Rangkuman Berita Utama Timteng, Rabu 12 April 2017

Jakarta, ICMES:  Rusia menyatakan akan segera bereaksi jika posisi militernya di Suriah menjadi sasaran serangan Amerika Serikat (AS), dan menilai situasi di Suriah mengingatkan orang pada peristiwa yang terjadi di Irak.

Para menlu Rusia, Suriah dan Iran akan mengadakan pertemuan di Rusia.

Turki menyatakan telah dilakukan pemeriksaan terhadap para korban dugaan serangan bom kimia di Suriah, dan hasilnya mengonfirmasikan adanya penggunaan gas sarin.

Tentara Irak menyatakan bahwa wilayah yang diduduki kelompok teroris ISIS di Irak sejak tiga tahun lalu kini telah menyusut dari 40% menjadi kurang dari 7%.

Berita selengkapnya;

Rusia Akan Bereaksi Keras Jika Posisinya Di Suriah Terkena Serangan

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Rusia  Yury Shvytkin memastikan negaranya akan segera bereaksi jika posisi militernya di Suriah dijadikan sasaran serangan Amerika Serikat (AS). Bersamaan dengan ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan situasi di Suriah mengingatkan orang pada peristiwa yang terjadi di Irak.

Yury Shvytkin mengatakan, “Saya kira kecil kemungkinan Rusia terlibat langsung dalam penangkisan serangan, namun tindakan-tindakan yang telah diambil pasca serangan rudal (AS) cukup memadai dalam segala keadaan, bertolak dari apa yang dapat kami lakukan dalam kerangka undang-undang internasional, walaupun tentara Suriah sendiri dapat bereaksi.”

Dia mengingatkan bahwa di daratan Suriah terdapat instalasi-instalasi militer Rusia.

“Jika satuan-satuan kami terancam maka Presiden AS Donald Trump dan semisalnya harus mengetahui dampak-dampaknya. Di sini yang akan terjadi sama sekali bukan lagi kata-kata, melainkan tindakan-tindakan realistis,” ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan situasi di Suriah mengingatkan orang pada peristiwa yang terjadi di Irak.

Dalam jumpa pers dengan sejawatnya dari Italia, Sergio Mattarella, di Moskow, Selasa, Putin mengatakan, “Situasi di Suriah mengingatkan kita kepada apa yang terjadi di Irak ketika AS memulai serangannya ke Baghdad setelah ada pernyataan di Dewan Keamanan… dan kami memiliki informasi mengenai rencana AS menyerang Damaskus selatan.”

Dia mengaku mendapatkan informasi dari sumber-sumber terpercaya bahwa di Suriah terdapat provokasi berkenaan dengan senjata kimia, termasuk di kawasan Damaskus.

Putin menambahkan, “Serangan AS di Suriah mengingatkan kepada klaim-klaim adanya senjata perusak massal di Irak yang membuat pasukan AS menyerbu Irak pada tahun 2003.”

Jumat dini hari pekan lalu, dua kapal perang AS menembakkan 59 rudal jelajah Tomahawk ke pangkalan udara Shayrat di tenggara Homs, Suriah. Presiden AS Donald Trump berdalih bahwa pangkalan ini digunakan oleh tentara Suriah untuk melancarkan serangan bom kimia di Khan Shekhoun, Idlib, yang menewaskan sekira 100 orang dan melukai 500 lainnya pada 4 April lalu.

Namun demikian, sehari setelah serangan Tomahawk tersebut pangkalan Shayrat ternyata masih relatif utuh sehingga dapat digunakan lagi oleh tentara Suriah untuk menerbangkan jet tempurnya dalam operasi militer melawan teroris.  Beberapa laporan menyebutkan bahwa dari 59 rudal yang ditembakkan AS hanya 23 yang menjangkau pangkalan udara Suriah tersebut, sedangkan yang lain tertangkis. (rt/rayalyoum/alalam)

Para Menlu Suriah, Iran dan Rusia Akan Bertemu di Moskow

Jubir Kemlu Rusia Maria Zakharova menyatakan bahwa para menlu Rusia, Suriah dan Iran akan mengadakan pertemuan di Moskow, ibu kota Rusia, pada akhir pekan ini.

“Rencananya akan diadakan pertemuan segi tiga Menlu Rusia Sergey Lavrov, Menlu Suriah Walid Moallem, dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif pada akhir pekan ini,” ungkap Zakharova.

Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa Moallem bisa jadi akan tiba di Moskow pada hari Jumat mendatang.

