Rangkuman Berita Utama Timteng, Rabu 1 Maret 2017

U.S Vice President Joe Biden Visits JordanJakarta, ICMES: Para pakar militer menjelaskan sebab mengapa jet tempur canggih F-16 milik Yordania dan Maroko tertembak jatuh oleh pasukan Yaman.

Iran menjawab tudingan Saudi terkait sebab mengapa Iran selama ini tidak pernah menjadi korban serangan teror ISIS dan lain-lain.

Pemimpin ISIS mengakui kalah dalam pertempuran belakangan ini dan menyilakan para pengikutnya untuk melancarkan serangan bunuh diri atau pulang ke negara asal mereka.

Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedin al-Qassam, mengingatkan Rezim Zionis Israel bahwa perang Gaza akan berkobar lagi

Berita selengkapnya;

Dua Jet Tempur F-16 Rontok Ditembak Pasukan Yaman, Pertanda Apa?

Otoritas Yordania Jumat pekan lalu (24/2/2017) mengumumkan jet tempur F-16 milik negara ini yang terlibat dalam serangan udara ke Yaman telah jatuh di Najran, Arab Saudi.

SPA melaporkan bahwa pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi yang melancarkan serangan ke Yaman dalam statemennya menyebutkan pesawat itu jatuh akibat kerusakan teknis, dan pilotnya berhasil menyelamatkan diri dengan mengaktifkan kursi lontar dan parasut.

Namun, Rai al-Youm (RY), Selasa (28/2/2017),melaporkan bahwa jet tempur Yordania itu diyakini jatuh terkena tembakan anti serangan udara pasukan Yaman sehingga mengalami kerusakan dan pilotnyapun selamat karena jet tempur itu sudah masuk ke wilayah Saudi ketika dia mengaktifkan kursi lontar.

Menurut RY, peristiwa ini menunjukkan keterbatasan kemampuan versi jet tempur F-16 yang dijual oleh Amerika Serikat (AS) kepada pasukan negara-negara Arab, apalagi sebelumnya jet tempur jenis yang sama milik Maroko juga ditembak jatuh pasukan Ansarullah Yaman hingga pilotnya tewas pada tahun 2015.

RY menjelaskan bahwa F-16 tergolong jet tempur paling canggih di dunia sehingga menjadi andalan angkatan udara AS dan Israel. Kehebatan jet tempur ini terlihat antara lain dari kegagalan Hizbullah Lebanon menjatuhkan jet tempur ini dalam perangnya melawan Israel meskipun Hizbullah memiliki senjata anti serangan udara atau senapan anti pesawat.  Suriah juga demikian, senjata canggih anti serangan udaranya tak sanggup merontokkan jet tempur F-16 Israel yang masuk ke wilayah Suriah untuk melancarkan serangan.

Anehnya, pasukan Ansarullah yang tak memiliki senjata canggih anti serangan udara sejauh ini malah berhasil merontokkan dua unit F-16, dan 1 unit jet tempur Mirage buatan Perancis milik Uni Emirat Arab.

Terlepas dari Mirage, RY menyebutkan komentar para pakar bahwa F-16 yang dijual ke sejumlah negara Arab semisal Mesir, Maroko, dan Yordania bukanlah versi yang mutakhir. Menurut mereka, ada jenis F-16 yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan sehingga yang dimiliki oleh Yordania dan Mesir tidak menjadi ancaman bagi Israel, dan yang  dimiliki oleh Maroko tidak menjadi ancaman bagi negara-negara sekutu AS di Eropa, termasuk Purtugal dan Spanyol. Selain itu, dengan keterbatasan tersebut F-16 versi non-mutakhir itu tidak akan bisa diandalkan untuk menentukan jalannya perang di dunia Arab.

Dijelaskan bahwa F-16 versi non-mutakhir yang dijual oleh AS ke negara-negara Arab itu memiliki beberapa kelamahan antara lain berupa keterbatasan radar, kelemahan kontrol elektronik dalam pembidikan sasaran,  dan keterbatasan kapasitas tanki bahan bakar sehingga tidak bisa terbang untuk jarak lebih jauh.

Para pakar itu lantas menyebutkan bahwa jet-jet tempur F-16 yang dimiliki oleh pasukan Arab bahkan hanya memiliki 30 persen kemampuan jet tempur serupa yang ada di tangan AS sendiri dan Israel! (raialyoum)

Saudi Menyoal Mengapa Iran Tak Pernah Kena Teror, Ini Jawaban Teheran

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Samkhani, Selasa (28/2/2017), membantah kabar bahwa dia telah mengadakan pertemuan dengan Menlu Arab Saudi Adel al-Jubeir dalam kunjungannya belum lama ini ke Baghdad, ibu kota Irak.

