mengirim bala bantuan ke utara Mukha melalui provinsi Ibb yang berada di sebelahnya, sehingga masih perlu waktu lebih lama bagi pasukan  loyalis Hadi untuk dapat menguasai Mukha secara penuh.

Didukung serangan udara pasukan koalisi pimpinan Saudi, pasukan loyalis Hadi pada 7 Januari lalu melancarkan serangan ke kawasan Dabab, barat daya Yaman, yang berjarak 30 km dari kawasan strategis Selat Bab al-Mandab yang memisahkan Laut Merah dengan Samudera Hindia.

Sumber militer menyebutkan bahwa serangan itu ditujukan untuk menguasai kawasan di sisi Laut Merah seluas 450 km, termasuk kota Mukha dan Hudaydah dekat perbatasan Saudi.

PBB pekan lalu melaporkan bahwa perang Yaman telah menjatuhkan korban tewas sedikitnya 10,000 orang, sedangkan korban luka sekira 40,000 orang.  (yemenpress/alyoum7/aljazeera/guardian)

Duet Rusia-Iran Berada di Balik Pencairan Hubungan Hamas Dengan Mesir

Duet Rusia-Iran di Timteng terus mengembangkan pengaruhnya di kawasan yang selalu meradang ini. Belakangan ini terungkap bahwa duet dua negara besar dan kuat itu ternyata berada di balik proses pendekatan antara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dan pemerintah Mesir.

Dalam konteks ini dilaporkan bahwa pemerintahan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi telah menurunkan volume tekanannya terhadap Hamas dan warga Palestina di Jalur Gaza, termasuk dengan berulangkali membuka pintu perbatasan Mesir-Jalur Gaza.

Beberapa media Timteng, Selasa kemarin (24/1/2017), mengutip keterangan sumber terpercaya kepada media online Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, bahwa proses pencairan dan pendekatan hubungan  Hamas di Jalur Gaza dengan otoritas Mesir terjadi berkat koordinasi dan tekanan Rusia dan Iran, dan bukan karena prakarsa pihak lain manapun di dalam maupun di luar gerakan Fatah Palestina.

Sumber itu mengatakan bahwa dewasa ini sedang terjadi komunikasi aktif di balik layar antara pejabat Rusia dan Iran di satu pihak dan para pemimpin Hamas yang berada di Jalur Gaza yang diblokade Israel di pihak lain.

Menurut sumber anonim itu, komunikasi tersebut juga melibatkan para petinggi otoritas Jalur Gaza yang dekat dengan sayap militer Hamas. Komunikasi ini menyentuh rincian persoalan Hamas dengan pemerintah Mesir, termasuk mengenai pintu perbatasan Rafah, hingga kemudian terjadi lagi kontak secara tidak langsung antara Hamas dan otoritas keamanan Mesir.

Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, Ahad malam lalu tiba di Kairo, ibu kota Mesir, dalam suatu kunjungan resmi. Di Kairo dia menjumpai para petinggi Mesir untuk mendiskusikan berbagai isu politik dan keamanan. Rusia dan Iran lantas disebut-sebut berada di balik kunjungan ini.

Haniyeh bertolak ke Kairo dari Doha, Qatar, dimana Fatah dan Hamas mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan rekonsialiasi politik  dan pembetukan pemerintahan persatuan.

Debka File milik Israel menyebutkan bahwa dalam kunjungan Haniyeh ke Kairo kedua pihak juga membicarakan aksi bersama untuk penumpasan kelompok teroris ISIS di Semenanjung Sinai.

Hubungan Hamas dengan pemerintahan el-Sisi selama ini buruk karena Hamas mendukung Mohamed Morsi yang dikudeta oleh el-Sisi. Pemerintahan el-Sisi bahkan menuding Hamas melekukan penyeludupan senjata melalui perbatasan Rafah untuk membantu kelompok-kelompok militan dan teroris yang beraksi di Mesir, terutama di Semenanjung Sinai, sejak Morsi terdepak pada 3 Juli 2013.   (arabyexpressnews/egyrep/middleeastobserver/beforeitsnews)