Sementara itu, Menlu Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson Selasa sore waktu setempat tiba di Moskow untuk mengadakan pembicaraan dengan sejawat Rusia-nya, Sergey Lavrov.

Tillerson berkunjung ke Rusia di tengah ketegangan terkait serangan rudal AS ke pangkalan udara Suriah 7 April lalu dengan dalih menghukum tentara Suriah atas serangan bom kimia di kota Khan Sheikhun yang menewaskan sekira 100 orang dan melukai 500 lainnya. AS dan negara-negara Barat sekutunya menuding tentara Suriah sebagai pelakunya, namun Damaskus dan Moskow membantah keras tuduhan ini.

Sebelum bertolak ke Moskow, Tillerson menggalang dukungan melalui pertemuan para menteri luar negeri G-7 yang diwarnai pembicaraan mengenai perang Suriah, Selasa. Pertemuan ini ditutup  dengan permintaan Tillerson kepada para sekutunya agar menyokong AS terkait situasi Suriah . (afp/voa)

Turki Konfirmasi Penggunaan Gas Sarin Di Idlib, Apa Kata Rusia?

Menteri Kesehatan Turki Recep Akdag menyatakan telah dilakukan pemeriksaan terhadap para korban dugaan serangan bom kimia di distrik Khan Sheikhoun, provinsi Idlib, Suriah, dan hasilnya mengonfirmasikan adanya penggunaan gas sarin dalam serangan ini.

Dia mengatakan bahwa asam methylphosphonic isopropil “telah teridentifikasi dalam darah dan urin yang telah diperiksa pada sampel yang diambil dari korban paparan senjata kimia di Idlib”. Asam ini terbentuk dari hasil reaksi sarin dengan senyawa lain.

Washington dan Ankara menuding pemerintah Suriah bertanggungjawab atas serangan gas beracun yang menewaskan hampir 100 orang termasuk anak-anak, namun Damaskus membantah tudingan ini. Tak hanya menuduh, AS bahkan melancarkan  serangan rudal terhadap pangkalan udara pemerintah Suriah pekan lalu.

Kemlu Suriah menyatakan adanya senjata kimia di tangan kelompok-kelompok teroris justru dijadikan dalih oleh AS, Israel, Saudi, Qatar, Turki, Inggris, dan Perancis untuk menyudutkan pemerintah Suriah.

Menurut Kemlu Suriah, apa yang terjadi di Khan Sheikhun sepenuhnya telah diatur dengan tujuan mencarikan pembenaran bagi serangan AS terhadap tentara Suriah yang sedang berjuang melawan terorisme.

Kepala staf gabungan angkatan bersenjata Rusia Sergey Rudskoy menegaskan tentara Suriah tidak memiliki senjata kimia dan “tidak perlu” menggunakan senjata demikian, apalagi mereka sukses dalam melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok militan.

“Kami telah menganalisa dengan cermat bahan-bahan yang disebutkan oleh media, mengenai tuduhan bahwa pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia di Khan Shekhoun, provinsi Idlib. Ada banyak keraguan mengenai kebenaran informasi ini, dan bukan hanya pada kami saja,” lanjutnya.

Dia kemudian menjelaskan bahwa kawanan bersenjata telah membawa bahan-bahan beracun ke kawasan Khan Seikhoun, bandara al-Jirah, Ghouta Timur, dan barat Aleppo. (reuters/alalam)

Wilayah Pendudukan ISIS Di Irak Menyusut Dari 40% Menjadi 7%

Tentara Irak menyatakan bahwa wilayah yang diduduki kelompok teroris ISIS di Irak sejak tiga tahun lalu kini telah menyusut dari 40% menjadi kurang dari 7%.

“Daesh (ISIS) menguasai 40% tanah Irak seluas 108,405 kilometer persegi pada tahun 2014, tapi sejak 31 Maret (2017) mereka menduduki hanya 6,8 % teritorial Irak,” ungkap juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak Brigjen Yahya Rasool dalam konferensi pers di Baghdad, Selasa (11/4/2017).

ISIS mulai menebar maut dan kehancuran di bagian utara dan barat Irak pada tahun 2014. Tentara dan relawan Irak lantas memerangi ISIS untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai ISIS.

Selama sekira dua tahun terakhir ini ISIS lambat laun kehilangan wilayah kekuasaannya, dan kini banyak di antara anggota mereka yang terkepung di Mosul barat.

Operasi pembebasan Mosul mulai Oktober tahun lalu. Pasukan Irak berhasil menguasai Mosul timur pada  Januari lalu kemudian memulai operasi pembebasan Mosul barat pada Februari. (rayalyoum/presstv)