Menanggapi tudingan al-Jubeir bahwa Iran terindikasi mendukung terorisme karena negara Republik Islam ini tak pernah terkena serangan teror ISIS dan lain-lain, Samkhani mengatakan bahwa organisasi-organisasi teroris “tak dapat berbuat kecuali di negara-negara di mana mereka dipelihara dan dilatih. “

Dia menjelaskan bahwa di Iran tak ada tempat bagi pelatihan para teroris, dan di samping itu Iran juga memiliki “perangkat keamanan yang terjaga dan rakyat yang eksis di lapangan.”

Sementara itu, Wakil Pertama Presiden Iran Eshak Jahangiri di hari yang sama menyatakan Arab Saudi dan pihak-pihak lain di kawasan Teluk Persia tidak berada pada “level masuk dalam ketegangan dengan Iran.”

“Saudi dan pihak-pihak lain di kawasan ini tidak berada pada level masuk ke dalam ketegangan dengan Iran, sebagaimana Iran sendiri juga tidak menghendakinya, melainkan menginginkan perbaikan hubungannya dengan negara-negara regional yang notabene tahu persis bahwa Iran sama sekali tidak pernah mengagresi negara lain,” ujarnya dalam wawancara dengan televisi Iran.  (tasnim/mehrnews)

Akui Kalah, al-Baghdadi Menyilakan Pengikutnya Jumpai “72 Bidadari”

Pemimpin besar kelompok teroris ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, dalam pidatonya yang ditujukan kepada para pengikutnya di berbagai kawasan yang dikuasai ISIS, Selasa (28/1/2017), mengakui pihaknya kalah dalam berbagai pertempuran yang terjadi belakangan ini.

Demikian dinyatakan oleh sumber lokal provinsi Nineveh, Irak utara, sembari menyebutkan bahwa al-Baghdadi menyerukan kepada para anggota ISIS supaya “bersembunyi dan kabur” ke daerah-daerah pegunungan.

Sumber itu menambahkan bahwa pidato yang dinamai “Khutbah al-Wida’” (Khutbah Perpisahan) itu  disampaikan kepada orang-orang dekatnya kemudian diteruskan kepada para khatib ISIS untuk menjelaskan perkembangan situasi yang dialami ISIS sehingga para khatib itu mulai berbicara mengenai kekalahan ISIS dalam perang di Nineveh dan berbagai kawasan lain.

Pidato al-Baghdadi itu juga berisi seruan kepada para anggota ISIS agar meledakkan diri apabila dikepung oleh pasukan Irak.

Sumber itu juga menyebutkan bahwa semua petinggi ISIS yang menjadi anggota Majelis Syura Mujahidin telah kabur dari Nineveh dan Tal Afar ke arah wilayah Suriah, sedangkan para pemimpin terkemuka yang dekat dengan al-Baghdadi bergerak di sekitar perbatasan Irak-Suriah.

Sumber lain di provinsi Nineveh Senin lalu menyatakan Al-Baghdadi memerintahkan penutupan apa yang disebut Dewan Tentara dan Imigran serta memberikan pilihan kepada para anggota ISIS yang berasal dari luar Irak antara pulang ke negara asal atau meledakkan diri untuk memperoleh “72 bidadari”.  (raialyoum)

Hamas Ingatkan Perang Gaza Akan Berkobar Lagi

GazaCity, LiputanIslam.com –  Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedin al-Qassam, mengingatkan Rezim Zionis Israel bahwa perang Gaza akan berkobar lagi. Peringatan ini disampaikan menyusul serangan udara Israel ke Jalur Gaza yang menyebabkan beberapa orang terluka, Senin lalu (27/2/2017).

“Segala bentuk agresi ke Jalur Gaza tidak akan dibiarkan tanpa reaksi oleh faksi-faksi pejuang muqamawah (resistensi), dan tak syak lagi bahwa pejuang muqawamah akan memenuhi janjinya,”  ungkap Abu Obeida, jubir Brigade Ezzedin al-Qassam, di halaman Twitternya, Selasa (28/2/2017).

Dia menambahkan, “Musuh, Zionis, tampak hanya mengerti bahasa kekuatan, dan terkadang mengira bahwa kami diam pertanda lemah.” (alqudsalarabi)